NovelToon NovelToon
Menikahi Ayah Mantanku

Menikahi Ayah Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Nikah Kontrak / Perjodohan
Popularitas:6.2k
Nilai: 5
Nama Author: Dunia_halusinasi

Diana Ayuningtyas, Berniat memberikan kejutan. dengan sengaja mendatangi Apartemen Gilang Wijaya - sang kekasih, untuk merayakan ulang tahunnya.

Tetapi malah mendapatkan kenyataan bahwa kekasihnya ternyata tinggal bersama wanita lain.

"Kamu siapa ?"

"Aku? Aku tunangan pemilik Apartemen ini!"

Duarrr...

Diana langsung terdiam mematung, tidak ingin percaya.

"Sayang ! Siapa yang datang ?"

Tapi suara Gilang dari dalam, yang memanggil wanita di depannya ini dengan panggilan mesra, membuatnya tidak bisa menahan nya lagi.

Sebelum Gilang datang, Diana segera pergi dengan air mata yang perlahan mengalir.

Lift perlahan tertutup, matanya menatap lurus ke depan, hatinya bergemuruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia_halusinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Bab 23: Rencana di Balik Rahasia

Perjalanan menuju kantor pusat Grup Wijaya berlangsung cukup tenang.

Di dalam mobil, Arga duduk bersandar di kursi belakang, matanya menatap lurus ke depan namun pikirannya melayang ke dua arah yang berbeda.

Satu sisi hatinya semakin berbunga-bunga, teringat senyum Diana serta kejahilannya pagi tadi.

Baru beberapa menit, tapi aku sudah merindukannya. Batin Arga

Tanpa sadar dia tersenyum kecil, membuat Radit terheran.

Ternyata benar apa kata orang, ketika jatuh cinta, maka bersiaplah menjadi orang tidak waras. Batin Radit , dia bergidik ngeri.

Awas lohhhh Radit, nanti author jodohin sama gadis bar-bar, biar Radit semakin pusing. Iya gak guys...

Arga masih tersenyum sendiri, dia tidak tau apa yang di pikirkan asistennya itu.

Tetapi....

Seketika Arga mengingat masalah anaknya,

Dia ingin marah, memukul dan memakai anaknya habis-habisan,

Tetapi hati nuraninya masih berfungsi, bagaimanapun juga, hanya dialah, satu-satunya orang tua Gilang.

Setelah ibu Gilang meninggal, dia sadar bahwa dia kurang memperhatikan anak lelaki nya.

Ternyata aku tidak tau apapun tentang anakku sendiri. Baru kali ini, Arga merasa benar-benar gagal menjadi orangtua.

“Tuan, Tuan Muda Gilang sudah menunggu di ruangan anda sejak setengah jam yang lalu. Katanya ada hal penting yang ingin dibicarakan,” ujar Radit sambil sesekali melirik ke kaca spion, memecah keheningan di dalam mobil.

Arga mengangguk pelan, lalu menghela napas panjang. “Aku sudah menduganya. Dia pasti tidak akan membuang waktu lagi.”

"Radit, bagaimana perkembangan bisnis Gilang ?" Tanya Arga, matanya fokus melihat ke luar jendela.

"Semua bisnis nya berjalan lancar, Tuan! Tetapi, Dito (Orang kepercayaan Gilang), dia mengatakan bahwa beberapa hari lalu Tuan Gilang bertengkar dengan nona Clara"

Arga menghela nafas panjang...

"Apa menurutmu aku orang tua yang buruk untuk anakku?" Tanya nya pelan

"Tidak ada orang tua yang buruk, Tuan. Hanya saja isi hati dan pikiran setiap orang berbeda-beda, jadi apapun yang kita lakukan, pasti akan menimbulkan persepsi yang berbeda pula bagi mereka" Ujar Radit

"Tapi aku merasa gagal, dia menodai kesucian seorang wanita. Sekarang aku berfikir, apa mungkin jika Diana tetap bersama nya, maka dia juga akan mengalami hal yang sama seperti Clara"

"Tuan, untuk hal seperti itu, mereka tidak mungkin melakukannya tanpa ada ketertarikan di antara mereka, jadi mungkin saja mereka melakukannya atas kesadaran penuh, tanpa ada unsur keterpaksaan" Ujar Radit

"Dan untuk Nyonya Diana, saya yakin, beliau itu orang yang menjunjung tinggi harga diri. Jadi meskipun jikalau mereka masih bersama. Nyonya Diana tidak akan berbuat sejauh itu" Ujar nya lagi

Arga juga berpikir begitu, dia yakin bahwa Diana orang yang jujur.

