NovelToon NovelToon
CAMPUS COUPLE

CAMPUS COUPLE

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cintapertama
Popularitas:344
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Laila

Menjadi mahasiswa Arsitektur semester tiga dan aktif dalam kegiatan himpunan sudah cukup menguras energi Gea. Kehadiran Jay yang manis terasa seperti tempat peristirahatan di tengah penatnya kegiatan. Pertama kali menjalin kasih, Gea fikir akan berjalan mulus, penuh rasa menggelitik, dan menyenangkan. Namun, kisah romansanya tidak berjalan mulus seperti yang dia bayangkan.
Kecemburuan dan kekangan dari Jay terasa semakin menyesakkan. Kuliah di jurusan yang di dominasi oleh pria, Gea tidak bisa bebas berinteraksi dengan pria, bahkan dengan sahabat dan sepupunya sendiri. Membuat keretakan dan hubungan mereka pun harus kandas.
Saat Gea tidak berpikir untuk menjalin hubungan baru, atau membuka hatinya untuk orang baru, dia dipertemukan dengan seseorang yang menawarkan kenyamanan yang berbeda. Seseorang yang hadir tanpa menuntut.
Bisakah Gea melepaskan luka masa lalunya dan menyambut dengan utuh seseorang yang datang di waktu yang dia tak sangka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Laila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DEBAT - Part 4

Dibantu oleh beberapa pedagang sekitar yang masih bersemangat menceritakan kronologi kejadian tadi pada Malik, setelahnya mereka menuntun motor tersebut menuju bengkel resmi yang untungnya berada sekitar seratus meter di depan. Setelah menyerahkan urusan motor ke montir, Malik mengajak Gea untuk berangkat ke kampus bersama menggunakan mobilnya yang masih terparkir di trotoar tak jauh dari sana.

Di dalam mobil, Malik sempat mengomeli Gea karena tidak kepikiran untuk mencatat plat nomor atau meminta nomor ponsel si penabrak. Namun, Gea hanya bisa meringis, otaknya benar-benar membeku saat kejadian tadi berlangsung.

“Nanti kalo orang bengkelnya nelepon, gue kasih lo ya, gue gak paham,” cengir Gea saat mereka berjalan beriringan menuju himpunan setelah Malik memarkirkan mobilnya di area kampus.

“Iya, santuy.”

“Naaah, ini dia dateng!” sambut suara Nindy begitu melihat presensi Gea di ambang pintu himpunan.

“Tumben lama banget, Ge. Katanya udah berangkat dari tadi?” protes Risa.

Gea segera duduk bergabung bersama ketiga sahabatnya yang sudah datang lebih dulu, lalu mulai menceritakan kemalangan yang baru saja menimpanya siang itu. Namun, si sisi lain himpunan, sepasang mata menatap kedatangan mereka dengan sorot yang teramat dingin. Jay menyaksikan dengan jelas bagaimana Gea berjalan masuk beriringan bersama Malik. Otaknya yang telanjur diracuni rasa cemburu dan sisa kekesalan dari pertengkaran mereka kemarin sama sekali tidak bisa memikirkan kemungkinan lain. Jay tidak tahu dan tidak mau tahu alasan kenapa mereka bisa datang bersamaan.

Tanpa sepatah kata pun, Jay langsung berbalik meninggalkan ruang himpunan, berjalan cepat menuju kantin fakultas yang diikuti oleh keempat sahabatnya.

“Cewek lo aneh,” celetuk Putri saat mereka di kantin teknik. Mereka memesan makanan sembari menunggu seluruh pengurus himpunan berkumpul untuk rapat program kerja. “Udah tau

lo cemburuan, udah tau lo gak suka dia deket-deket sama cowok, masih aja deh dia tadi dateng sama Malik. Pake senyam-senyum gak bersalah gitu,” cibirnya sinis.

“Lo gak pernah ngomongin emangnya Jay kalo lo cemburu dia deket sama Malik?” tanya Adam ikut penasaran

Jay tidak menjawab. Pria itu hanya menyesap es kopinya dalam-dalam dengan rahang mengeras. “Harus di tegesin sih, Jay,” kompor Putri lagi.

“Tau lo. Males gue ngeliat lo prengat-prengut terus,” tambah Dion.

“Lagian ya, kalo emang motornya kenapa-napa, dia kan bisa minta lo yang jemput. Biasanya juga gitu. Ini malah bareng Malik. Kecentilan amat sih jadi cewek,” ungkap Putri lagi, nadanya terdengar semakin pedas.

Adam yang mulai merasa ucapan Putri keterlaluan pun menyenggol lengan gadis itu. “Lo kenapa sih, Put? Membara banget kayaknya.”

“Ya gue kesel! Dia kalo bete sama ceweknya, kita yang kena. Lagian ceweknya juga, kayak kecentilan banget. Ngerasa paling cakep kali,” sahut Putri berang.

“Lo jangan malah makin manas-manasin si Jay dong, Put,” tegur Adam lagi.

Ria, yang duduk di sebelah Putri, ikut menimpali defensif. “Kita ini cuma gak suka aja sama tingkahnya Gea, Dam. Mereka pacaran tapi kayak si Jay yang kesenengan sendiri,” tambahnya membenarkan ucapan Putri.

