NovelToon NovelToon
Resep Cinta Dokter Narendra

Resep Cinta Dokter Narendra

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Sci-Fi / Dokter
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Naila fitri

Judul lama : Diagnosis: Falling For You

dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B adalah putra tunggal dari keluarga konglomerat, Narendra dipersiapkan sejak kecil untuk menjadi penerus Adiwijaya Healthcare Group. Tuntutan tinggi tersebut membentuk Narendra menjadi pria kaku, dominan, dingin.

dr. Nayla Kartikasari, Sp.A adalah anak pertama dari pasangan Arga Dewantara dan Citra Kirana, memiliki seorang adik bernama Bintang. Nayla memiliki sifat yang hangat, ekspresif, namun bermental baja menjadikannya dokter yang disukai oleh anak anak

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naila fitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan

Keheningan malam merayap perlahan di balik kaca jendela raksasa penthouse lantai tiga puluh lima milik Narendra. Di luar, kerlip lampu kota Jakarta membentang bagai hamparan bintang yang jatuh ke bumi, kontras dengan kedamaian yang menyelimuti ruang tengah.

Usai euforia Simposium Medis Internasional yang berakhir dengan kemenangan mutlak bagi Nayla, Narendra sengaja membawa tunangannya langsung ke kediamannya. Pria itu membatalkan seluruh agenda pesta perayaan privat bersama para investor, memilih memberikan ruang dan waktu bagi Nayla untuk beristirahat setelah hari yang luar biasa panjang dan menguras emosi.

Nayla duduk berselonjor di sofa empuk berwarna krem, mengenakan kaos oversized milik Narendra yang tenggelam di tubuh mungilnya dan celana kain santai. Di tangannya, cangkir teh chamomile hangat masih mengesulkan uap tipis.

Langkah kaki tanpa alas terdengar mendekat. Narendra berjalan dari arah dapur bersih, membawa mangkuk kecil berisi potongan buah stroberi segar dan kiwi. Pria itu telah menanggalkan setelan jas elegannya, kini hanya mengenakan kaos hitam polos dan celana sweatpants abu-abu. Rambut hitamnya yang biasa tertata rapi kini jatuh bebas menutupi sebagian dahi, memangkas kesan dingin yang biasanya menempel kuat pada sosok sang pimpinan operasional RS Medika Adiwijaya.

Narendra mendudukkan dirinya di samping Nayla, merapatkan jarak hingga paha mereka bersentuhan. Tanpa mengucap sepatah kata pun, tangan kekarnya terulur meraih cangkir teh dari genggaman Nayla, meletakkannya di meja kaca, lalu merengkuh tubuh ramping wanita itu ke dalam pelukannya.

Nayla terkekeh pelan, menyandarkan kepalanya di dada bidang Narendra, menghirup dalam-dalam aroma woody yang selalu berhasil membuai sarafnya.

"Naren... aku lagi makan buah, loh," protes Nayla pura-pura halus.

"Makan saja," gumam Narendra rendah. Suara baritonnya bergetar tepat di pelipis Nayla, tempat bibirnya kini mendaratkan kecupan-kecupan singkat yang posesif. "Aku cuma mau pegang kamu. Seharian ini aku cuma bisa menatap kamu dari jauh di panggung."

Nayla tersenyum manis, membalas dekapan hangat itu dengan melingkarkan satu tangannya di pinggang Narendra. "Tapi panggung tadi malam keren banget, kan? Jujur ya, Dokter Bedah... waktu kamu berdiri di barisan depan sambil tepuk tangan pas aku sekakmat Julian Alistair, muka kamu kelihatan bangga banget."

Narendra menghentikan kecupannya, memiringkan kepala untuk menatap mata bening Nayla dari jarak sangat dekat. Jemari panjangnya mengusap lembut helai rambut Nayla yang terjatuh di pipi.

"Bangga?" bisik Narendra, sepasang mata elangnya berkilat pekat oleh emosi yang amat dalam. "Bangga itu kata yang terlalu sederhana, Nayla. Saat kamu berdiri dengan anggun di podium itu dan menghancurkan Julian pakai kecerdasan kamu itu... aku makin sadar kalau wanita di depan aku ini bukan cuma seseorang yang harus aku lindungi. Kamu adalah takdir aku. Pendamping yang berdiri sejajar sama aku."

Pipi Nayla mendadak terasa hangat. Ucapan Narendra yang selalu jujur, tajam, dan langsung menancap di hati tak pernah gagal membuat dadanya berdesir hebat.

Narendra menunduk lebih dalam, mengecup bibir manis Nayla pelan—sebuah ciuman yang lambat, sarat akan rasa syukur dan pemujaan mutlak. Nayla memejamkan mata, menikmati kelembutan dari pria yang dulunya dikenal sangat dingin dan tak tersentuh oleh siapa pun di RS Medika Adiwijaya.

"Julian gimana?" tanya Nayla lirih ketika Narendra mengurai ciumannya, mengusap ibu jarinya di sudut bibir Nayla.

