NovelToon NovelToon
Faristya

Faristya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Dijodohkan Orang Tua / Bad Boy
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: NdahDhani

Disclaimer: No plagiat, no boom like❗

Karena permintaan terakhir ibunya, Tyasabella Almeera terpaksa menerima kenyataan yang tidak pernah ia inginkan: menikah muda.

Dan lebih parahnya lagi, menikah dengan musuhnya sendiri, Faris Abimanyu Alzavian. Cowok tukang nyolot yang selalu berhasil membuat emosinya naik setiap hari.

"Kenapa harus lo sih?" kesal Tya.

Faris langsung mendelik. "Emangnya gue mau nikah sama lo?"

"Gue juga gak mau."

"Bagus. Berarti kita sepakat."

Tya mendengus. "Sepakat kalau ini ide paling buruk yang pernah ada."

Namun, takdir seolah tidak peduli dengan pendapat mereka. Di tengah kehilangan yang masih terasa, dua remaja keras kepala itu dipaksa menjalani sebuah pernikahan yang tidak pernah mereka pilih sendiri.

Masalahnya, bagaimana jika perlahan mereka mulai menemukan sesuatu yang tidak pernah mereka duga sebelumnya?

Karena terkadang, orang yang paling sering membuat kita kesal justru menjadi orang yang paling sulit dilupakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Ketahuan!

Deru mesin motor sport memecah jalanan sore yang masih sedikit lengang. Motor hitam milik Faris melesat membelah angin dengan kecepatan tinggi. Lampu-lampu jalan bergantian terlewati begitu cepat hingga hanya tampak seperti garis-garis cahaya yang memanjang di sisi jalan.

Di jok belakang, Tya refleks memejamkan mata rapat. Kedua tangannya tanpa sadar melingkar erat di pinggang Faris. Bukan karena ingin, melainkan karena motor itu melaju begitu cepat hingga tubuhnya beberapa kali terdorong ke belakang.

"FARIISS!" Teriak Tya panik. "Pelan dikit, bisa gak sih?!"

Faris tetap fokus menatap jalan di depannya. "Gak usah lebay."

"Lebay apanya?!" Sahut Tya. "Lo bawa motor kayak mau nganter nyawa!"

"Cuma segini doang," jawab Faris enteng.

"Cuma segini kata lo?!" Tya semakin mengeratkan pelukannya. "Gue takut jatuh!"

"Gak bakal."

"Gimana bisa lo se-yakin itu?!" Ujar Tya dengan nafas memburu.

"Ya karena gue yang bawa."

Jawaban singkat itu justru membuat Tya semakin kesal. "Nah, karena itu yang bikin gue makin gak tenang!"

Faris akhirnya menghela nafas pelan. Lalu ia berkata dengan nada yang sama sekali tidak ikhlas. "Gak tenang," ulangnya. "Tapi lo meluk gue erat banget. Cih!"

Kalimat itu membuat Tya terdiam sesaat. Ia kemudian baru menyadari kedua tangannya masih melingkar erat di pinggang Faris, bahkan tanpa sadar mencengkeram jaket cowok itu kuat-kuat.

Bukannya melepaskan, Tya justru memeluknya semakin erat saat motor kembali melesat melewati jalan yang sedikit menurun. "Ya terus gimana?!" Protesnya. "Kalau gue lepas, gue bisa mental!"

Faris menghela nafas kasar. "Ribet."

Sementara Tya mendengus pelan. "Emang siapa yang mau meluk manusia nyebelin kayak lo kalau bukan karena takut jatuh?" Gerutunya dalam hati.

Beberapa saat kemudian, Faris mulai mengurangi kecepatan motornya saat lampu lalu lintas di persimpangan berubah merah. Motor itu akhirnya berhenti di barisan paling depan.

Tya menghela nafas panjang, merasa lega. Perlahan, ia membuka mata yang sejak tadi terpejam rapat. Tangannya yang semula melingkar di pinggang Faris akhirnya terlepas.

"Huft... Akhirnya," gumam Tya pelan sambil mengusap dada. Ia masih berusaha mengatur nafasnya yang masih belum beraturan. Degup jantungnya bahkan belum sepenuhnya tenang setelah 'diterbangkan' Faris sepanjang jalan.

Lampu merah berubah hijau. Tanpa aba-aba, Faris langsung memutar gas. Motor itu kembali melesat cepat.

"FARIISS!!"

Tubuh Tya spontan terhuyung ke belakang akibat hentakan mendadak itu. Refleks, kedua tangannya kembali melingkar erat di pinggang Faris. Namun kali ini, bukan hanya memeluk. Jemarinya mencubit pinggang Faris sekuat tenaga.

"IHH! NGESELIN BANGET LO, RIS!"

"Aduh! Woi!" Faris langsung meringis saat jari Tya mencubit pinggangnya tanpa ampun. "Apaan sih, lo?!"

