Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Sore itu kantor sudah mulai sepi, tapi di ruangan Arya suasananya malah panas seperti kukus panci presto. Arya mondar-mandir di depan meja kerjanya kayak ayam kehilangan induk. Jam sudah menunjukkan hampir pukul lima, tapi sampai sekarang Alya belum memberikan jawabannya.
“Wanita itu benar-benar jual mahal.” gumam Arya kesal.
Karena kesabaran bos ganteng ini sudah di ujung tanduk, akhirnya dia memanggil Tony, tangan kanannya yang setia.
“Tony, kamu temui Alya sekarang. Bilang aku menunggu jawabannya segera,” perintah Arya tegas, tanpa bisa di bantah.
Tony yang biasa formal mengangguk kaku seperti robot. “Baik, Tuan.”
Beberapa menit kemudian, Tony sudah berdiri di depan meja Alya dengan sikap sopan ala butler Inggris.
“Nona Alya, anda menyetujui ajakan makan malam tuan Arya atau tidak? Tuan Arya butub jawabannya, sekarang" tanya Tony tegas.
Alya yang sedang membereskan barang-barangnya langsung menghela napas panjang. Napasnya begitu berat sampai hampir bisa menggerakkan kipas angin di sebelahnya.
Dalam hati dia berpikir, Ini bos atau maksa? Tapi pilihan memang tidak banyak. Menolak bos besar seperti Arya sama saja dengan mengundang bencana karir di hari Senin
“Saya mau makan malam dengannya" jawab Alya akhirnya dengan suara pasrah.
Tony langsung mengangguk cepat, hampir saja membungkuk seperti pelayan istana. “Terima kasih, Nona Alya. Nanti sepulang kerja, Tuan Arya akan menjemput Anda langsung.”
Setelah mengucapkan itu, Tony berbalik dan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Alya yang masih duduk termangu di kursinya. Wanita itu menatap layar komputer yang sudah mati sambil mengeluh dalam hati.
“Ya Tuhan, makan malam sama bos. Besok pasti ada gosip baru di kantor,” gumamnya sambil memijit pelipis.
Sementara itu, di ruangan Arya. Laki-laki itu tampak senang mendengar Alya menerima ajakannya. Tapi meski begitu wajah Arya tetap datar, dia tidak ingin terlihat antusias di depan asistennya.
“Bagus! Kita akan menjemputnya nanti" ucap Arya.
Tony hanya bisa mengangguk patuh. Dia berharap acara makan malamnya berjalan dengan lancar.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Pukul tujuh malam tepat, langit di luar sudah gelap gulita, diterangi lampu-lampu kota yang berkelap-kelip seperti bintang buatan. Arya mengakhiri pekerjaannya dengan rapi. Dia merapikan berkas-berkas yang berserakan di atas meja, memindahkan beberapa dokumen penting ke laci, dan tak lupa mematikan laptopnya dengan gerakan tegas. Bau kopi yang masih tersisa di ruangan campur aduk dengan aroma parfum mahal yang dia pakai.
Arya beranjak dari kursi kebesarannya, meraih jas hitamnya yang tergantung dan memakainya dengan satu gerakan halus. Cermin kecil di sudut ruangan menunjukkan penampilannya yang sempurna. Tinggi tegap, rahang tegas, dan aura kekuasaan yang alami. Dia bukan hanya bos, tapi juga pria yang tahu betul bagaimana membuat orang lain merasa terkesan.
Setelah memeriksa penampilan sekali lagi, dia keluar dari ruangannya yang mewah, berjalan menyusuri koridor kosong menuju lift.
Ting
Arya masuk kedalam lift. Lift perlahan bergerak menuju ke bawah, ke lantai dasar.
Di lantai dasar, Tony sudah menunggu di depan lobi dengan setia. Mobil Mercedes hitam mengkilap sudah terparkir rapi di depan pintu masuk. Tony membukakan pintu saat Arya mendekat.
“Mari tuan"
Arya mengangguk singkat, naik ke dalam mobil.
