***
Bagi Raka, Naya adalah candunya ...
Berbeda dengan Naya yang menganggap Raka sebagai masa lalu yang menyakitkan..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apri Ana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18
Nathan dan Anna sudah sampai dipanti dengan membawa bakso yang baru saja mereka beli.
Anak anak tampak senang sekali melihat makan siang yang berbeda kali ini, bukan masakan mbak Anna tapi jajan diluar begitulah slogan mereka.
"Kalian pada anteng disini, biar mbak siapin dulu, awas aja kalau ada yang bikin gaduh, nggak bakal dikasih baksonya." ancam Anna Anak anak.
"Siap Nyonya," jawab Anak anak serentak membuat Nathan yang ada disana terkekeh.
Sementara itu didalam kamar, Naya dan Raka yang ketiduran karena menunggu makan siang datang pun terbangun mendengar suara berisik diluar.
"Udah dateng makanannya, biar aku ambilin." kata Raka yang langsung digelengi Naya.
"Aku mau makan diluar bareng anak anak." kata Naya.
"Nggak disini aja?" tanya Raka.
"Nggak enak makan sendiri." balas Naya.
"Kan ada aku sayang," kata Raka.
"Bareng anak anak lebih enak.'' kata Naya yang langsung diangguki oleh Raka.
"Ya udah, aku gendong." kata Raka hendak mengendong tubuh Naya namun Naya langsung memberontak.
"Ihh, nggak mau, aku malu tau!" kata Naya yang tidak bisa membayangkan bagaimana kalau anak anak melihat Ia tengah digendong oleh Raka.
"Ya ampun, mereka pasti ngerti karena kamu lagi sakit." kata Raka.
"Tetep aja aku malu, udah ah biar aku jalan sendiri aja, lagian aku juga udah nggak apa apa." kata Naya yang kini sudah berdiri.
"Iya deh iya." Raka hanya menurut saja.
..
Lho Mbak Naya kok keluar sih, baru mau aku anter makanan nya kedalam." kata Anna yang memang sudah membawa dua mangkuk bakso yang Ia taruh dinampan dan akan dibawa kekamar Naya.
"Aku pengen makan sama anak anak didepan." kata Naya.
"Nggak usah dipaksain mbak kalau masih lemes." kata Anna.
"Udah sehat kok, kamu tenang aja." jawab Naya.
"Oke deh, ya udah yuk kedepan anak anak udah pada makan disana." jelas Anna.
Kini semuanya sudah berkumpul didepan untuk makan,
"Bunda kok keluar? memang sudah sembuh?" tanya Kiki.
"Bunda kalian ngeyel, disuruh makan didalam nggak mau katanya udah kangen sama kalian lagi." celetuk Raka membuat Naya memukul lengan Raka.
"Salah paling, padahal kangen nya sama om Raka kok jadi kita yang kena." celetuk Faisal membuat semua anak panti bersorak mengoda Naya dan Raka.
"Ya ampun kalian ini lagi makan bisa diem nggak sih!" bentak Anna yang membuat semua langsung diam, kecuali Naya yang merasa terselamatkan dari godaan anak anak nya.
Selesai Makan Anna menyuruh anak anak untuk tidur, dan Raka kembali mengantar Naya memasuki kamarnya.
"Kamu nggak balik kekantor?" tanya Naya melihat Raka ikut berbaring dikantornya.
"Nggak, aku mau nemenin kamu aja." kata Raka malah memeluk Naya.
"Balik aja sana, aku nggak mau ganggu kerjaan kamu." kata Naya.
"Kamu lupa? aku kan bos jadi kalaupun aku nggak balik ada anak buah yang ngehadel semua kerjaan aku." kata Raka.
"Uhh sombong." gerutu Naya membuat Raka terkekeh.
"Aku mau bilang sesuatu sama kamu." kata Raka.
"Apa?"
"Ngeliat kamu sakit kayak gini, aku mikir jangan jangan kamu hamil." kata Raka membuat jantung Naya berdegup kencang.
"Apa? kamu kalau ngomong jangan aneh aneh deh." kata Naya sebal.
"Ya kan aku juga cuma ngira aja sayang." kata Raka.
