Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Salsa membelalakkan matanya sementara air matanya mengalir semakin deras.
"A... Aisyah...." Suaranya bergetar hebat. "Kamu serius?"
Aisyah menutup matanya sesaat lalu mengangguk pelan.
"Iya, Aisyah serius. Kalau itu memang bisa menyelamatkan rumah tangga Kakak, Aisyah akan melakukannya walaupun," Kalimat itu terputus oleh tangis. "Hati Aisyah mungkin tidak akan pernah baik-baik saja."
Pak Umar memejamkan matanya. Rasa lega bercampur perih memenuhi dadanya. Ia bersyukur karena putrinya akhirnya bersedia menikah dengan Ammar, namun di saat yang sama, Ia sadar bahwa baru saja ia menyaksikan kebahagiaan putri bungsunya dikorbankan demi menyelamatkan yang lain.
Salsa masih belum berdiri. Tangannya justru menggenggam tangan Aisyah semakin erat.
"Tidak."
Aisyah mengernyit.
"Kak?"
Salsa menggeleng.
"Maaf, bukan karena Kakak tidak percaya. Tapi kakak ingin mendengar janjimu."
Aisyah menatapnya dengan bingung.
"Janji?"
"Iya." Salsa mengusap air matanya. "Kakak takut kalau setelah ini kamu berubah pikiran. Kakak takut kamu membatalkan semuanya. Kakak sudah terlalu berharap. Kalau nanti kamu mundur, aku benar-benar tidak tahu harus bertahan dengan apa lagi." Air mata kembali memenuhi mata Salsa. "Jadi, tolong berjanjilah kepada Kakak kalau apa pun yang terjadi, kamu tidak akan membatalkan keputusanmu. Kamu akan tetap menikah dengan Ammar."
Aisyah terdiam. Dadanya kembali terasa sesak. Janji itu bukan sekadar ucapan. Bagi dirinya, janji adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada manusia, tetapi juga kepada Allah. Ia menatap wajah kakaknya cukup lama, melihat mata Salsa yang penuh harap, melihat perempuan yang sejak kecil selalu menjadi pelindungnya.
Perlahan, Aisyah mengangguk.
"Baik, Kak." Suaranya terdengar lirih namun mantap. "Aisyah berjanji." Ia menarik napas panjang sebelum melanjutkan perkataannya. "Selama keputusan ini memang masih menjadi jalan yang Kakak inginkan, Aisyah tidak akan membatalkannya. Apa pun yang terjadi, Aisyah akan tetap menikah dengan Mas Ammar."
Kalimat itu terasa seperti menghancurkan hatinya sendiri, namun begitu janji itu terucap, Salsa langsung menutup mulutnya. Tangisnya pecah semakin keras. Tanpa berpikir panjang, ia bangkit lalu memeluk Aisyah se-erat mungkin. Bruk. Tubuh kedua saudari itu berpelukan di tengah lorong rumah. Salsa menangis tersedu-sedu di bahu adiknya.
"Terima kasih, Terima kasih banyak, Aisyah. Kakak benar-benar tidak tahu harus membalas semua kebaikanmu dengan apa. Terima kasih karena mau menyelamatkan rumah tangga Kakak. Terima kasih karena masih memilih membantu Kakak, meski Kakak tahu kalau keputusan ini pasti sangat melukai hatimu."
Aisyah tak mampu membalas dengan kata-kata. Ia hanya memeluk kakaknya erat sementara air matanya terus mengalir tanpa henti. Di balik pelukan itu, tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar merasa menang. Yang ada hanyalah dua saudari yang sama-sama kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Yang satu takut kehilangan suaminya dan yang satu, baru saja merelakan masa depannya dengan tangannya sendiri.
Pelukan dua saudari itu bertahan cukup lama.
Tak ada lagi kata-kata yang terucap, yang terdengar hanyalah isak tangis yang perlahan mulai mereda, meski sesekali masih terselip di sela embusan napas mereka. Pak Umar yang sedari tadi berdiri beberapa langkah di belakang keduanya hanya mampu mengusap wajahnya pelan. Dadanya terasa sesak, sebagai seorang ayah, seharusnya ia menjadi orang yang melindungi anak-anaknya dari segala bentuk kesedihan. Namun hari ini, justru ia sendiri yang menjadi orang pertama yang menyeret putri bungsunya ke dalam kenyataan yang begitu pahit.
"Ya Allah," gumamnya lirih. "Jangan Engkau jadikan pengorbanan anakku sia-sia."
