"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.
Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Bab 32
Lima tahun kemudian, Alya sudah terbiasa bangun sebelum alarm.
Bukan karena disiplin.
Karena Nara selalu lapar pukul lima pagi.
"Mama," bisik gadis kecil itu di samping tempat tidur. "Roti yang cokelat masih ada?"
Alya membuka satu mata. "Kamu naik ke kursi lagi?"
Nara menggeleng terlalu cepat.
Dari dapur terdengar bunyi sendok jatuh.
Alya duduk.
"Arka."
Tidak ada jawaban.
Ia turun dari ranjang dan berjalan ke dapur apartemen kecil mereka di Jakarta Selatan. Arka berdiri di depan lemari, wajahnya tenang, satu tangan memegang stoples selai cokelat. Anak laki-laki itu baru lima tahun, tapi cara ia menatap masalah sering membuat Alya sakit dada.
Terlalu mirip.
"Aku cuma mau bantu Nara," katanya.
"Dengan memanjat kursi plastik?"
"Kursinya tidak patah."
"Belum."
Nara muncul di belakang Alya, memeluk kaki ibunya. "Mama jangan marah. Aku yang lapar."
Alya menatap dua anak itu. Rambut mereka berantakan, piyama mereka tidak serasi, dan wajah mereka sama-sama yakin bahwa pagi hari dimulai dengan selai.
Ia menghela napas.
"Cuci tangan. Kita sarapan."
Nara langsung bersorak. Arka menutup stoples dan meletakkannya kembali, rapi seperti orang dewasa kecil.
Alya menyiapkan roti, telur, dan susu. Di meja makan sempit, Nara bercerita tentang mimpi naik kapal besar. Arka hanya mendengarkan sambil memisahkan pinggiran roti untuk adiknya.
"Kak Arka tidak suka pinggirannya?" tanya Nara.
"Kamu yang tidak suka."
"Oh. Benar."
Alya tersenyum, lalu cepat-cepat menunduk.
Kebahagiaan kecil seperti itu selalu membuatnya takut. Seolah kalau ia terlalu lama menikmatinya, seseorang dari masa lalu akan mengetuk pintu.
Ponselnya bergetar.
Nadia.
"Ly, kamu sudah lihat email dari RS Bahari?"
Alya menaruh ponsel di antara bahu dan telinga sambil memasukkan bekal anak-anak ke kotak.
"Belum. Kenapa?"
"Ada program kerja sama medis dengan Kodam. Kamu masuk daftar dokter pendamping pelatihan lapangan."
Tangan Alya berhenti.
"Kodam mana?"
"Awalnya Jakarta. Tapi lampirannya bilang ada rotasi ke Kupang untuk penilaian akhir."
Telur di wajan hampir gosong.
Arka menatapnya. "Mama?"
Alya mematikan kompor. "Tidak apa-apa."
Nadia di telepon diam sebentar. "Kamu mau aku coba tukar nama?"
"Tidak perlu."
"Alya."
"Aku sudah lima tahun menghindar. Kalau sistem rumah sakit menaruh namaku di sana, aku tidak bisa terus lari seperti pencuri."
"Kamu bukan pencuri."
Alya melihat Arka dan Nara. "Aku tahu."
Tapi suaranya tidak sekuat yang ia inginkan.
Di RS Bahari, hari itu tidak memberi ruang untuk ketakutan pribadi. Unit gawat darurat penuh sejak pagi. Kecelakaan motor di jalan layang, pasien stroke dari Tanah Abang, anak demam tinggi dari Pasar Minggu. Alya bergerak dari satu ranjang ke ranjang lain, memberi instruksi pendek, menandatangani permintaan lab, menenangkan keluarga pasien yang menangis.
"Dokter Alya, pasien ranjang lima saturasi turun."
"Naikkan oksigen, panggil anestesi, siapkan intubasi kalau tidak respon."
"Dok, keluarga pasien marah."
"Saya bicara setelah pasien stabil."
Ia tidak punya waktu untuk runtuh.
Itu sebabnya ia memilih gawat darurat.
Di tempat seperti itu, masa lalu harus menunggu di luar pintu.
Menjelang sore, Nadia datang membawa dua kopi. Nadia bukan dokter. Ia pengacara bantuan hukum yang dulu menolong Alya mengurus dokumen anak-anak tanpa banyak bertanya. Mereka bertemu di klinik pengungsian setelah Alya pulang dari misi luar Jawa dengan perut besar dan mata kosong.
Nadia meletakkan kopi di meja. "Aku jemput anak-anak nanti."
"Aku bisa."
"Kamu jaga malam."
"Nadia..."
"Aku mau dengar Nara cerita tentang kapal besar. Hidupku terlalu banyak berkas cerai orang, aku butuh hiburan."
Alya tertawa kecil.
Nadia duduk di kursi depannya. "Kamu belum pernah cerita lengkap tentang ayah mereka."
Senyum Alya hilang.
"Dia orang baik."
"Kalau baik, kenapa kamu tidak pernah memberi tahu dia?"
Alya menatap kopi yang belum diminum. "Karena orang baik juga bisa mati kalau berdiri di tempat yang salah."
Nadia tidak memaksa.
Malamnya, setelah jaga selesai, Alya pulang hampir pukul sebelas. Apartemen gelap kecuali lampu kecil dekat sofa. Arka tidur dengan buku gambar di dada. Nara tidur melintang, satu kaki di atas perut kakaknya. Nadia terlelap di kursi dengan kacamata masih di hidung.
