NovelToon NovelToon
Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Mempelai Cantik Untuk Sang Juragan

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:14.9k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

~~

Di tengah pekatnya suasana pedesaan yang kental dengan tradisi, Larasati, seorang gadis cantik dan muda, harus merelakan masa mudanya hilang setelah terjebak dalam perjodohan politik. Ia dinikahkan dengan Raden Mas Baskoro, seorang juragan terpandang dengan usia yang terpaut jauh dengannya yang memiliki watak kaku dan dingin. Pernikahan mereka bukanlah didasari oleh cinta, melainkan sebuah kewajiban untuk menjaga martabat dan meneruskan garis keturunan keluarga besar sang juragan.

~~



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 25

***

Fajar di perbukitan Joglo menyembul malu-malu di balik kabut tebal, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke sela-sela dinding kayu kamar utama. Sinar matahari pagi yang menembus jendela jati mendapati keheningan yang mencekam. Di atas ranjang jati kuno, Larasati berbaring tak berdaya. Beban pikiran yang bertumpuk, pergolakan batin usai pertemuannya dengan Bagas di hutan sawo, serta penyatuan raga yang menguras tenaga semalam akhirnya meruntuhkan pertahanan fisik raga remajanya yang berusia sembilan belas tahun.

Kulit kuning langsatnya kini tampak pucat pasi, dihiasi rona merah membara di kedua pipinya akibat demam tinggi yang mendadak menyerang. Napasnya memburu pendek-pendek, keringat dingin membasahi dahi dan ceruk lehernya. Setiap kali mencoba menggerakkan tubuhnya, rasa mual yang hebat menghantam perutnya yang kini kian membuncit empat bulan.

Raden Mas Baskoro terbangun saat merasakan kehangatan yang tidak wajar dari raga istri kecilnya yang berada dalam dekapannya. Pria perkasa berusia tiga puluh lima tahun itu seketika terduduk tegak di kasur kapuk. Saat telapak tangannya yang besar mendarat di dahi Larasati, matanya membelalak tajam.

"Laras... Nduk..." panggil Baskoro, suaranya bergetar rendah, penuh nada cemas yang mboten pernah terdengar sebelumnya. "Gusti... tubuhmu panas sekali, Nduk!"

Larasati hanya mampu menggerakkan kelopak matanya sedikit, bibirnya yang ranum kini tampak kering dan gemetar. "Mas... Mas Baskoro... kepala saya pusing sekali... perut saya mual..." rintih Larasati begitu lirih, hampir tak terdengar di antara deru angin pagi.

Kepanikan seketika menguasai jiwa penguasa Joglo yang biasanya dingin dan tak tersentuh itu. Sosok kaku yang ditakuti seluruh warga perbukitan mendadak kehilangan ketenangannya seutuhnya. Tanpa memedulikan pakaian kebesarannya, Baskoro melompat turun dari ranjang hanya dengan melilitkan kain sarung di pinggangnya. Ia membuka pintu kamar dengan keras, berteriak memanggil seluruh isi rumah.

"Mbok Sum! Sentot! Panggil Mbah Mijil dan tabib desa sekarang juga! Cepat!" raung Baskoro, suaranya menggelegar memecah kesunyian rumah joglo, membuat para abdi dalem berlarian ketakutan.

Pagi itu, perbukitan Joglo menyaksikan pemandangan yang teramat langka. Raden Mas Baskoro membatalkan seluruh agenda pemeriksaan panen tebu dan pertemuan penting dengan para mandor. Pria tiga puluh lima tahun itu menolak meninggalkan kamar utama barang selangkah pun.

Ketika Mbok Sum datang membawa nampan berisi mangkuk bubur halus dan baskom air hangat, Baskoro mengambil alih semuanya. Tangan besarnya yang biasa memegang tali kekang kuda dan gagang cambuk pusaka kini bergerak dengan teramat telaten, memeras kain kompresan. Air hangat menetes melewati jemari beruratnya saat ia membalurkan kain itu di dahi dan leher Larasati dengan kelembutan yang teramat asing.

"Mas... biarkan Mbok Sum saja yang melakukan ini... Anda harus mengurus perkebunan..." bisik Larasati dengan napas yang masih hangat memburu.

"Tidak, Laras. Tidak ada perkebunan, Tidak ada lumbung, mboten ada apa pun di dunia ini yang lebih penting daripada dirimu saat ini," potong Baskoro tegas, matanya yang sedalam sumur tua menatap Larasati dengan sorot ketakutan yang murni. Pria itu duduk di tepi ranjang, memangku kepala Larasati dengan cermat agar terasa nyaman.

