Demi membalas budi kepada orang tua angkat yang membesarkannya, Eros Forger, CEO muda sukses, rela menerima perjodohan meski sudah memiliki kekasih yang dicintainya, Lura.
Ternyata, calon istrinya adalah Zenaya Harper, supermodel internasional yang cantik, mempesona, dan berhati tulus.
Awalnya Eros berusaha setia pada Lura, tetapi kebersamaannya dengan Zenaya perlahan menggoyahkan hatinya. Akankah ia tetap bertahan pada cinta pertamanya, atau justru jatuh cinta pada wanita yang semula tak pernah ia inginkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lalalicious, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERTEMUAN YANG MENENTUKAN TAKDIR
Waktu berlalu begitu cepat.
Tanpa terasa, malam yang telah ditentukan untuk mempertemukan dua keluarga konglomerat akhirnya tiba.
Sebuah restoran fine dining paling bergengsi di pusat Kota Brussels menjadi saksi pertemuan keluarga Forger dan Harper.
Restoran yang malam itu ditutup khusus untuk mereka dipenuhi interior bernuansa klasik Eropa, dengan lampu kristal raksasa yang menggantung megah di langit-langit. Alunan musik piano mengisi ruangan, menciptakan suasana yang elegan dan berkelas.
Kedua keluarga duduk mengelilingi meja panjang yang telah dihiasi rangkaian bunga anggrek putih serta lilin-lilin mewah.
Alice Forger tersenyum hangat sambil menoleh ke arah putra kesayangannya.
"Eros, perkenalkan. Ini nyonya Jane dan tuan Daniel, kau masih mengingatnya kan?."
Eros segera berdiri dari kursinya.
Dengan pembawaan yang tenang dan penuh wibawa, ia menjabat tangan pasangan paruh baya itu satu per satu.
"Senang bertemu kembali dengan Anda, Nyonya. Tuan."
Daniel tersenyum puas.
"Kami juga senang akhirnya bisa bertemu langsung dengan CEO muda yang namanya sedang menjadi perbincangan di dunia bisnis."
Jane kemudian tersenyum penuh arti.
"Maaf Zenaya belum datang. Dia masih ada acara pemotretan, jadi sedikit terlambat."
"Tidak apa-apa. Kami mengerti kesibukannya,"
jawab Alice sambil tersenyum.
Namun tak lama kemudian, dari arah pintu masuk restoran, seorang wanita terlihat melambaikan tangannya.
"Nah, itu dia. Akhirnya datang juga," ujar Jane.
Semua tatapan langsung tertuju pada sosok wanita yang berjalan mendekat dengan langkah anggun.
Kecuali Eros.
Pria itu masih menundukkan wajahnya, seolah tidak tertarik dengan siapa pun yang baru datang.
"Selamat malam. Maaf sudah membuat kalian menunggu. Jalanan tadi sangat macet."
Suaranya lembut dan penuh keanggunan.
"Tidak apa apa sayang." ujar Alice tersenyum.
Dengan sedikit rasa malas, Eros akhirnya mengangkat wajahnya.
Wanita itu mengenakan dress slim elegan dengan desain yang memperlihatkan lekuk tubuh rampingnya. Tubuh tinggi dan posturnya yang sempurna menunjukkan aura seorang model
profesional.
Zenaya Harper.
Untuk pertama kalinya, Eros melihat wanita itu secara langsung.
Dan ia harus mengakui satu hal.
Wanita itu jauh lebih cantik daripada yang pernah ia lihat di media.
Kulit putihnya tampak bercahaya, halus, dan bersih. Hidungnya mancung, matanya bulat dengan tatapan yang memikat, sementara bibir tipisnya memberikan kesan elegan.
Kecantikannya terasa tidak nyata.
Bahkan kata "cantik" terasa terlalu sederhana untuk menggambarkan dirinya.
Namun Eros segera memalingkan wajahnya.
Ia tidak ingin menunjukkan bahwa dirinya sempat terpesona.
Tak ada senyum.
Tak ada perubahan ekspresi.
"Ayo, kalian kenalan dulu. Atau kalian masih mengingat satu sama lain?" tanya Alice sambil
tersenyum.
Eros berdiri.
"Eros Forger."
Suaranya terdengar rendah dan tenang ketika ia mengulurkan tangannya.
Wanita itu menyambutnya dengan senyum yang begitu manis.
"Zenaya Harper."
Jemari mereka bertaut beberapa detik.
Namun setelah itu, Eros kembali menarik tangannya tanpa menunjukkan ekspresi apa pun.
Sikap dingin pria itu tak luput dari perhatian Zenaya.
Meski begitu, senyum di wajahnya tak sedikit pun memudar.
Ia tetap menjaga sikap anggunnya.
"Apa kalian masih mengingatnya?." Goda Alice tersenyum
Daniel yang melihat pemandangan itu langsung tertawa kecil.
"Lihatlah mereka."
"Keduanya benar-benar serasi."
"Bayangkan saja nanti saat berdiri berdampingan di pelaminan."
Ucapan itu langsung mengundang tawa seluruh anggota keluarga.
Eros hanya menunjukan senyum tipis yang sopan, sementara Zenaya menundukan kepala kecil dengan senyum malu yang menghiasi wajah cantiknya.
Akhirnya, mereka menempati kursi masing-masing yang tertata rapi di restoran elit tersebut.
