NovelToon NovelToon
Obsesi Mr.Mafia

Obsesi Mr.Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mafia / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.6k
Nilai: 5
Nama Author: Four

Satu malam dengan seorang Mafia sama dengan maut?

Myra Mahira tak pernah menyangka liburan singkat di Bali akan mempertemukannya kembali dengan Al—anak laki-laki menyebalkan yang dulu menghilangkan cincin peninggalan ibunya.

Namun Al bukan lagi bocah badung yang ia kenal. Kini ia adalah Silas Al Wolfe, pria tampan, dingin, dan penuh rahasia yang mampu membeli apa pun dengan kekuasaan dan uang.

Saat hidup Myra hancur karena hutang 500 juta, Silas menawarkan jalan keluar yang tak pernah ia bayangkan.

Sebuah kesepakatan yang seharusnya berakhir dalam semalam berubah menjadi pernikahan yang tak pernah Myra inginkan. Dibawa ke New York membuatnya tahu siapa Silas Al Wolfe sebenarnya.

Bagi Silas, Myra bukan sekadar istri. Dia adalah obsesi yang tak akan pernah ia lepaskan.

°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°~°
Mohon dukungannya ✧⁠◝⁠(⁠⁰⁠▿⁠⁰⁠)⁠◜⁠✧

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Four, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

OMM — BAB 30

KABAR BURUK MERUSAK MOMEN

Cahaya pagi menyusup melalui celah tirai kamar utama. Sinar itu tidak cukup kuat untuk menerangi seluruh ruangan, hanya meninggalkan semburat keemasan tipis di lantai kayu dan beberapa bagian furnitur di dekat jendela.

Udara pagi masih terasa sejuk. Keheningan menyelimuti kamar, hanya dipecahkan oleh suara napas dua orang yang terdengar teratur.

Di atas ranjang, Silas masih terlelap.

Lengannya melingkar erat di pinggang Myra dari belakang, seolah tubuh wanita itu adalah tempat paling nyaman untuknya beristirahat. Dagunya bertumpu ringan di bahu Myra. Tidak ada jarak di antara mereka.

Semalam, entah bagaimana, semua batas yang selama ini mereka pertahankan perlahan menghilang.

Untuk pertama kalinya, tidak ada tembok.

Myra masih tertidur dengan wajah tenang. Kerutan kecil di dahinya yang biasanya muncul ketika ia tidur bahkan tidak terlihat pagi itu. Napasnya lembut dan teratur, seakan ia sama sekali tidak menyadari bahwa pria yang selama ini begitu sulit ia pahami kini berada begitu dekat dengannya.

Pintu kamar kemudian terbuka perlahan.

“Ibu Myra!”

Suara kecil itu seketika memecah ketenangan.

Elina berlari masuk tanpa sedikit pun merasa bersalah. Rambutnya masih diikat asal, beberapa helainya bahkan mencuat ke segala arah. Pakaian yang dikenakannya pun tampak belum benar-benar dirapikan.

“Pelan-pelan!” seru Penelope dari lorong. “Nona Elina, tunggu!”

Namun, terlambat. Elina sudah berada di dalam kamar.

Ia berhenti di depan ranjang dan memandangi pemandangan di hadapannya. Matanya membulat beberapa detik sebelum senyum lebar muncul di wajah kecilnya.

Silas dan Myra tidur berpelukan.

Bagi Elina, pemandangan itu tampak seperti sesuatu yang hanya pernah ia lihat dalam cerita.

Ia menutup mulut dengan kedua tangan untuk menahan tawa.

“Hehe.” Suara kecil itu cukup untuk membangunkan Myra.

Kelopak mata wanita itu bergerak sebelum akhirnya terbuka. Pandangannya masih kabur selama beberapa detik. Namun, begitu penglihatannya mulai jelas, ia langsung melihat Elina berdiri di samping ranjang dengan senyum lebar.

Myra mengernyit bingung.

Kemudian ia menunduk. Barulah ia menyadari posisi tubuhnya.

“Astaga... Elina.”

Ia berada dalam pelukan Silas. Panas langsung menjalar ke wajahnya.

Myra buru-buru duduk dan menarik selimut hingga menutupi tubuhnya sampai ke leher.

“Elina bagaimana kau...”

“Aku ingin bermain denganmu! Hari ini libur sekolah!”

Silas ikut terbangun karena gerakan itu. Tangannya yang semula melingkar di pinggang Myra bergerak refleks, seolah mencari sesuatu yang baru saja menghilang dari pelukannya.

Ketika tidak menemukan Myra, ia membuka mata.

Keningnya berkerut.

Tatapannya pertama-tama jatuh kepada Elina, kemudian berpindah kepada Penelope yang baru saja masuk dengan napas sedikit terengah.

