Apa jadinya jika seorang pembunuh bayaran terlatih malah jatuh cinta pada targetnya ? Hal itu yang dialami Sofia yang jatuh cinta pada Biyan pria yang seharusnya ia lenyapkan. Namun sayang cinta itu tumbuh ketika Sofia menjadi Anna bukan Sofia yang sesungguhnya. Apakah Sofia akan tetap memutuskan menjadi gadis tunangan dokter muda itu atau sebutir peluru yang akan mengakhiri semua dendam masa lalunya ? Cinta adalah tragedi untuk keduanya yang terjebak dalam keluarga mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Joya J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehilangan
"*Kemarilah, kita akan tidur sama-sama. Ada yang ingin ku katakan kepadamu." Sofia menarik lengan Biyan keduanya berada dalam satu selimut. Hangat, itulah perasaan Sofia. Ternyata begini lah rasanya jika mereka di tempat tidur yang sama pikir Sofia. Biyan melingkarkan lengannya dan bahu Sofia dan membiarkan gadis itu bersandar di dadanya. Biyan merasa nyaman dan sejenak melupakan ketegangan yang terjadi sepanjang hari ini.
"Aku ingin bercerita, apa kamu mau mendengarnya ?" Sofia mendongak menunggu jawaban kekasihnya. Biyan tersenyum lagi-lagi ia mendaratkan kecupan ringan di dahi Sofia lalu mengangguk.
"Setelah orang tuaku tewas, aku sempat diasuh dalam sebuah panti asuhan. Dulu ada seorang perempuan muda yang sangat baik mengasuhku kalau tidak salah namanya bunda Rima. Saat itu beliau baru saja menjadi seorang perawat." Biyan mengernyitkan dahi ia merasa seperti suatu kebetulan nama dan profesi itu dengan bibi Rima yang dikenalnya. Biyan kembali fokus menyimak cerita Sofia.
"Suatu hari ada seorang anak laki-laki tampaknya anak orang kaya datang menggelar pesta ulang tahunnya yang kedelapan. Pesta yang sangat meriah. Banyak makanan, kue dan mainan. Saat itu aku benar-benar tidak tertarik karena aku masih bersedih kehilangan kedua orang tuaku. Lalu anak laki-laki itu datang menghiburku dia memberiku satu benda." Sofia terdiam sejenak ia sepertinya agak lupa dengan benda yang ia ceritakan.
"Aku senang sekali setelah beberapa waktu aku merasa aku akan punya teman yang bisa menghiburku. Dia berbeda dengan anak lainnya. Hingga suatu hari aku tidak pernah bertemu dengannya lagi. Panti asuhan diserang kelompok bersenjata. Mereka mengambil anak-anak secara paksa. Aku ingat mereka membakar panti bunda Rima terluka di bagian punggung saat hendak menolongku bersembunyi dari orang-orang itu juga dari kebakaran." Sofia sejenak terdiam, Biyan mengecup pucuk kepala Sofia dan membelai bahu Sofia seakan memberikan kekuatan kepada Sofia.
"Itu disaat terakhir aku melihat bunda Rima. Aku direnggut paksa dari pelukan bunda Rima oleh seorang iblis betina bernama Aretta. Membesarkanku dengan beberapa anak lainnya dengan cara yang tak lazim. Kami selalu berebut sesuatu agar bisa bertahan hidup. Bagi Aretta yang kuat yang akan menang. Dia benar… ada beberapa orang anak yang mati karena tak mampu bertahan. Hingga yang tersisa dari kami ada lima orang. Entah di camp yang lain ada berapa orang lagi karena ku rasa Aretta memiliki lebih dari satu camp untuk membuat pasukan pembunuh seperti diriku." Sofia menarik nafas panjang. Rasanya lelah sekali menceritakan kehidupan yang tak masuk akal ini kepada Biyan namun Biyan dengan sabar menunggu semua cerita Sofia.