Ia mengambil sendok kayu, menyendok sedikit bubur hangat, lalu meniupnya perlahan sebelum mendekatkannya ke bibir Larasati. "Makanlah sedikit, Nduk. Hanya dua atau tiga suap demi menjaga tenagamu dan anak kita. Tolong, jangan buat suamimu ini mati berdiri karena melihatmu terkulai seperti ini."

Larasati menatap mata suaminya. Di dalam sepasang manik mata hitam yang biasanya memancarkan aura intimidasinya yang raksasa, kini Larasati menemukan bayangan dirinya sendiri yang terpantul dalam kepanikan yang teramat transparan. Tidak ada keangkuhan juragan tanah, tidak ada dominasi yang menindas. Yang ada hanyalah seorang pria tiga puluh lima tahun yang ketakutan setengah mati kehilangan belahan jiwanya.

Dengan perlahan, Larasati menerima suapan demi suapan dari tangan kasar suaminya. Setiap hembusan napas hangat Baskoro yang meniup bubur, setiap usapan lembut jempol suaminya yang menyapu sisa makanan di sudut bibirnya, perlahan mulai mengikis es batu keraguan yang menancap di dadanya sejak kemarin sore.

Setelah Larasati meneguk wedang rempah hangat racikan tabib, rasa mual di perutnya perlahan mereda, meski tubuhnya masih terasa lemas. Baskoro meletakkan mangkuk kayu ke meja samping, lalu kembali merapatkan duduknya, menggenggam erat tangan kecil Larasati dan menempelkannya di pipi tegapnya yang kasar oleh janggut tipis.

Larasati menatap wajah suaminya yang tampak lelah. Garis-garis kecemasan tercetak jelas di dahi tegap Baskoro. Jiwa remajanya yang berusia sembilan belas tahun memberanikan diri untuk mengutarakan kebisingan yang mengusik jiwanya semalaman.

"Mas Baskoro..." panggil Larasati pelan.

"Inggih, Nduk? Ada yang terasa sakit lagi? Katakan padaku," sahut Baskoro cekatan, mengusap punggung tangan istrinya.

Larasati menggeleng halus. Sepasang matanya yang redup menatap lurus ke dalam manik mata Baskoro. "Saya ingin bertanya sesuatu... dan saya mohon, jawablah dengan kejujuran hati Anda, Mas."

Dahi Baskoro berkerut pelan, namun ia mengangguk mantap. "Tanyakan apa saja, Laras. Aku akan menjawabnya."

Larasati menarik napas panjang, menahan getaran di dadanya. "Sebenarnya... apa arti keberadaan saya bagi Anda di rumah besar ini, Mas? Apakah... apakah saya dicintai sebagai manusia dan istri Anda... ataukah saya sebenarnya hanya barang yang Anda beli untuk memuaskan hasrat dan melahirkan pewaris garis keturunan Anda?"

Deg.

Pertanyaan polos namun menancap begitu dalam dari bibir istri kecilnya seketika menghentak dada Baskoro. Pria paruh baya itu membeku. Pegangan tangannya pada jemari Larasati sedikit memadat, namun sorot matanya berubah menjadi teramat redup dan sarat akan kepedihan yang tersembunyi.

Baskoro melepaskan genggaman tangannya perlahan, membuat jantung Larasati berdesir cemas. Namun, Baskoro justru menundukkan kepalanya dalam-dalam di sisi kasur kapuk. Suara baritonnya mengalun teramat rendah, serak oleh keputusasaan yang jujur.

"Apakah... apakah selama ini aku membuatmu merasa seperti itu, Laras?" bisik Baskoro, suaranya bergetar hebat. Ia mendongak kembali, dan untuk pertama kalinya selama sembilan belas tahun hidup Larasati, ia melihat sepasang mata sang juragan besar berkaca-kaca oleh air mata yang ditahan.

"Mas Baskoro..." desah Larasati terkejut.

"Dengarkan aku baik-baik, Larasati," ucap Baskoro parau, jemarinya bergerak menyentuh pipi Larasati dengan kehangatan yang paling murni. "Memang benar... awal kedatanganmu ke rumah ini adalah karena kebodohan utang ayahmu dan keangkuhan egoku sebagai pria yang menginginkan keindahan. Memang benar, aku adalah pria tiga puluh lima tahun yang penuh dosa, yang sering kali dibutakan oleh cemburu dan dorongan posesif yang liar."

Baskoro mengecup telapak tangan Larasati dengan sangat lama, membiarkan napas panasnya membasahi kulit istrinya.

"Tapi demi yang menguasai alam semesta ini, Laras... kamu bukan sekadar pencetak keturunan bagiku," lanjut Baskoro dengan nada suara yang begitu dalam, mantap, dan jujur. "Sebelum kamu hadir, rumah joglo ini hanyalah bangunan kayu tua yang dingin dan mati. Jiwaku keras laksana batu karang, mboten tahu artinya mengasihi. Tapi kehadiranmu... kelembutan jiwa sembilan belas tahunmu, telah melunakkan seluruh kerasnya duniaku."

