NovelToon NovelToon
The Chosen Soul

The Chosen Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Time Travel
Popularitas:102
Nilai: 5
Nama Author: kyc_ibell

Tiga siswa SMA biasa tidak pernah membayangkan hidup mereka akan berubah hanya karena sebuah buku fiksi misterius di perpustakaan sekolah.

Buku itu terbang ke atas air dan membentuk sebuah portal bercahaya tiba-tiba muncul dan menyeret mereka ke masa lalu, tepatnya ke sebuah dinasti Jepang kuno yang sedang berada di ambang kehancuran.

Negeri itu tidak hanya diguncang oleh perebutan kekuasaan di istana, tetapi juga diteror oleh Makhluk Kutukan, entitas mengerikan yang lahir dari kebencian, dendam, dan ambisi manusia. Kehadiran mereka membuat rakyat hidup dalam ketakutan, sementara para bangsawan sibuk saling menjatuhkan demi takhta.

Namun semakin dalam mereka terlibat, semakin mereka menyadari bahwa musuh terbesar bukanlah para monster yang berkeliaran di luar tembok istana, melainkan kegelapan yang bersemayam di hati manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kyc_ibell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 21

—— Backstory Nona Yuna ——

Nona Yuna dikenal di wilayah kekuasaan ayahnya bukan sebagai putri seorang Menteri Pertahanan semata, melainkan sebagai sosok yang hangat di tengah dinginnya dunia bangsawan.

Di balik dinding rumah megahnya, dia menghabiskan waktu dengan kuas dan tinta, melukis langit, rakyat, dan kehidupan sederhana yang sering tak diperhatikan oleh para bangsawan lain. Setiap goresan tangannya selalu lembut, seolah dia sedang mencoba menangkap dunia yang ingin ia jaga agar tetap indah. Di kalangan rakyat, namanya sering disebut dengan senyum.

“Nona Yuna.. dia selalu membantu tanpa memandang siapa kita,” begitu kata para pedagang kecil di pasar.

Dia tidak pernah menolak tangan yang meminta pertolongan. Bahkan ketika hujan deras mengguyur desa-desa kecil di wilayahnya, Yuna sering turun langsung, membawa obat-obatan dan merawat mereka yang sakit.

Keahliannya dalam pengobatan bukan sekadar hobi. Sejak kecil, dia mempelajarinya secara diam-diam dari para tabib istana, menghafal ramuan, membaca luka, dan memahami tubuh manusia dengan ketelitian yang jarang dimiliki seorang bangsawan.

Namun di balik semua ketenangan itu, ada satu luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Ibunya meninggal saat melahirkannya.

Yuna tumbuh tanpa pernah melihat wajah perempuan yang memberinya kehidupan. Mungkin itulah sebabnya dia selalu berusaha “menyembuhkan” orang lain seolah setiap nyawa yang dia selamatkan adalah cara kecil untuk menebus sesuatu yang tidak dia mengerti.

"Apakah aku hidup karena pengorbanan seseorang yang bahkan tidak sempat kulihat? Jika iya… maka aku tidak boleh menyia-nyiakan hidup ini. Aku tidak ingin dunia ini dipenuhi luka seperti yang sering kulihat di medan perang." batin Yuna.

"Ayah selalu berkata kekuatan adalah segalanya. Tapi aku melihat dengan mataku sendiri, kekuatan tanpa belas kasih hanya meninggalkan kehancuran." batinnya kembali.

Sesekali, Yuna ikut Tuan Satoshi ke medan pertempuran. Bukan sebagai pejuang, melainkan sebagai tabib.

Di tengah suara pedang dan teriakan, dia berlutut tanpa ragu di samping prajurit yang terluka. Tangannya tidak gemetar saat membalut luka, meski darah mengalir di tanah di sekitarnya.

“Aku tidak bisa menghentikan perang ini... tapi aku masih bisa menghentikan seseorang agar tidak mati di dalamnya.” bisiknya pelan suatu hari.

---

Di rumah besar milik ayahnya itu, suasana justru terasa lebih menekan daripada istana. Bukan karena kemewahan, tapi karena dinginnya percakapan yang baru saja terjadi di ruang kerja Satoshi.

Di lorong rumah, cahaya lampu dinding memantul lembut di lantai kayu yang bersih.

Yuna berdiri di depan meja, tangan terlipat rapi di depan dada. Wajahnya tenang, tapi matanya menyimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan.

“Ayah.. aku tidak bisa seperti ini” suaranya pelan, hampir seperti bisikan.

Tuan Satoshi tidak langsung menjawab. Dia hanya menatap dokumen di atas meja, lalu perlahan bersandar di kursinya.

“Kau akan mengerti nanti. Di dunia ini, yang lemah tidak akan punya tempat. Aku hanya memastikan kau tidak menjadi salah satunya.” jawabnya datar.

“Tetapi bukan seperti itu.. ayah tidak harus membeli posisi, atau mengikat orang dengan kepentingan.”

Yuna menelan napas. “Aku tidak ingin hidup dari sesuatu yang tidak adil.”

Untuk pertama kalinya, Tuan Satoshi menatapnya langsung.

“Adil?” suara Satoshi sedikit meninggi, lalu kembali tenang. “Adil tidak membuatmu duduk di kursi kekuasaan.”

