NovelToon NovelToon
Takluknya Boss Kecil Mafia

Takluknya Boss Kecil Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mafia / Action
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: NoorBee

Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Di bawah perlindungan Sterling

Pintu apartemen Aruna terbuka lebar, menampilkan Max bersama seorang pria paruh baya berkacamata yang menjinjing tas medis perak steril. Tanpa banyak bicara, dengan langkah taktis yang teratur, mereka langsung melangkah masuk menuju kamar mandi utama, dipandu oleh Aruna yang masih berada dalam kondisi syok berat.

Dokter pribadi keluarga besar Caspian itu langsung mengambil posisi berlutut di samping tubuh Gavin yang terbaring di atas marmer. Dengan gerakan cepat, efisien, dan sangat terlatih dalam menghadapi luka akibat senjata tajam maupun proyektil panas, ia menggunting sisa kain ditubuh Gavin yang telah basah kuyup oleh darah pekat.

"Luka goresan. Untungnya, tidak ada serpihan peluru yang tertinggal di dalam," diagnosis sang dokter dengan suara yang teramat tenang.

Mendengar kata itu, pasokan udara di paru-paru Aruna yang sempat tersendat selama beberapa menit kini perlahan kembali normal. Namun, satu kata itu tetap menghantam benaknya dengan keras.

Peluru?

"Tapi robekannya cukup dalam. Saya harus menjahitnya sekarang juga di sini sebelum terjadi infeksi," lanjut sang dokter sembari mulai mengeluarkan botol alkohol, cairan antiseptik, dan sepasang jarum bedah melengkung yang berkilat dingin di bawah temaram lampu kamar mandi.

"B-biar saya bantu pegang obatnya, Dok," ucap Aruna. Suaranya bergetar hebat saat ia ikut berlutut di sisi lain tubuh Gavin.

Aruna tidak bisa hanya berdiam diri dan menonton. Sifat perfeksionisnya runtuh berganti kepedulian, ia tidak tega melihat kondisi berondong yang biasanya selalu tebar pesona ini tampak begitu rapuh dan tak berdaya.

Gavin perlahan membuka kelopak matanya akibat sensasi dingin yang menyengat saat cairan antiseptik diguyur ke atas lukanya. Kesadarannya sedikit pulih, namun napasnya langsung memburu, menahan nyeri hebat yang mulai menjalar ke seluruh saraf bahunya. Di tengah remang kamar mandi dan rasa sakit yang menyiksa, Gavin menggerakkan tangan kanannya yang bebas, mencari-cari sesuatu di atas lantai marmer yang dingin.

Jemari kokoh Gavin yang terasa sedingin es menyentuh pergelangan tangan Aruna. Lalu, dengan sisa kekuatan yang ia miliki, pemuda itu menggenggam erat jemari wanita itu. Aruna tertegun. Ia menatap telapak tangan mereka yang bertautan erat, merasakan cengkeraman Gavin yang begitu kuat, seolah pria itu sedang menyalurkan seluruh rasa sakit yang membakar tubuhnya lewat genggaman tersebut.

"Tahan sedikit, Lex. Saya tidak menggunakan bius total agar kesadaranmu tetap terjaga," ucap dokter memberi peringatan tenang.

Jarum bedah mulai menembus kulit bahu Gavin. Rahang tegap pemuda 19 tahun itu seketika mengeras sempurna hingga urat-urat di lehernya menonjol tegang. Gavin tidak berteriak ataupun mengerang, namun cengkeramannya pada tangan Aruna semakin mengerat kuat, membuat Aruna bisa merasakan getaran hebat dari tubuh atletis di hadapannya.

Aruna tidak melepaskan genggaman itu sedikit pun. Menggunakan tangan kanannya yang bebas, ia bergerak mengusap pelan dahi Gavin yang dipenuhi keringat dingin dan sisa air hujan, mencoba menyalurkan kehangatan dari tubuhnya.

"Tahan, Gavin... kamu kuat," bisik Aruna lirih, memajukan wajahnya tepat di dekat wajah Gavin. Air matanya menetes pelan, mengenai pipi pucat pemuda itu.

"Katanya kamu mau mengusir mas-mas PNS narsis itu lagi kalau dia datang? Kamu tidak boleh kalah cuma karena benang jahit ini."

