"""Kalau kakak tidak mau, aku saja yang nikah!""
Safira nekad menawarkan diri sebagai pengganti kakaknya untuk menikahi Arga. Bukan karena cinta, tapi demi bebas dari neraka berkedok rumah.
Seumur hidup, Safira diperlakukan seperti budak oleh keluarganya sehingga ketika Arga datang dengan mobil tua dan pakaian sederhana untuk melamar kakaknya yang matre, Safira tahu ini kesempatannya. Tidak peduli bila keluarganya dan orang-orang menghinanya menikahi pria miskin, yang penting ia bebas!
Tapi, adakah yang bisa menjelaskan mengapa tiba-tiba suaminya dipanggil bos dan mertuanya trending di sosial media?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
Bab 04 - Akad Tanpa Resepsi
Akad nikah mereka berlangsung dua minggu kemudian.
Tidak ada ballroom hotel.
Tidak ada dekorasi bunga memenuhi dinding.
Tidak ada undangan tebal dengan emboss emas seperti yang selalu Rania simpan di Pinterest untuk pernikahannya kelak.
Hanya ruang tengah rumah keluarga Santoso yang dibersihkan lebih rapi dari biasanya, meja rendah untuk penghulu dari KUA, dua orang saksi, keluarga inti, beberapa tetangga yang terlalu dekat untuk tidak diundang, dan Kakek Hadi yang duduk di kursi roda dengan peci hitam.
Safira memakai kebaya putih sederhana buatannya sendiri.
Ia menjahitnya selama tiga malam setelah semua orang tidur. Bahannya bukan yang paling mahal, tetapi jatuhnya pas di tubuh. Kerahnya rapi, lengan panjangnya menutup pergelangan, dan ada detail bordir kecil di ujung manset yang ia kerjakan sambil menahan kantuk.
Rania melihatnya dari tangga.
"Kebaya kamu lumayan juga."
"Terima kasih."
"Sayang pengantinnya cuma begini."
Safira memasang peniti di hijabnya tanpa menoleh. "Pengantinnya tetap sah."
Rania mendengus. "Kamu sekarang pintar menjawab."
"Mungkin dari dulu aku bisa. Cuma dulu tidak ada alasan untuk repot-repot."
Wajah Rania mengeras. "Jangan merasa menang cuma karena hari ini kamu akad. Kamu sendiri tahu, Mas Arga itu bukan siapa-siapa. Kalau nanti hidupmu susah, jangan kembali sambil menangis."
Safira akhirnya menatap kakaknya melalui cermin.
"Kalau aku menangis, aku akan pilih tempat yang tidak membuat Kakak repot."
Rania kehilangan kata.
Ratna masuk dengan kotak kecil berisi kalung tipis. Ia meletakkannya di meja rias.
"Pakai ini. Biar tidak terlalu kosong."
Safira melihat kalung itu. Ia mengenalinya. Kalung lama milik Rania yang pengaitnya pernah patah, lalu diperbaiki di toko emas dekat pasar.
"Tidak usah, Ma."
"Jangan keras kepala. Tamu bisa melihat."
"Aku sudah punya bros."
"Bros kain buatanmu itu?"
"Iya."
Ratna menatapnya kesal. "Kamu ini susah sekali diatur."
Safira ingin berkata bahwa ia sudah diatur seumur hidupnya. Hari ini, ia hanya ingin memilih apa yang melekat di tubuhnya sendiri.
Tapi suara Bima dari bawah membuat pembicaraan berhenti.
"Assalamualaikum! Rombongan mempelai pria sudah datang!"
Jantung Safira berdetak lebih cepat.
Ia menarik napas panjang, lalu turun.
Arga berdiri di ruang tengah memakai baju koko putih dan celana hitam. Tidak ada jas mahal, tidak ada jam mencolok. Tapi sekali lagi, kesederhanaan itu tidak berhasil membuatnya terlihat biasa.
Saat melihat Safira turun, pandangan Arga berhenti.
