NovelToon NovelToon
Kali Ini, Aku Yang Menyerah

Kali Ini, Aku Yang Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Selingkuh
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Floravest

Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.

Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.

Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.

Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sikap dingin Ramdan

Malam itu, hujan turun deras, Azalea duduk di sofa sembari mengelus kedua tangannya yang terasa dingin. Ia lirik jam di ujung dinding atas tv, sudah menunjukan pukul 23:45, namun suaminya, Ramdan, belum juga ada tanda-tanda pulang.

"Apa Mas Ramdan lembur lagi?" lirih Azalea memanyun.

Ia lirik masakan yang sudah ia siapkan di meja makan ujung sana. Aneka lauk dan sayuran sudah tertata rapi, bahkan nasi untuk suaminya, Ramdan. Ia sudah menyiapkannya lebih dulu.

Azalea memanyun sedih, cuaca sedingin ini, nasi yang ia siapkan dari jam 7 malam pasti sudah dingin, atau mungkin mengeras hingga tidak bisa dimakan lagi.

Azalea pun berdiri, berjalan mendekat ke arah meja makan, ia cicipi satu butir masih yang sudah sangat dingin dan mengeras itu, meringis ngilu saat tak sengaja giginya yang sakit menggigitnya. Ia buru-buru berlari ke arah wastafel dapur untuk kumur.

"Awss....sakit sekali. Apa sebaiknya besok aku periksa saja ke rumah sakit?"

Ia menoleh kembali ke belakang, menatap muram nasi yang sudah tidak bisa dimakan itu, "Kalo di tempat nenek di kampung dulu, pasti sudah buat ayam."

CKLEK!

Aza terperanjat saat mendengar pintu ruang tamunya terbuka, netranya langsung melebar, senyum indah merekah dari kedua sisi bibirnya.

Wanita itu lantas berlari cepat menuju ruang tamu, dan benar saja, suaminya pulang. Ia langsung berlari dengan kecepatan penuh, lalu memeluk tubuh suaminya, Ramdan. Begitu erat.

"Mas, aku pikir kamu tidak akan pulang!" rengek wanita itu, terisak kecil.

Namun respon Ramdan lain dari biasanya, ia yang selalu tersenyum setiap istri menyambutnya, kini tak ada lagi senyuman itu.

"Aku cape, Aza. Minggir lah."

Ia dorong pelan kepala Aza yang menempel di dadanya hingga pelukan itu terlepas, lalu berjalan masuk ke dalam tanpa menoleh sedikitpun ke arah istrinya.

Aza tertegun, terdiam di tempat dengan tatapan kosong ke arah suaminya yang bahkan tak melirik sedikitpun ke arah meja makan yang sudah ia siapkan.

"Mas Ramdan kenapa?"

Entah mengapa, sikap cuek Ramdan membuat hatinya ngilu, baru kali ini suaminya tetiba cuek tanpa bertanya itu. Namun saat menyadari jam berapa Ramdan pulang, Aza pun menepis kesedihan. Memaksakan senyumnya yang tidak seharusnya dilakukan.

"Pasti Mas Ramdan cape banget, jadi ngga ada selera." lirihnya, "Yaudah deh, aku amanin makanan dulu."

Wanita bertubuh mungil itu segera berjalan menuju meja makan, menyimpan kembali sayur-sayur untuk setidaknya ia panaskan besok.

Sementara Ramdan langsung menjatuhkan tubuhnya tetiba di kamar. Keadaan hari ini benar-benar membuatnya cape. Ia selipkan kedua tangannya di bawah kepala, menatap langit-langit kamarnya dalam.

*

"Dan, sampai kapan kamu pertahanin Azalea? Ini udah dua tahun, tapi dia belum juga hamil, Ramdan. Adikmu saja sudah punya anak dua." rengek sang ibu.

Malam itu, sepulang kerja aku tidak langsung pulang ke rumah istriku. Aku mampir ke rumah ibu untuk menyerahkan 1 1/2 gaji bulananku untuk ibu kelola.

Semenjak insiden uang hilang di kamar, aku menjadi ragu pada wanita itu untuk mengelola uang sepenuhnya. Meski, Aza selalu mengelak bahwa bukan dirinya pelakunya.

Aku awalnya percaya, namun Aza selalu bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Dan selalu manja setiap masalah belum terselesaikan.

"Sabar yah, Bu. Aku akan periksakan Aza lagi ke rumah sakit." dalihku malas.

Sebenarnya aku tidak terlalu memperdulikan tentang anak. Tapi ibuku selalu merengek. Hal yang tidak kupedulikan juga bisa menjadi beban untukku.

"Sampai kapan, Dan? Sampai ibu mati? Azalea itu pasti mandul, ibu percaya sama omongan adikmu, Rara, Ramdan....." keluh sang ibu lagi, semakin kesal karena respon Ramdan terlalu condong pada Azalea.