“Maaf, Tuan,” kata Penelope cepat. “Saya tidak bisa mengejarnya.”

Elina sama sekali tidak peduli dengan permintaan maaf itu. Ia justru mendekati ranjang dan memanjat ke tepinya.

“Kalian tidur bersama!” serunya polos.

Tawa kecil kembali terdengar. “Seperti di cerita dongeng.”

Myra semakin salah tingkah. Ia melirik Silas, berharap pria itu mengatakan sesuatu untuk mengakhiri rasa malunya.

Silas duduk bersandar pada kepala ranjang. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, tetapi warna merah samar tampak di telinganya.

“Bukan begitu,” kata Myra cepat. “Tadi malam... sangat dingin.”

Silas meliriknya sekilas. “Dia sudah semakin pintar, lebih baik terima saja.”

Myra menatapnya kesal, sementara Silas mengalihkan pandangan kepada Elina.

“Kau tidak mengetuk pintu.” ujar Silas santai.

Elina mengangkat bahu dengan santai.

“Aku lupa. Maafkan aku.”

Penelope segera mengambil kesempatan itu untuk menggandeng tangan Elina.

“Ayo mandi dulu, Sayang. Nanti ibumu marah.”

Namun, Elina menolak. “Tidak mau. Aku mau bermain bersama Ibu Myra.”

Myra kembali menatap Silas. Tatapannya jelas meminta bantuan. Namun Silas menghela napas panjang.

“Turunlah. Segarkan dirimu. Lima belas menit lagi di ruang tengah.”

Elina langsung berubah ceria. “Setuju!”

Ia melompat turun dari ranjang dan berlari keluar sambil menarik Penelope.

Pintu kamar kembali tertutup. Keheningan perlahan memenuhi ruangan dan Myra masih duduk kaku di atas ranjang. Ia menatap ke arah pintu yang baru saja tertutup, lalu menundukkan kepala.

“Astaga.. Ini memalukan.”

“Hm.” Silas berdiri dari ranjang.

Ia berjalan menuju kamar mandi dengan langkah tenang. Namun, sebelum masuk, ia berhenti dan menoleh.

Tatapan mereka bertemu.

“Tapi aku tidak menyesal.”

Setelah mengatakan itu, Silas masuk ke kamar mandi. Myra hanya mampu menatap pintu yang tertutup dengan jantung berdebar. “Dia benar-benar gila.” gerutunya.

...***...

Sementara itu, pagi yang sama berlangsung jauh berbeda di kediaman Bianco.

Oona membuka mata dengan kaget saat suara Amber menyambar bak petir.

“Malam panas yang panjang...”

Langit-langit kamarnya yang berwarna putih gading menjadi pemandangan pertama yang menyambutnya. Udara dari pendingin ruangan masih terasa dingin, membuatnya enggan segera meninggalkan tempat tidur. Tapi semuanya sirna.

Ia duduk dan merapikan pakaian yang dikenakannya.

Di sisi lain ranjang, seorang pria bertelanjang dada. Pria itu merupakan salah satu anak buah Bianco. Dan melihat Amber masuk tanpa mengetuk, tentu saja keduanya gelagapan hingga pria itu pergi dan Oona yang tadinya bertelanjang bulat kini dibalut jubah tidur.

Oona hanya melirik sebentar sebelum ketukan pelan terdengar dari luar.

“Privasi itu masih ada, kan?” sindirnya sambil menatap ibunya yang menatap tajam dengan kedua tangan terlipat di depan.

“Ya. Tentu saja ada. Tapi kau melanggarnya sendiri.”

Berbeda dari biasanya, wajah wanita itu terlihat pucat. Tidak ada riasan yang menghiasi wajahnya. Bahkan sorot matanya tampak jauh lebih berat daripada biasanya.

Oona memperhatikan ibunya sekilas sebelum mengambil gelas dan menuangkan air.

“Ibu pagi-pagi sudah di sini,” katanya santai. “Ada apa?”

Amber tidak langsung menjawab. Ia hanya memandangi putrinya selama beberapa detik.

“Fernando meninggal.”

Gerakan tangan Oona berhenti. Gelas yang baru saja diisinya tertahan di udara.

“Apa?”

“Di ruangannya. Tadi malam.”

Oona perlahan meletakkan gelas.

Ia tertawa kecil, seolah berita itu terdengar begitu mustahil. “Ibu bercanda?”

“Aku tidak bercanda, Oona.”

“Bagaimana bisa?” Oona menggeleng. “Kemarin dia masih marah-marah di meja makan.”

Amber menarik napas panjang. “Dia mengakhiri hidupnya.”

Suasana seketika berubah.

Oona tidak langsung menjawab. Tatapannya yang semula santai berubah tajam. Ia menatap ibunya seakan sedang mencari kebohongan di wajah wanita itu.

