NovelToon NovelToon
Rumah Jiwa Yang Lelah

Rumah Jiwa Yang Lelah

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: meiithandi

Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.

setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rio merasa sakit Hati

Davina melangkah keluar perlahan, napasnya masih terasa berat dan tak beraturan. Matanya yang basah menatap jalanan sepi tempat mobil Rio perlahan menghilang di balik kelokan gelap, seakan sebagian hatinya ikut tertinggal di sana bersama bayang-bayang masa lalu yang tak kunjung usai, yang justru kembali membawa luka yang baru saja mulai mengering.

Tangan mungil Zahra masih erat memeluk kaki ibunya, jari-jari kecilnya mencengkeram ujung gaun Davina dengan erat, seakan takut jika melepaskannya sebentar saja, ibunya pun akan ikut pergi meninggalkannya seperti yang baru saja dilakukan ayahnya.

Wajah kecil putrinya mendongak menatapnya dengan mata bulat yang jernih namun penuh kebingungan, sepasang mata yang persis seperti mata ayahnya, namun saat itu hanya memancarkan ketakutan yang polos.

"Mama..." suara Zahra terdengar lirih, bergetar menahan tangis yang hampir meledak di kerongkongannya. "Apakah Ayah pergi karena Zahra nakal? Apakah Ayah marah pada Zahra?"

Hati Davina seketika terasa diremas perih mendengar pertanyaan polos itu. Ia segera berlutut di tanah yang masih lembap terkena air hujan, merentangkan kedua pelukannya dan menarik tubuh mungil putrinya ke dalam dekapan yang hangat.

Ia memeluknya erat-erat, mencium kening kecil itu berkali-kali, berusaha menyembunyikan kepedihan yang kembali menyayat dadanya di balik senyum yang berusaha ia rajut sekuat tenaga.

"Bukan begitu, sayangku..." ucap Davina dengan suara yang bergetar namun berusaha terdengar tegar. "Ayah tidak marah pada Zahra. Ayah tidak pernah marah pada putri kecil Ayah yang paling cantik dan penurut ini. Ayah hanya... harus pergi sebentar karena ada urusan. Nanti... nanti Ayah pasti kembali lagi menemui Zahra."

Davina tak sanggup melanjutkan kalimatnya. Ia tak sanggup menjelaskan kenyataan pahit itu kepada putrinya yang masih terlalu kecil untuk mengerti arti perpisahan, ketidakharmonisan, dan luka yang tak tampak di antara kedua orang tuanya.

Ia hanya bisa menatap mata anaknya yang masih penuh keraguan, berdoa dalam hati agar tak ada satu pun rasa bersalah yang tumbuh di hati mungil itu atas segala hal yang terjadi di luar kendalinya.

Di samping mereka, Adit berdiri diam di bawah remang cahaya lampu teras yang temaram. Ia menatap pemandangan itu dengan dada yang terasa sesak dan penuh.

Ia ingin sekali ikut merentangkan tangannya, ikut memeluk mereka berdua, menenangkan ketakutan yang tampak begitu nyata terpancar dari wajah ibu dan anak itu. Ia ingin berkata kepada Zahra bahwa ada orang lain yang tak akan pernah pergi meninggalkannya, tak akan pernah membuatnya menangis ketakutan.

Namun ia menahan diri sekuat tenaga, menyadari betul bahwa keberadaannya di sana saat ini mungkin masih terasa berat dan penuh keraguan bagi Davina. Ia tak ingin menambah beban di hati wanita itu dengan kehadirannya yang mungkin masih dipandang sebagai sesuatu yang rumit dan belum waktunya.

Perlahan Davina berdiri, merapikan pakaian Zahra yang sedikit lembap, lalu menoleh ke arah Adit. Matanya yang sembab dan merah menatapnya lekat-lekat, memancarkan ribuan perasaan yang sulit dijabarkan dengan kata-kata , rasa terima kasih yang sedalam samudra, rasa malu karena harus menampakkan kelemahannya berkali-kali di hadapan pria yang sama, sekaligus kepedihan yang mendalam karena tak tahu bagaimana harus membalas segala kebaikan yang tak pernah berharga ini.

"Terima kasih, Adit..." suaranya terdengar pelan dan bergetar, seakan takut jika ia berbicara sedikit lebih keras, air matanya akan kembali meluap tanpa terkendali. "Andai kau tidak datang malam ini... dan tidak secepat ini... aku tak tahu harus berbuat apa. Aku benar-benar takut sendirian."

Adit melangkah maju selangkah, menatapnya dengan pandangan yang begitu lembut namun penuh kesungguhan yang tak pernah goyah.