Suasana hening sesaat.

Yuna menunduk, jemarinya bergetar halus di balik lengan bajunya.

“Kalau harus seperti itu..” suaranya melemah, “aku lebih memilih tidak ada di sana sama sekali.”

Yuna terdiam beberapa detik. Kata-kata Satoshi masih menggantung di udara seperti kabut dingin yang sulit diusir.

“Kalau harus seperti itu.. aku lebih memilih tidak ada di sana sama sekali.”

Setelah kalimat itu, Yuna perlahan menundukkan kepala. Dia tidak menunggu jawaban. Tidak juga mencari bantahan.

Langkahnya pelan saat dia berbalik.

Gaun lembutnya berayun halus ketika dia meninggalkan ruangan itu, seolah ruangan kekuasaan yang dingin itu terlalu berat untuk seorang gadis seperti dirinya.

Di lorong panjang rumahnya, suara langkahnya terdengar sendiri. Yuna berhenti sejenak, menatap cahaya bulan yang tenang.

Tangannya memegang dadanya, bukan karena sakit, tapi seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam.

“Aku tidak menginginkannya… aku hanya ingin semua orang tidak saling menyakiti.”

Dia tersenyum kecil, tapi senyum itu rapuh.

“Apakah aku terlalu naif?”

Angin malam menerpa, menyentuh wajahnya yang mulai dingin. Yuna menghela napas panjang, lalu melanjutkan langkahnya kembali menuju kamarnya.

---

Di dalam ruangannya, Tuan Satoshi masih diam.

Matanya mengikuti kepergian putrinya tanpa banyak ekspresi, tapi ada jeda kecil di sana, sesuatu yang tidak dia ucapkan.

“Hidup tidak pernah memberi ruang untuk orang yang terlalu lembut,” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Namun dia tidak memanggilnya kembali.

---

Yuna tiba di kamarnya.

Pintu tertutup pelan di belakangnya. Dia bersandar di pintu, lalu perlahan merosot hingga duduk di lantai.

“Kalau aku memang tidak cocok di dunia seperti itu…” suaranya bergetar, “kenapa aku dilahirkan di dalamnya?”

Matanya menatap kosong ke lantai kayu. Tapi tak lama, dia menarik napas, mengusap sudut matanya pelan, dan memaksakan diri berdiri lagi.

"Setidaknya… aku masih bisa menjadi diriku.”

Suaranya kembali lembut, seperti mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Di luar sana, dunia kekuasaan tetap berjalan dingin. Namun di dalam kamar itu, Yuna mencoba tetap bertahan dengan hatinya sendiri.

Yuna berdiri di dekat jendela, membiarkan angin malam terus menyentuh wajahnya yang mulai dingin. Hembusannya berulang, menembus celah jendela kayu, membawa dingin yang seolah ikut merayap hingga ke relung dadanya. Daun-daun di taman berdesir pelan, seperti bisikan yang tak pernah benar-benar berhenti.

Pintu kamar itu terbuka perlahan.

“Permisi, Nona Yuna…”

Seorang pelayan wanita masuk dengan langkah hati-hati, membawa nampan kecil berisi teh hangat. Dia berhenti sejenak ketika melihat Yuna yang hanya diam menatap luar jendela.

“Maaf mengganggu.. saya bawakan teh hangat,” ucapnya lembut, lalu meletakkan nampan di meja dekat lampu.

Yuna tidak langsung menjawab. Matanya masih kosong, seakan pikirannya jauh dari ruangan itu.

“Kau pernah merasa tidak punya pilihan?” suara Yuna akhirnya terdengar pelan.

Pelayan itu terdiam kecil, sedikit terkejut, lalu menunduk.

“Saya.. hanya pelayan, Nona. Pilihan saya kecil sekali dibanding Nona.”

Yuna tersenyum tipis, tapi bukan senyum bahagia. Lebih seperti senyum yang lelah.

“Begitu ya..”

Dia menatap tangannya sendiri.

“Kalau begitu.. bahkan orang sepertiku yang katanya punya ‘semua pilihan’... kenapa justru merasa paling tidak bebas?”

Angin kembali masuk, membuat tirai kamar bergerak pelan.

Yuna melanjutkan, suaranya lebih lirih, seperti berbicara pada dirinya sendiri sekaligus pada pelayannya.

“Ayah selalu berkata ini demi masa depanku... tapi mengapa masa depan itu terasa seperti penjara yang dibangun dengan tangan sendiri?”

Dia menutup mata sejenak.

“Aku tidak ingin menjadi alat. Tidak ingin menjadi simbol dari ambisi yang bukan milikku.”

Hening sesaat mengisi ruangan. Namun suaranya kembali, lebih berat dari sebelumnya.

“Namun.. jika kutolakpun, ayah tetap akan memaksaku.”

Tangannya mengepal pelan di dadanya.

“Dia mungkin hanya ingin memastikan masa depanku terjamin. Namun mengapa harus dengan cara yang salah?”

Yuna akhirnya menoleh sedikit ke arah pelayan itu, meski pandangannya masih kabur oleh pikirannya sendiri.

Ruangan itu kembali sunyi. Hanya suara angin malam yang terus menerpa, seakan ikut mendengar kebingungan seorang gadis yang terjebak antara hati dan darahnya sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!