"Polisi sudah menerbitkan surat penahanan resmi," jawab Narendra, matanya mendadak menggelap singkat saat mengingat pria paruh baya itu. "Tim hukum Adiwijaya mengunci dia dengan pasal berlapis, pencemaran nama baik, percobaan sabotase fasilitas medis, hingga pembukaan kembali berkas pidana uji klinis ilegal sepuluh tahun lalu. Dia gak akan punya celah buat keluar dari penjara. Jalannya sudah mati."

Nayla menghembuskan napas lega yang amat panjang. Beban besar yang sempat membayangi benak mereka selama beberapa minggu terakhir sirna tanpa sisa.

Narendra merengkuh bahu Nayla lebih erat, menarik tubuh wanita itu hingga berada di atas pangkuannya. Nayla tersentak kaget, refleks melingkarkan kedua tangannya di leher tegap Narendra.

"Naren!" pekik Nayla pelan, matanya membulat.

Narendra terkekeh rendah—suara terkekeh yang sangat langka yang hanya didengar oleh Nayla seorang. "Kenapa? Ini rumah aku. Dan kamu calon istri aku."

"Tapi kan kita belum sah!" seloroh Nayla sambil menepuk pelan dada bidang Narendra.

"Tinggal empat belas hari lagi, Dokter Nayla," bisik Narendra di leher hangat Nayla, membuat bulu kuduk wanita itu meremang seketika akibat tiupan napas hangatnya. "Dua minggu lagi, kamu resmi jadi Nyonya Narendra Adiwijaya. Tidak ada kamar tamu lagi, tidak ada batasan lagi."

Nayla merona hebat, menyembunyikan wajahnya yang membara di perpotongan leher Narendra. "Dasar dokter bedah mesum..." gumamnya pelan.

Narendra tertawa lagi, memeluk tubuh hangat Nayla dengan begitu erat dan protektif, menikmati keheningan malam yang akhirnya berpihak pada kebahagiaan mereka.

**

Tujuh hari menjelang hari pernikahan, atmosfer di Rumah Sakit Medika Adiwijaya dan kediaman keluarga Adiwijaya berada di puncak kesibukan.

Dokumen cuti panjang untuk dr. Narendra Adiwijaya, Sp.B dan dr. Nayla Kartikasari, Sp.A telah ditandatangani oleh jajaran direksi. Tugas operasional harian diserahterimakan secara sementara kepada konsulen senior lainnya. Namun, hal itu tidak membuat kesibukan berkurang.

Pukul tiga sore, di kediaman mewah keluarga Dewantara, suasana ruang tamu dipenuhi oleh tumpukan kotak suvenir eksklusif berpita perak, daftar konfirmasi tamu undangan VVIP, serta gaun-gaun pengiring pengantin.

Mama Citra dan Mama Widya sedang duduk bersama Mbak Maya—pimpinan Wedding Organizer—memeriksa rincian akhir skema pengamanan dan susunan acara akad nikah yang akan digelar di Grand Ballroom Hotel.

"Semuanya sudah 99 persen siap, Ibu-Ibu," ujar Mbak Maya seraya menunjukkan tabletnya. "Pengamanan dari kepolisian dan tim internal Adiwijaya Security akan dipasang di tiga lapis pintu masuk. Hanya tamu yang membawa undangan fisik ber-QR code khusus yang bisa masuk."

Mama Widya mengangguk puas seraya menyesap tehnya. "Bagus, Maya. Kita gak mau ada celah sekecil apa pun. Pengalaman waktu simposium kemarin sudah cukup bikin jantung saya mau copot."

"Nayla mana, Citra?" tanya Mama Widya kemudian pada calon besannya.

"Ada di kamar atas, Widya," jawab Mama Citra tersenyum. "Lagi dicobain perhiasan sama desainer jewelry. Kasihan anak itu, kelihatannya agak pucat gara-gara kecapekan ngurusin pelepasan pasien rawat inapnya kemarin."

Sementara itu, di lantai dua, Nayla sedang duduk di depan cermin rias kamarnya. Rania berdiri di sampingnya, membantunya mencocokkan kalung berlian bernuansa white gold yang akan dikenakan pada acara resepsi malam.

"Mbak Nay... gila ya, tinggal seminggu lagi loh," celetuk Rania dengan mata berbinar-binar. "Gue masih gak nyangka, dokter spesialis anak tercantik di RS Medika Adiwijaya bakal beneran ditaklukin sama Dokter Bedah paling killer!"

Nayla tertawa kecil melihat tingkah asistennya itu. "Apaan sih, Ran. Berlebihan banget."

"Lah, beneran!" sahut Rania antusias. "Mbak Nay tahu gak? Tadi pagi pas Dokter Naren nyerahin berkas cutinya ke sekretariat, semua staf di lantai lima pada heboh. Muka Dokter Naren itu kelihatannya sumringah banget, beda banget sama muka kanebo kering yang biasanya!"

