Lima tahun setelah kepergian sang istri, Wijaya berusaha menjadi ayah sekaligus ibu bagi kelima anaknya. Di balik sosoknya yang tampak tegar, ia menyimpan rahasia yang tak pernah diketahui anak-anaknya hubungan dengan seorang perempuan yang telah lama hadir dalam hidupnya.
Owen, si sulung yang selalu memikul tanggung jawab keluarga. Rafa, yang keras kepala dan mudah terbakar emosi. Lily, putri kesayangan ayahnya yang selalu berusaha menjadi penengah. Wafa, anak yang selalu tenang dengan senyum dan tawanya. Dan Ell, si bungsu yang menjadi pelipur lara keluarga.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, ikatan keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja perlahan retak. Penyesalan datang terlambat, sementara waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Di antara cinta, amarah, dan pengorbanan, mereka akan menyadari bahwa tidak semua kesempatan datang untuk kedua kalinya. Sebab, ada seseorang yang diam-diam sedang menghitung... waktu yang tersisa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tabina Lutfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas rasa Lily
Suasana ruang tengah rumah Jaya mendadak sibuk. Kesebelas orang di sana bekerja sama memindahkan perlengkapan memanggang, berbagai jenis minuman, dan camilan dari dapur.
Karpet dirapikan, meja digeser ke pinggir, menciptakan area kumpul yang luas dan jauh lebih nyaman.
Lily melangkah dari arah dapur sambil membawa dua botol minuman soda berukuran besar. Dari arah berlawanan, Ell terlihat berlari-lari kecil.
Refleks, Lily bergeser ke sisi kanan untuk memberi jalan. Namun, matanya tidak menangkap bahaya yang mengintai di lantai sebuah papan skateboard milik Wafa tergeletak begitu saja di sana.
Srettt!
Ujung kaki Lily menginjak papan beroda itu. Keseimbangannya seketika hancur total, tubuhnya terlempar ke depan tanpa bisa dicegah.
BRUKKK!
Dua botol minuman yang dibawanya meluncur bebas ke lantai.
“Eleh, Ly! Kalau jalan tuh pakai mata napa sih!” seru Wafa santai dari kejauhan, bahkan sebelum ia sempat menolehkan kepalanya.
Namun, begitu bunyi hantaman itu disusul keheningan yang tak wajar, semua orang di ruang tengah serentak memutar kepala. Seketika itu juga, ekspresi wajah mereka membeku dalam syok massal.
“Lily!” Julian yang berdiri paling dekat spontan membelalak kaget. Ia bergegas maju untuk membantu Lily berdiri dari posisi jatuhnya.
“Anak gadis gueee!” jerit Jaya histeris dari pintu dapur. Ia langsung berlari kencang menghampiri putrinya.
Sementara itu, Rafa yang berdiri di sudut ruangan menatap pemandangan di depannya dengan kedua tangan bertengkurap di pinggang. “Tuh kan, apa yang gue bilang... magnetnya Javin tuh emang gila!” celoteh Rafa menahan tawa.
Bagaimana tidak? Posisi jatuh Lily tadi membuat tubuhnya tak sengaja menimpa Javin yang sedang berlutut menata pemanggang. Bib*r Lily sempat menyapu kaku b*bir Javin dalam hitungan detik akibat dorongan gravitasi yang begitu mendadak.
“Kena enggak itu tadi, Ly?! Kena enggak?!” tanya Jaya panik setengah mati.
Ell yang tak kalah cemas langsung menarik lengan Lily pelan, menjauhkannya dari Javin dan membawanya makin dekat ke sisi Owen.
Baik Lily maupun Javin sama sekali tidak menjawab pertanyaan Jaya. Keduanya mematung di tempat, napas tertahan dengan raut wajah panik luar biasa.
“Kayaknya kena deh, Pih... dikit tapi berbekas,” ledek Rafa lagi dengan nada kompor.
“Ada yang sakit, Kak? Ada yang luka enggak?” tanya Ell bertubi-tubi, memegangi bahu Lily. Lily hanya menggeleng kaku, pikirannya masih blank.
Tanpa sepatah kata pun, Lily berbalik melangkah cepat menuju dapur. Ia menyambar selembar tisu rol, lalu kembali ke ruang tengah. Tanpa aba-aba, jemari Lily yang gemetar menyapukan tisu itu langsung ke bibir Javin.
Melihat aksi spontan itu, Wafa melotot horor. Mulutnya menganga lebar hingga telapak tangannya sendiri yang menutupinya. Ia berlari panik menghampiri Malik yang membeku di tempat.
“Aduh! Ini gimana ini, Lik?! Lik, sadar, Lik!” cerocos Wafa sembari menepuk-nepuk histeris punggung Malik yang tatapannya langsung kosong seketika.
