NovelToon NovelToon
Single Parent

Single Parent

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Keluarga & Kasih Sayang / Persahabatan / Chicklit
Popularitas:216.3k
Nilai: 4.9
Nama Author: Praditya Dita

Setelah kepergian suami tercinta menghadap yang maha kuasa, kondisi Diandra sangat terpuruk. Dia harus mengurus dua anak yang masih kecil, Faris (anak pertama berusia 9 tahun) dan Fanisha (anak kedua berusia 6 tahun). Belum lagi kondisi Diandra yang sedang hamil 7 bulan.

Diandra benar-benar merasa kehilangan sehingga dia menghabiskan hari-harinya hanya menyendiri di kamar dan menangis.

Hingga di hari kesepuluh kepergian suaminya, Diandra melihat Faris anak pertamanya sibuk mengurus adiknya Fanisha. Di situ membuat Diandra tersadar kalau selama ini dia telah menelantarkan anaknya. Diandra memeluk kedua anaknya dan meminta maaf.

Diandra berjuang dengan anak-anaknya, dari sisa harta suaminya yaitu sebuah mobil. Diandra menjual mobil dan memulai semuanya dari awal.

Bagaimana kelanjutan perjuangan Diandra menjadi seorang single parent?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Praditya Dita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Diandra melintasi kamar Faris untuk ke kamar mandi. Dari luar kamar Faris sangat sepi dan sunyi. Diandra mengetuk pintu kamar tapi tidak ada jawaban. Pelan-pelan pintu di buka, dan ternyata keempat anak bujang sudah terlelap. Mereka tidur menumpuk di karpet. Diandra kembali menutup pintu kamar dan membiarkan mereka beristirahat.

Diandra pun mampir ke kamar Fanisha yang ternyata anak gadis lanjut tidur dengan mukena masih menempel di badannya. Diandra hanya geleng-geleng kepala lalu kembali tutup pintu kamar.

Diandra ngecek kamar mandi tamu yang ada di lorong antara kamar Faris dan kamar Fanisha. Semua peralatan mandi masih ada isinya dan lantainya juga bersih karena seminggu sekali di bersihkan Faris dan Fanisha.

Diandra lanjut ke kamarnya untuk membangunkan Fatih untuk makan siang karena sudah pukul 13.10. Tapi Fatih terlalu menikmati puasanya.

Kata Fanisha berbisik ke adiknya, "Tidur terus dek biar puasanya gak batal." Makanya Fatih sering rebahan dan tidur.

"Dek bangun yuk! Adek belum makan siang loh."

"Adek puaca undah."

"Setengah hari aja yuk, adek masih kecil nanti kalau sudah sekolah baru puasa full kayak mas dan kakak."

Fatih bangun dan duduk. "Ayo undah kita mam."

"Iya nanti abis makan lanjut puasa lagi ya."

"Iya."

Untuk makan siang Fatih, Diandra tidak masak spesial hanya nasi dan telur orak arik. Dengan itu saja Fatih makannya langsung lahap.

Diandra hanya menemani tidak menyuapi Fatih makan lagi karena dia harus melatih syaraf motoriknya agar bekerja dengan baik.

"Abis mam, adek puaca agi ya undah." (Habis makan, adek puasa lagi ya bunda.)

"Iya anak bunda yang Sholeh."

Diandra menemani Fatih di kamar, Fatih asik main mobil-mobilan. Diandra lihat jam dinding, sebentar lagi mau adzan Ashar. Diandra langsung ke kamar Faris untuk membangunkan Faris dan ketiga temannya untuk bersiap sholat di masjid.

Tok... Tok... Tok...

"Mas... Bangun sebentar lagi adzan Ashar."

Faris dan Nabil mendengar suara ketukan langsung bangun. Faris ke arah pintu dan melihat Diandra masih berdiri disana.

"Bangun mas, sebentar lagi adzan Ashar."

"Iya bunda, terima kasih."