Tanpa mereka sadari, obrolan mereka sejak tadi terdengar jelas oleh dua pasang telinga yang baru saja menginjakkan kaki di area kantin. Rentetan kalimat merendahkan itu sukses membuat darah Risa dan Nindy mendidih seketika. Melupakan tujuan awal mereka yang hanya ingin membeli minuman dingin, kedua perempuan itu melangkah lebar dengan emosi membuncah, langsung menghampiri meja Jay dan teman-temannya.

“Mulut lo kalo ngomong di pikir dulu!” bentak Risa dengan alisnya yang menyatu erat dan tatapan matanya yang menghunus tajam.

Tidak ada satu orang pun yang pernah melihat Risa marah seperti ini sebelumnya. Gadis yang biasa paling kalem itu kini menunjuk wajah putri. “Siapa yang kecentilan?!”

“Lo jadi cowok gak ada otaknya emang, Jay! Lo diem aja ngebiarin temen-temen lo ngomong jelek soal cewek lo sendiri!” tambah Nindy tak kalah emosi. Emosinya sudah sampai ke ubun-ubun. “Banci lo!”

“Heh!” Putri yang merasa tersudut pun langsung bangkit berdiri, ikut tersulut emosi. “Emang bener, kan, temen lo itu kecentilan? Sok cakep! Gak mikir apa dia itu udah punya cowok?”

“Temen gue emang cakep! Gue jadi kasian sama Gea dapet cowok modelnya begini. Gue kira lo cowok baik, Jay,” potong Risa, nada suaranya bergetar hebat antara marah dan kecewa yang teramat dalam pada kekasih sahabatnya itu.

“Inget ya, Jay. Sekali lagi gue denger lo dan temen-temen lo ini,” Nindy menunjuk tajam kelima teman seangkatannya itu, “ngomong yang enggak-enggak atau nge-fitnah soal Gea, gue gak bakal tinggal diem. Abis lo semua sama gue.”

“Mau apa sih lo? Dateng-dateng nyari ribut!” tantang Ria yang tidak terima disalahkan.

“Kalian mending ajarin deh temen kalian buat lebih peka sama cowoknya! Jangan apa-apa Jay

terus yang apa-apa mesti ngertiin dia!”

“Apa lo bilang!” Nindy melesat maju, mencengkram kerah baju Ria.

“Heh, heh, heh! Ini ada apaan nih?” Karin yang baru saja tiba di kantin langsung berlari cepat memotong pergerakan mereka. Wajahnya panik melihat situasi yang sudah sekacau ini. “Apa sih, Nin? Lepas!” Karin berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkeraman tangan Nindy pada kerah baju Ria.

Nindy menyentak tangannya kasar, mendorong Ria hingga mundur selangkah. “Gak ada apa-apa,

Rin. Dah, yuk balik. Muak gue di sini.”

“Gak jadi beli minum?” tanya Karin bingung, terpaksa mengekor langkah cepat Risa dan Nindy

yang langsung berbalik meninggalkan area kantin teknik dengan napas memburu.

“Kita ke kantin sebelah aja,” ajak Risa singkat, Ia sudah tidak tahan berada di sana.

“Sebenarnya ada apa sih, Ris? Ni?” tanya Karin dengan nada suara lembut yang menenangkan saat mereka berjalan cepat melewati lorong kampus yang sepi.

Risa menghembuskan napas berat, menggelengkan kepalanya pasrah, dan berkata, “nanti ya Rin. Nanti di kosan gue ceritain.”

Karin menatap lekat mata Risa yang terlihat terluka, lalu mengangguk setuju. Mereka pun berjalan menuju kantin fakultas sebelah dan membeli empat botol minuman dingin.

Sore harinya, setelah seluruh agenda kampus selesai, Risa dan Nindy langsung berkumpul di kamar kos Karin. Sementara itu, Gea masih berada di bengkel untuk mengambil motornya ditemani oleh Malik. Di dalam kamar yang tertutup rapat, Nindy dan Risa menceritakan setiap detail kalimat menjijikkan yang mereka dengar di kantin siang tadi kepada Karin.

Mendengar penuturan kedua sahabatnya, Karin seketika ternganga. Ia tidak pernah menyangka bahwa Jay bisa bertindak sejahat dan sepengecut itu.

“Padahal Gea tadi terpaksa bareng Malik juga kan gegara motornya ditabrak orang sampe dia jatoh,” sahut Karin dengan dada naik turun menahan geram. “Terus si Jay gak peduli sama

sekali sama ceweknya yang lagi luka gitu?”

“Boro-boro peduli, Rin. Tuh anak kan tadi udah ngabur pergi pas liat Gea sama Malik dateng barengan,” cibir Nindy sinis, menyandarkan punggungnya ke dinding kosan.

“Untung banget tadi ada Malik yang lewat itu tadi loh,” kata Karin lagi, membuang napas kasar. “Ah, elah! Itu cowok apaan sih.”

“Sabar, Bu, sabar,” kata Nindy kini terkekeh hambar mencoba mencairkan ketegangan kamar,

seolah dirinya sendiri tidak sempat mengamuk di kantin siang tadi. “Cowok temen kita yang satu

itu emang tolol. Otaknya gak tahu ditaruh di mana.”

...****************...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!