Emma dan Ella Taylor, sepasang gadis kembar, terpisah sejak kecil akibat perceraian orang tua. Emma tumbuh di New York menjadi wanita pemarah dan sulit mengendalikan emosi, sementara Ella yang dibesarkan di Inggris justru bersifat pendiam, penakut, dan terbiasa mengalah.
Setelah dua puluh tahun, mereka bertemu secara tak terduga di atas kapal pesiar mewah.
Saling bercerita tentang beban hidup masing-masing, keduanya mengambil keputusan nekat untuk bertukar identitas dan menjalani hidup satu sama lain.
Akankah pertukaran ini menjadi jalan keluar, atau justru menjerumuskan mereka ke dalam masalah yang jauh lebih rumit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon raya Abc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Yang Sulit Dikendalikan.
Pukul sebelas siang.
Kediaman mewah itu kembali sibuk.
Beberapa pelayan mondar-mandir mempersiapkan ruang tamu utama untuk menyambut keluarga Harrington.
Mr. Howard memastikan setiap vas bunga berada di tempatnya.
Peralatan minum teh ditata dengan sempurna.
Tak ada satu pun yang boleh salah.
Sementara itu...
Emma baru turun dari perpustakaan dengan sebuah buku tebal di tangannya.
Ia mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku, celana panjang hitam, dan sepatu hak rendah.
Begitu melihatnya, Mr. Howard langsung menghampiri.
"Nyonya..."
Emma menutup bukunya.
"Apa?"
"Tamu akan segera datang."
"Hm."
"Apakah Nyonya ingin berganti pakaian?"
"Tidak."
"Lady Alexander biasanya.."
Emma memotong.
"Aku bukan 'biasanya'."
Mr. Howard terdiam.
"Nyonya..."
"Apa kau sudah selesai?"
Pria tua itu menghela napas pelan.
"Baik. Maaf nyonya."
Emma kembali berjalan menuju ruang tamu.
Ralph keluar dari ruang kerjanya.
Tatapannya langsung menemukan Emma yang sedang membaca buku sambil menyilangkan kaki di sofa.
Ia berhenti beberapa langkah di depan istrinya.
"Kau belum berganti pakaian juga."
Emma membalik halaman buku.
"Belum."
"Aku sudah memintamu sejak tadi."
Emma masih membaca.
"Aku juga sudah menolak berulang kali Ralph, kau pasti mendengarnya."
Ralph tetap berdiri.
"Ini bukan pertemuan biasa."
"Aku tahu. Etika keluarga bangsawan."
"Keluarga Harrington sangat menjaga etika."
Emma akhirnya menutup bukunya.
Tatapannya bertemu dengan Ralph.
"Lalu?"
"Sebagai Lady Alexander..."
Emma memotong sebelum Ralph menyelesaikan kalimatnya.
"Jangan mulai lagi."
"Kau seharusnya.."
"Aku tahu apa yang akan kau katakan."
Emma berdiri.
"Tentang etika."
"Tentang martabat keluarga."
"Tentang status bangsawan."
"Tentang bagaimana seorang istri harus bersikap."
Emma menggeleng pelan.
"Aku sudah hafal akan itu semua."
Keheningan menyelimuti ruang tamu.
Ralph tetap tenang.
"Kau memang sudah hafal."
"Bagus."
"Tapi kau tidak melakukannya saat ini."
Emma menyelipkan kedua tangan ke saku celananya.
"Karena aku tidak setuju."
"Itu bukan pilihanmu."
"Itu justru pilihanku."
Tatapan mereka kembali beradu.
Beberapa pelayan yang berada di ruangan itu perlahan menyingkir.
Mereka tahu...
Perdebatan lain akan dimulai.
"Kau sengaja membangkang didepan semua orang."
Suara Ralph tetap rendah.
Emma menggeleng.
"Aku hanya tidak suka diperintah dan diperlakukan tidak hormat."
"Perintah itu untuk kebaikan keluarga."
"Bukan."
Emma melangkah satu langkah mendekat.
"Itu untuk menjaga citra."
"Citra juga penting."
"Bagi kalian."
"Bagi keluarga Alexander."
Emma menatap lurus ke mata Ralph.
"Aku tidak pernah hidup demi pandangan orang lain."
Ralph menyipitkan mata.
"Dan sekarang kau adalah bagian dari keluarga ini."
Emma tidak bergeming.
"Itu tidak mengubah siapa diriku."
Hening.
Tidak ada yang mengalah.
Ralph belum pernah melihat Ella mempertahankan pendapatnya seperti ini.
Selama lima tahun...
Setiap keputusan selalu diterima tanpa bantahan.
Kini...