Nayla menggeleng-gelengkan kepala, namun tak bisa menahan senyuman manis yang terukir di bibirnya. Membayangkan sosok Narendra yang kaku dan dingin mendadak fleksibel dan penuh senyum di depan staf rumah sakit memang hal yang menggelikan.

DRTT... DRTT...

Ponsel pribadi Nayla yang tergeletak di atas meja rias bergetar. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Nayla mengernyitkan kening. Ia meraih ponsel tersebut dan menggeser ikon hijau. "Halo, selamat sore?"

Keheningan sempat menyelimuti seberang telepon selama beberapa detik. Hanya terdengar suara helatan napas yang berat dan sedikit tidak teratur.

"Nayla..."

Jantung Nayla seketika berdesir hebat. Suara itu... suara wanita paruh baya. Suara yang sangat asing, namun entah mengapa mengirimkan gelombang getaran aneh di dada Nayla.

"Maaf, ini siapa ya?" tanya Nayla, memperbaiki posisi duduknya menjadi lebih tegap. Rania yang melihat perubahan raut wajah Nayla mendadak ikut terdiam curiga.

"Ini... Tante Ratna, Nayla," suara di seberang telepon terdengar bergetar, sarat akan rasa bersalah dan ketakutan yang mendalam. "Ibunya Devan..."

Nama Devan seketika membuat atmosfer riang di kamar itu menguap tanpa sisa. Wajah Nayla berubah kaku. Devan saat ini masih mendekam di tahanan Polda Metro Jaya menunggu proses persidangan atas kasus sabotase obat dan pencemaran nama baik.

"Ada keperluan apa Ibu menelepon saya?" jawab Nayla kaku dan dingin, formalitasnya kembali terbangun rapat. "Jika ini berhubungan dengan kasus hukum Devan, silakan hubungi tim kuasa hukum keluarga Adiwijaya. Saya tidak memiliki wewenang untuk berbicara."

"Bukan! Bukan soal kasus pidana Devan, Nayla... tolong, jangan ditutup dulu!" seru Ratna panik di seberang telepon. Suaranya mulai terisak pelan. "Saya tahu anak saya sudah berbuat kejahatan yang sangat fatal sama kamu dan Dokter Narendra. Devan pantas dihukum... tapi saya telepon kamu karena ada hal lain yang jauh lebih berbahaya!"

Nayla menajamkan pandangannya. "Maksud Ibu apa?"

"Kemarin malam... sebelum semua aset keluarga kami disita oleh bank dan pihak kepolisian, Devan sempat menelepon saya dari dalam tahanan melalui pengacara pribadinya," bisik Ratna dengan nada sangat ketakutan. "Devan bilang... Dharma Wijaya dan Julian Alistair tidak bergerak sendiri sejak awal. Ada satu nama lagi yang mendanai seluruh gerakan mereka... seseorang yang sangat dekat dengan lingkaran dalam keluarga Adiwijaya!"

Pena di tangan Nayla terjatuh ke lantai. Lingkaran dalam keluarga Adiwijaya?

"Orang itu tahu seluruh rencana pernikahan kamu dan Dokter Narendra minggu depan," lanjut Ratna penuh penyesalan. "Devan cuma dimanfaatkan sebagai bidak sarana sabotase, Nayla! Orang itu berniat menghancurkan acara akad nikah kalian dari dalam. Saya gak mau Devan makin terseret dalam kasus pembunuhan kalau sampai ada hal buruk terjadi di hari pernikahan kamu... tolong berhati-hatilah, Nayla!"

TUT... TUT... TUT...

Panggilan diputus sepihak dari seberang sana.

Nayla membeku di kursinya, ponselnya perlahan terlepas dari genggamannya. Napasnya memburu cepat, dan hawa dingin seketika menusuk hingga ke tulang belulangnya.

"Mbak Nay? Mbak Nayla kenapa?!" seru Rania panik, memegang kedua bahu Nayla yang mendadak gemetaran. "Siapa yang telepon tadi?! Mbak pucat banget!"

Nayla tidak menjawab. Matanya menatap kosong ke arah cermin rias di depannya.

Penjara untuk Dharma dan Julian ternyata belum menghentikan segalanya. Masih ada satu ular berbisa yang bersembunyi di dalam rumah mereka sendiri

Like & Comment nya juseyoo😚

1
tata
thor up nya jangan lama²+ banyakin ya 🤭
Macyooo: Wkwkwk, terima kasih sudah mampir friends😚
total 1 replies
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak friends
Macyooo
jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak yaaa
Macyooo
Jangan lupa tinggalkan jejak ya friends
Macyooo
Haloooo Friendsss!! welcome di cerita pertama akuu, semoga suka yaaa, happy reading 😍😍
Macyooo
Halooo friendsss!!! welcome di cerita pertama akuu, semoga suka yaaa, yang punya kritik dan saran boleh nihh disampaikan🤩🤩
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!