Menceritakan soal pemuda bernama Lucien yang dulu dikenal sebagai Ash van Astoria, pangeran keempat yang dibuang karena dianggap gagal. Tidak punya sihir, dihina keluarganya sendiri, lalu dijatuhkan ke jurang demi menjaga "harga diri" kerajaan.
Tapi bukannya mati, ia justru dipilih oleh konstelasi kuno, Ophiuchus.
Sejak saat itu, hidupnya berubah.
Lucien mendapatkan kekuatan langka, kemampuan untuk memanggil dan mewarisi kekuatan dari para rasi bintang. Namun setiap konstelasi hanya akan memberikan kekuatannya kepada orang yang mereka akui.
Ditemani Chiron dari Konstelasi Centaurus, Lucien memulai perjalanan untuk menjadi lebih kuat, menaklukkan ujian para bintang, dan membuktikan kalau "sampah" yang dibuang kerajaan… bisa bersinar paling terang.
Dan ini baru permulaan.
Karena suatu hari nanti, 88 konstelasi akan menjadi kekuatannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katsumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertarungan Di Pagi Hari
Pagi hari, Ash terbangun bukan karena cahaya hangat matahari yang biasanya menyelinap di sela jendela kamarnya, menyentuh wajahnya dengan lembut seolah memberi tahu kalau hari telah berganti.
Di dasar jurang itu, yang membangunkannya justru rasa dingin. Udara dingin yang merayap pelan di sela napasnya, menembus pakaian dan menggigit kulitnya tanpa ampun.
Matanya terbuka perlahan. Namun, yang menyambutnya bukan cahaya matahari yang menyilaukan mata, melainkan kegelapan pekat yang menelan segala bentuk.
"Hachuu~!" Ash langsung bersin kecil sambil menggigil kedinginan.
"Kok rasanya dingin banget... Padahal semalem ga kerasa?" gumamnya pelan dengan wajah bingung.
"Semalam Anda terlalu kelelahan. Pikiran Anda juga dipenuhi kebingungan, ditambah lagi Anda baru saja bangkit dari kematian," jawab Chiron yang tiba-tiba muncul di hadapan Ash.
"Uwaahh!" Ash terkejut sampai terpleset dari batu tempatnya duduk.
"Aduduh..." Ia menggosok punggungnya yang menghantam tanah cukup keras.
Ash menoleh ke arah Chiron, lalu tersenyum kecil. "Pagi, Chiron."
"Ya, selamat pagi juga, Tuan," balas Chiron.
"Ngomong-ngomong, Anda harus segera membereskan mereka," tambahnya sembari menunjuk ke arah samping—ke arah para goblin yang terus mencoba menerobos penghalang.
Ash mengikuti arah tunjukannya.
Matanya langsung terbelalak. Mulutnya terbuka lebar karena tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"A-apa... itu...?"
"Goblin," jawab Chiron santai. "Bukankah mereka bahan pemanasan yang pas untuk latihan pagi ini?"
Wajah Ash langsung memucat. "Yang benar saja! Aku bahkan tidak punya pengalaman bertarung sama sekali, apalagi harus melawan monster seperti mereka!" cecarnya dengan napas memburu.
"Mereka hanya keroco. Tidak perlu Anda takuti," ujar Chiron seolah semua kekhawatiran Ash hanyalah hal sepele.
"...."
Ash sampai tidak tahu harus berkata apa lagi.
Bangsat... Dia ngomong gampang banget...
"Bangunlah, Tuan. Dan genggam pedang Anda," lanjut Chiron dengan mata yang dipenuhi semangat membara.
Dia... benar-benar serius menyuruhku bertarung...
Ash menghela napas pendek.
"Baiklah... Aku akan bertarung," ucapnya pasrah.
Ia bangkit berdiri, lalu menarik pedangnya perlahan keluar dari sarung.
"Lagipula... kalau aku terus takut dan bahkan tidak bisa mengalahkan mereka, aku tidak mungkin bisa keluar dari jurang ini."
"Itu baru semangat!" seru Chiron penuh antusias.
Ash menatap Chiron datar sebelum akhirnya mengalihkan pandangannya ke arah para goblin di balik penghalang. Monster-monster itu terus mencoba memaksa masuk sambil menggeram liar.
"Yah... untuk berjaga-jaga, aku akan menggunakan Five Sacred Stars—lima bintang suci, salah satu skill yang kudapat dari Crux," gumamnya.
Ash memejamkan matanya sejenak.
Saat ia memikirkan skill itu, sebuah lafalan tiba-tiba muncul dan bergema di dalam kepalanya.
"Lima cahaya yang menuntun malam... Jadilah pilar harapan di tengah kegelapan!"
"Acrux, Mimosa, Gacrux, Delta Crucis, dan Zeta Crucis..."
"Bersatulah menjadi salib suci yang menerangi akhir malam!"
"Five Sacred Stars—Crux!"
Saat nama bintang kelima dipanggil, langit di sekitar tiba-tiba berubah gelap dan sunyi. Lima bintang muncul mengelilingi Ash, masing-masing memancarkan cahaya dan aura yang berbeda.
Ketika kelima bintang itu mulai tersinkronisasi, simbol Crux perlahan muncul di langit. Seluruh area berubah menjadi domain suci yang dipenuhi cahaya.
"Selama cahaya ini masih bersinar... kegelapan tidak akan pernah menang!"