"Dari awal ibu sudah tidak setuju kamu menikah dengan wanita itu, Ramdan. Tapi kamu selalu ngeyel! Cinta, cinta, cinta kalo gabisa ngasih cucu buat apa?"

"Azalea juga sudah berusaha Bu....tolong bersabarlah sedikit..."

"Ahhh kamu ini Ramdan! Selalu bela istrimu! Ini yang bikin ibu kesal. Kamu terlalu memanjakan istrimu itu. Sekali-kali kamu cuekin saja dia biar dia mikir kelakuannya! Udah hilangin uang kamu 5 juta, udah gitu gaada rasa bersalah lagi!"

Aku mengusak rambutku frustasi, bangkit dari sofa itu dengan perasaan kesal, memilih mendudukkan diriku di kursi tunggal agak jauh dari ibuku.

"Mungkin saja bukan Aza pelakunya, Bu!" kilah ku, memalingkan pandangan ke arah lain.

"Kamu masih bela istrimu lagi, Dan?! Kamu marah jika ibu minta semua gajimu buat ibu kelola?! Lagian uang sebanyak ini juga buat apa sama Aza?! Paling cuma buat foya-foya alih-alih hilang uangnya!"

Mendengar semua keluh kesah ibu, aku yang selalu membela Azalea pun jadi mikir dua kali. Apa benar uang itu hilang kebetulan? Ditambah setelah aku tak membahas uang itu lagi, Aza bersikap manja seolah-olah uang yang hilang itu tidak pernah terjadi.

"Bu...ayolah....Aku pulang kesini buat nenangin diri. Di kantor orang-orang memojokkanku dengan wanita staf bawahanku, aku malas Bu! Kepalaku pusing!"

Mendengar ada wanita yang satu kantor mendekati Ramdan. Bu Ratna sontak mendekatkan dirinya hingga pojok sofa, di samping putranya.

"Iyakah? Siapa itu? Cantik ngga? Subur, kaya? Kalo iya yaudah terima saja. Toh Aza juga gabakal tau kan?"

Ku tatap sinis ibuku dengan kesal itu, memutar bola mata malas, "Ibu ini, bikin aku bete saja. Tambah kesal aku jadinya."

"Ayolah Ramdan....menyimpang sedikit juga tidak apa-apa. Kamu tau kan ayahmu dulu juga memanfaatkan wanita lain demi kecukupan keluarga kita. Kalo kamu bisa ya gapapa."

"Itukan bapak, Bang Ramdan pasti gamau lah. Tapi kalo cocok sih, gas aja bang."

Suara Rara dari ujung tangga mengejutkan keduanya. Rara segera berjalan mendekati mereka, duduk di samping ibunya.

"Yang penting mah bisa ngasi keturunan, bang. Kalo Mba Aza gabisa, ya cari aja yang lain. Makan cinta doang ngga bikin anak muncul bang. Mau ngew* 5 kali sehari kalo dasarnya mandul ya mandul!"

Aku menghela nafas jengah, lagi-lagi ibu dan adek mengomporiku. Kan aku jadi ragu. Mana yang di ucapkan bener semua lagi. Mau aku ngelakuin rutin dengan Aza kalo dasarnya mandul? Ya....susah.

*

"Mas...."

Panggilan Aza dari ujung pintu mengejutkan Ramdan, pria itu langsung memejamkan matanya cepat, bersikap seolah-olah ia sudah tidur.

Aza yang melihatnya tersenyum tipis, menghela nafas pelan. Lantas berjalan mendekat untuk melepas sepatu dan kaos kaki suaminya itu. Tak lupa juga menarik tubuh Ramdan ke posisi yang tepat untuk kenyamanannya.

"Mass ini, kalo mas tidur kaya gini nanti sakit." bisik Aza tersenyum manis disela ia menyelimuti Ramdan.

Dalam hati Ramdan sangat menyukai sikap lembut Aza, dan juga perhatian wanita itu. Namun ia juga merasa, rumah ini terlalu sepi jika hanya di huni oleh mereka berdua.

Ramdan langsung bangkit saat Aza hendak berbalik. Menarik tubuh mungil istrinya ke atas pangkuannya. Membuat Aza terkejut bukan main.

"Sayang, bagaimana jika kita mengadopsi anak?"

1
anggita
ikut ng👍like, kasih iklan☝aja. moga novelnya lancar.
Floravest🔥: aamiin makasih kakak🤗
total 1 replies
anggita
di novel, tiap pintu dibuka pasti... ceklek😅, ora tau grobyak, bruuak dll
Floravest🔥: nanti jadi aneh😂
total 1 replies
Dynhz
bagus bgt🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!