"Kau benar-benar sempit dan nikmat."
Akibat jebakan seseorang, Aksara tanpa sadar meniduri seorang gadis tidak bersalah. Gadis yang tidak dikenalnya, namun menjadi gadis pertama yang ia nikmati.
Bukan hanya gadis itu yang pertama, namun Aksa juga. Dia mengambil mahkota gadis itu secara paksa di bawah kendali obat.
Aksa menyelidiki gadis itu, yang ternyata hanya seorang pengantar makanan di restoran milik paman dan bibinya.
Lalu bagaimana kisah selanjutnya, apakah Aksa akan bertanggung jawab atau justru lari??
Update setiap hari‼️
Follow Ig : Alfianaaa05_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masakan gadis itu
"Aku akan memberimu banyak uang jika kau bisa memberiku pewaris." Ucap seorang pria dengan tegas, tidak ada kelembutan meski kalimat tersebut mengandung permohonan.
"Iya Anita, kami akan menjamin hidupmu jika kau berhasil melahirkan anak laki-laki untuk kami." Tambah seorang wanita.
Pandu dan Melisa datang dengan permohonan ke seorang gadis sebatang kara yang bekerja di perusahaan keluarga mereka sebagai cleaning service.
Anita yang baru saja bekerja selama 3 bulan tentu syok mendengar permintaan dari putra pemilik perusahaan. Melahirkan anak untuk pewaris, entah permintaan macam apa ini.
"Tuan dan Nyonya, maaf. Tapi kenapa harus saya?" Tanya Anita dengan bingung.
"Karena kami yakin sama kamu, Anita. Kamu gadis yang baik dan cantik." Jawab Melisa seraya menggenggam tangan Anita.
"Aku tidak bisa mengandung, Anita. Aku mohon, aku janji akan bersikap adil. Kita akan membesarkan anak kita bersama." Tambah Melisa.
Ucapan dusta itu berhasil mempengaruhi Anita. Gadis malang yang akhirnya menerima permintaan atasannya. Ia yang merasa iba karena Melisa tidak bisa hamil, justru di balas dengan jahat.
Anita dinikahi secara siri dan berhasil mengandung. Di awal kehamilannya apa yang Melisa da Pandu katakan memang terbukti, ia sangat di jaga dan diperlakukan dengan baik.
Namun ketika Anita berhasil melahirkan anak laki-laki, semua sikap pasangan suami istri itu berubah, bahkan tidak ada lagi pertanyaan tentang kondisinya.
Anita yang baru melahirkan saat itu ditinggalkan begitu saja. Hanya Aksara yang di bawa oleh mereka.
Melisa dan Pandu mengingkari janjinya untuk menjamin hidup Anita.
"Anita, kami sudah tidak membutuhkan mu lagi. Kami sudah mendapatkan apa yang kami inginkan." Ucap Pandu dengan enteng.
"Apa maksud kamu, Mas? Kamu mau membuangku?" Tanya Anita dengan syok.
"Ya, kami sudah tidak butuh kamu. Pergilah dari rumah kami." Tambah Melisa dengan kejam.
"Kalian benar-benar jahat." Ucap Anita dengan sesak setelah merasa dikhianati.
Anita menangis, ia menolak untuk pergi jika tanpa putranya. Anita sudah tidak peduli dengan janji mereka, yang terpenting sekarang adalah bayinya.
"Aku akan pergi, tapi kembalikan anakku." Pinta Anita mengulurkan tangannya untuk mengambil Aksara dari gendongan Melisa.
Melisa mendorong Anita dengan kasar, ia tidak memperdulikan rasa sakit sehabis lahiran yang dirasakan oleh Anita.
"Mas, hiks … kembalikan anakku, aku akan pergi dari sini. Tapi aku mohon berikan putraku, aku yang melahirkannya." Pinta Anita memohon.
"Dia anakku, bukan anakmu!!" Bentak Melisa dengan kejam.
"Ayo, Mas." Ajak Melisa, menarik tangan suaminya keluar dari kamar Anita.
Anita menangis sejadi-jadinya, ia bangkit dari duduknya dan berlari untuk mengejar pasangan suami istri itu.
"Mas, hiks … kembalikan Aksa, Mas. Aksa anakku!!" Pinta Anita menarik tangan suaminya.
Pandu berusaha melepaskan tangan Anita, namun ia malah tidak sengaja mendorong wanita itu hingga terjatuh dari anak tangga satu ke anak tangga lainnya sampai ke lantai bawah.