“Jangan bilang Ibu dan Pedro yang melakukannya.”

“Oona!”

“Aku tahu kalian berdua sudah lama ingin menyingkirkannya.”

Amber berjalan mendekat. Tamparan singkat mendarat di pipi Oona.

Tidak keras, tetapi cukup membuat wanita itu terdiam karena terkejut.

“Aku tidak menuduh siapa-siapa,” kata Amber dengan suara bergetar. “Dan aku tidak melakukannya. Kakek tewas karena dia sendiri yang mengakhiri hidupnya.”

Oona memegang pipinya. Matanya sedikit mulai berkaca-kaca menatap ibunya dengan takut. “Aku tidak mungkin membunuh kakekku sendiri.”

“Aku tahu.”

Suara Amber melemah.

“Karena itu aku datang kepadamu lebih dulu, bukan ke polisi.”

Keheningan kembali mengisi ruangan.

Oona menurunkan tangannya dari pipi. “Di mana jenazahnya?”

“Di ruang kerja. Sudah berada di dalam peti.”

Oona mengangguk.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, ia segera berjalan keluar kamar. Amber menyusul di belakangnya.

Mereka melewati lorong panjang menuju ruang kerja Fernando.

Begitu pintu terbuka, hawa dingin langsung menyambut mereka.

Empat lilin menyala di sudut-sudut ruangan. Cahaya kecilnya bergerak perlahan, membuat bayangan di dinding tampak panjang dan samar.

Di tengah ruangan, peti mati kayu hitam telah disiapkan.

Fernando Bianco terbaring di dalamnya dengan wajah pucat.

Wajah lelaki tua itu tampak tenang. Tidak ada luka yang terlihat dari tempat Oona berdiri. Sebuah pistol berada di atas meja, tertutup kain putih.

Pedro berdiri di samping peti.

Matanya terlihat merah, seolah baru saja menangis. Namun, ada sesuatu yang tidak selaras dengan ekspresi dukanya.

Di sudut bibirnya tersimpan sesuatu yang hampir menyerupai senyum.

“Oona,” katanya pelan. “Kita harus turut berduka.”

Oona tidak menjawab. Ia hanya terus menatap kakeknya dengan gemetar. “Siapa yang menemukannya?” tanyanya.

“Aku,” jawab Pedro. “Sekitar pukul lima pagi. Pintu terkunci dari dalam.”

Amber menundukkan kepala. “Kita harus menyiapkan pemakaman. Bagaimana pun dia masih ayah mertuaku.”

Oona mengangguk pelan. Namun, pikirannya tidak tertuju pada pemakaman. Tatapannya justru beralih kepada Pedro dengan penuh curiga.

Pria itu membalas tatapannya. Untuk sesaat, mata mereka bertemu.

Dan Oona melihat sesuatu di sana.

“Bukan aku.” jaga Pedro namun Oona hanya menatap sinis.

Kembali di kediaman Wolfe. Suasana ruang tengah jauh lebih hangat ketika suara tawa Elina terdengar sesekali ketika ia menyusun balok warna-warni bersama Myra di atas lantai.

Sementara itu, dari ruangan sebelah terdengar suara alat terapi dan percakapan lembut antara fisioterapis dengan Markie.

Silas duduk di sofa tunggal yang letaknya tidak terlalu jauh dari mereka.

Meski tampak sibuk dengan pikirannya sendiri, matanya berkali-kali tertuju kepada Myra.

Myra menyadarinya. Setiap kali ia menoleh, pria itu masih menatapnya.

Awalnya Myra mencoba mengabaikannya. Namun, setelah beberapa kali terjadi, ia akhirnya menyerah.

“Kau tidak bosan? Pergilah!”

“Tidak.”

Jawaban itu begitu singkat hingga Myra menghela napas.

Sementara itu, Elina berhasil menumpuk balok hingga membentuk menara tinggi.

“Ibu, lihat!”

Myra segera tersenyum. “Bagus sekali.”

Elina terlihat bangga. Namun, perhatian Silas justru beralih kepada anak kecil itu.

“Elina. Jam bermain sudah selesai.”

Myra mengernyit. “Belum. Kita baru mulai.”

Silas melirik Myra sebentar sebelum kembali menatap Elina. “Elina tidak boleh bermain berlebihan. Dia harus belajar.”

“Tapi...”

“Temani Ibu Markie terapi,” potong Silas.

Nada suaranya lembut, tetapi jelas tidak memberi ruang untuk membantah. “Di sana ada banyak permainan baru. Puzzle, boneka. Kau bisa memilih alat terapi yang kau mau.”

Mata Elina langsung berbinar.

“Benarkah?”

“Tentu.”