"Biar kapok!" Balas Tya setengah berteriak. "Ngebut mulu! Gue takut, woi!"

Bukannya kesal, sudut bibir Faris justru terangkat. Untuk pertama kalinya hari itu, terdengar tawa kecil dari bibirnya. Tawanya memang singkat, nyaris tak terdengar. Namun cukup untuk menunjukkan bahwa ia benar-benar merasa berhasil mengerjai Tya.

Tya yang menyadarinya langsung mendelik. "Lo ngetawain gue?!"

Senyum tipis di wajah Faris perlahan menghilang. Secepat kemunculannya, ekspresinya kembali datar. Ia kembali menatap lurus ke depan. "Siapa juga yang ngetawain lo."

"Dih, cowok rese!"

Faris hanya berdecak pelan, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia kembali fokus mengendarai motornya.

Angin sore kembali menerpa wajah mereka seiring laju motor yang kembali melesat membelah jalanan. Tya hanya bisa memejamkan matanya rapat-rapat. Jemarinya tanpa sadar kembali mencengkram jaket Faris, sementara kepalanya mulai sedikit pusing akibat laju motor yang menurutnya terlalu cepat.

Tya bahkan tak lagi membuka mata. Pemandangan jalan yang terus bergerak cepat hanya membuat dadanya semakin sesak oleh rasa cemas. Saat itu, satu-satunya bisa ia lakukan hanyalah bertahan, berharap perjalanan itu segera berakhir tanpa insiden apa pun.

Beberapa menit kemudian, motor itu akhirnya melambat sebelum benar-benar berhenti. Anehnya, Tya masih memejamkan mata rapat. Kedua tangannya masih melingkar di pinggang Faris, seolah belum menyadari bahwa perjalanannya sudah berakhir.

Faris melirik sekilas ke belakang, lalu menghela nafas. "Woi, Tya." Tidak ada jawaban. "Turun."

Tya yang masih memejamkan mata langsung mengomel. "Lo tinggalin gue di lampu merah, ya?! Bener-bener gak punya hati, lo!"

Faris berdecak pelan. "Ck! Lo mau meluk gue sampai kapan?" Ujarnya. "Udah di rumah."

Kalimat itu membuat Tya langsung membuka matanya lebar-lebar. Tatapannya langsung berkeliling. Bukan lampu merah, melainkan garasi rumah keluarga Alzavian dengan motor yang sudah terparkir rapi.

Wajah Tya seketika memerah karena malu. Dengan gerakan cepat, ia langsung melepaskan pelukannya dari pinggang Faris, lalu buru-buru turun dari motor.

"Dih, amit-amit gue meluk lo!" Ujar Tya spontan.

Faris hanya mendengus pelan sambil melepas helmnya. "Padahal dari tadi yang gak mau lepas siapa."

Tya mendengus kesal. Pipinya menggembung, bibirnya mengerucut tipis. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia menghentakkan sebelah kakinya ke lantai sebelum akhirnya berbalik badan.

"Males banget ngomong sama lo!" Gerutu Tya seiring langkahnya.

Tanpa menunggu balasan, Tya langsung melangkah cepat menuju pintu rumah. Dari caranya berjalan saja sudah terlihat jelas kalau suasana hatinya sedang buruk.

Faris hanya memperhatikan punggung gadis itu menjauh. Ia bersandar santai di motornya beberapa saat, lalu menggeleng pelan. "Bener-bener kayak anak kecil," gumamnya.

Memasuki rumah, langkah Tya tampak sedikit lebih pelan dari biasanya. Salah satu tangannya terangkat memegangi dahi, sementara nafasnya masih belum sepenuhnya teratur. Kepalanya terasa sedikit berdenyut setelah perjalanan pulang yang menurutnya terlalu menegangkan.

Di ruang tengah, ibu Faris yang baru saja selesai mengangkat jemuran menoleh saat mendengar suara langkah kaki. "Tya?" Panggilnya lembut sambil berjalan menghampiri. Wajahnya langsung dipenuhi kekhawatiran. "Kamu kenapa, nak?"

Tya yang sempat terkejut segera menurunkan tangannya dari dahi. Ia memaksakan senyum kecil agar wanita paruh baya itu tidak semakin cemas. "Enggak apa-apa kok, Tante," jawabnya pelan. "Tya cuma agak pusing aja."

Ibu Faris langsung mengernyit. "Pusing? Masuk angin?"

Tya menggeleng kecil. "Kayaknya cuma kecapekan aja, Tante."

"Ya ampun, kalau badan lagi gak enak jangan dipaksain," ujar ibu Faris sambil mengusap pelan pundak Tya. "Nanti Mama bikinin teh hangat, ya."

Tya menggeleng pelan, seutas senyum terukir di bibirnya. "Enggak usah repot-repot, Tante. Tya cuma butuh istirahat aja."