Beberapa menit kemudian, tangis yang sejak tadi memenuhi lorong rumah perlahan mulai mereda. Salsa mengusap air matanya dengan punggung tangan. Matanya masih merah, begitu pula Aisyah. Keduanya tampak sama-sama lelah, sama-sama kehilangan tenaga setelah menguras begitu banyak emosi. Salsa mengembuskan napas panjang sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.
Tangannya terangkat perlahan mengusap kedua sudut mata adiknya yang masih basah.
"Maafkan Kakak, Aisyah." ucapnya lirih. "Seharusnya kakak tidak meminta mu melakukan hal ini. Tapi Kakak benar-benar sudah tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi."
Aisyah hanya tersenyum tipis. Senyum yang lebih mirip menahan tangis.
"Aisyah tidak marah, kak."
"Benarkah?"
Aisyah mengangguk pelan.
"Yang Aisyah benci bukan Kakak."
"Lalu?"
"Keadaan."
Satu kata itu membuat mata Salsa kembali memanas. Benar, musuh mereka bukan satu sama lain, melainkan takdir yang sedang mempermainkan hidup mereka. Salsa kembali menggenggam kedua tangan adiknya.
"Aisyah... Terima kasih."
Aisyah tidak menjawab. Ia hanya menundukkan wajah karena setiap kali mendengar ucapan terima kasih itu, dadanya justru terasa semakin sesak. Sebab ia sadar, keputusan yang baru saja diambil bukanlah sesuatu yang pantas dirayakan, melainkan awal dari pengorbanan yang bahkan belum ia ketahui ujungnya. Pak Umar kemudian mendekat. Tangannya mengusap lembut kepala kedua putrinya.
"Kalian berdua," Suara pria paruh baya itu terdengar serak. "Tetaplah menjadi saudara. Jangan pernah saling menyalahkan, karena semua ini." Ia menatap keduanya bergantian. "Bukan salah siapa-siapa."
Salsa mengangguk pelan, begitu pula Aisyah.
Walaupun di dalam hati, tak satu pun dari mereka benar-benar percaya bahwa luka sebesar ini bisa sembuh dengan mudah. Suasana kembali hening sampai akhirnya Salsa melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan kirinya. Jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul sebelas siang. Ia menghela napas panjang.
"Ayah."
Pak Umar mengangkat wajah.
"Iya, Nak?"
"Aku harus pulang."
Pak Umar mengangguk pelan.
"Kamu mau menemui Ammar?"
"Iya."
Salsa menggigit bibir bawahnya.
"Aku harus memberi tahu Mas Ammar, juga Papa dan Mama."
Kalimat itu membuat Aisyah yang sejak tadi diam kembali menundukkan kepalanya. Nama Ammar kembali membuat dadanya terasa sesak. Lelaki yang selama ini hanya ia kenal sebagai kakak iparnya, beberapa hari lagi akan menjadi suaminya. Memikirkan hal itu saja membuat napasnya terasa berat. Salsa kembali menoleh kepada sang adik.
"Dek." Aisyah perlahan mengangkat wajah. "Jangan mengurung diri lagi, ya." Suara Salsa terdengar begitu lembut. "Kakak tahu semuanya berat. Tapi jangan membuat Ayah semakin khawatir."
Tatapan Aisyah beralih kepada Pak Umar. Baru kali ini ia benar-benar menyadari betapa lelah wajah ayahnya. Rambutnya semakin memutih, lingkar hitam di bawah matanya tampak jelas, sementara sorot matanya kehilangan ketenangan. Semua itu muncul hanya dalam semalam dan membuat hati Aisyah kembali terasa bersalah.
"Maafkan Aisyah, Yah."
Pak Umar langsung menggeleng.
"Ayah tidak marah. Ayah hanya takut terjadi sesuatu padamu."
Aisyah mengangguk pelan.
"InsyaAllah, Aisyah tidak akan mengunci diri Aisyah di kamar lagi."
Senyum tipis akhirnya muncul di wajah Pak Umar.
"Alhamdulillah."
Salsa mengusap bahu adiknya pelan.
"Jaga diri baik-baik. Kalau ada apa-apa, telepon Kakak."
Aisyah hanya mengangguk. Tak ada lagi yang mampu ia ucapkan karena setiap kali menatap wajah Salsa, yang terbayang justru janji yang baru saja ia ucapkan beberapa menit lalu. Janji yang akan mengubah seluruh hidupnya.