Di saat dunia memilih memihak yang kuat, Seline hadir bersama Sistem Balas Dendam untuk menghukum mereka yang lolos dari hukum.
Ia akan merayu pria yang paling dicintai targetnya, meruntuhkan kepercayaan, mematahkan kesetiaan, lalu membiarkan para pelaku menyaksikan kebahagiaan yang mereka bangun di atas penderitaan orang lain runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Ia bukan malaikat. Bukan pula iblis.
Ia adalah keadilan yang gagal diberikan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ucum_alattas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
“Tidak perlu,” tolak Maxime dingin.
Ia bahkan mundur beberapa langkah, membuat Helena yang berpikir akan berhasil menggoda Maxime tersenyum kaku dan hanya bisa melihat Maxime meninggalkannya sendiri.
Beberapa pelayan yang tanpa sengaja melihat adegan itu menunduk dan memilih pura pura tidak tahu.
Helena yang merasa dipermalukan itu hanya bisa mengepalkan tangan kuat. Namun, ia tetap berusaha tenang.
“Malam masih panjang, dia hanya terlalu malu. Biar bagaimana pun, dia belum penah dekat dengan satu pun wanita,” gumamnya mengingat kembali latar belakang Maxime.
Maxime sendiri yang sudah masuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin memejamkan mata. Entah mengapa, sejak ia masuk ke mansion, ia merasa gelisah.
“Max,” panggilan tiba tiba, disertai pelukan hangat di belakang tubuhnya yang basah membuatnya tertegun.
Helena yang tak bisa menahan diri untuk masuk ke dalam kamar mandi, bahkan tak mempedulikan pakaiannya yang saat ini basah langsung masuk. Ia bahkan berpikir untuk menggoda Maxime sekali lagi.
“Menjauh!” desis Maxime dengan wajah merah padam.
Namun, Helena tak peduli. Sebaliknya, tangannya dengan lembut menyapu dada bidang Maxime, membuat wajah Maxime semakin gelap gulita, terlebih saat tangan itu hendak menyentuh area pribadinya.
“Helena,” desis Maxime tajam.
Kali ini bukan peringatan lagi, ia langsung menyentak tangan Helena, membuat Helena terperanjat dan menata Maxime yang langsung mengambil handuk dan memakainya dengan tatapan tak percaya.
“Max?”
“Apa kau tidak memiliki harga diri? Kau masuk ke kamar mandi begitu saja, bahkan memeluk seorang pria? Apa kau tidak malu sebagai seorang wanita!” amuknya benar benar marah karena tak terima dengan perilaku Helena yang ia anggap tidak pantas.
Mengingat bagaimana Selina, yang tidak akan mau disentuh jika dia tidak memohon, benar benar membuat matanya menatap Helena dengan tatapan muram.
“Max? Aku istrimu? Apa maksudmu aku memalukan?” mata Helena membelalak tak percaya.
Namun, maxime tak peduli. Ia tak pernah menyukai Helena. Bahkan sebelum ia menjalin hubungan dengan Selina.
Mempertahankan pernikahan ini semuanya tak ubahnya demi Selina. Demi wanita yang ia cintai yang tak ingin melukai kakaknya itu.
“Lalu kenapa? Apa hanya karena kau istriku, kau memiliki hak masuk ke kamar mandi seperti ini? Apa kau tidak tahu arti privasi!”
Helena dibuat gemetar marah. Matanya menatap Maxime yang meninggalkannya begitu saja.
“Jangan mengulanginya lagi, tindakanmu ini ... hanya akan membuatmu terlihat murahan,” ucap Maxime pelan, tapi cukup menusuk bagi Helena.
Kepala Helena bahkan terasa berdengung. Kalimat ini, ia pernah mendengarnya. Namun, saat itu ia benar benar merasa bahagia.
Saat itu, ia sedang berada di rumah tutornya untuk melakukukan kursus. Merasa penasaran dengan tutornya yang sudah menjalin hubungan dengannya saat itu, ia dengan berani mengintip ke kamar tutornya.
Dan apa yang ia lihat, ia melihat tutornya yang menghina istrinya yang sedang mengandung saat itu. Memakinya karena mengenakan lingeri hanya untuk menyenangkannya.
Saat itu, ia bahkan menganggap wanita itu menjijik. Menurutnya, hanya wanita bodoh yang tetap mau menawarkan tubuhnya untuk pria yang terang terangan menolaknya seperti itu.
“Tidak, aku berbeda. Aku tidak sama dengan wanita itu. Aku cantik, aku unggul. Aku tidak mungkin mengalami hal yang sama dengan j4lang yang mati mengenaskan dengan anaknya itu,” gumamnya dengan panik meyakinkan dirinya sendiri.