Nabil dan Faris lanjut membangunkan Rumi dan Alvin. Setelah semuanya sadar, lanjut keluar kamar dan duduk di ruang keluarga.

Diandra baru keluar dari kamar Fanisha, yang juga di bangunkan untuk sholat Ashar. Butuh perjuangan untuk membangunkan Fanisha, karena entah kenapa membangunkannya lebih sulit daripada Faris. Padahal biasanya yang sulit dibangunin itu pria ketimbang wanita.

Lima menit sebelum adzan, Faris, Rumi, Nabil dan Alvin sudah berangkat ke masjid. Di jalan mereka bertemu dengan Krisna, kali ini tanpa Sadewa.

Faris dan ketiga temannya langsung mencium tangan Krisna dan lanjut ke masjid.

Diandra selesai sholat Ashar langsung sibuk di dapur. Tidak lama Faris dan ketiga temannya pulang dari masjid.

"Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam." jawab Diandra dari dapur.

Keempat anak bujang itu langsung mencium tangan Diandra dan lanjut duduk santai di ruang keluarga.

"Rumah kamu emang nyaman banget ya Ris, kata Nabil yang lanjut rebahan di karpet.

"Alhamdulillah... Mau nginap disini?"

"Kapan-kapan aja deh, besok masih sekolah yang ada ibuku bisa marah-marah." jawab Nabil polos.

"Sama aku juga. Makin panjang taring dan tanduk ibuku kalau anaknya nggak sekolah." kata Alvin.

Faris, Rumi dan Nabil hanya tertawa mendengar lelucon Alvin.

Fatih keluar kamar dan ikut bergabung dengan Faris dan temannya. "Mas, adek puaca dong." kata Fatih ke Faris.

"Alhamdulillah... Adek hebat." puji Faris memberikan dua ibu jari ke Fatih.

Ketiga teman Faris kagum melihat sikap Faris ke adiknya. Faris memberikan kecupan dikening Fatih hingga adiknya bahagia.

"Sayang banget kamu sama adikmu?" tanya Nabil.

"Harus dong, bundaku selalu mengajarkan kasih sayang dengan saudara." jawab Faris.

Dari dapur Diandra bisa mendengar setiap percakapan keempat anak bujang. Diandra senyum-senyum kalau ada yang lucu dengan tingkah mereka. Atau kagum dan bersyukur saat Faris memberitahu sikap yang baik kepada orang lain terutama saudara.

"Adikku songong-songong, kerjanya buat emosi." Alvin mengeluh dengan sikap adiknya yang ada dua tapi berasa ada seratus orang.

"Aku nggak punya adik dan kakak jadi nggak tau rasanya." kata Rumi.

"Jadi adiknya Faris aja Rum pasti di manja deh," ujar Nabil.

"Janan... Adeknya mas itu Atih." kata Fatih protes saat Rumi disuruh jadi adiknya Faris. (Jangan... Adeknya mas itu Fatih.)

Semuanya langsung ketawa mendengar Fatih protes. Diandra pun ikut ketawa gemas dengan anak bungsunya sendiri.

Sekitar pukul 17.00, makanan sudah siap. Diandra panggil Faris untuk menyiapkan makan untuk buka puasa di atas meja ruang keluarga. Melihat Faris kerepotan Rumi, Alvin dan Nabil ikutan bantu bawain makanan dan minuman. Faris juga tolong kasih takjil untuk supirnya Rumi yang setia menunggu majikannya.

"Nggak ada Bun." kata Faris saat ingin mengantarkan takjil ke teras.

"Tadi pak Rohman chat katanya mau buka puasa di masjid aja." kata Rumi memberi tau keberadaan supirnya.

"Kasihannya. Ya sudah nggak papa di bawa masuk aja lagi mas."

Fatih menaruhnya di meja takjil supirnya Rumi. Lalu kembali duduk bersama teman-temannya.