"Kau tak perlu berterima kasih padaku, Davina," jawabnya dengan suara yang tenang dan menembus hingga ke sanubari wanita itu.

"Bukankah sudah kukatakan padamu berkali-kali? Aku akan selalu ada saat kau membutuhkanku. Di mana pun kau berada, apa pun yang terjadi di sekitarmu... kau tak akan pernah sendirian. Selamanya."

Kalimat itu terucap begitu tulus, begitu dalam, dan begitu yakin, hingga membuat jantung Davina berdegup tak menentu di dalam dadanya. Ia menundukkan wajahnya, tak sanggup lagi menatap mata yang selalu mampu menembus segala keraguannya dan membaca isi hatinya lebih baik daripada dirinya sendiri.

Kehangatan yang dipancarkan pria itu begitu menenangkan, begitu aman, namun di saat yang sama terasa begitu menyakitkan karena ia tahu betul betapa tidak pantas ia menerima ketulusan yang begitu besar di tengah keadaan yang begitu rumit dan penuh kekusutan seperti saat ini.

"Masuklah dulu, Davina," ucap Adit pelan, memecah keheningan yang mulai terasa berat. "Udara malam semakin dingin dan lembap. Jangan sampai Zahra ikut kedinginan dan jatuh sakit. Kesehatan kalian adalah hal yang paling penting saat ini."

Davina mengangguk lemah. Ia menggenggam tangan mungil putrinya erat-erat, seakan mengumpulkan seluruh kekuatan yang tersisa di tubuhnya, lalu melangkah perlahan menuju pintu rumah.

Namun sebelum pintu itu tertutup rapat, ia berhenti sejenak, menoleh kembali ke arah Adit yang masih berdiri tegak di teras, menatapnya dengan pandangan yang tak pernah berubah, penuh perhatian dan perlindungan tanpa pamrih.

"Maukah... kau masuk sebentar?" ajaknya dengan suara yang sangat pelan dan penuh keraguan, seakan takut akan ditolak namun di saat yang sama tak ingin membiarkan pria itu pergi begitu saja dalam keadaan hatinya yang masih begitu gelisah. "Sekadar menunggu di dalam hingga suasana terasa lebih tenang... aku takut jika nanti dia kembali lagi."

Adit terdiam sejenak, lalu perlahan mengangguk lembut. Ia melangkah masuk ke dalam rumah itu dengan langkah yang tenang, menutup pintu perlahan di belakangnya seakan tak ingin membangunkan ketenangan yang begitu rapuh dan susah payah mereka jaga.

Di ruang tamu yang sederhana namun terasa hangat itu, mereka duduk berhadapan dalam keheningan yang panjang dan mendalam. Hanya terdengar suara detak jarum jam dinding yang berirama teratur, serta suara napas Zahra yang kini mulai perlahan menjadi tenang di pangkuan ibunya.

Davina menatap lantai yang bersih dan berkilau itu, seakan di sana tertulis segala keraguannya yang tak mampu ia ucapkan dengan lisan.

"Dia benar, Adit..." akhirnya suara itu terdengar kembali, penuh kepahitan yang tak sanggup lagi ia sembunyikan. "Secara agama kami belum bercerai. Kami masih sah di hadapan Tuhan. Dia suamiku. Zahra anak kandungnya. Lalu... apa hakku untuk menjauhinya? Apa hakku untuk merasa terperangkap dalam pernikahan yang seharusnya menjadi tempat pulang yang paling aman bagiku? Terkadang aku merasa... mungkin memang akulah yang salah. Mungkin aku yang terlalu keras kepala dan tak bisa membuka hati untuk menerima kehadirannya kembali sebagaimana mestinya."

Adit menatap wanita itu lekat-lekat, hatinya terasa perih melihat betapa berat beban yang ia pikul sendirian. Perlahan ia meraih tangan Davina yang tergeletak di atas lututnya, menggenggamnya dengan lembut namun penuh kekuatan yang menenangkan.

"Davina, dengarkan aku baik-baik," ucapnya dengan suara yang tenang namun penuh ketegasan yang tak bisa dibantah. "Kesucian dan keabsahan pernikahan itu bukan hanya soal status yang tertulis di atas kertas atau diucapkan di hadapan Tuhan. Pernikahan itu ada di dalam hati. Jika hatinya tak pernah benar-benar bersamamu selama tujuh tahun yang panjang itu... jika kehadirannya justru menanamkan rasa takut, cemas, dan luka yang terus berdarah di hatimu... maka seberapa sah pun statusnya di mata manusia dan Tuhan, ia belum menjadi suami yang sesungguhnya bagimu."