Beda halnya dengan Jaya. Bukannya marah, garis bibir Jaya justru terangkat lebar, tersenyum-senyum sendiri menyaksikan tingkah putrinya.
“M-maaf ya, Kak... Li-Lily beneran enggak sengaja,” bisik Lily patah-patah dengan suara hampir tak terdengar.
Seketika itu juga, kedua daun telinga Javin berubah merah padam bak kepiting rebus. Laki-laki itu sibuk membetulkan posisi kerah bajunya dan mengusap leher belakang, berusaha keras mengikis kecanggokan yang membunuh atmosfir di sekitarnya.
“I-iya, Ly... enggak apa-apa. Kamu sendiri gimana? Enggak ada yang luka, kan?” balas Javin dengan intonasi nada yang mendadak berubah super lembut dan penuh nada khawatir.
“Iya Kak, enggak apa-apa...” sahut Lily, mengangguk canggung sembari menunduk dalam-dalam.
Melihat kepanikan adiknya, Rafa menyeringai makin jahil. “Aduh... kok tiba-tiba ruangan ini panas banget ya? Pipi gue sampai ikutan merah gini!” celoteh Rafa lantang seraya menepuk-nepuk pipinya sendiri.
Refleks, Lily langsung menangkup kedua pipinya yang mendadak memanas hebat. Tanpa sanggup menahan rasa malu yang membumbung sampai ke ubun-ubun, Lily berbalik dan berlari kencang menuju kamar mandi bawah.
Brak!
Pintu kamar mandi tertutup rapat.
“Kena kan dia! Lihat tuh, pipinya sampai merah kayak tomat rebus!” ujar Papi Jaya berteriak gembira diakhiri tawa renyah yang langsung memecah ketegangan di ruang tengah.
Julian dan Ell berlari beriringan menuju kamar mandi bawah menyusul Lily.
Ell menggedor pintu kayu itu beberapa kali. "Kak? Kakak oke, kan?" panggil Ell, suaranya dipenuhi rasa cemas yang tak bisa disembunyikan.
Dari dalam kamar mandi, Lily yang sedang menyandarkan dahi ke cermin menarik napas panjang. "Iya, Ell... Kakak enggak apa-apa," jawabnya berusaha terdengar biasa saja.
Di balik pintu yang tertutup, Lily mengacak rambutnya frustrasi. "Kenapa harus ada kejadian kayak gini sih? Malu banget, mana ada Julian lagi! Ih, mau ditaruh di mana muka gue!" gumam Lily kesal pada dirinya sendiri.
Sementara itu di luar, Ell berbalik dan melayangkan tatapan tajam nan menusuk ke arah Julian. "Lho... ngapain Lo ikut-ikutan ke sini?!" tegur Ell sinis.
Julian hanya menatap Ell dengan raut wajah tenang tanpa ekspresi.
"Stop deketin kakak gue. Gue enggak suka dan gue enggak akan pernah biarin kalian bersama!" ancam Ell dengan suara menahan geram.
Julian terkekeh pelan. Ia melangkah satu tapak mengikis jarak, mengulas senyum tipis yang terkesan provokatif di mata Ell, lalu menunjuk pelan dada kiri Ell dengan jari telunjuknya. "Semoga Lo berhasil," bisik Julian tenang.
Dada Ell gemuruh. Darahnya mendidih seketika. "Gue bilang stop deketin Kakak gue!" seru Ell histeris. Matanya memerah dan napasnya memburu. Karena sudah tak sanggup menahan amarah yang membumbung tinggi, Ell melayangkan dorongan kuat ke dada Julian hingga laki-laki itu jatuh tersungkur ke lantai dengan bunyi hantaman yang cukup keras.
Bruk!
Cklek!
Tepat di detik yang sama, Lily membuka pintu kamar mandi dan menyaksikan sendiri bagaimana Julian terjerembet ke lantai akibat dorongan adiknya.
"Ell! Kamu ngapain sih?!" seru Lily syok. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menghampiri dan membimbing Julian untuk berdiri.
"Kamu ini kenapa sih?! Kalau kamu enggak suka sama Julian, enggak harus pakai kekerasan gini juga dong!" omel Lily dengan nada suara bergetar menahan kekcewaan mendalam.
Tanpa memedulikan Ell yang mematung, Lily langsung menuntun lengan Julian menuju ruang tengah.
Di sudut koridor dekat dapur, Kino sebenarnya sempat hendak menyusul Ell. Namun langkahnya terhenti begitu melihat percekcokan itu dari kejauhan. Ia menyaksikan seluruh kejadiannya dari awal sampai akhir.