Bima yang berdiri di sampingnya menyenggol pelan. "Jangan kelihatan kaget begitu. Nanti ketahuan."
Arga tidak menjawab.
Safira berhenti di depan Kakek Hadi. Kakek mengangkat tangan dengan susah payah, menyentuh punggung tangannya.
"Cantik, Nak."
Hanya dua kata itu yang hampir membuat Safira runtuh.
"Terima kasih, Kek."
Prosesi dimulai tidak lama kemudian. Penghulu memeriksa dokumen, menanyakan persetujuan kedua pihak, memastikan wali dan saksi hadir. Bambang menjadi wali dengan wajah tegang. Entah karena menyesal, malu, atau hanya ingin semua cepat selesai, Safira tidak tahu.
Arga duduk di depan penghulu.
Punggungnya tegak.
Tangan kanannya menggenggam tangan Bambang.
Mahar yang disebutkan membuat ruang tengah mendadak berbisik.
Satu set alat salat, sejumlah uang dengan angka tanggal akad, dan selembar kain batik tulis motif parang rusak yang dulu dipesan khusus oleh Kakek Surya sebelum wafat.
Ratna tampak lega sekaligus sedikit kecewa. Mungkin ia berharap mahar rendah agar bisa membuktikan Arga memang tidak mampu. Tapi batik itu jelas bukan kain murah.
Safira memandang kain yang diletakkan di kotak kayu.
Ia mengerti nilai kain.
Motifnya halus. Pewarnaannya dalam. Pinggirannya rapi. Itu batik tulis asli, bukan cetak pabrik.
Arga mengucap ijab kabul dalam satu tarikan napas.
Lancar.
Tegas.
Sah.
Kata itu terdengar dari penghulu dan saksi.
Safira menunduk.
Ia sudah menikah.
Dengan lelaki yang dua minggu lalu tidak ia kenal.
Dengan lelaki yang dianggap tidak cukup oleh kakaknya.
Dengan lelaki yang menatapnya sekarang seolah akad sederhana ini bukan bahan main-main.
Setelah doa selesai, Arga mendekat untuk memasangkan cincin. Cincin itu sederhana, emas putih tipis dengan satu batu kecil. Bukan model yang akan membuat Rania iri. Tapi ukurannya pas di jari Safira.
"Kamu yang pilih?" bisik Safira tanpa sengaja.
"Iya."
"Kok ukurannya pas?"
"Saya menebak."
Bima di belakang mereka langsung batuk.
Safira curiga itu bukan tebakan, tetapi ia tidak bertanya.
Saat tiba gilirannya memasangkan cincin untuk Arga, tangannya sedikit gemetar. Arga menurunkan suara.
"Pelan saja. Saya tidak akan lari."
Safira menahan senyum.
Selesai prosesi, tetangga mulai memberi ucapan selamat. Beberapa memeluk Safira. Beberapa berbisik, bertanya kenapa bukan Rania. Ratna menjawab dengan kalimat yang sudah disiapkan.
"Rania masih ingin fokus karier. Safira yang memang lebih siap menikah."
Lebih siap.
Safira hampir tertawa.
Ia siap karena dipaksa hidup siap sejak kecil.
Dimas datang menjelang siang.
Safira sedang membantu memindahkan piring ketika lelaki itu muncul di teras bersama Rania. Wajahnya canggung, tetapi matanya tidak bisa lepas dari Safira yang memakai kebaya putih.
"Safa," panggilnya.
Safira menoleh. "Mas Dimas."
Arga yang sedang bicara dengan Bima langsung diam.
Dimas melangkah mendekat. "Aku dengar kamu menikah. Cepat sekali."
"Iya."
"Kamu seharusnya memberi tahu aku."
Safira menatapnya bingung. "Untuk apa?"
Dimas tersinggung. "Kita pernah dekat."
Rania menggenggam lengan Dimas lebih erat, tetapi wajahnya tegang.