Aku adalah orang beruntung yang mendapatkan berlian itu. Batin Arga merasa bangga

Beberapa menit kemudian...

Sesampainya di gedung perkantoran megah yang menjadi pusat kekuasaan bisnis keluarga Wijaya,

suasana terlihat sibuk.

Para karyawan segera menunduk memberi hormat saat melihat Arga melangkah masuk dengan wibawanya yang khas.

Bisik-bisik para karyawan wanita terdengar di mana-mana.

"Sudah beberapa hari aku tidak melihat Tuan Arga, kenapa rasanya beliau semakin tampan"

"Aku juga berfikir begitu, beliau tidak terlihat sudah kepala empat. badannya kekar, wajahnya tetap tampan, kamu lihat otot lengannya itu, pasti nyaman buat sandaran"

"Tapi sayang yah, Tuan Arga gak pernah lihat aku. Padahal aku udah effort, dandan cantik, rapih, terus seksi begini. Tapi gak pernah di tengok"

Berbagai macam bisikan dan keluhan para karyawan wanita, membuat Radit geleng-geleng kepala.

Radit terkadang heran, dia juga tampan, tubuhnya berotot, meski tidak sebesar tuannya. Dia juga masih muda, Tapi kenapa tidak ada satupun wanita yang tergila-gila padanya.

Pesona pria matang memang beda . Radit semakin geleng-geleng kepala

Arga samar-samar mendengar bisikan para karyawan wanita yang memujanya, tetapi dia tidak peduli.

Dia sudah terpikat oleh sosok perempuan yang sekarang sedang menunggunya di rumah.

Ahh rasanya aku ingin cepat pulang...

Begitu sampai di depan pintu ruangannya, Radit membukakan pintu,

Begitu masuk, Arga melihat Gilang sudah berdiri memandang keluar jendela, memandang kota yang mulai ramai di bawah sana.

"Gilang!"

Mendengar suara pintu terbuka, Gilang menoleh perlahan. Wajahnya terlihat lebih tenang dibandingkan hari sebelumnya, namun matanya masih menyimpan beban yang dalam.

"Ayah,” sapanya singkat.

Arga melangkah masuk, meletakkan tas kerjanya di atas meja besar, lalu duduk di kursi pimpinannya.

Ia menatap putranya dengan pandangan yang penuh perhatian.

“Duduklah. Kita bicarakan perihal pernikahanmu,” perintah Arga lembut namun tegas.

Gilang mengangguk, lalu duduk di kursi hadapan meja itu.

Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk membuka pembicaraan yang sangat krusial ini.

“Aku sudah memikirkan semuanya semalam, Ayah. Aku tahu ini mendadak, dan aku juga sadar bahwa aku telah membuat kesalahan besar dengan Clara.

Tapi sekarang kenyataannya sudah ada, dia sedang mengandung anakku, dan aku tidak bisa lari dari tanggung jawab,” ujar Gilang membuka percakapan, suaranya terdengar mantap namun sedikit bergetar.

Arga hanya diam mendengarkan, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.

“Lalu apa rencanamu? Kau tahu kan, Tuan Hartono itu orang yang sulit untuk di ajak bicara. Jika dia tahu putrinya hamil di luar nikah, dia mungkin bisa saja menuntut mu.”

“Itulah sebabnya Aku ingin melangsungkan pernikahan secepatnya, paling lambat dua minggu lagi. Sebelum perut Clara terlihat membesar” jawab Gilang cepat.