"Kenapa sih, Dek? Kok malah marah-marah?" tanya Owen bingung sewaktu melihat adiknya datang dengan raut muka tegang. Suara tinggi Lily tadi memang sempat memantul hingga ke ruang tengah.
Lily memilih bungkam, bibirnya terkatup rapat.
Julian yang sadar betul betapa khawatirnya gadis di sampingnya itu segera memegang kedua pundak Lily lembut. "Aku enggak apa-apa, Ly. Beneran."
"Enggak apa-apa gimana?! Jelas-jelas tadi aku lihat sendiri Ell sengaja dorong kamu!" Lily memotong cepat. Matanya berkaca-kaca. Ia menyambar tangan Julian dari pundaknya lalu memeriksa telapak dan siku laki-laki itu, takut-takut ada luka lecet.
Jaya yang menyusul ke ruang tengah menatap si bungsu dengan raut kecewa. "Ell, kenapa kamu dorong temannya Kak Lily? Papi enggak pernah ya ngajarin kamu bertindak kasar kayak gini!"
"Ell enggak suka sama dia, Pih! Dia bohongin Kak Lily!" potong Ell berusaha membela diri, matanya ikut berkaca-kaca. "Kakak pernah bilang kan kalau Julian ngomong sama orang selalu pakai aku-kamu? Tapi tadi dia ngomong ke Ell pakai gue-lo!"
Lily tertawa pahit. Sebuah tawa tanpa nada bahagia saat sebutir air mata akhirnya lolos membasahi pipinya. "Cuma karena hal sepele kayak gitu...?" tanya Lily tak habis pikir.
Kino yang berdiri di belakang Ell mendadak ikut angkat bicara. "Julian yang dorong Ell duluan, Kak!" celetuk Kino bohong. Padahal, ia tahu betul Julian hanya menunjuk dada Ell, bukan mendorongnya.
"Senggak suka itu ya kalian semua sama teman Lily?!" tumpah sudah emosi Lily yang dipendamnya sedari. "Kalau memang enggak suka, enggak usah sampai main fisik dan fitnah dong!"
Lily menatap Ell lurus-lurus dengan tatapan terluka. "Kakak kecewa sama kamu, Ell."
Gadis itu menarik jemari Julian untuk pergi. Namun, baru beberapa langkah diayunkan, tangan Ell melayang cepat menahan pergelangan tangan kakaknya.
"Dengerin penjelasan Ell dulu, Kak!" tangis Ell akhirnya pecah.
"Iya, kak Ly... coba dengerin Ell dulu. Gue yakin Ell enggak bakal ngelakuin itu tanpa alasan," sela Malik mencoba menenangkan situasi dan membela adiknya Wafa itu.
Lily menoleh tajam ke arah Malik dengan tatapan membunuh. "Mau apa lagi yang dijelasin?! Semua udah jelas! Gue udah lihat sendiri pakai mata kepala gue!"
Dengan hempasan kuat, Lily melepaskan cengkeraman Ell lalu menarik Julian keluar rumah menuju taman belakang.
Rafa mengusap wajahnya kasar, menatap punggung Julian yang menjauh. "Dari awal ketemu tuh bocah, emang perasaan gue udah enggak enak," gumam Rafa dingin.
Di bawah temaram lampu taman belakang, suasana mendadak sunyi dan dingin.
"Maaf ya, Lian... Harusnya pertama kali kamu main ke rumahku, aku bisa kasih kesan yang bagus. Tapi malah begini..." ujar Lily lirih, menunduk dalam-dalam.
"Enggak apa-apa, Ly. Kamu jangan marah gitu sama Ell, kasihan dia. Dia pasti punya alasan lain kenapa sampai kayak gitu," balas Julian berusaha menenangkan.
Dengan lembut, Julian merengkuh kepala Lily dan merebahkannya di atas pundaknya.
"Alasan lain apa, Lian? Dia cuma enggak suka sama kamu. Maafin keluargaku ya... Padahal kamu udah bela-belain minta izin pulang awal dari tempat kerja, tapi malah diperlakuin kayak gini..." Air mata Lily meluncur deras membasahi kaus putih yang dipakai Julian.
Julian melepaskan pelukannya sebentar, lalu meraup kedua pipi Lily dengan jemarinya. "Aku serius, aku enggak apa-apa, Ly. Aku juga ada salahnya tadi," bisik Julian lembut sembari menyapu sisa air mata di pipi gadis itu. "Hari ini kan hari bahagianya Papi kamu. Jangan sampai suasana hatinya yang gembira ikut rusak, ya?"
Julian mengelus rambut Lily dengan kasih sayang yang menghangatkan. Tak sanggup menahan rasa haru dan bersalah, Lily langsung melingkarkan kedua lengannya erat-erat, merangkul dada Julian rapat.