Safira menaruh piring di meja. "Waktu Mas Dimas dekat dengan Kak Rania, Mas juga tidak memberi tahu aku."
Beberapa tetangga yang masih berada di ruang tengah langsung menoleh.
Rania berbisik tajam, "Safa!"
Dimas wajahnya memerah. "Itu tidak sesederhana yang kamu pikir."
"Memang. Selingkuh dengan kakak pacar sendiri pasti rumit."
Suara sendok jatuh terdengar dari dapur.
Ratna bergegas mendekat. "Safira, jangan bikin keributan di hari akadmu."
"Aku tidak mulai, Ma. Aku hanya menjawab."
Dimas mengepalkan tangan. "Kamu berubah."
"Alhamdulillah."
Bima menutup mulutnya.
Arga melangkah ke sisi Safira. Gerakannya tidak terburu-buru, tetapi cukup untuk membuat Dimas mundur setengah langkah.
"Ada yang perlu dibicarakan dengan istri saya?"
Istri saya.
Safira merasakan kata itu menghantam dadanya lebih keras dari yang seharusnya.
Dimas menatap Arga dari atas ke bawah, seolah sedang menilai apakah lelaki sederhana ini pantas berdiri di samping Safira.
"Saya hanya memberi selamat."
"Kalau begitu, terima kasih."
Nada Arga datar, tetapi jelas menutup percakapan.
Dimas tidak punya pilihan selain mundur. Rania menariknya pergi dengan wajah menahan malu.
Safira mengambil napas pelan.
"Terima kasih," bisiknya kepada Arga.
"Untuk apa?"
"Tadi."
"Saya cuma berdiri di samping istri saya."
Safira tidak langsung menjawab.
Ia tidak terbiasa mendengar seseorang mengatakan itu seolah dirinya layak dibela tanpa harus meminta.
Menjelang sore, acara sederhana itu selesai. Ratna tidak menangis saat melepas Safira. Bambang hanya menepuk bahunya. Kevin bertanya apakah kamar Safira nanti boleh dipakai untuk ruang game.
Safira tidak terkejut.
Ia masuk ke kamar, mengambil dua koper yang sudah ia siapkan. Tidak banyak barang. Beberapa pakaian, alat jahit, sketsa, laptop tua, dan kotak kecil berisi benda pemberian Kakek.
Saat ia keluar, Kakek Hadi menunggu di depan pintu kamar.
"Safa pulang lagi, kan?"
Safira berlutut di depannya. "Pulang, Kek. Aku akan sering datang."
"Kalau mereka jahat, bilang Kakek."
Safira tertawa kecil, air mata akhirnya jatuh. "Kakek yang harus sehat. Nanti aku buatkan kemeja baru."
Kakek mengangguk seperti anak kecil.
Arga menunggu di dekat pintu utama. Ia mengambil koper Safira tanpa bertanya.
Di halaman, Avanza tua itu terparkir.
Ratna melihatnya, lalu berbisik cukup keras kepada Rania, "Semoga dia kuat hidup sederhana."
Safira mendengar.
Arga juga.
Namun Arga hanya membuka pintu mobil untuk Safira.
"Silakan, Bu Arga."
Safira menatapnya.
"Jangan panggil begitu."
"Kenapa?"
"Aneh."
"Kalau begitu, Safa?"
Ia mengangguk pelan.
Arga menutup pintu setelah Safira duduk. Dari kaca mobil, Safira melihat rumah besar itu. Rumah yang selama ini ia rawat, bersihkan, dan perjuangkan, tetapi tidak pernah benar-benar terasa miliknya.
Mobil mulai bergerak.
Untuk pertama kalinya, Safira pergi bukan untuk membeli bahan dapur, bukan mengantar pesanan, bukan memenuhi perintah siapa pun.
Ia pergi sebagai seorang istri.
Dan anehnya, meski masa depannya belum jelas, dadanya terasa lebih ringan daripada pagi tadi.