"Ya sudah, kalau butuh apa-apa panggil Mama aja, ya," ujar ibu Faris kemudian.

"Iya. Terima kasih, Tante."

Tya memilih menyimpan sendiri alasan sebenarnya. Entah mengapa, ia tidak tega mengatakan bahwa penyebab kepalanya pusing adalah karena cara Faris mengendarai motor tadi. Sebelumnya ia pernah mendengar ibu Faris mengomeli putranya sendiri. Rasanya, ia tidak ingin menambah daftar omelan yang harus diterima Faris sore itu. Namun, tetap saja bayangan Faris yang membuatnya kesal masih saja terlintas jelas di benaknya.

"Tya ke kamar dulu ya, Tante," pamit Tya sambil tersenyum tipis.

"Iya, istirahat yang banyak ya, sayang." Balas ibu Faris penuh perhatian.

Tya mengangguk pelan, lalu ia mencium takzim tangan ibu Faris. Setelahnya, ia berbalik dan mulai menaiki anak tangga. Langkahnya masih sedikit pelan karena pusing yang belum sepenuhnya hilang.

Tatapan ibu Faris mengikuti punggung gadis itu hingga menghilang di belokan tangga. Tak berselang lama, suara langkah kaki kembali terdengar.

Faris melangkah masuk dengan santai sambil melepas jaket yang dikenakannya. Wajahnya datar seperti biasanya, seolah perjalanan pulang tadi tidak terjadi apa-apa.

Melihat putranya, ibu Faris langsung tersenyum. "Nah," ujarnya sambil melipat tangan di dada. "Begini kan enak, langsung pulang sehabis sekolah."

Faris hanya melirik sekilas. "Iya, Mah."

"Jangan dikit-dikit keluyuran terus," lanjut ibu Faris. "Mama lebih senang lihat kamu pulang ke rumah, daripada nongkrong gak jelas sampai malam."

Faris hanya menghela nafas pelan. "Iya, Mah."

"Iya-iya terus," ujar ibunya sambil melirik putranya dari ujung kepala sampai kaki. "Udah, sana mandi dulu. Bau matahari."

Faris spontan mengangkat sedikit kerah seragamnya, lalu mengendus bagian bahunya sendiri beberapa kali. "Hmm," gumamnya pelan sambil menoleh ke arah sang ibu. "Wangi parfum gini kok, Mah."

Ibunya langsung menarik nafas panjang. "Itu parfum bercampur keringat."

"Enggak, ah," sahut Faris. "Perasaan masih wangi."

Ibunya menggeleng pelan, "Pokoknya mandi."

"Iya, iya."

Meski mulutnya masih menggerutu pelan, kakinya tetap melangkah menuju tangga. Sementara sang ibu hanya bisa menarik nafas panjang melihat tingkah putra bungsunya itu.

...✧✧✧✧✧✧✧✧✧✧...

Malam perlahan menyelimuti kota. Suasana rumah keluarga Alzavian berubah tenang setelah makan malam bersama usai. Waktu terus berjalan, hingga aktivitas masing-masing penghuni rumah pun berangsur selesai.

Di lantai dua, Tya yang sejak tadi menghabiskan waktu untuk belajar akhirnya menutup buku terakhirnya. Ia menguap pelan sambil meregangkan bahunya yang terasa pegal. Setelah memastikan semua buku telah rapi, ia mematikan lampu dan berjalan menuju tempat tidur.

Tak butuh waktu lama, Tya sudah berbaring di atas kasur. Selimut ditarik hingga sebatas dada, sementara kedua matanya mulai terpejam. Rasa lelah setelah menjalani aktivitas hari itu membuatnya lebih cepat terlelap malam itu.

Di sisi lain ruangan, Faris tampak sudah berbaring di sofa. Kedua tangannya terlipat di belakang kepala, matanya terpejam, seolah sudah ikut terlelap sejak beberapa waktu lalu. Entah benar-benar tertidur, atau justru hanya berpura-pura.

Jarum jam terus bergerak hingga menunjukkan pukul 22.30 WIB. Kamar itu masih diselimuti keheningan. Hanya terdengar hembusan nafas pelan Tya dan sesekali desiran angin malam yang masuk melalui celah jendela.

Perlahan, mata Faris terbuka. Cowok itu tidak langsung bergerak, ia melirik sekilas ke arah tempat tidur. Tya masih tertidur pulas, tubuhnya meringkuk di balik selimut tanpa sedikit pun menunjukkan tanda-tanda akan terbangun.

"Sip, aman," bisik Faris pada dirinya sendiri.

Dengan gerakan yang nyaris tanpa suara, Faris bangkit dari sofa. Telapak kakinya menapak lantai perlahan agar tidak menimbulkan bunyi. Tangannya meraih jaket hitam yang sejak tadi disampirkan di sandaran kursi.