Sementara itu di ruang tamu, atmosfer terasa begitu berat dan pekat. Ell duduk tersedu-sedu di dalam pelukan Jaya. Tangis anak bungsu itu pecah tanpa ditahan-tahan lagi.
Jaya mengusap punggung putra bungsunya dengan mengendalikan emosinya sendiri. Ia lalu memegang kedua bahu Ell, menatap matanya dalam-dalam.
"Sekarang... coba Ell cerita jujur sama Papi," tegas Jaya dengan intonasi rendah namun tak terbantahkan. "Apa yang sebenarnya terjadi tadi? Jawab jujur!"
“Dia yang mulai duluan, Pih... Ell ditunjuk-tunjuk sama dia. Ell cemburu... Setiap ada dia, Kak Lily selalu lupain keberadaan Ell,” isak Ell dengan suara sesenggukan. Kejujuran yang terucap polos dari bibir si bungsu itu akhirnya memecah teka-teki yang sedari tadi menggantung di ruang tamu.
Wafa menghela napas panjang lalu melipat tangannya di dada. “Aelah, cuma gara-gara cemburu... Tapi Lo lihat sendiri kan akibat dari kecemburuan Lo itu? Sekarang Lily jadi marah besar sama Lo.”
Owen melangkah mendekat, mengelus rambut Ell dengan kelembutan seorang abang tertua. Sekarang mereka semua paham apa yang sebenarnya dirasakan oleh adik kecil mereka rasa takut kehilangan perhatian dari satu-satunya anak perempuan di rumah itu.
Jaya merengkuh tubuh Ell lebih erat, menyalurkan rasa penyesalan. “Maafin Papi ya, Ell... Tadi Papi sempat emosi dan marah sama Ell. Tapi walaupun begitu, besok-besok Ell enggak boleh ngulangin hal kayak gini lagi, ya?” nasihat Jaya penuh kehangatan.
Ell hanya mengangguk patuh di dalam pelukan papinya.
“Ya udah, sekarang Ell sama Bang Rafa dulu ya. Papi sama Kak Owen mau siap-siap milih dan nata makanannya dulu di dapur,” lanjut Jaya mengurai pelukannya.
Rafa yang duduk di sofa menyeringai lebar seraya merentangkan kedua tangannya. “Sini, adek manis... sama Abang dulu,” ujar Rafa dengan intonasi dibuat-buat yang terdengar menggelikan.
Ell menghapus sisa air matanya lalu berjalan pelan menghampiri Rafa dan mendudukkan diri di samping abang second-in-command-nya itu.
Sebelum berbalik melangkah ke dapur, Owen menyempatkan diri melayangkan tatapan tajam nan mematikan ke arah Rafa. “Awas ya, jangan gantian Lo yang bikin Ell nangis Raf. Gue p*ngg*l juga kep*la Lo ntar kalau sampai dia ngerengek lagi,” ancam Owen dingin tanpa kompromi.
Rafa refleks mengangkat kedua tangannya menyerah. “Iya, ampun, Bang! Gue belum punya bini, jangan suruh gue mati muda lah!” ujar Rafa pasrah.
Javin yang duduk tak jauh dari sana mendengus geli. “Halah! Segala mikirin bini... Orang selama ini kalau ada cewek yang enggak sengaja ngeliat Lo aja pada takut. Aura Lo tuh aura gelap, Raf!” ledek Javin tanpa ampun.
Rafa menoleh cepat dengan raut muka terzalimi. “Sembarangan! Zaman sekarang emang susah banget ya bedain mana teman mana musuh!” cibir Rafa balik melempar sindiran.
“Vin...”
Jaya mendadak memanggil dari ambang pintu dapur, membuat perdebatan konyol itu terhenti. Javin menoleh cepat ke arah sang pemilik rumah.
“Tolong panggilin Lily sama Julian di luar ya? Makanan udah mau siap,” minta Jaya.
“Siap, Om!” jawab Javin tegas sembari memberikan gestur hormat ala prajurit.
Javin melangkah keluar menembus keheningan area samping rumah, menelusuri koridor kecil menuju taman belakang. Langkah kakinya yang tadinya santai perlahan melambat begitu matanya menangkap dua sosok di bawah temaram lampu taman.
Dada Javin mendadak berdenyut nyeri. Di sana, di antara embun malam yang mulai turun, Lily sedang merangkul erat tubuh Julian, sementara Julian mendekap gadis itu hangat di dadanya. Sebuah pemandangan yang seketika mengunci langkah Javin di tempat.
kalimat berderet panjang
konflik lambat terasa kurang tajam
penutup agak samar kurang kuat
alur terasa berjalan lambat