Karena kepergian Jelita, Amora terpaksa menggantikan posisi sang kakak sebagai pengantin dalam pernikahan yang sejatinya ditujukan untuk Jelita dan Razka.
"Tidak ada pilihan lain. Aku harus menyelamatkan nama baik keluarga Atmojo."
Amora tidak ada pilhan lain selain menikah dengan laki-laki yang seharusnya menjadi suami dari kakaknya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggi Dwi Febriana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Menjalani Dengan Lapang
Malam semakin larut. Jam digital di atas nakas telah menunjukkan pukul 23.30, tetapi mata Amora sama sekali belum terpejam. Kelopak matanya memang terasa berat, tubuhnya pun dipenuhi rasa pegal setelah seharian menjalani prosesi pernikahan yang melelahkan. Namun, setiap kali ia melirik ranjang berukuran king size di tengah kamar hotel itu, langkahnya selalu terhenti.
Ia memilih tetap duduk di sebuah sofa berlengan yang menghadap ke jendela. Di samping kakinya sudah tergeletak sebuah bantal dan selimut yang tadi ia ambil dari dalam lemari. Sejak awal, Amora sudah memutuskan kalau malam ini, ia akan tidur di sofa ini.
Bukan karena tidak ingin beristirahat dengan nyaman, melainkan karena ia sadar betul siapa dirinya. Ia hanyalah pengganti. Dan Amora yakin kalau Atharazka juga pasti tidak ingin seranjang dengannya.
Di balik pintu kamar mandi, suara pancuran masih terdengar mengalir. Amora menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa gugup yang belum juga hilang sejak akad nikah selesai dilaksanakan.
Sampai beberapa menit kemudian, suara pintu kamar mandi terbuka. Amora spontan menoleh.
Atharazka melangkah keluar dengan rambut yang masih basah. Kaus berwarna hitam polos sudah membalut tubuhnya, dipadukan celana training panjang berwarna gelap. Meski berpakaian santai, wibawa pria itu sama sekali tidak berkurang. Tubuh tegap dan sorot matanya yang tenang tetap memancarkan kesan sulit didekati.
Amora segera mengalihkan pandangan. Entah mengapa, setiap kali berada di dekat laki-laki itu, ia selalu merasa canggung.
Atharazka menghentikan langkah ketika melihat bantal dan selimut yang sudah tersusun rapi di dekat kursi.
"Kamu mau tidur di situ?" tanyanya datar.
Amora mengangguk pelan.
"Iya Mas."
Jawabannya singkat, membuat suasana kembali hening.
Atharazka menatap sekilas ke arah kursi itu, lalu beralih memandang ranjang.
"Sofanya sempit. Besok badan kamu bisa pegal semua."
Amora tersenyum tipis.
"Enggak apa-apa. Aku lebih nyaman di sini."
Atharazka tidak langsung menjawab. Ia seolah memahami alasan sebenarnya, meski Amora tidak mengatakannya secara terang-terangan.
"Kamu enggak perlu sungkan cuma karena status kita hari ini," ucapnya akhirnya dengan nada tetap tenang. "Ranjang itu cukup buat dua orang."
Amora menggenggam ujung selimut di pangkuannya.
"Bukan karena sungkan, Mas. Aku cuma merasa kayanya mending gini."
Atharazka mengembuskan napas pelan. Ia tidak ingin memperpanjang pembahasan yang menurutnya tidak penting ini.
"Kalau itu keputusan kamu, saya enggak akan maksa."
Setelah mengatakan itu, ia berjalan menuju sisi ranjang, mengambil ponselnya, lalu mengecek beberapa pesan pekerjaan yang sejak sore belum sempat ia balas.
Amora hanya memperhatikan dari kejauhan.
Beberapa saat kemudian, pria itu meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Sebelum tidur," katanya tanpa menoleh, "besok pagi kita harus berangkat ke rumah Daddy dan Mommy lebih awal. Banyak keluarga besar yang masih berkumpul."
Amora mengangguk cepat.
"Iya Mas."
"Itu saja."
Percakapan mereka kembali terputus. Tidak ada lagi kalimat yang keluar.
Atharazka mematikan lampu utama hingga kamar hanya diterangi cahaya lampu tidur yang redup. Ia kemudian berbaring di salah satu sisi ranjang dengan posisi membelakangi Amora.
Sementara itu, Amora perlahan merebahkan tubuhnya di sofai panjang yang cukup empuk. Ia menarik selimut hingga menutupi tubuhnya, lalu memandang langit-langit kamar.
Hari ini kehidupannya berubah sepenuhnya.
Pagi tadi ia masih menjadi Amora Dania Atmojo, putri bungsu keluarga Atmojo. Kini, dalam hitungan jam, ia telah menyandang status sebagai istri Atharazka Bagaskara.
Perubahan itu terasa begitu cepat hingga ia belum sempat menerima semuanya dengan utuh.
"Dari awal aku sudah tahu kalau Mas Razka enggak pernah menginginkan pernikahan ini," batinnya lirih. "Jadi aku enggak boleh berharap apa pun."