Fanisha yang dari tadi ada di kamar karena malu akhirnya keluar kamar dan duduk di samping Diandra. Fanisha menuang teh hangat ke dalam gelas yang sudah ada.

Terdengar adzan magrib berkumandang. Semua menikmati makanan dan minuman yang ada. Alvin tiada henti makan gorengan dan minum es kelapa sampai berkali-kali nambah.

"Jangan sampai kekenyangan kan kita mau sholat magrib berjamaah dulu abis itu bisa makan nasi." ujar Diandra.

"Siap bunda!" teriak kompak semuanya termasuk Alvin dengan mulutnya penuh makanan. Mulai sekarang mereka akan memanggil Diandra dengan sebutan Bunda sama dengan Faris, biar merasa seperti bunda sendiri.

Diandra tersenyum melihat kekompakan mereka. "Ayo kita sholat berjamaah. Imam nya di antara kalian berempat ya." Setelah itu Diandra masuk kamar untuk berwudhu.

Perintah Diandra mengagetkan semuanya untuk bersiap dan menentukan siapa imam sholat kali ini. Fanisha sudah ambil wudhu langsung gelar sajadah di ruang keluarga.

Selesai ambil wudhu Faris, Rumi, Nabil dan Alvin melakukan pemilihan dengan cara hompimpa.

"Yang kalah dia jadi imam ya," ujar Alvin yang ketar ketir, takut dirinya yang kalah.

Bersamaan mereka bilang, "Hompimpa alaiyum gambreng."

Putaran pertama berlangsung, Faris yang menang. Lalu mereka mengulangi lagi sampai putaran kedua Nabil yang menang. Dan giliran penentuan antara Rumi dan Alvin dengan cara suwit. Dengan tiga kali gerakan batu gunting kertas, Alvin langsung kalah. Karena Rumi bisa membaca cara suwit Alvin yang terlalu berurutan.

"Sudah selesai diskusinya?" tanya Diandra yang dari tadi berdiri di depan kamarnya sambil melihat keempat anak bujang itu menentukan siapa yang akan jadi imam.

Faris, Rumi, Alvin dan Nabil langsung diam. Mereka saling senggol lengan. Mereka pun baru sadar kalau Diandra dari tadi menyaksikan apa yang mereka lakukan.

Diandra berdiri di atas sajadahnya. Fanisha mengikuti Diandra berdiri disampingnya.

"Ayo kita mulai, waktu sudah tertunda banyak." kata Diandra lagi.

Faris, Rumi dan Nabil berdiri di sajadah masing-masing, begitupun dengan Fatih. Beda dengan Alvin yang ragu-ragu untuk jadi imam sholat.

Faris dan Rumi berbisik agar Alvin segera mulai sholatnya tapi Alvin malah pelanga-pelongo.

"Kalau emang ada teman belum siap jadi imam ya jangan di paksa. Ayo bunda hitung sampai lima untuk berganti posisi dengan Alvin. Satu..."

Faris, Rumi dan Nabil saling lihat-lihatan. "Dua..."

"Tiga..."

"Empat..."

Rumi maju ke posisi imam, Faris berdiri dibelakang Rumi sedangkan Alvin dan Nabil berdiri disamping kanan kirinya Faris. Diandra tersenyum melihatnya dan akhirnya sholat pun di mulai. Dengan syahdu tiga rakaat dilakukan.

Selesai sholat mereka makan bersama. Alvin paling duluan ambil makanan dan duduk di karpet dengan makanan diatas meja. Rumi, Faris dan Nabil mengikuti dimana ada Alvin. Diandra duduk di sofa. Fanisha dan Fatih duduk di karpet dengan meja kecil untuk taruh piring mereka.

