Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.
Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Jejak Yang Mengarah Pada Alicia
Pintu ruang pemeriksaan kembali tertutup.
Nathan melangkah keluar lebih dulu, diikuti kepala keamanan beberapa langkah di belakangnya. Wajah pria itu tetap setenang biasanya. Tidak ada kemarahan yang terlihat. Tidak ada pula kepanikan.
Akan tetapi orang-orang yang telah lama bekerja bersamanya tahu, justru ketika Nathan terlihat setenang itu, pikirannya sedang bekerja jauh lebih keras daripada siapa pun.
Sepanjang koridor menuju ruang kerja, tak sepatah kata pun keluar dari bibirnya. Setiap langkah yang ia ayunkan seolah diiringi oleh potongan-potongan informasi yang baru saja diperoleh dari Beni.
Doni. Mobil pengiriman. Amplop berisi uang.
Telepon misterius. Dan...nama Alicia.
Selama beberapa hari terakhir, semua petunjuk yang ia kumpulkan selalu terasa berdiri sendiri, seolah tidak memiliki hubungan satu sama lain. Namun kini, satu demi satu potongan itu mulai membentuk pola yang jauh lebih jelas.
Ini bukan lagi sekadar kebetulan. Ada seseorang yang telah merancang semuanya dengan sangat rapi.
Sesampainya di ruang kerja, Nathan langsung berjalan menuju meja besarnya. Ia tidak duduk. Kedua telapak tangannya bertumpu di atas permukaan meja, sementara pandangannya tertuju pada papan digital yang sejak beberapa hari terakhir dipenuhi berbagai hasil penyelidikan.
Di sana terpampang beberapa foto.
Foto Adrian.
Foto Alicia.
Serta tangkapan CCTV kendaraan pengiriman berwarna putih yang sempat memasuki area Wijaya Mansion.
Tatapan Nathan berpindah dari satu foto ke foto lainnya. Tak satu pun luput dari perhatiannya. Ruangan kembali dipenuhi keheningan.
"Lima juta rupiah..." gumamnya pelan.
Nada suaranya datar, tetapi cukup membuat kepala keamanan yang masih berdiri di belakangnya ikut mengangkat kepala.
"Itu terlalu kecil untuk membeli kesetiaan seseorang."
Kepala keamanan mengangguk setuju.
"Menurut saya juga begitu, Tuan."
Nathan menggeleng pelan. "Tidak."
"Uang itu bukan untuk membeli kesetiaan."
Ia berhenti sejenak, seolah sedang menimbang setiap kemungkinan yang muncul di benaknya.
"Itu hanya uang tutup mulut." Tatapannya kembali jatuh pada foto kendaraan pengiriman. "Berarti... tujuan sebenarnya jauh lebih besar."
Ucapan itu membuat kepala keamanan ikut terdiam. Jika benar demikian, maka kendaraan pengiriman itu bukan sekadar alat untuk menyuap seorang satpam. Kedatangannya pasti memiliki tujuan tertentu.
Dan tujuan itu kemungkinan besar berkaitan dengan sesuatu yang selama ini belum berhasil mereka temukan.
Nathan kembali mengetukkan jemarinya perlahan di atas meja.
Tok...
Tok...
Tok...
Suara itu terdengar pelan, tetapi cukup memecah keheningan yang memenuhi ruangan. Beberapa detik kemudian Nathan membuka suara.
"Kirim orang ke alamat Doni."
"Baik, Tuan."
"Jangan hanya rumahnya."
Nathan mulai memberikan instruksi tanpa jeda.
"Periksa juga tempat kosnya."
"Keluarganya."
"Teman-teman terdekatnya."
"Riwayat pekerjaannya."
"Bahkan rekening banknya."
"Aku ingin mengetahui ke mana uang itu mengalir."
Kepala keamanan langsung mencatat seluruh perintah tersebut. "Siap, Tuan."
Nathan kembali berbicara. "Dan satu hal lagi."
"Ya, Tuan?"
"Jangan lakukan secara mencolok."