Hampir setiap kalimat yang keluar dari mulut istrinya berubah menjadi sanggahan.
Anehnya...
Ia tidak merasa kesal.
Justru...
Ia ingin terus mengetahui sampai di mana batas wanita ini.
"Aku akan mengulanginya sekali lagi."
Suara Ralph tetap datar.
"Ganti pakaian mu sekarang Ella."
Emma menatapnya beberapa detik.
"Bagaimana kalau aku tidak mau? Apa kau akan menghukumku Ralph?"
"Kau akan mempermalukan keluarga Alexander."
Emma tersenyum tipis.
Senyum yang nyaris tak terlihat.
"Itu ancaman?"
"Bukan."
"Lalu?"
"Konsekuensi."
Emma mendekat hingga jarak mereka tinggal beberapa langkah.
"Kau tahu kenapa aku tidak suka diperintah?"
Ralph diam.
"Karena sejak kecil..."
Emma berkata pelan.
"...setiap orang yang mencoba mengatur hidupku selalu menganggap mereka tahu apa yang terbaik untukku."
"Ternyata tidak."
Ralph memperhatikan wajah istrinya.
Untuk sesaat...
Ia melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
Bukan kemarahan.
Melainkan kerasnya seseorang yang terlalu lama terbiasa bertahan sendiri.
Emma merapikan ujung lengan bajunya.
"Kalau kau ingin dihormati..."
Ia menatap Ralph tanpa berkedip.
"...berhenti mencoba mengendalikan semua orang."
Setelah mengatakan itu, Emma berbalik.
Ia melangkah menuju ruang tamu depan.
Meninggalkan Ralph yang masih berdiri di tempatnya.
"Tuan..."
Mr. Howard muncul dengan langkah hati-hati.
"Keluarga Harrington telah tiba."
Ralph tetap memandang ke arah lorong yang baru saja dilewati Emma.
Sudah berkali-kali ia berdebat dengan istrinya dalam beberapa hari terakhir.
Namun anehnya...
Tidak sekali pun ia benar-benar ingin mengakhiri perdebatan itu.
Setiap kali Emma membantah...
Ia justru ingin mengetahui bantahan berikutnya.
Setiap kali Emma menolak...
Ia justru ingin melihat bagaimana wanita itu akan mempertahankan keputusannya.
Perasaan itu asing.
Bukan karena ia menikmati pertengkaran.
Melainkan karena untuk pertama kalinya...
Ada seseorang yang berani berdiri sejajar di hadapannya.
Bukan karena status.
Bukan karena kekuasaan.
Tetapi karena keyakinannya sendiri.
Ralph mengembuskan napas pelan.
"Undang mereka masuk."
"Baik, Tuan."
Saat Mr. Howard pergi, Ralph melirik sekali lagi ke arah ruang tamu.
Emma sudah berdiri di sana, tetap dengan pakaian pilihannya, tanpa sedikit pun terlihat gugup menghadapi tamu-tamu bangsawan.
Sudut bibir Ralph bergerak nyaris tak terlihat.
"Istri..."
gumamnya pelan.
"...kau benar-benar berubah."
Dan tanpa disadarinya...
Perhatiannya pada wanita yang ia nikahi lima tahun lalu kini tak lagi lahir dari kewajiban.
Melainkan dari rasa ingin memahami seseorang yang semakin hari semakin sulit ia tebak.
Ruang tamu kembali sunyi setelah Mr. Howard pergi menyambut keluarga Harrington.
Emma masih berdiri di tempatnya.
Tatapannya lurus ke depan.
Ia tahu Ralph belum pergi.
Dan benar saja.
Suara langkah kaki pria itu kembali mendekat.
Berhenti tepat di belakangnya.
"Kau benar-benar tidak akan berganti pakaian?"
Emma tidak menoleh.
"Tidak."
"Aku sudah memberimu kesempatan."
Emma mengembuskan napas pelan.
"Ralph."
"Hm."
"Apa kau selalu memaksa semua orang?"
"Tidak."
"Lalu kenapa padaku?"
"Karena kau istriku."
Emma akhirnya menoleh.
Tatapan mereka kembali bertemu.
"Dan?"
"Itu cukup."
Emma hampir memutar bola matanya.
"Bukan bagiku."
Ralph tetap tenang.
"Aku tidak ingin memperdebatkan ini lagi."
"Baguslah, akhirnya kau sadar juga."
Emma mengangkat bukunya.
"Aku juga."
Baru saja ia hendak melangkah...
Ralph berkata pelan.
"Kalau begitu..."
Emma berhenti.
"...aku harus menggunakan hakku sebagai suamimu."
Emma menoleh perlahan.
"Maksudmu?"
Nada suara Ralph tetap rendah.