"Aku bersyukur sisi manusiaku masih ada Bi, di suatu hari dalam pengejaran target aku menemukan sebuah panti asuhan yang kondisinya sangat memprihatinkan. Aku menaruh simpati dan jatuh cinta pada anak-anak disana. Lalu aku mencoba membantu agar kehidupan mereka lebih baik. Biyan, separuh nyawaku seperti ada bersama anak-anak itu dan ibu Mirna kepala panti. Beliau mengingatkanku kepada bunda Rima yang bertaruh nyawa untuk menyelamatkanku malam itu. Disaat yang sama kehidupan nyataku menjadi sumber kekuatan sekaligus kelemahanku. Sekian tahun aku merahasiakan keberadaan panti asuhan itu dari siapa pun juga. Tak boleh ada yang tahu terlebih Aretta juga saudari-saudari di Black Butterfly. Hingga sore tadi aku menemukan fakta bahwa Trish salah satu anggota Black Butterfly telah menyekap salah seorang anak panti."
Dari wajahnya Biyan terlihat ikut tegang, namun ia masih menunggu apa yang akan dikatakan Sofia.
"Trish ingin kau lenyap sebagai ganti keselamatan anak panti yang ia culik." Suara lirih Sofia terdengar samar namun telinga Bjyan tak salah dengar. Biyan menarik nafas panjang, ia tahu arti panti asuhan itu bagi Sofia dan dirinya adalah kunci dari keselamatan panti asuhan.
"Aku mencintaimu Biyan…" air mata Sofia luruh, titik-titik basah itu jatuh di baju Biyan. Pria yang memiliki perasaan cinta yang lebih besar dari Sofia itu merengkuh Sofia kedalam pelukannya.
"Lakukan yang terbaik menurutmu Anna Sayang… aku berjanji akan melakukan apa pun untuk dirimu. Aku sudah cukup bahagia bersamamu selama ini aku tidak keberatan jika inilah waktuku untuk menyusul ibuku juga kedua orang tuamu."
"Aku tak mungkin melakukan itu Bi, menghilangkan nyawamu pun tak akan menjamin Trish tidak membunuh anak itu. Aku hanya ingin satu hal darimu."
"Apa pun itu Anna…"
"Biyan, besok hari, buatlah dunia tahu jika kau tewas tertembak karena peluruku. Kau harus pastikan jika dunia hitam tahu putra Maxwiliam sudah ku lenyapkan. Meski Aretta kuat namun ku rasa Maxwiliam tidak akan tinggal diam ayah kandungmu pasti akan memburu Aretta dan Black Butterfly kemana pun juga. Lalu hiduplah dengan tenang jika suatu hari nanti ada seorang gadis yang kau tabrak dan terluka acuhkan saja jangan tolong dia dan biarkan dia mati di jalanan. Kau tidak akan pernah tahu bahaya apa yang ia bawa untukmu."
Sesaat Biyan merenung mendengar itu. Artinya esok adalah hari terakhirnya bersama Sofia. Ada kesedihan mendadak menyeruak di setiap rongga dadanya. Biyan mendekatkan bibirnya di telinga Sofia sambil berbisik mesra,
"Jika kau dan aku masih hidup setelah esok aku akan mencarimu. Tunggu aku, aku akan pastikan menikahimu dan ku buat kau hidup bersamaku tanpa pernah jauh sekali pun, selamanya."
Sofia tertegun ia tak menyangka cinta Biyan kepadanya sebesar itu lalu ia menoleh perlahan, bulir-bulir bening itu kembali meninggalkan jejak di pipi Sofia. Biyan mengusapnya lembut dan sekali lagi ia mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Sofia dengan segenap perasaan Biyan*.
Speedboat yang Sofia bawa sudah sampai ke dermaga tua di teluk pulau kecil tak jauh dari rute kapal yacht yang membawa Biyan pergi. Setelah mendapatkan lokasi keberadaan Trish menyekap anak panti Sofia tidak langsung kesana. Ia mengulur waktu agar bisa mempersiapkan pertempurannya dengan Trish juga Black Butterfly. Ia berharap bisa membebaskan panti asuhan dari jamahan Aretta dan kelompok pembunuh itu. Di sebuah gudang tua ia memulihkan tenaganya. Ia mulai menghitung berapa banyak senjata dan peluru yang ia dapatkan dari sekelompok penyerang di speedboat tadi. Ingatan Sofia kembali pada Biyan, sosok yang memang memgagumkan dan penuh kejutan. Tak disangka gadis itu jika Biyan mahir menggunakan senjata dan tembakannya tak ada yg meleset. Ia kagum meski Sofia tahu jika tembakan Biyan mampu menyasar bagian mana pun Biyan hanya melukai orang-orang itu sama sekali tidak ada bidikan pada bagian tubuh yang berbahaya. Sofia mengehela nafas ia harus fokus pada penyelamatan anak panti ia harus bisa mengikis perasaan rindunya ini pelan-pelan.