Setelah mengenakannya, Faris mengambil kunci motor di atas meja. Pandangannya kembali mengarah ke tempat tidur. Setelah memastikan Tya benar-benar terlelap, ia mulai melangkah menuju pintu kamar. Jemarinya memutar gagang pintu dengan sangat hati-hati, berusaha tidak menimbulkan suara sekecil apapun yang mungkin bisa membangunkan Tya.

Malam itu, hanya ada satu tujuan di pikirannya. Keluar dari rumah, tanpa seorang pun yang menyadarinya. Pintu kamar kembali tertutup dengan sangat pelan.

Faris menarik nafas lega. Ia mulai menuruni tangga dengan langkah yang begitu pelan. Rumah itu begitu sunyi. Lampu ruang tamu telah dimatikan, menyisakan cahaya redup dari lampu teras yang masuk melalui kaca jendela.

Setelah memastikan keadaan benar-benar aman, Faris melangkah menuju garasi. Di sana, motor sport hitam kesayangannya terparkir rapi. Ia tidak langsung menyalakan mesin. Ia justru menggenggam stang motornya, lalu menuntunnya perlahan.

Sementara itu, di dalam kamar, Tya mengerjapkan matanya perlahan. Entah sudah berapa lama ia tertidur, samar-samar telinganya menangkap suara gesekan besi dari arah bawah rumah.

Tya mengernyit. Ia bangkit perlahan dari tempat tidur sambil mengusap matanya yang masih berat. "Apa, sih?" Gumamnya lirih.

Dengan langkah pelan, Tya berjalan menuju pintu balkon. Ia membuka sedikit tirai, lalu mengintip melalui celah jendela. Matanya menyipit, berusaha menembus gelapnya malam. "Jangan-jangan..." Bisiknya pelan. "Maling?"

Rasa kantuknya perlahan menghilang. Tatapannya terus mengikuti sosok yang berada di halaman depan rumah. Semakin diperhatikan, bayangan itu semakin jelas. Ternyata bukan orang asing, itu Faris.

Cowok itu terlihat sedang menuntun motornya keluar melewati gerbang rumah. Setelah jaraknya cukup jauh dari halaman, baru ia menaiki motornya. Beberapa saat kemudian, suara mesin motor akhirnya terdengar pelan memecah keheningan malam. Faris langsung memacu motornya menjauh dari rumah hingga perlahan menghilang di ujung jalan.

Di lantai dua, Tya masih berdiri memandangi arah kepergian motor itu. Kedua matanya kini menyipit penuh arti, sementara kepalanya mengangguk-angguk kecil.

"Masih keluyuran juga..." Gumam Tya pelan. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang sulit diartikan. "Gue laporin lo besok, Ris."

^^^Bersambung...^^^

1
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
yg kuat tya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy
pasti ayahnya pun sedih. tapi berusaha untuk selalu tegar. dan ini rasanya susah bngt
RahmaYesi
Tya, kamu memang kehilangan ibu mu. Tapi tuhan ganti dengan sosok ibu mertua yang sangat tulus sayang sama kamu.
RahmaYesi
Walau memang saat kondisi seperti ini, perut benaran tidak terasa lapar sama sekali. Tapi tetap harus makan sih Tya....
RahmaYesi
Sedih banget pastinya....
M. T🌻
sumpah, aku sampe nangis di tempat kerja thor😭
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
Tapi kamu egois bu😭
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
aku dah terbiasa baca novel perjodohan anak Sma. tapi cuma ini yang paling nyesek sih
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
tapi ini semua atas kemauan kalian
ѕ⍣⃝✰🍾⃝ s.sͩᴇᷞɴͧᴊᷡᴀͣ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ
sedih sekali
Mingyu gf😘
yang tabah ya tya😭
Mingyu gf😘
kasihan banget kamu tyz😭
Europa.
Tya sudah terlalu kosong pikirannya akan semua hal yang begitu cepat terjadi/Frown/
Europa.
kamu terlalu muda untuk mengerti semua ini faris/Frown/
Europa.
nooo Tya juga ikutan meningsoy dan dibacain yasin😭😭
Europa.: iya juga wkwk😂😂
total 2 replies
Alia Chans
Kasihan Tya... Tapi yang penting permintaan terakhir mamanya sudah dia lakukan..
THE GIRL COOL😑
semangat😘
RahmaYesi
Huwaaaa 😭😭😭😭😭
RahmaYesi
Yang kuta ya Tya. Kehilangan seorang ibu seperti dunia telah hancur.... 😭😭
RahmaYesi
Alam bawah sadar Faris, ingin melindungi Tya. Lanjutkan ya dek. semoga kamu jadi suami yang bertanggung jawab dan menjaga Tya selamanya hingga maut memisahkan kalian berdua.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!