“Jika Suatu hari nanti kebenaran terungkap, mungkin Tuan Hartono tidak akan marah. Dia tahu aku serius mempertanggungjawabkan perbuatanku.”

Arga terdiam sejenak, memutar berbagai kemungkinan di dalam pikirannya.

Ia tahu mempercepat pernikahan adalah satu-satunya jalan terbaik untuk menyelamatkan nama baik semua pihak,

namun ia juga khawatir bagaimana reaksi ibunya nanti, serta bagaimana hal ini akan berdampak pada posisi Diana di tengah keluarga yang makin rumit ini.

“Baiklah, Ayah akan bicara dengan Nenekmu, untuk melamar Clara ” putus Arga akhirnya.

“Tapi ingat satu hal, Gilang. Jangan biarkan berita ini menyebar luas, dan yang paling penting, jangan sampai Nenek mendengar soal kehamilan itu.

Dia sudah cukup tua, kesehatannya harus dijaga. Biarkan dia tahu bahwa ini hanya pernikahan biasa yang sudah direncanakan lama.”

Gilang mengangguk, rasa lega mulai menyelimuti hatinya mendengar dukungan ayahnya.

“Terima kasih, Ayah. Aku berjanji akan menjaga rahasia ini sebaik mungkin. Dan juga… soal Diana, aku berjanji akan mencoba mengendalikan perasaanku.

Aku tahu dia sekarang adalah istri Ayah, dan aku akan melupakan perasaan ku padanya.”

Mendengar ucapan itu, Arga merasa sedikit lega.

Ia tahu ini tidak mudah bagi Gilang, namun setidaknya putranya sudah mulai sadar dan menerima kenyataan.

“Bagus. Itu yang aku harapkan. Sekarang, fokuslah pada Clara dan tanggung jawabmu yang baru.

Jadilah pria yang bertanggung jawab, jangan ulangi kesalahan yang sama seperti yang pernah kau lakukan pada Diana dulu,” pesan Arga dengan nada yang dalam.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sementara itu, Setelah selesai mendengarkan penjelasan panjang lebar dari Nyonya Amara di ruang perpustakaan,

keduanya kini pindah ke teras belakang untuk menikmati secangkir teh hangat dan camilan.

Angin semilir berhembus lembut, membawa aroma bunga melati yang tumbuh di taman, membuat suasana terasa sangat menenangkan.

Diana duduk dengan tenang, sesekali mengangguk mendengarkan nasihat mertuanya.

"Diana, sebelumnya Arga sudah mengatakan pada ibu, bahwa kamu mantan kekasih Gilang ! Apakah itu benar ?" Tanya ibu mertua nya.

Nadanya santai, tidak ada kemarahan sedikitpun.

Tetapi berbeda dengan Diana, dia yang sedang menyeruput teh hampir tersedak.

"Ibu.., Emm maksud ibu? Kapan Mas Arga mengatakannya Bu?" Tanya Diana pelan.

Matanya melirik ibu mertuanya, tetapi tidak ada yang berubah.

Wajahnya terlihat lebih tenang dan seperti tidak terjadi apapun.

"Itu tidak penting, Ibu juga tidak akan menghakimi. Karena setiap orang pasti memiliki masa lalu, hanya saja, ibu merasa hidup ini seperti candaan. Mantan kekasih menjadi ibu tiri, atau istriku adalah mantan pacar anakku. Sudah seperti cerita novel saja" Ujarnya sambil terkekeh geli

Diana juga merasakan hal yang sama, hidupnya seperti cerita dongeng.

"Jadi, bagaimana kamu bisa bertemu dengan Arga, sampai memutuskan untuk menikah. Karena yang ibu tau, Arga itu paling sulit di dekati wanita. Sudah banyak wanita yang ibu jodohkan, tapi tidak ada satupun yang membuatnya tertarik" Tanya ibu mertuanya, dia mencondongkan tubuhnya lebih dekat dengan menantu nya.

Umur boleh tua, tapi gosip tetap yang utama. Apalagi ini gosip anak sendiri.

Diana malu, dia sedikit ragu untuk bercerita.