Suasana mewah dan berkelas menyelimuti ruangan, menjadi saksi pertemuan dua keluarga besar di dunia bisnis.
"Oh ya, Eros,"
Daniel kembali membuka percakapan sambil menatap pria muda di hadapan nya dengan penuh kekaguman.
"Aku sering membaca berita tentangmu. Di usia yang masih sangat muda, kau sudah mampu membawa Forger Group menjadi salah satu perusahaan paling berpengaruh di Eropa."
Daniel tersenyum bangga.
"Aku benar-benar akan merasa terhormat jika memiliki menantu sepertimu."
Eros membalas dengan senyum kecil yang penuh kesopanan.
"Terima kasih, Tuan. Saya masih memiliki banyak hal untuk di pelajari."
Jawaban sederhana itu semakin membuat keluarga Harper kagum.
Sementara itu, Zenaya diam-diam memperhatikan pria yang duduk di hadapannya.
Tatapannya tidak bisa menyembunyikan rasa kagum.
Pria yang ada di depannya sekarang...
Bukan lagi anak laki-laki kecil yang pernah ia temui bertahun-tahun lalu.
Eros telah berubah begitu jauh.
Dulu, ia hanya mengenal seorang anak laki-laki yang cerdas dan memiliki tatapan berbeda dari anak-anak seusianya.
Namun kini...
Anak laki-laki itu telah tumbuh menjadi pria dewasa yang sempurna.
Tinggi.
Berwibawa.
Dengan tubuh atletis yang terpahat sempurna dan aura kepemimpinan yang begitu kuat.
Setiap gerakannya memancarkan karisma seorang pria yang terbiasa berada di puncak dunia.
Jantung Zenaya berdebar tanpa ia sadari.
Perasaan yang ia simpan sejak kecil seolah kembali tumbuh semakin besar.
Baginya, Eros bukan hanya pria yang akan menjadi pasangannya.
Eros adalah cinta pertama yang selama ini tidak pernah benar-benar ia lupakan.
Namun...
Berbeda dengan Zenaya yang menyimpan kekaguman begitu dalam, Eros justru tidak menunjukkan ketertarikan sedikit pun.
Tatapan dinginnya tetap tenang.
Wajah tampannya terlihat datar.
Bahkan kecantikan Zenaya yang mampu membuat banyak pria bertekuk lutut sekalipun tidak mampu menggoyahkan hatinya.
Mungkin bagi dunia, Zenaya Harper adalah wanita yang sempurna.
Cantik.
Anggun.
Memiliki pesona yang mampu membuat siapa pun terpikat.
Namun bagi Eros...
Kesempurnaan bukanlah tentang penampilan.
Karena hatinya telah memilih seseorang yang ia cintai.
Tak lama kemudian, para pelayan mulai menyajikan hidangan demi hidangan terbaik dari chef berbintang Michelin.
Suasana makan malam berlangsung hangat.
Sesekali terdengar tawa kecil memenuhi ruangan.
Namun di balik senyum yang ditunjukkan Eros, pikirannya terus melayang ke tempat lain.
Pada seseorang yang seharusnya berada di sisinya.
Lura.
......................
Setelah makan malam selesai, pembicaraan kembali mengarah pada tujuan utama pertemuan kedua keluarga malam itu.
Daniel meletakkan gelas wine-nya di atas meja.
"Karena Eros dan Zenaya sama-sama menerima perjodohan ini..."
Ia menatap seluruh anggota keluarga.
"...bagaimana kalau kita mempercepat pernikahan mereka?"
Semua orang tampak saling berpandangan.
Erwin menganggukkan kepala pelan.
"Aku tidak keberatan."
"Lagipula, semakin cepat, semakin baik."
Jane tersenyum lebar.
"Aku juga setuju."
Tatapan mereka kini beralih kepada kedua calon mempelai.
Zenaya tampak sedikit terkejut.
"Dad..."
"Apakah tidak terlalu cepat?"
Daniel tertawa kecil.
"Kalau memang sudah berjodoh, untuk apa menunggu lebih lama?"
Erwin kemudian menoleh ke arah Eros.
"Bagaimana menurutmu?"
Seluruh pasang mata kini tertuju kepada pewaris keluarga Forger itu.
Eros terdiam beberapa saat.
Ia melirik sekilas ke arah Zenaya yang juga sedang menatapnya.
Lalu...
Dengan wajah yang tetap tenang, ia berkata,
"Aku tidak keberatan."
Seketika senyum bahagia menghiasi wajah seluruh anggota keluarga.
Alice bahkan tak mampu menyembunyikan rasa senangnya.
"Wah..."
"Sepertinya anak Mommy sudah tidak sabar ingin menikah."
Godaannya langsung disambut gelak tawa.
Sementara Zenaya hanya menundukkan kepala.
Semburat merah perlahan menghiasi kedua pipinya.
Melihat reaksi putrinya, Jane tersenyum penuh arti.
"Kalau begitu..."
Daniel menganggukkan kepala mantap.
"Kita tetapkan saja pernikahan mereka bulan depan."
"Setuju."
Erwin langsung menyambut usulan itu tanpa ragu.
Malam itu...
Tanggal pernikahan Eros Forger dan Zenaya Harper resmi disepakati oleh kedua keluarga.
Tanpa seorang pun menyadari...
Ada satu hati yang perlahan mulai hancur.