Melisa dan Pandu syok, mereka lekas berlari dan melihat kondisi Anita yang tidak sadarkan diri dengan darah dari kepalanya.
"ANITA!!" Seseorang datang dan langsung berlari mendekatinya.
Mama Nuri terkejut melihat menantu keduanya itu tidak sadarkan diri, ia lalu menatap putranya penuh tanya.
"Pandu, apa yang terjadi?" Tanya mama Nuri.
"Anita terjatuh, Ma. Kami juga tidak tahu," jawab Melisa berbohong, sementara Pandu hanya diam.
Anita di larikan ke rumah sakit, namun nyawa wanita itu tidak bisa diselamatkan. Kondisinya yang baru saja melahirkan dan terjatuh membuat ia tidak tertolong.
Tidak ada rasa bersalah dalam diri Melisa dan Pandu, mereka tampak biasa saja karena mereka sudah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Anak mama." Ucap Melisa menciumi wajah Aksara.
Sejak Anita meninggal, mereka pindah dari rumah itu, bahkan Pandu sengaja menghilangkan bukti rekaman cctv kecelakaan yang dialami Anita.
Sampai akhirnya suatu hari ketika Pandu dan Melisa sedang berbicara tentang masa lalu dan Aksa mendengar nya.
"Aksa, ibu kamu meninggal karena jatuh. Kamu salah dengar, sini sama mama." Ucap Melisa hari itu ketika Aksara mengetahui kebenarannya.
Usianya baru 7 tahun, dan ia tidak bisa berbuat apa-apa, namun sejak saat itu semuanya berubah. Sikap, perlakuan dan cara Aksa bicara. Semua berubah.
Aksa yang ceria dan penuh senyuman, berubah menjadi dingin dan kejam. Sampai saat ini, semua sikap itu masih melekat pada dirinya.
"Kenapa kamu melamun disitu, Pa?" Tanya Melisa.
Wanita itu merasa bingung melihat suaminya yang terdiam sambil menatap keluar jendela.
Pandu tersadar. "Nggak apa-apa, Ma." Jawab Pandu tersenyum tipis.
Melisa manggut-manggut. "Oh ya, Pa. Mama sudah dapat semua identitas gadis yang mau dinikahi oleh Aksa, dan mama semakin yakin untuk tidak merestui mereka." Kata Melisa.
Pandu menghela nafas. "Jadi mama mau papa melakukan apa?" Tanya Pandu.
"Tidak perlu melakukan apa-apa, biar mama yang melakukannya." Jawab Melisa tersenyum misterius.
***
"Tuan, anda pria yang sempurna. Anda tahu? Anak dalam kandungan saya beruntung memiliki ayah yang hebat seperti anda."
Aksara tersenyum tanpa sadar ketika mengingat ucapan Ayesha tadi pagi. Meski terdengar sederhana, namun ia bahagia mendengarnya.
"Tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Xyan.
Pria itu tengah menjelaskan sesuatu pada atasannya, namun Aksara malah senyum-senyum begitu dan membuatnya bingung.
"Kau mengganggu." Ketus Aksara.
Xyan menghela nafas, ia memang selalu salah. Namun Xyan senang melihat atasan yang sudah dia anggap sebagai kakak bisa tersenyum bahagia seperti ini.
"Saya bahagia melihat anda bisa tersenyum, Tuan." Ucap Xyan jujur.
"Kau pikir aku patung sampai tidak bisa tersenyum, kau ini dasar aneh!" Timpal Aksa ketus.
Xyan lagi-lagi hanya bisa bersabar, jika bukan atasan dan kakak, mungkin ia sudah melemparkan map di tangannya ke wajah pria itu.
"Makan siang yang anda inginkan?" Tanya Xyan.
Aksara melirik jam di tangannya yang sudah hampir menunjukkan waktu makan siang. Ia berusaha untuk mencari makanan yang sedang ia inginkan dan jawabannya adalah …
"Masakan gadis itu." Gumam Aksa, namun masih didengar oleh Xyan.
"Gadis itu? Nona Ayesha?" Tanya Xyan langsung.
Aksara menatap Xyan. "Sok tahu." Jawab Aksa sembari memutar bola matanya jengah.
SI AKSA EMANG KUDU DI GAMPAR, XYAN😕
Bersambung...............................