"Sebenarnya, Aku bertemu Mas Arga gak sengaja Bu" Diana mulai bercerita sambil malu-malu.

Semuanya Diana ceritakan, bagaimana awal pertemuan mereka di trotoar, lalu saat Arga memberikan bantuan, hingga pada akhirnya Arga menawarkan berkerja sama untuk menikah kontrak.

"Jadi kamu setuju untuk menikah kontrak?" Tanya ibu mertuanya tidak percaya,

Diana mengangguk lalu kembali bercerita.

"Awalnya Mas Arga minta nikah kontrak selama satu tahun, katanya dia di tuntut untuk segera menikah oleh keluarganya, tetapi tidak menemukan orang yang cocok" Jelas Diana dengan sejujur-jujurnya.

Nyonya Amara mulai paham, karena memang selama ini dia selalu meneror putranya hampir setiap hari, dan mengirimkan banyak wanita untuk kencan buta.

"Lalu, apakah sekarang kontrak itu masih berlaku?" Tanya nya penasaran

Diana menggelengkan kepalanya,

"Mas Arga mengatakan, dia... Cinta sama aku, dan melupakan kontrak itu, lagipula waktu itu, Mas Arga mengajukan kontrak, karena berfikir mungkin aku akan menyesal " Jelas Diana lagi

"Dan sudah sejauh ini, kamu tidak menyesal ? putra ibu itu sudah tua, pasti sudah lemah, kamu tidak akan puas!" Ujar Nyonya Amara

Diana hanya tersenyum...

Ibu salah, justru putra ibu itu maniak, tidak pernah puas...

Astaga... Pipi Diana memerah seketika, Nyonya Amara yang melihat itu langsung tertawa kecil.

"Melihat pipimu yang memerah itu, ibu sudah tau jawabannya!" Ujarnya

Diana semakin malu, rasanya dia ingin masuk ke lobang dan menyembunyikan wajahnya.

Belum lama mereka mengobrol, Bi Mari datang menghampiri dengan wajah yang sedikit ragu

“Permisi, Nyonya, Nyonya Muda. Ada seseorang yang datang, dia mengaku sebagai asisten pribadi Tuan Hartono, ingin bertemu dengan Nyonya Amara atau Tuan Arga.”

Nyonya Amara mengerutkan keningnya sedikit, merasa heran.

“Asisten Tuan Hartono? Datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu? Apa urusannya?”

“Dia hanya bilang ingin menyampaikan pesan penting dari tuannya, Nyonya,” jawab Bi Mari.

Diana menatap mertuanya, lalu berkata lembut, “Mungkin ada urusan bisnis, Bu. Mau aku minta dia menunggu sebentar sampai Mas Arga pulang?”

Nyonya Amara berpikir sejenak, lalu menggeleng pelan. “Tidak perlu. Biarkan dia masuk dan sampaikan saja apa yang dia bawa. Kita lihat dulu apa maksudnya.”

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berpakaian rapi dipersilakan masuk.

Ia memberi hormat dengan sopan kepada Nyonya Amara dan Diana.

“Mohon maaf mengganggu waktu Nyonya. Saya adalah Bimo, asisten Tuan Hartono.

Tuan saya meminta saya menyampaikan salam hormat dan pesan singkat bahwa dalam waktu dekat ini, beliau berniat untuk berkunjung ke sini guna membicarakan hal yang menyangkut masa depan kedua keluarga kita,” ujar Bimo dengan nada bicara yang sopan

“Baiklah, sampaikan salamku pada Tuan Hartono. Katakan kepadanya bahwa rumah ini selalu terbuka untuknya. Kami tunggu kabar lebih lanjut mengenai waktunya,” jawab Nyonya Amara dengan wibawa yang meyakinkan.

Setelah tamu itu pamit pergi, suasana menjadi hening sejenak.

Nyonya Amara menatap ke arah taman, pikirannya mulai berputar. “Membicarakan masa depan keluarga? Sepertinya ada sesuatu yang aku lewatkan.”

Di sisi lain, Diana merasa ada firasat yang tidak menentu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!