Mata Biyan membuka perlahan samar-samar ia mendapati dirinya sudah terbaring di kasur yang empuk dan harum. Perban melilit dengan baik dan rapi melintang di dada kiri ke bahu kanannya. Ia masih sulit bergerak rasa nyeri bersarang di bekas luka tembakan Sofia. Ia kembali memejamkan matanya ia menggali kembali ingatannya pada pemilik iris mata coklat muda yang berembun saat menembak ke arahnya. Saat itu ia mengira benar-benar akan mati di tangan Sofia. Namun tidak ia berada disini sekarang melawan nyeri yang lebih dahsyat di balik dadanya. Biyan memastikan jika saat ini ia sudah dibawa ke resort milik keluarga Ardha di pulau pribadinya. Laki-laki itu mencoba bangkit dan duduk bersandar di kepala ranjang. Matanya menyapu seisi kamar, benar-benar mewah dengan interior kamar kualitas terbaik.
Langkah kaki terdengar mendekati kamar Biyan sesaat kemudian pintu kamar terbuka. Mata Biyan berbinar ketika tahu siapa yang membuka pintu. Sosok itu bergegas mendekati Biyan, memeluk kepalanya sesat dan mengacak rambutnya.
"Kau hanya ku tinggal sebentar saja namun kau sudah sampai sejauh ini kemari Biyan… bahkan rumah kita hancur...ck ck ck…" dokter Rasyidi memeluk sekali lagi putranya.
"Syukurlah kau masih selamat jika tidak bagaimana aku bisa menghadapai kelak Sandrina ibumu." Rasyidi menghembuskan nafas lega. Laki-laki paruh baya itu yakin jika Biyan akan meminta bantuan kepada Ardha sehingga ketika mereka tiba tempat yang dituju selanjutnya adalah ayah Ardha. Mereka sudah cukup berkawan lama dengan baik. Ayah Ardha masih belum percaya sepenuhnya pada cerita Ardha hingga akhirnya Rasyidi datang kepadanya mencari tahu keberadaan Biyan. Ia semakin merasa senang ketika Rasyidi tidak datang sendiri tapi tokoh besar dunia hitam putih itu ikut bersama Rasyidi. Maxwiliam ayah kandung Biyan. Ayah Ardha terkesima dengan rupa tampan Maxwill yang benar-benar turun kepada Biyan Putra Mahesa.
Langkah kaki lain terdengar lebih berat masuk ke kamar Biyan diikuti oleh Ardha di belakangnya. Sosok tinggi tegap mirip dengan postur tubuh Biyan sendiri. Ia memakai jas berwarna putih tulang. Rambut coklat yang disisir rapih dengan style wetlook. Garis hidung dan raut wajah yang benar-benar mirip Biyan.
"Bagaimana keadaanmu Putraku?" Maxwill menatap Biyan dengan sorot kerinduan yang dalam. Bertahun-tahun sepanjang usia Biyan ia menahan diri untuk tidak menampakkan dirinya dan menutup rapat-rapat identitas putranya.
"Jadi kau rupanya yang membuat aku terancam mati ? Dan ibuku adalah korban pertamamu bukan ?" Dari kalimatnya barusan membuat orang-orang di kamar itu kaget. Ardha menunduk melihat lantai dan berpura-pura tidak mendengarnya. Rasyidi terlihat kecewa bukan seperti ini yang ia harapkan jika Biyan bertemu dengan Max setelah sekian tahun. Hanya Maxwilliam saja yang masih terlihat tenang. Ia tahu jika Biyan sedang kecewa pada kenyataan siapa dirinya sebenarnya.
Sukses iya untuk karyanya.
Jangan lupa mampir di karya pertamaku, yang menceritakan seorang cowok letoy yang selalu di tolak sama cewek dalam judul THE FAILED PLAYBOY.
Terimakasih 🙏
salam dari
RINDUKU DI UJUNG SURGA
.
.
.
salam dari "Diakah Jodohku, Jodohku dari Kakaku "☺
Jangan lupa tinggalkan jejak 😉
bawa like&rate juga.
semangat trs ya buat nulisnya.
ceritanya seru, bacanya aku cicil ya.
salam dari time memory.
mampir juga ya ke karyaku.. "Mungkinkah?"