"Lain kali kalau ada yang perintah untuk jadi imam sholat, langsung sigap bagi yang siap. Karena nanti saat kalian jadi santri bukan cuma belajar jadi imam aja, tapi kalian juga di suruh ceramah di depan banyak orang. Kalau kalian masih belum siap kayak tadi. Gimana nanti kalau sudah jadi imam besar atau seorang ustad. Niat bunda kan cuma mau ngelatih mental kalian sebagai calon anak santri."

"Iya bunda, maaf." kata Faris yang merasa bersalah.

"Disini nggak ada yang salah dan nggak ada yang benar. Semuanya sama yaitu sama-sama belajar. Mengerti kalian?"

"InSyaa Allah bunda." jawab mereka serempak.

Setelah makan, keempat anak bujang itu gantian beberes dan cuci piring. Fanisha hanya merapihkan sisa lauk yang ada di meja makan untuk di simpan kembali.

Selesai dari tugas, mereka langsung ke masjid untuk sholat Isya dan Tarawih di masjid.

Selesai sholat anak-anak pamit pulang. Mereka mencium tangan Diandra dengan takzim. Dan tidak pulang bilang terima kasih.

"Bunda terima kasih makanannya yang enak-enak semua." kata Alvin.

"Bunda terima kasih semuanya." kata Nabil dan Rumi berbarengan.

Diandra membalas dengan anggukan dan senyum. "Hati-hati di jalan, ingat pesan bunda ya. Mental kalian harus siap dalam hal apapun."

"Siap bunda!" mereka serempak seperti pasukan ke komandannya. Bunda tersenyum.

Supir Rumi yang setia menunggu, akhirnya harus mengantar satu persatu Alvin dan Nabil sampai rumah.

Bersambung...

1
༄𝑓𝑠𝑝⍟Lisa𝓜§
kapan dilanjutin lagi thor
Rizky Ivan
lanjut dong kak
༄𝑓𝑠𝑝⍟Lisa𝓜§
ini kapan dilanjutin
Al^Grizzly🐨
sampai segitunya berduka...10 hari mengurung di kamar...tanpa memperhatikan anak anaknya apa sudah makan atau kenapa''...aneh ya...kalau memang sudah di tinggal mati..ikhlaskan semuanya...kalau seperti itu kelakuannya berarti tidak ikhlas namanya...nggak segitunya juga ya bu...sampai 10 hari berduka.
Hj. Raihanah
kasihan dengan rumi yang di lahir kan saja tanpa ada perhatian dan kasih sayang tapi beruntung nya dia tidak terjerumus pada pergaulan bebas bisa memilih jalan yang terbaik untuk diri nya
rumi heavy👍👍👍
Hj. Raihanah
sungguh keluarga berkah krisna dan Diandra😍😍😂
Hj. Raihanah
semangattt
Hj. Raihanah
cerita nya aja bikin hati senang apa lagi kalau ada foto nya
Hj. Raihanah
lanjut 💪💪💪
Hj. Raihanah
semoga lancar semuanya
lanjut their💪💪💪
Hj. Raihanah
cerita nya memberi inspirasi buat aku yang baca....... hidup itu bila dekat dengan pencipta nya akan lebih bahagia
Hj. Raihanah
untuk apa punya anak kalau tidak di perhatikan mereka tidak butuh uang aja tapi juga perhatian dan kasih sayang
Hj. Raihanah
hebat jadi Ibu diandra tidak membedakan anak meskipun itu hanya teman anak nya
Hj. Raihanah
enak ya punya anak yang pengertian perhatian sholeh dan sholehah lagi❤
Hj. Raihanah
alhamdulillah dapat rezeki lagi😁
Hj. Raihanah
bahagia nya krisna karna anak anak nya diandra bisa menghargai
Hj. Raihanah
keluarga kecil bahagia
Hj. Raihanah
bahagia terus diandra dan krisna apa lagi sudah di lengkapi anak anak yang sholeh sholehah
Hj. Raihanah
alhamdulillah
Hj. Raihanah
mikir nya jangan kelamaan ndra sebab kamu cinta pertama nya krisna
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!