Mendengar bisikan ketus namun penuh perhatian yang tulus dari Aruna, Gavin memaksakan matanya yang sayu untuk menatap sepasang netra almond di depannya. Di tengah ringisan menahan perih, seulas senyum miring tipis, senyum menyebalkan andalannya kembali terukir sangat lemah di bibir pucatnya.

“Makanya... jangan di-block... Kak...” gumam Gavin sangat lirih, suaranya hampir tak terdengar sebelum ia kembali memejamkan mata erat-erat saat dokter menarik simpul jahitan terakhir di bahunya.

***

Setelah dokter selesai membalut bahu Gavin dengan perban steril dan memindahkannya ke atas ranjang kamar utama, suasana apartemen mewah itu berangsur-angsur sepi. Dokter pamit undur diri untuk melaporkan kondisi Gavin langsung kepada Dominic. Kini, tersisa Max yang sedang berdiri tegap di dekat pintu keluar, memastikan area koridor luar tetap aman dan steril.

Aruna melangkah keluar dari kamarnya setelah memastikan Gavin benar-benar tertidur pulas akibat pengaruh obat pereda nyeri yang kuat. Ia telah mengganti piyamanya yang bernoda darah dengan kemeja flanel longgar. Langkah kakinya yang sedikit pincang karena lecet sore tadi sengaja ia abaikan.

Wajah Aruna tertekuk tajam. Matanya yang sembap kini menatap Max dengan pandangan menuntut penjelasan. Posisi manajernya yang tegas kembali keluar secara otomatis.

"Pak Max," panggil Aruna, suaranya dingin dan tegas.

"Jangan beranjak dulu. Saya butuh penjelasan sekarang juga."

Max memutar tubuhnya yang tegap, lalu menunduk hormat dengan sangat sopan kepada Aruna.

"Ada yang bisa saya bantu, Bu Aruna?"

"Siapa sebenarnya Gavin? Dan bahaya apa yang baru saja dia bawa ke dalam rumah saya?!" cecar Aruna, suaranya bergetar menahan luapan emosi, lelah, dan rasa takut yang sejak subuh tadi ia pendam sendiri.

"Evan dan Reyhan bilang Gavin cuma anak kuliahan biasa yang punya bisnis starup logistik. Tapi barusan... telepon dari Dominic, nama panggilan 'Lex', luka tembak di bahunya, dan dokter pribadi yang datang mirip tim evakuasi militer... ini semua bukan dunia anak kuliahan, Pak Max!"

Aruna menarik napas pendek, otaknya yang tajam mulai menyatukan kepingan-kepingan teka-teki yang mengganjal.

Max menatap Aruna datar. Wajahnya yang dihiasi beberapa luka parut tipis tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Namun, ia cukup tahu diri bahwa wanita di hadapannya ini adalah manajer andalan Mahesa Group, seseorang yang tidak bisa dibohongi dengan alibi murah.

"Bu Aruna, apa yang dikatakan Evan dan Reyhan tidak sepenuhnya salah. Bos Kecil memang pemilik sah dari perusahaan logistik digital bernama Vance Sterling Digital Networking atau lebih di kenal VSDN ," jawab Max dengan suara rendah yang sangat tenang.

"Namun, ada satu hal yang tidak diketahui oleh Rey maupun publik. Perusahaan logistik milik Bos Kecil adalah jalur distribusi utama untuk seluruh bisnis legal dan ilegal milik keluarga... sekaligus benteng pertahanan aliansi bisnis bawah tanah."

Max menatap lurus ke dalam mata Aruna, sebelum akhirnya membeberkan fakta rahasia atas izin tersirat yang diberikan Dominic lewat telepon tadi.

"Di dunia bisnis legal yang Anda kenal, mereka mungkin hanya dikenal sebagai bagian dari dinasti Caspian Property. Tapi di dunia bawah, nama yang membuat para rival gemetar ketakutan adalah klan Sterling. Tuan Dominic Alexsie Sterling adalah sang tiran utama, dan pria yang sedang tertidur di kamar Anda saat ini... memiliki nama asli Gavin Alexander Sterling."

Aruna menahan napasnya seketika. Tangannya refleks mencengkeram erat kusen pintu dapur demi menjaga keseimbangan tubuhnya yang mendadak lemas.

Gavin Alexander Sterling.

Dominic Alexsie Sterling.

Nama belakang yang sengaja disembunyikan dari pergaulan biasa, nama yang hanya digaungkan di sudut-sudut kota yang gelap.

"Keluarga Sterling mengendalikan jalur pasokan komoditas sensitif di benua ini, termasuk persenjataan," ungkap Max jujur.