Baskoro menuntun tangan Larasati untuk mendarat tepat di atas dada bidangnya sendiri, di mana detak jantungnya berdegup teramat kencang dan tidak beraturan.

"Anak di dalam rahimmu adalah berkah agung yang kupanjatkan setiap malam, Laras. Tapi jika harus memilih antara seluruh kekayaan perbukitan ini, seluruh garis keturunan, bahkan nyawaku sendiri... aku tidak akan pernah sanggup hidup di dunia ini tanpa dirimu di sisiku," bisik Baskoro parau, air mata harunya akhirnya menetes menyapu pipi tegapnya. "Aku mencintaimu, Larasati. Aku mencintaimu sebagai istriku, sebagai manusia utuh yang menjadi belahan jiwaku. Jangan pernah meragukan hal itu lagi, Nduk."

Mendengar pengungkapan rasa yang teramat mendalam, jujur, dan tanpa topeng dari pria perkasa di hadapannya, tembok keraguan yang dibangun oleh kata-kata Bagas di hutan sawo runtuh seutuhnya. Rantai ketakutan di dalam jiwa Larasati meleleh habis, digantikan oleh kehangatan cinta yang luar biasa membuncah.

Larasati menyadari bahwa kepedulian Baskoro, ketakutannya saat merawat dirinya yang sakit, serta air mata yang menetes di atas tangannya pagi ini adalah bukti cinta paling agung yang mboten akan pernah bisa dipalsukan.

"Mas... Mas Baskoro..." tangis Larasati pecah, bukan karena kepedihan, melainkan karena kebahagiaan yang murni. Ia merengkuh leher kekar suaminya, menarik tubuh tinggi besar Baskoro agar memeluknya rapat-rapat di atas kasur kapuk.

Baskoro membalas pelukan itu dengan sangat erat namun penuh kehati-hatian, membenamkan wajahnya di leher Larasati yang harum minyak cem-ceman. Ia mengusap punggung istri kecilnya dengan kelembutan yang meluap-luap.

"Maafkan saya, Mas... maafkan saya karena sempat meragukan cinta Anda..." bisik Larasati di antara isak tangis bahagianya, menyandarkan seluruh jiwa dan raganya yang berusia sembilan belas tahun ke dalam perlindungan mutlak suaminya.

"Tidak apa-apa, Nduk... beristirahatlah. Suamimu akan selalu berada di sini menjagamu," bisik Baskoro lembut, mengecup kening Larasati dalam-dalam saat sinar matahari pagi mulai menyinari kamar utama, mengunci takdir cinta mereka dalam kedamaian yang abadi di atas bukit Joglo.

Bersambung

1
partini
👍👍👍
Maya Audina
di awal baca juga 35 kak,Larasati 19...
eh kadang2 Baskoro 40 Larasati 17..
kadang balik lg Baskoro 35 Larasati kadang 19 kadang 17😄
falea sezi
kapok😒 makanya uda tua sadar diri jangan cemburuan nuduh g jelas
Fauziah Daud
rasakan
Maya Audina
waah bikin masalah ini namanya nduk🤣
falea sezi
🤣🤣 tua bangka
partini
mampus Luh pak tua
Maya Audina
like&vote buatmu thor
Maya Audina
maaf Thor di awal Baskoro berusia 35, kok sekarang 40th
Maya Audina
Larasati gak jadi bersih2 dong yah, td katanya mau hapus riasan,eh nangis dan tau2 juragan masuk🤭
falea sezi
cerai aja laki tololl uda tua bangka g tau diri
Neni Abu Triana
udah dong jgn terus konflik please cape ,keren novel tp trs ajh konflik
partini
Laras maklum aja lah dia kan udah otw tuir jadi begitu
partini
randen mas kamu kan yg jebol tuh gawang apa ga ngerasain seyeeet busettt dah gitu aja udah kalap kata orang Jawa ngapak ada ini reden mas ledhoooooooooo 😂😂😂🤭
imel
masa gak bisa ngerasain waktu pertama kali main😏
partini
perasaan kemarin 40 th ko jadi 35 th Raden Baskoro
Fauziah Daud
trusemangattt
partini
ko bisa masuk si Bagas ga ada penjaga gitu
partini
kang datang udah di jotos pala mu gass,,ayo nduk di jawab kalau kamu dah cinta sama kang mas kalau ga siap" badai tornado
falea sezi
🤣🤣 aki2 istrimu bukan budak. yg harus di kurung
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!