Delapan tahun pernikahan membuat Naura rela mengorbankan segalanya demi keluarga. Ia melahirkan dua anak, meninggalkan kariernya, dan diam-diam membantu suaminya membangun kerajaan bisnis hingga menjadi konglomerat.
Namun setelah tubuh Naura berubah gemuk usai dua kali melahirkan, Erwin justru menganggapnya sebagai aib dan memilih wanita lain.
Diceraikan, dihina, bahkan dipisahkan dari anak-anaknya, Naura memilih bangkit daripada terus terpuruk. Ia kembali pada identitas yang selama ini disembunyikan sebagai pewaris keluarga kaya. Di saat yang sama, takdir mempertemukannya kembali dengan pria dari masa lalunya, yang membantunya mengubah hidup sekaligus mengembalikan tubuhnya menjadi sehat dan ideal.
Saat Erwin kehilangan semua yang dibanggakannya dan memohon agar Naura kembali, wanita itu hanya tersenyum dingin.
"Kau membuangku karena tubuhku gemuk setelah melahirkan kedua anakmu! Kini, kau akan kehilangan semua yang pernah kubangun untukmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab¹²
Pagi itu, halaman mansion keluarga Ardynata masih diselimuti udara yang sejuk. Naura baru saja menyelesaikan olahraga paginya bersama Alaska. Kaus olahraga yang dikenakannya sudah basah oleh keringat, sementara napasnya masih sedikit memburu.
"Tiga putaran tanpa berhenti," ujar Alaska sambil melihat jam di pergelangan tangannya. "Kemajuannya lumayan."
Naura mengambil botol minum lalu meneguk air beberapa kali. "Kalau bukan karena kau mengancam menambah putaran, aku sudah berhenti dari tadi."
"Itu namanya motivasi."
"Itu namanya penyiksaan."
Alaska hanya tersenyum tipis sebelum menyerahkan handuk kecil kepadanya. "Kamu mulai turun hampir delapan kilogram."
Naura terdiam sejenak, 8 kilogram. Angka itu memang belum membuat tubuhnya kembali langsing, tetapi pakaian yang dulu terasa sempit kini mulai longgar, dan wajahnya pun terlihat lebih segar.
Namun tujuan utamanya sejak awal memang bukan penampilan, melainkan anak-anaknya. Saat itulah ponsel di dalam tasnya berdering, nama Bik Ela muncul di layar.
Naura langsung mengangkatnya.
"Bi?"
"Nyonya Naura..." Suara perempuan paruh baya itu terdengar ragu.
"Ada apa? Laura dan Lionel baik-baik saja?"
"Iya... mereka baik..."
"Bi... jangan bohong." Naura langsung menangkap nada yang berbeda.
Di seberang sana terdengar helaan napas panjang. "Sebenarnya... ada sesuatu yang selama ini saya sembunyikan."
Jantung Naura mendadak berdegup lebih cepat.
"Ada apa, Bi?"
"Hari pertama Nona pergi dari rumah, Nona Davina menampar Non Laura."
Deg!
"Apa?!!" Wajah Naura langsung membeku.
"Non Laura dipukul karena menggunting rambut Nona Davina, Tuan kecil Lionel juga didorong sampai jatuh."
"Kenapa baru sekarang bilang?" Tangan Naura mulai gemetar.
"Saya takut kehilangan pekerjaan, Nyonya. Tapi setiap melihat Non Laura terus bertanya kapan Mamanya pulang... saya sudah tidak tahan lagi."
Naura mengepalkan ponselnya begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. "Erwin tahu, Bi?"
"Tuan Erwin memarahi Nona Davina, tapi setelah itu... semuanya kembali seperti biasa."
Naura memejamkan mata, dadanya dipenuhi kemarahan yang selama ini berhasil ia tahan. Menyakitinya, Ia masih bisa memaafkan. Tetapi menyentuh kedua anaknya, ia tak akan pernah mengampuni Davina.
"Bi." Naura membuka mata perlahan.
"Ya, Nyonya."
"Anak-anak sekolah hari ini?"
"Iya."
"Jangan bilang siapa pun kalau kita baru bicara."
"Baik."
Telepon terputus.
Alaska yang sejak tadi berdiri tidak jauh darinya segera menyadari perubahan wajah perempuan itu.
"Ada apa?"
Naura mengangkat wajah, tatapannya berubah sedingin es. "Mantan suamiku membiarkan wanita simpanannya menampar putriku."
"Apa?!" Alaska menyipit tajam.