Amora memejamkan mata perlahan. Ia tidak tahu bagaimana kehidupan rumah tangganya akan berjalan setelah malam ini. Yang ia tahu hanyalah satu hal, ia harus belajar menjalani semuanya dengan lapang dada, meski langkah pertama yang ia pijak terasa begitu berat.
.
.
.
Usai seluruh rangkaian resepsi selesai, Amora tetap berada di hotel bersama Atharazka. Sementara itu, Danendra dan Fina memilih kembali ke kediaman mereka. Perjalanan pulang berlangsung nyaris tanpa percakapan. Keduanya sama-sama kehabisan tenaga setelah melalui hari yang penuh tekanan, seolah seluruh emosi yang mereka tahan sejak semalam menguras habis kekuatan mereka.
Begitu pintu rumah terbuka, kesunyian langsung menyelimuti.
Rumah besar yang biasanya terasa hangat kini justru menghadirkan kehampaan. Fina berjalan pelan menuju ruang keluarga, lalu menjatuhkan tubuhnya di sofa. Pandangannya kosong menatap ruangan yang sejak kecil menjadi tempat Amora dan Jelita tumbuh bersama.
Danendra menyusul beberapa langkah di belakangnya. Ia melonggarkan dasinya, kemudian duduk di kursi tunggal sambil memijat pelipis yang terasa berdenyut.
Beberapa menit berlalu tanpa sepatah kata.
Hingga akhirnya Fina memecah keheningan.
"Yah..." panggilnya lirih.
Danendra mengangkat kepala.
"Mama kepikiran Amora terus."
Nada suara istrinya terdengar begitu rapuh.
"Dia sekarang sudah menjadi bagian dari keluarga Bagaskara. Mama takut Amora enggak diterima disana."
Danendra mengembuskan napas panjang.
"Amora anak yang kuat, Ma," ujarnya pelan. "Dia memang kelihatannya lembut, tapi dia selalu bisa menyesuaikan diri di keadaan sesulit apa pun."
Fina menggeleng pelan.
"Bukan itu yang Mama takutkan."
"Apa?"
"Mama takut dia terlalu banyak diam. Dari kecil dia selalu begitu. Kalau ada masalah, dia lebih milih diam daripada bikin orang lain kepikiran."
Ucapan itu membuat Danendra ikut terdiam. Ia mengenal betul sifat putri bungsunya. Amora hampir tidak pernah meminta apa pun. Bahkan ketika harus menggantikan posisi Jelita di pelaminan, gadis itu menerima keputusan tersebut tanpa sekalipun menyalahkan siapa pun.
Semakin mengingatnya, semakin besar rasa bersalah yang memenuhi hati Danendra.
"Ayah juga kepikiran," akunya jujur. "Besok atau lusa, kita co a ketemu mereka. Setidaknya kita lihat keadaan Amora secara langsung."
Fina menganggukkan kepala. Mendengar rencana itu membuat hatinya sedikit lebih tenang. Namun ketenangan tersebut hanya bertahan beberapa detik.
Tatapan Fina kembali meredup.
"Kalau Jelita?"
Nama itu membuat suasana kembali berubah. Danendra menurunkan pandangannya.
"Sampai sekarang belum ada perkembangan?"
Fina bertanya dengan penuh harap. Tapi Danendra menggeleng pelan.
"Orang-orang yang Ayah kirim masih terus mencari. Mereka sudah mendatangi beberapa tempat yang mungkin didatangi Jelita, tapi hasilnya nihil."
"Kamu juga sudah hubungi Dani lagi?"
"Sudah."
"Lalu?"
"Dia bilang enggak tahu apa-apa."
Padahal Danendra sempat mencurigai Dani menyembunyikan putrinya. Namun setelah berbicara langsung dan memeriksa beberapa informasi yang berhasil ia dapatkan, dugaan itu belum menemukan bukti yang kuat.
Fina menundukkan wajahnya. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga.
"Mama marah sama Jelita, Yah.. tapi Mama juga takut."
Danendra segera berpindah tempat duduk. Ia meraih tangan istrinya dan menggenggamnya erat.
"Jangan berpikir macam-macam."
"Gimana Mama enggak kepikiran? Dia pergi sendirian tanpa kasih kabar. Ponselnya mati. Dia enggak pernah melakukan hal seperti ini."
"Jelita memang keras kepala," ucap Danendra lirih. "Tapi dia juga anak yang pintar. Dia pasti tahu cara menjaga dirinya."
Meski mengucapkan kalimat itu dengan keyakinan besar, jauh di lubuk hatinya sendiri tersimpan kegelisahan yang sama besarnya. Ia hanyalah seorang ayah yang sedang berusaha terlihat kuat di depan istrinya.
Malam itu, di tengah rumah yang terasa begitu lengang, Danendra dan Fina hanya mampu memanjatkan doa dalam diam.
Mereka berharap dua putri mereka, yang kini berada di tempat berbeda dengan jalan hidup yang sama sekali tidak pernah mereka bayangkan, tetap berada dalam lindungan Tuhan.
Satu telah memulai kehidupan baru sebagai istri Atharazka Bagaskara. Sementara satu lagi masih menjadi misteri yang belum berhasil mereka temukan.
crt2 yg lain nya aku msh nunggu kelanjutan nya lho... 🥰🥰🥰