Adit menarik napas panjang, menatap mata yang mulai berkaca-kaca itu dengan penuh kelembutan.

"Jangan pernah merasa bersalah karena tidak bisa langsung menerimanya begitu saja tanpa luka. Luka yang dalam butuh waktu lama untuk sembuh, Davina. Dan jika dia benar-benar mencintaimu dan Zahra sebagaimana yang selalu ia ucapkan... biarkan dia membuktikannya dengan kesabaran, kelembutan, dan pengertian. Bukan dengan paksaan, tuduhan, dan tuntutan yang hanya menambah rasa takut di hatimu. Biarkan dia menebus kesalahannya tanpa menambah luka baru."

Davina terdiam mendengar kata-kata itu. Kalimat-kalimat itu menembus segala keraguan yang selama ini menggelayuti dan menyiksanya tanpa henti. Ia menatap mata Adit yang selalu memancarkan ketulusan tanpa syarat, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, hatinya terasa sedikit lebih ringan dan tenang.

"Terima kasih..." ucapnya pelan, air mata kembali menetes namun kali ini terasa tak lagi seberat sebelumnya. "Kau selalu tahu apa yang seharusnya kukatakan pada diriku sendiri, namun tak pernah berani kuucapkan."

Adit tersenyum tipis, senyum yang selalu mampu menenangkan hatinya. "Istirahatlah malam ini. Jangan biarkan pikiran tentang Rio mengganggu ketenanganmu. Biarkan waktu yang menjawab segala pertanyaan yang masih menggantung. Dan ingatlah satu hal... apa pun keputusan yang akan kau ambil nantinya, aku akan tetap berdiri di sini. Bukan untuk memaksamu memilih, melainkan untuk memastikan bahwa kau dan Zahra tak akan pernah menangis sendirian lagi."

Malam pun semakin larut. Setelah memastikan ibu dan anak itu tertidur lelap karena kelelahan yang luar biasa, Adit melangkah keluar dari rumah itu. Namun sebelum melangkah pergi, ia berhenti sejenak di tepi jalan, menatap ke arah kegelapan tempat mobil Rio menghilang tadi. Matanya menyala penuh tekad yang tak akan pernah pudar atau goyah.

Rio... dengarkanlah baik-baik dalam hatimu, batinnya berucap teguh di dalam sanubari. Aku tak akan merebut apa yang menjadi hakmu dengan cara apa pun. Namun aku juga tak akan membiarkanmu menyakiti mereka berdua untuk kedua kalinya. Jika kau ingin kembali ke kehidupan mereka, pulanglah dengan hati yang tulus dan tangan yang penuh kasih sayang, bukan dengan tuduhan dan paksaan. Buktikan bahwa kau layak diampuni dan kembali diterima. Jika tidak... aku tak akan ragu berdiri di antara kalian selamanya, menjaga mereka dari setiap tetes air mata yang mungkin jatuh karena perbuatanmu.

Dan jauh di sana, di dalam mobil yang melaju perlahan menembus kegelapan malam yang sunyi itu, Rio memegang setir dengan tangan yang masih gemetar hebat. Pikirannya terus terbayang wajah Davina yang ketakutan, pelukan erat Zahra pada ibunya, serta kata-kata tajam namun penuh kebenaran yang baru saja diucapkan Adit kepadanya. Rasa cemburu masih membakar dadanya, namun di samping itu, rasa bersalah perlahan mulai tumbuh dan merayap masuk ke dalam hatinya, menyadari dengan perih bahwa caranya kembali justru semakin menjauhkan orang-orang yang paling ia cintai dari sisinya.

Apakah aku yang salah sejak awal? pertanyaan itu kini mulai menghantui batinnya dengan kekuatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya. Apakah aku yang sebenarnya belum pantas kembali ke sisi mereka? Apakah ketulusan dan kelembutan yang mereka butuhkan itu... justru ada pada pria lain yang selama ini menunggu dengan sabar tanpa pernah menuntut apa pun?

1
Lasa Hardianti
Mampir thorr, penasaran nih alasan Davina minta cerai apa cuma gara-gara udah ga cocok atau ada hal lain?😌😳
Dian Meilani: jangan lupa pantengin ya, ku up ko okee
total 1 replies
nurulmarisa
seru banget ceritanya👍
IRINA SHINING STAR
saya mampir kak, semangat ya kakk. 😆
Dian Meilani: makasih kk 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
lanjut thor
Dian Meilani: makasih atas dukungannya
total 1 replies
Cilia
Baca ceritamu bikin ikut ngerasain kehangatan keluarga thorr, lanjutin terus ya! Semangat!
Dian Meilani: makasih kak atas dukungannya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!