Alya memindahkan anak-anak ke kamar.
Saat mengangkat Arka, anak itu membuka mata.
"Mama pulang?"
"Iya."
"Besok Mama pergi jauh?"
Alya terdiam. "Belum tahu."
"Kalau jauh, aku ikut."
"Sekolahmu?"
"Aku bisa bawa buku."
Alya mencium dahinya. "Tidur dulu, Komandan kecil."
Arka mengernyit. "Kenapa Mama panggil begitu?"
Jantung Alya berhenti satu detik.
"Karena kamu suka mengatur Nara."
Arka tampak menerima jawaban itu. Ia memejamkan mata lagi.
Alya duduk di sisi ranjang sampai napas anak-anak teratur. Setelah itu ia membuka laptop, membaca email resmi dari RS Bahari.
Nama program.
Jadwal.
Daftar peserta.
Nama penanggung jawab militer berada di halaman terakhir.
Kolonel Damar Pradipta.
Alya menatap layar lama sekali.
Di kamar, Nara mengigau memanggilnya.
Alya menutup laptop.
Masa lalu akhirnya menemukan alamatnya.
Pagi berikutnya, ia mengantar Arka dan Nara ke PAUD. Sekolah kecil itu berada di belakang masjid kompleks, dindingnya dicat hijau muda, halaman depannya penuh sandal kecil. Guru-guru sudah mengenal Alya sebagai ibu yang selalu terburu-buru tapi tidak pernah lupa mencium anak-anak sebelum pergi.
"Mama jemput sore?" tanya Nara.
"Tante Nadia jemput. Mama jaga."
Nara cemberut. "Mama jaga terus."
Arka menarik tas adiknya. "Mama kerja supaya bisa bayar sekolah."
"Aku tidak minta sekolah mahal."
"Ini bukan sekolah mahal."
Alya tertawa kecil, lalu berjongkok. "Mama akan coba pulang sebelum kalian tidur."
Arka menatapnya. "Kalau tidak bisa, kirim pesan suara."
"Siap, Pak."
Anak itu hampir tersenyum.
Di mobil menuju rumah sakit, Alya mendengarkan pesan suara lama yang tidak pernah ia hapus. Bukan dari Damar. Dari dirinya sendiri, direkam pada malam setelah Arka dan Nara lahir. Suaranya lemah, napasnya pendek.
Kalau suatu hari aku lupa kenapa bertahan, dengarkan ini. Mereka lahir. Mereka menangis keras. Mereka hidup.
Alya mematikan rekaman sebelum air matanya jatuh.
Di RS Bahari, rapat program kerja sama dimulai pukul sembilan. Dokter Rafi dari Kupang hadir lewat video call. Perwakilan Kodam hanya mengirim dokumen. Tidak ada wajah Damar di layar, tetapi namanya muncul berkali-kali di jadwal.
Kolonel Damar Pradipta.
Koordinator lapangan.
Penanggung jawab keamanan.
Kontak darurat.
Rekan dokter di sebelah Alya berbisik, "Katanya kolonel itu galak tapi adil. Banyak perawat Kupang suka lihat dia waktu operasi bencana."
Alya menulis catatan tanpa menjawab.
"Dokter pernah kerja di Kupang, kan?"
"Pernah sebentar."
"Kenal beliau?"
Pena Alya berhenti.
"Dulu."
Satu kata itu sudah cukup membuat dadanya sesak.
Sore harinya, Nadia menjemput anak-anak dan membawa mereka ke rumah sakit karena hujan terlalu deras. Nara tidur di kursi ruang dokter. Arka duduk di lantai, menggambar laki-laki berseragam.
"Siapa itu?" tanya Alya.
"Tentara."
"Kenapa tentara?"
Arka mengangkat bahu. "Guru cerita tentang upacara. Katanya tentara jaga negara."
Nara membuka mata setengah. "Ayah kita tentara?"
Ruang itu hening.
Alya menatap dua anaknya, lalu menatap hujan di kaca.
"Ayah kalian orang yang berani," katanya akhirnya.
"Tapi tidak tinggal sama kita," kata Arka.
Alya tidak punya jawaban yang tidak menyakiti.
Ia akhirnya duduk di lantai, sejajar dengan anak-anak.
"Kadang orang dewasa terpisah bukan karena tidak sayang."
Arka memeluk buku gambarnya. "Karena kerja?"
"Karena takut. Karena salah paham. Karena ada hal yang belum bisa Mama ceritakan."
Nara menguap. "Kalau Ayah berani, kenapa Mama takut?"
Alya menatap wajah kecil itu. Pertanyaan anak-anak selalu datang tanpa pagar.
"Karena Mama juga manusia."
Arka tampak tidak puas, tapi ia tidak memaksa. Ia hanya menyimpan gambar laki-laki berseragam itu ke dalam tas.
Malamnya, ketika mereka pulang, Alya melihat gambar itu lagi. Tidak ada wajah jelas. Hanya tubuh tegak, sepatu hitam, dan tangan yang digambar terlalu besar.
"Kenapa tangannya besar?" tanya Alya.
Arka menjawab sambil mengantuk, "Supaya bisa pegang Nara kalau jatuh."
Alya menutup lampu kamar dengan dada sesak.