"Semalam, kelompok rival dari Barat sengaja menjebak pengiriman kami di pelabuhan milik Mahesa Group untuk melumpuhkan bisnis Tuan Dominic. Bos Kecil menolak tinggal diam. Beliau turun langsung ke lapangan, memimpin penyergapan bersenjata demi mengamankan jalur logistiknya." Max maju satu langkah, menatap Aruna dengan pandangan yang mendadak melunak penuh rasa hormat.

"Bos Kecil terluka karena melindungi asetnya. Tapi alasan mengapa beliau menolak dibawa ke rumah sakit keluarga dan nekat kemari dengan kondisi berdarah-darah... adalah karena dari data siber yang beliau retas semalam, beliau tahu pergerakan kelompok Barat juga mengincar data pribadi orang-orang terdekat keluarga kita, termasuk Anda yang kini masuk dalam radar aliansi. Bos Kecil datang ke sini bukan untuk membawa bahaya, Bu Aruna. Beliau kemari hanya untuk memastikan dengan matanya sendiri bahwa Anda aman di dalam apartemen ini."

Kalimat terakhir Max menghantam dada Aruna seperti gada besi yang sangat berat. Seluruh kemarahan yang sejak tadi membakar hatinya mendadak padam total, digantikan oleh rasa bersalah dan sesak yang teramat sangat.

Jadi, saat ia sibuk memblokir nomor Gavin selama tiga hari ini, mengacuhkannya, dan mengutuknya sebagai berondong sialan penipu yang mesum, pria berusia sembilan belas tahun itu justru sedang bertaruh nyawa di tengah hujan badai pelabuhan. Gavin menembus barisan peluru hanya demi memikirkan keselamatan dirinya yang bahkan belum berstatus sebagai pacar resminya.

"Tuan Dominic meminta saya menyampaikan pesan ini kepada Anda," tambah Max sebelum memutar gagang pintu luar apartemen.

"Dunia kami memang berbahaya, Bu Aruna. Tapi begitu seseorang masuk ke dalam radar perlindungan keluarga Sterling, kami akan memastikannya tetap bernapas, bahkan jika kami harus mengorbankan nyawa kami sendiri. Selamat pagi, Bu. Keamanan gedung ini sudah diambil alih oleh tim kami. Saya pastikan Anda berdua akan aman di sini."

Max melangkah keluar, menutup pintu dengan sangat pelan dan rapi.Meninggalkan Aruna yang kini termangu sendirian di ruang tamu yang sunyi, menatap lurus ke arah pintu kamarnya dengan perasaan yang tidak akan pernah sama lagi terhadap sang berondong mafia.

****

1
Jingga
Menarik, fresh, menghibur
Alam2719
Thor, sehari up tiga kali yah????
QueenBee: di usahkan tiga kali yah, pagi, siang sama malam🙏🙏
total 1 replies
Alam2719
gw juga kecewa kalau jadi papa fiki
Alam2719
Thor, ganteng amat si gavin!!
QueenBee: iyah aku juga merasa dia ganteng banget🤣
total 1 replies
Musafa87
Thor thor, visul yang lain dong, 🤣🤣🤣
QueenBee: hahahaha.... oke aku usahakan yah kaaaa 😍
total 2 replies
Musafa87
Gavin lo ganteng amat!!!! sesuai ekspektasi gw 😍😍😍😍😍
QueenBee: terimakasih kaaa
total 1 replies
HD1
aruna run 🤣
hayroco
berondong obses🤣
hayroco
berondong meresahkan
Anonymous333
ih seru thor!!!
Anonymous333
vin, tokcer amat lo 🤣
Jingga
sumpah, seru 🤣🤣🤣
Jingga
anjrit, hamil 🤣🤣🤣🤣
Jingga
cantik banget cewenya 😍
Bocil323
thor kapan up lagi, rame dong 🤣🤣🤣
Bocil323
ighhh ko gemes 😍😍😍
Bocil323
wkwkwkwkwkkw malah di restuin sama om fiki 🤣🤣🤣
Bocil323
please banget, mau satu berondong yang kaya gini!!!
Bocil323
evan rey, usil banget loh 🤣🤣🤣
Bocil323
aaaahhhhh!!! asli bagus banget, suka banget!!!!! karakter cowonya kuat, dan cewenya cantik banget!!! dom juga kepala mafia tapi secy banget kata gw mah!!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!