Namun, suhu dingin di tubuhnya, bahkan keheningan di kamar mandi benar benar membuatnya menggigil ketakutan.
Ia bahkan mengingat kembali, bagaimana saat istri turor itu yang mengalami pendarahan saat melihatnya berhubungan b4dan di ranjang pernikahan mereka.
Ia yang meringkuk seolah menjadi pihak paling polos di sana, menyaksikan bagaimana istri tutor itu harus menangis keakitan karena mengalami pendarahan hebat akibat suaminya yang marah dan memukulnya karena dianggap mengganggu dan menakuti Helena saat itu.
Ia bahkan sengaja memeluk tutornya erat erat saat melihat istrinya benar benar sekarat. Ia menagis, mengatakan jika ia merasa bersalah dan membuat masalah.
Karena air matanya itu, tutor yang seharusnya bisa menyelamatkan istrinya, mengabaikannya dan lebih memilih menghiburnya sampai nafas wanita itu benar benar menghilang.
Tatapan penuh kebencian wanita itu, dan sumpahnya tiba tiba memenuhi otaknya. “Aku berdoa, kau akan mengalami hal yang sama. Bahkan lebih kejam dibanding yang aku alami saat ini! Ingat, karma pasti akan menemuimu,” lirih istri tutor itu sebelum meninggal.
“Tidak, tidak ada karma di dunia ini. Jika ada, aku tidak mungkin bisa menghancurkan pernikahan orang orang berkali kali. Semua penderitaan yang mereka alami, semua tak ubahnya karena kegagalan mereka untuk melindungi suami mereka sendiri.”
“Ya, seperti itu, mereka tak memiliki hak untuk menyalahkanku,” gumamnya meyakinkan dirinya sendiri.
Sementara Maxime yang benar benar kehilangan kesabaran berjalan keluar kamar. Langkahnya tanpa ragu langsung masuk ke dalam kamar Selina.
“Selina,” panggil Maxime sedikit bingung saat melihat kamar Selina kosong.
Melihat sekeliling, dan memastikan kamar itu benar benar kosong, entah mengapa ia merasa panik.
Dengan langkah tegap, ia menuruni tangga, dan langsung memanggil kepala pelayan.
“Dimana Nona Selina?” tanyanya tegas dan dingin.
Kepala pelayan yang mendengar itu tertegun. Ia tak langsung menjawab, teringat pesan Helena yang memintanya untuk tidak memberitahu keberaaan Selina pada siapa pun.
Maxime yang melihat itu mengerutkan kening. Matanya menatap tajam ke arah kepala pelayan itu.
“Apa kau lupa, siapa tuanmu di sini? Dan siapa yang harus kau patuhi?” pertanyaan dengan nada dingin itu langsung menyadarkan kepala pelayan.
“Maaf, Tuan. Saya tidak bermaksud. Saya hanya _”
“Katakan, dimana dia!” sela Maxime cepat.
Ia tahu, menghilangnya dia dari ruang kerja sudah diketahui Helena. Bahkan, Helena membuat kegaduhan hanya untuk mencarinya.
Jika saja satpam yang berjaga sebelumnya tidak lebih dulu ia hubungi, dan ia beri perintah, wanita itu akan membuat kekacauan.
Sebenarnya, ia tidak telalu peduli. Sebaliknya, ia ingin memberitahu Helena hubungannya dengan Selina secepat mungkin. Karena semakin hari, ia semakin tiak nyaman harus berjauhan dengan Selina, dan terus berpura pura di depan Helena.
“Tuan, nona Selina dikirim ke asrama oleh,Nyonya.’
Wajah Maxime berubah dingin. Matanya menatap ke arah kepala pelayan itu dengan tatapan penuh peringatan.
“Kau harus tahu, siapa tuanmu di sini, dan siapa yang harus kau patuhi!” peringat Maxime yang langsung diangguki oleh kepala pelayan itu.
Kepala pelayan bahkan menggigil. Pengalamannya bekerja di bawah Maxime membuatnya langsung tahu, hubungan antara Maxime dan Selina tidak sesederhana kelihatannya.
“Ya Tuhan, orang kaya benar benar tahu cara bermain,” gumamnya merinding.
***
Di dalam asrama, Selina yang berbaring dan mendengar semua celoteh sistem tentang apa yang menimpa Helena dan Maxime terkekeh. Namun, sorot matanya terlihat semakin dingin.
Ia sudah tahu kejahatan apa saja yang dilakukan Helena, dan menurutnya, hukuman seperti ini bukanlah apa apa.
Drt ... Drt ...
Suara getaran ponsel membuat Selina menunduk. Melihat nama Maxime di sana, ia tersenyum samar, seolah bisa menebak apa
yang akan terjadi selanjutnya.