Saat mobil meluncur meninggalkan gedung kantor. Malam ini, dia tidak hanya sekadar makan malam biasa. Dia ingin melihat sisi Alya di luar jam kantor, senyumnya yang jarang, tawa kecilnya, dan mungkin, alasan mengapa wanita itu selalu menjaga jarak
Di waktu yang bersamaan, di sebuah rumah sederhana yang hangat, Alya baru saja selesai berlama-lama di depan cermin kamarnya. Dia memilih tampil sederhana tapi tetap elegan.
Make-up tipis yang mempercantik wajahnya tanpa berlebihan, gaun selutut berwarna soft beige yang sopan, dan rambutnya dibiarkan tergerai lembut hingga bahu.
Alya memutar tubuhnya sekali di depan cermin, menghela napas sambil bergumam pelan.
“Cukup begini saja. Ini makan malam biasa, bukan kencan,” katanya meyakinkan diri sendiri, meski pipinya sedikit memerah.
Setelah puas dengan penampilannya, Alya mengambil tas tangan kecilnya lalu keluar dari kamar. Langkahnya pelan menuju ruang tamu. Bau masakan mamanya masih tercium samar dari dapur, membuat suasana rumah terasa nyaman.
Baru saja duduk di sofa, mamanya yang super antusias langsung muncul dari dapur sambil membawa secangkir teh hangat. Matanya langsung melebar melihat penampilan putrinya.
“Wah… cantik sekali anak mama malam oni!” puji Fitri sambil tersenyum lebar. “Kamu mau ke mana, Al? Pakai gaun segala”
Alya meletakkan tasnya di samping dan duduk dengan sedikit gelisah. “Mau makan malam, Ma.”
Fitri langsung duduk di sebelahnya, mata berbinar penuh tanda tanya. “Makan malam sama siapa? Sama bosmu itu ya?"
Alya hanya menjawab dengan suara malas, “Eummm…”
Fitri tertawa senang, suaranya riang seperti remaja yang sedang gosip. “Jadi kamu menerimanya, Al? Akhirnya! Kamu yakin sudah membuka hatimu untuk laki-laki lain? Wah, mama senang sekali nih! Sudah saatnya kamu move on dan..”
“Apa sih, Ma!” potong Alya cepat. Wajahnya langsung memerah seperti tomat matang. Dia menutup muka dengan kedua tangan sebentar, malu setengah mati.
“Ini cuma makan malam biasa! Tidak ada acara buka-buka hati, tidak ada apa-apa! Jangan bikin aku tambah deg-degan dong!”
Fitri malah semakin semangat menggoda. “Biasa katanya, tapi pakai gaun cantik, rambut digerai, make up segala. Mama lahir dulu baru kamu, Al. Gak bisa dibohongin!” Fitri tertawa lepas sambil menepuk pelan bahu anaknya.
Alya mendesah panjang, kepalanya menggeleng-geleng. “Mama ini, aku terpaksa menerima ajakan ajakannya. Kalau menolak, takutnya nanti aku di pecat. Lagian kita tidak hanya berdua kok, Keysa juga ikut. Jadi ini makan malam keluarga, bukan kencan!”
“Tapi bosmu ganteng kan?” Fitri mengedipkan mata genit.
“Ma… stop!” Alya melempar bantal sofa kecil ke arah mamanya, tapi Fitri dengan lincah menghindar sambil terus tertawa.
Suasana ruang tamu yang tadinya tenang langsung jadi riuh penuh canda. Alya yang biasanya kalem kini jadi gelisah campur malu, sementara Fitri menikmati momen menggoda anak gadisnya habis-habisan.
Tak lama kemudian, suara bel rumah berbunyi.
Ting tong
Ting tong
Ting tong
Alya langsung menegakkan tubuhnya. Jantungnya berdegup kencang.
“Itu pasti bosmu! Cepat buka pintunya, Al. Jangan bikin nunggu lama-lama. Mama mau lihat calon menantu kaya ini dari dekat!” goda Fitri lagi.
“MA!” seru Alya panik sambil berdiri buru-buru menuju pintu, wajahnya semakin merah padam.
Ceklek......
Pintu rumah terbuka, menampilan Alya.
Seketika Arya terpaku melihat penampilan cantik Alya. Wanita itu terlihat berbeda dari biasanya.