Pria itu mengangkat wajah. "Saya mengerti."
Nathan menggeleng pelan. "Aku tidak ingin orang yang berada di belakang Doni mengetahui bahwa kita sedang mengejarnya."
"Kalau mereka sampai sadar... Doni bisa menghilang sebelum orang-orang kita menemukannya."
Kepala keamanan langsung mengangguk mantap. "Saya akan mengatur semuanya."
"Pastikan."
"Baik, Tuan."
Setelah memberi hormat singkat, pria itu segera meninggalkan ruang kerja. Pintu kembali tertutup.
Nathan kini benar-benar sendirian. Ia kembali mengalihkan pandangannya kepada foto Alicia yang terpampang di layar. Wajah perempuan itu masih sama seperti yang diingatnya bertahun-tahun lalu. Tenang.
Anggun dan pandai mengendalikan ekspresi.
Namun kini, semakin lama ia memandang foto itu, semakin muncul perasaan asing di dalam dirinya. Seolah-olah perempuan yang pernah dikenalnya dahulu bukanlah sosok yang sedang ia lihat sekarang.
Nathan mengembuskan napas pelan. "Mungkin... selama ini aku memang tidak pernah benar-benar mengenalmu."
Tepat saat itu, ponsel di atas meja berdering. Layar menampilkan nama Pak Ardi. Nathan segera mengangkatnya.
"Ya."
"Tuan." Suara di seberang terdengar terburu-buru.
"Kami baru saja mendapat informasi mengenai Doni."
Nathan langsung berdiri tegak. "Apa?"
"Orang itu sudah tidak masuk kerja selama dua hari."
Kening Nathan langsung berkerut.
"Alasannya?"
"Dia mengajukan cuti mendadak."
"Alamat rumahnya?"
"Tim kami sudah menuju ke sana."
Beberapa detik berlalu. Kemudian suara Pak Ardi kembali terdengar. "Namun menurut keterangan tetangganya... Doni pergi sejak tadi subuh."
Nathan mengepalkan rahangnya. "Pergi ke mana?"
"Tidak ada yang tahu."
Seketika firasat buruk memenuhi benaknya. Semuanya terjadi terlalu cepat. Jika Doni menghilang tepat setelah namanya mulai muncul dalam penyelidikan...
Berarti seseorang telah lebih dulu memperingatkannya atau... sengaja menyuruhnya menghilang. Nathan menutup panggilan. Tanpa membuang waktu, ia langsung mengambil kunci mobil yang berada di atas meja.
Tatapannya berubah sedingin es. "Kalau Doni kabur..."
"...berarti dia memang menyimpan sesuatu yang sangat ingin disembunyikan."
Beberapa detik kemudian Nathan melangkah keluar dari ruang kerjanya dengan langkah cepat. Kali ini... ia tidak berniat memberi lawannya kesempatan bergerak lebih dulu.
☘️☘️☘️
Di sisi lain... Di sebuah apartemen mewah yang berada di pusat kota, Alicia berdiri di depan jendela besar sambil memegang secangkir kopi hangat.
Hamparan gedung-gedung tinggi membentang di hadapannya. Namun tatapannya sama sekali tidak tertuju pada pemandangan itu.
Ponsel yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar. Alicia mengambilnya. Sebuah pesan singkat muncul di layar.
"Beni sudah bicara."
Sudut bibir Alicia yang semula terangkat perlahan menghilang. Sorot matanya berubah dingin. Tanpa terlihat sedikit pun kepanikan, ia mulai mengetik balasan.
"Pastikan Doni tidak bisa ditemukan."
Pesan itu langsung terkirim. Alicia mematikan layar ponselnya, lalu kembali menatap ke luar jendela. Angin sore menggoyangkan tipis tirai apartemen. Senyum samar kembali menghiasi bibirnya.
"Sepertinya..." gumamnya pelan. "Permainan ini mulai memasuki babak yang sebenarnya."
Bersambung ....
terus semangat berkarya thor ❤️🥰❤️🥰