Namun justru itu yang membuat setiap katanya terdengar lebih serius.
"Selama lima tahun..."
"kita hidup seperti dua orang asing ditempat ini."
Emma mengerutkan kening.
"Itu bukan masalah bagiku bahkan aku menyukainya."
"Bisa jadi."
"Tapi tidak selamanya."
Emma mulai merasa ada firasat buruk.
Ralph melanjutkan,
"Keluarga Alexander mulai mempertanyakan penerus keluarga."
Emma membeku.
"Aku sudah cukup lama membiarkan semuanya berjalan seperti ini."
Tatapan Ralph tidak berubah.
"Kalau kau terus menolak bekerja sama dalam hal-hal yang menyangkut keluarga..."
"...mungkin sudah waktunya kita menjalani pernikahan ini sebagaimana mestinya suami istri."
Jantung Emma berdegup lebih cepat.
Ia memahami maksud kalimat itu.
Ralph tidak sedang mengancam dengan kemarahan.
Ia sedang berbicara tentang konsekuensi sebagai pasangan suami istri.
Emma refleks mundur selangkah.
"Kau..."
Ralph tetap tenang.
"Aku tidak menyukai paksaan."
"Tapi aku juga tidak bisa terus membiarkan semua aturan diabaikan."
Emma untuk pertama kalinya kehilangan jawaban.
Selama beberapa hari terakhir...
Ia selalu berhasil membalas setiap perkataan Ralph.
Namun kali ini berbeda.
Ia sedang menyamar sebagai Ella.
Dan sebagai suami yang sah, tidak aneh bila Ralph mulai berpikir tentang masa depan pernikahan mereka, termasuk keinginan keluarganya akan seorang pewaris.
Melihat perubahan ekspresi Emma, Ralph sedikit menyipitkan mata.
Ini pertama kalinya ia melihat wanita itu benar-benar gugup.
Biasanya...
Emma selalu menatapnya tanpa rasa takut.
Kini wajahnya jelas berubah.
Ralph berkata pelan,
"Jadi..."
"Pilihannya tetap sama?"
Emma menelan ludah.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia mendesah panjang dengan kesal.
"Dasar..."
Ia menatap tajam Ralph.
"...Pria licik."
Ralph tidak membantah.
Emma memutar tubuhnya dengan kesal.
"Tunggu."
"Aku akan berganti pakaian."
Langkahnya terdengar lebih keras daripada biasanya saat menaiki tangga.
Beberapa pelayan yang melihat kejadian itu saling berpandangan dengan bingung.
Lady Alexander...
Yang sejak beberapa hari lalu tidak pernah mau mengalah...
Akhirnya memilih menurut.
Beberapa menit kemudian.
Emma turun kembali.
Kali ini mengenakan gaun sederhana berwarna biru tua yang tetap elegan, tanpa perhiasan berlebihan.
Rambut pirangnya tetap dibiarkan pendek dan lurus.
Begitu melihat Ralph, ia langsung berkata ketus,
"Jangan senang dulu."
"Aku berganti pakaian bukan karena setuju denganmu."
"Melainkan karena aku sedang memilih masalah yang lebih kecil."
Ralph mengangguk tipis.
"Itu sudah cukup."
Emma mendengus pelan.
"Kau pria menyebalkan."
"Tidak ada yang berubah."
"Tidak."
Emma menatapnya tajam.
"Ada satu hal yang berubah."
"Apa?"
"Aku baru tahu kau bisa bermain kotor."
Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran mereka dimulai...
Sudut bibir Ralph benar-benar terangkat, meski hanya sesaat.
Sangat tipis.
Hampir tak terlihat.
Namun cukup untuk membuat Emma menyipitkan mata.
"Kau tersenyum?"
"Bukan."
"Itu senyum."
"Kau salah lihat."
Emma mendecakkan lidah.
"Sekarang kau juga pandai berbohong."
Ralph berjalan lebih dulu menuju ruang tamu.
Sebelum melewati Emma, ia berkata pelan,
"Setidaknya..."
"...sekarang aku tahu."
Emma mengernyit.
"Tahu apa?"
Ralph meliriknya sekilas.
"Kau ternyata juga punya kelemahan."
Emma terdiam.
Ralph kembali melangkah tanpa menunggu jawaban.
Sementara Emma mengepalkan tangan pelan.
Ia benar-benar kesal.
Bukan karena harus memakai gaun.
Melainkan karena tanpa sadar...
Ia baru saja memperlihatkan satu-satunya reaksi yang membuat Ralph menyadari bahwa wanita sekeras dirinya pun masih memiliki batas yang tidak ingin disentuh.
mulai ngikuti sepertinya menarik