Chiron yang melihat itu langsung terdiam.
Beberapa detik berlalu semenjak area suci terbentuk, sebelum akhirnya ia kembali bersuara.
"Cuma buat mengalahkan keroco... apa perlu Anda menggunakan skill area suci sebesar ini, Tuan?" ujar Chiron heran.
"Peduli setan! Kau pikir aku bisa menang lawan mereka semua sendirian?!" balas Ash kesal.
Baru saja Ash selesai berteriak, suara retakan kecil mulai terdengar dari penghalang.
Crack...
Crack...!
Penghalang itu dipenuhi retakan cahaya yang menyebar ke segala arah. Dikarenakan Ash masih belum terbiasa menggunakan kekuatannya, saat skill lain aktif maka akan terjadi tabrakan energi dan fokus pada skill menjadi kurang.
Mata Ash langsung menegang.
"Heh...? Tunggu dulu—"
BRAKK!!
Penghalang itu akhirnya hancur berkeping-keping menjadi partikel cahaya.
"GYAAAAAA!!"
Para goblin langsung menyerbu masuk sambil mengangkat senjata karatan mereka.
"Woiii?! Mereka masuk!!" Ash panik setengah mati sambil buru-buru mengangkat pedangnya.
Namun, tepat saat para goblin memasuki area suci Crux—Cahaya dari lima bintang di langit tiba-tiba bersinar lebih terang.
Gerakan para goblin mendadak melambat. Kulit hijau mereka seperti ditekan oleh sesuatu yang tak terlihat. Tubuh mereka terasa lebih berat, napas mereka memburu, bahkan aura hitam tipis yang menyelimuti tubuh mereka perlahan terkikis oleh cahaya suci itu.
"GIH...?!"
"GRRRAAA?!"
Para goblin terlihat gelisah.
Sebaliknya... Ash justru merasakan tubuhnya menjadi jauh lebih ringan. Rasa dingin yang tadi menusuk tubuhnya perlahan menghilang. Kelelahan di tubuhnya seperti dipulihkan sedikit demi sedikit oleh cahaya hangat yang menyelimuti area itu.
Detak jantungnya yang tadinya kacau mulai stabil. Lalu kilatan cahaya kecil muncul di depan matanya. Sebuah garis tipis bercahaya terbentuk di lantai batu. Garis itu bergerak cepat... menunjukkan arah gerakan para goblin.
"Heh...?" Ash membelalakkan matanya.
"Itu adalah penuntun dari Crux," ujar Chiron sambil menyilangkan tangan. "Area suci itu membantu Anda membaca aliran pergerakan musuh dan memandu tubuh Anda menuju gerakan paling efisien."
"T-Tunggu... jadi aku tinggal mengikuti cahaya itu?!" balas Ash meminta konfirmasi.
"Kurang lebih," jawab Chiron sambil mengangguk pelan.
"Kenapa kau baru bilang sekarang?!"
Satu goblin tiba-tiba melompat sambil mengayunkan kapaknya.
"GYAAAHH!!"
Refleks, Ash mengikuti garis cahaya itu. Tubuhnya bergerak satu langkah ke samping.
SWOOSH!!
Kapak goblin itu meleset tepat beberapa senti dari wajahnya.
"Aku berhasil menghindar?!" gumamnya terkejut dengan apa yang barusan ia lakukan.
Belum sempat ia kaget lebih lama, garis cahaya lain muncul.
Mengarahkan pedangnya.
"Tch—!" Ash langsung mengayunkan pedangnya mengikuti arah cahaya.
SLASH!!
Pedangnya menebas dada goblin itu dengan bersih.
"GIAGHHH!!"
Tubuh goblin itu terpental beberapa meter.
Ash membeku sesaat. "A-Aku barusan..."
"Jangan lengah!" teriak Chiron.
Dua goblin lainnya menyerang bersamaan dari kanan dan kiri.
Namun cahaya Crux kembali bergerak. Satu garis menunjukkan pijakan kaki. Satu garis lain mengarahkan ayunan pedang. Tubuh Ash bergerak hampir secara naluriah.
DUAGH!!
Ia memutar tubuhnya, menghindari tombak goblin pertama.
SLASH!!
Pedangnya membelah leher goblin kedua. Darah muncrat ke udara.
Goblin pertama mencoba menyerang lagi, tetapi gerakannya terlihat lambat di mata Ash. Seolah area suci itu memperjelas segalanya.
Ash memutar pedangnya. "HAAHH!!"
SLASH!!
Tebasan horizontal menghantam tubuh goblin itu dan mengirimnya terpental keras ke dinding jurang.
BOOM!!
Ash terengah-engah sambil menatap kedua tangannya sendiri. Tubuhnya masih gemetar. Namun kali ini bukan karena takut. Melainkan karena takjub.
"Area suci ini... luar biasa..." gumamnya.
"Crux adalah konstelasi penuntun," ujar Chiron pelan. "Selama Anda berada di bawah cahayanya, tubuh Anda akan terus diarahkan menuju kemungkinan terbaik."
Ash menelan ludah. Di atas langit gelap jurang itu, lima bintang Crux terus bersinar terang seperti salib suci yang mengawasi medan pertempuran.
"Terima kasih... Crux," ucapnya, lalu area suci itu perlahan menghilang karena pertarungan telah berakhir.