"Aku mau menjemput anak-anak sekarang, aku akan mengambil kembali apa yang menjadi milikku."
Satu jam kemudian.
Mobil hitam keluarga Ardynata berhenti di depan sekolah internasional tempat Laura dan Lionel belajar. Jam pelajaran baru saja selesai, puluhan anak mulai berlarian keluar sambil mencari orang tua mereka.
Begitu Laura melihat sosok wanita yang berdiri di dekat gerbang sekolah, matanya langsung membesar.
"Mama!"
Tanpa memedulikan tas sekolahnya yang hampir terjatuh, gadis kecil itu langsung berlari. Naura berlutut dan membuka kedua tangannya, Laura langsung memeluk ibunya sekuat tenaga.
"Mama..." Suara kecil itu bergetar.
Naura memejamkan mata sambil memeluk putrinya erat. "Iya, Sayang."
"Aku kangen Mama..."
"Mama juga."
Tak lama kemudian Lionel ikut berlari.
"Mamaaaaa!"
Bocah kecil itu langsung menabrakkan tubuhnya ke pelukan Naura hingga mereka bertiga hampir terjatuh. Naura tertawa pelan sambil memeluk keduanya bersamaan, pelukan itu terasa begitu hangat. Seolah luka yang selama ini menganga perlahan mulai terobati.
"Mama... kapan pulang?" tanya Laura sambil mengusap air matanya.
Naura menatap kedua anaknya bergantian. "Hari ini, kalian ikut Mama."
"Beneran, Ma?" Mata Laura langsung berbinar.
"Iya."
Lionel melompat kegirangan. "Yeay! Tidur sama Mama lagi!"
Naura menggenggam tangan kedua anaknya. Mulai hari ini, Ia tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti mereka lagi.
...*****...
Sementara itu...
Di Gedung Gentala Group, kesibukan masih berlangsung seperti biasa. Para karyawan berlalu-lalang membawa dokumen.
Davina berjalan dengan dagu terangkat tinggi, sejak Erwin pergi ke luar kota untuk menghadiri pertemuan bisnis, ia merasa dirinya sudah seperti nyonya perusahaan.
Pintu lobi tiba-tiba terbuka.
Tak.
Tak.
Tak.
Suara langkah sepatu hak tinggi bergema memenuhi ruangan, semua orang spontan menoleh. Naura masuk dengan kepala tegak. Meski tubuhnya masih belum sepenuhnya kembali seperti dulu, perubahan itu mulai terlihat jelas. Wajahnya lebih segar, sorot matanya tajam, dan aura percaya dirinya jauh berbeda dibanding wanita yang meninggalkan gedung ini beberapa minggu lalu.
"Kupikir siapa, ternyata si mantan istri gendut." Davina langsung menyeringai.
Naura terus melangkah hingga berdiri tepat di hadapan Davina. Tatapannya begitu tenang, tetapi justru ketenangan itulah yang membuat Davina tanpa sadar mundur setengah langkah.
"Apa? Mau menangis?" ejek Davina.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Davina. Belum sempat wanita itu bereaksi—
Plak!
Tamparan kedua kembali menghantam pipi satunya. Suara tamparan di wajah Davina, menggema di seluruh lobi hingga membuat semua orang membeku.
Davina memegang kedua pipinya dengan mata membelalak. "K-kau... berani menamparku?!"
"Itu balasan karena kau berani menampar putriku." Naura menatapnya tanpa sedikit pun rasa bersalah.
Suasana mendadak hening.
Naura melangkah semakin dekat hingga hanya tersisa satu langkah di antara mereka. "Dan itu... juga balasan karena kau mendorong putraku sampai terjatuh."
Tatapan Davina mulai goyah.
"Kalau kau pikir aku akan diam saat anak-anakku disakiti, berarti kau salah besar." Suara Naura tetap tenang, tetapi setiap katanya terdengar begitu tajam. "Dengarkan aku baik-baik, Davina. Kalau sampai kau menyentuh Laura atau Lionel sekali lagi... aku bersumpah akan membuat hidupmu jauh lebih menderita daripada tamparan yang baru saja kau terima."
Davina mengepalkan kedua tangannya.
Beberapa karyawan mulai memperhatikan.
“Ah! Aku juga datang untuk memberi hadiah padamu." Naura tersenyum tipis.
"Hadiah?" Davina mengangkat sebelah alis.
Naura mengeluarkan sebuah amplop besar dari tasnya. "Lihat ini baik-baik!"
Wushhhh!