“Baiklah! Aku pergi dulu, Ibu Myra!” anak itu bangkit dan segera memeluk Myra singkat.

Myra bahkan belum sempat menjawab ketika Penelope masuk dan menggandeng Elina pergi.

Suara langkah mereka semakin menjauh.

Tak lama kemudian, ruang tengah kembali sunyi.

Myra berdiri sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada menatap kesal ke Silas. “Kau licik.”

Silas bangkit dari sofa. “Aku hanya ingin bicara.”

Myra belum sempat mundur ketika Silas sudah mengangkatnya dengan mudah bak kantong beras di bahunya.

Myra terkejut. “Silas! Turunkan aku!”

Tanpa banyak bicara, Silas membawanya menuju kamar lain. Lalu mendudukkan Myra di atas meja panjang yang terbuat dari kayu mahoni.

Myra berusaha turun, tetapi Silas menahan pinggangnya agar ia tetap berada di tempat.

“Lepaskan,” bisik Myra.

“Tidak.”

Tatapan mereka bertemu. Jarak yang dekat membuat Myra terdiam.

Silas mendekat, dan suasana di antara mereka perlahan berubah. Tidak ada lagi percakapan ringan seperti sebelumnya. Hanya tatapan dan keheningan yang membuat Myra semakin gugup.

“Aku menginginkan mu.”

Namun, sebelum momen itu berkembang lebih jauh—

Tok! Tok! Tok!

Ketukan keras menghantam pintu.

“Tuam Silas! Anda di dalam?” Suara Hana terdengar dari luar. Sehingga ekspresi Silas berubah menjadi amarah yang terganggu hingga dia melepaskan Myra dan membuka pintu.

“Ada apa?”

“Maaf, Tuan. Ada kabar buruk.” ujar Hana sekilas melirik ke Myra yang baru muncul dari belakang Silas. “Tuan Fernando Bianco tewas. Dia mengakhiri hidupnya sendiri.”

Mendengar kabar itu Silas berkerut alis dan Myra tertegun mendengar kabar itu.

1
Kinara Widya
waduh...s Pedro bodoh
vnablu
lanjut up thorrr
vnablu
hehhh Pedro emang nyaa kamu pikir nanti Silas tidak akan memiliki anak suatu saat walaupun Elion bukan anak kandungnya tapii alasan kamu itu agakk anehh awas aja yaa kamu
Tiara Bella
pedro ternyata yg bunuh elion....tega bngt anak kecil pdhal....serakah dasar
vnablu
Pastii diaa punya rencana sesuatu 🤔
Four.: iya... mengejar Kael 😌
total 1 replies
vnablu
hadehhh kok akuu tegang yaaa takuttt banget pas inget kejadian Elion.... semoga Elinaaa baik-baik ajaa dehh jangan smpee terjadi apa-apa yaa Thor
Four.: santai saja... gak terjadi apa-apa kok /Chuckle/
total 1 replies
Tiara Bella
Bibi Oona lg pedekate sm kael Elina....
Four.: tau aja /Proud/
total 1 replies
vnablu
ayooo lanjut thorrr😄
Four.: wokayyyy uyy
total 1 replies
vnablu
masihhh ajaaa mauu buat masalah emang yaaa ini orang harus nyaa dihapuskan dari dunia
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
lanjut kak
Four.: wokehhh
total 1 replies
Tiara Bella
mimpi aja km Pedro.....
Four.: GPP mimpi dulu😁
total 1 replies
vnablu
kiraa-kiraaa kalau emang Lynda masihh hidup di manaa yaa dia bersembunyi 🤔🤔
Four.: di rumahku lohh/Chuckle/
total 1 replies
vnablu
akuu yakinn kalau Lynda masihh hidup Dann Silas tahuu semua ituu
Four.: yap mungkin aja 😌
total 1 replies
Kinara Widya
karena kematiannya misterius...mungkin benar masih hidup
Four.: mungkin aja loh😌
total 1 replies
Tiara Bella
benarkah Lynda wolf msh hidup.....
Four.: ho,oh
total 1 replies
Kinara Widya
aduh...semoga bulan orang jahat
Four.: semoga aja 😌
total 1 replies
Tiara Bella
siapa yg dtng ya penasaran aku.....
Tiara Bella: eeehhhhh....masuk pak eko🤭😄🤣
total 2 replies
Tiara Bella
wkwkkwkw ..myra myra setelah smlm bercinta ko ngemengnya begitu....
Tiara Bella: hooh ya ....
total 2 replies
Eci Rahmayati
🤣🤣 kaliannnn lucuuu ya
Four.: couple yang cocok kann ternyata /Grin/
total 1 replies
Kinara Widya
lanjut kak...🥰
Four.: wokayyyy
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!