"kalau bener aku hamil, kamu nggak nyuruh aku buat gugurin kandungan lagi kayak dulu kan?" tanya Naya mengingat dulu sewaktu kuliah Naya selalu meminum pil kontrasepsi karena Raka masih belum ingin punya anak.
"*Kok kamu ngasih aku obat kayak gini ?" Tanya Naya polos melihat Raka menyodorkan obat padanya.
"Ini Vitamin niat nyegah biar kamu nggak hamil sayang." jelas Raka waktu itu.
"Kamu nggak mau aku hamil?"
"Bukan nggak mau, aku hanya masih belum siap, lagian kamu juga masih kuliah kan." kata Raka.
"Iya, tapi kalau tiba tiba aku hamil gimana?" tanya Naya.
"Ya kamu harus gugurin." kata Raka santai tanpa Raka sadari Naya sakit waktu itu mendengar Raka tega mengatakan itu padanya.
"Enggak, aku nggak mau gugurin kandungan aku." teriak Naya.
"Makanya kalau kamu nggak mau, kamu harus minum vitamin ini rutin." kata Raka dan Naya mengangguk paham.
Sejak saat itu Naya selalu mengonsumsi pil itu setiap hari*.
Mengingat itu sejenak membuat dada Naya berdenyut nyeri.
"Sayang, maafin apa yang udah aku lakuin dulu sama kamu, aku beneran nyesel." kata Raka menyadari Naya begitu sakit hati dengan perlakuannya dulu.
"Jawab aja, kalau aku hamil kamu mau aku gugurin kandungan nya?" tanya Naya lagi dengan nada marah.
"Enggak sayang, enggak, justru aku pengen kita ngerawat anak kita sama sama, kamu mau kan jadi ibu buat anak anak aku jika sampai kamu hamil?" tanya Raka penuh harap.
Seketika air mata Naya tumpah, tak menyangka Raka benar benar berubah. Pantas saja sejak mereka bertemu dan berhubunga lagi, Raka tak memintanya minum pil kotrasepsi lagi.
"Sayang, udah jangan nangis lagi.'’ kata Raka mempererat pelukan nya.
"Tapi kamu kan udah punya anak dari istri Kamu, apa kamu masih mau nerima anak yang aku kandung?" tanya Naya lagi.
"jelas aku mau, aku malahan sekarang berharap kamu bener bener hamil, karena aku sudah berharap bisa memiliki anak darimu." kata Raka.
"Ih, tapi aku maunya kita nikah dulu baru hamil." kata Naya memukul lengan Raka.
Raka hanya terkekeh geli "Mau hamil dulu atau nggak aku bakal segera nikahin kamu, sabar sebentar lagi sayang." kata Raka mengecup kening Naya.
Naya hanya mengangguk bahagia.
...
Karena hingga sore keadaan Naya tak kunjung membaik akhirnya Raka mengantar Naya kerumah sakit, tentunya dengan sedikit paksaan karena Naya benar benar keras kepala tak ingin periksa.
Kini keduanya sudah berada dibangku belakang, dan Nathan yang menyetir didepan.
Naya menyandarkan kepalanya dibahu Raka dan tangannya yang terus digenggam oleh Raka sambil sesekali Raka mencium tangan Naya membuat Nathan yang didepan hanya bisa melihat iri pada kemesraan tuan nya itu.
Sesampainya dirumah sakit, Nathan segera mendaftarkan Naya, sedangkan Naya dan Raka menunggu giliran diruang tunggu.
Raka merasakan ponselnya bergetar,
"Siapa?" tanya Naya yang berada disamping Raka.
"Rena, babysitter Raisa." jawab Raka, Naya hanya mengangguk paham.
"Ada apa?" tanya Raka saat mengangkat panggilan Rena.
"AAPAA?" teriak Raka yang membuat Naya terkejut.
"Oke, saya segera pulang." kata Raka mematikan panggilan nya dan terlihat panik.
"Kenapa?" tanya Naya ikut khawatir.
"Raisa kecelakaan, aku harus segera kembali kejakarta, maafkan aku tidak bisa menemanimu sayang, biar Nathan yang mengurus semua disini, oke." Kata Raka.
Naya mengangguk paham "berhati hatilah, semoga Raisa baik baik saja." kata Naya.
Raka mengecup kening Naya dan segera pergi.
Naya hanya mendesah pelan.