Puluhan foto langsung dilempar ke udara foto-foto itu berhamburan memenuhi lantai lobi. Beberapa karyawan spontan memungutnya, lalu mata mereka membelalak.
"Itu..."
"Pak Erwin?"
"Ini... di hotel?"
Foto demi foto memperlihatkan Erwin dan Davina keluar masuk hotel, berpelukan di parkiran basement, berciuman di dalam lift, hingga bergandengan tangan saat liburan ke luar kota. Semua memiliki tanggal yang jelas. Bahkan, sebagian diambil ketika Erwin masih resmi menjadi suami Naura.
Lobi perusahaan mendadak gempar.
"Astaga..."
"Jadi benar mereka selingkuh?"
"Pantas saja Bu Naura diceraikan."
Davina langsung panik.
"Jangan percaya!"
"Itu fitnah!"
"Fitnah?" Naura tertawa pelan, Ia mengangkat satu foto lagi. "Kalau ini fitnah, kenapa wajahmu ada di semua foto ini?"
Davina langsung kehilangan kata-kata.
Naura melangkah semakin dekat hingga jarak mereka hanya beberapa langkah. Tatapannya lurus menembus mata Davina, tanpa sedikit pun rasa gentar.
“Dulu kamu begitu bangga merebut suami orang! Kau menghina tubuhku, mengatakan bahwa aku memalukan dan membuat Erwin merasa jijik!“
Naura mengembuskan napas pelan, lalu menurunkan pandangannya sesaat, seolah mengingat semua hinaan yang pernah ia telan seorang diri. Ketika ia kembali mengangkat kepala, sorot matanya jauh lebih tajam.
“Dan kau tidak salah, tubuhku memang berubah. Perutku tidak lagi rata, berat badanku bertambah, dan aku... tidak lagi terlihat seperti dulu. Tapi itu terjadi karena aku mengandung dan melahirkan dua anakku. Karena aku sudah menjadi seorang ibu.“
Suara Naura terdengar jelas, penuh luka yang telah berubah menjadi kekuatan.
“Aku mungkin kehilangan bentuk tubuh idealku, tetapi aku tidak kehilangan harga diriku! Aku tidak pernah menyesali setiap bekas perjuangan di tubuhku, karena itu adalah bukti cinta dan pengorbanan untuk anak-anakku. Jadi... kalau harus memilih lagi, aku tetap akan memilih menjadi seorang ibu meski tubuhku rusak!“
Naura memiringkan kepala. "Sedangkan kau? Tak perlu melahirkan pun, wajahmu sudah dirubah berkali-kali."
Beberapa karyawan spontan menahan tawa.
"Kau!" Wajah Davina memerah.
Naura tetap menatap Davina tanpa berkedip. "Aku tidak malu pernah gemuk, karena itu terjadi saat aku mengandung dan melahirkan anak-anakku. Yang seharusnya malu adalah wanita sepertimu... yang menjadikan suami orang sebagai suatu kebanggaan!"
"Diam!" bentak Davina sambil menunjuk wajah Naura. "Kaulah yang gagal menjaga suamimu!"
"Benar, aku memang gagal." Naura mengangguk santai. "Aku gagal menyadari lebih cepat. Bahwa suamiku, ternyata lebih cocok dengan wanita yang hobinya memunguti sampah."
Ucapan itu membuat beberapa karyawan saling berpandangan. Tak sedikit yang mulai berbisik-bisik sambil memandang Davina dengan jijik.
Naura lalu membungkuk mengambil satu foto terakhir, Ia menepuk-nepuk foto itu pelan sebelum menyelipkannya ke tangan Davina.
"Simpan baik-baik, karena sebentar lagi... seluruh kota akan mengenalmu bukan sebagai sekretaris. Tapi sebagai wanita yang menghancurkan rumah tangga orang."
Wajah Davina berubah pucat, saat ini Ia merasa benar-benar dipermalukan di depan ratusan orang.
Sementara Naura berbalik dengan tenang, tanpa menoleh sedikit pun. Ia melangkah keluar meninggalkan lobi perusahaan yang masih dipenuhi bisikan para karyawan.
Namun di dalam mobil, Naura menatap kedua anaknya yang sedang tertidur di kursi belakang, dan tatapannya kembali melembut. Hari ini, Ia baru mengambil langkah pertama. Dan berikutnya, Ia akan mengambil kembali hak asuh kedua anaknya, sekaligus menghancurkan semua yang selama ini dibanggakan Erwin Gentala.
😂😂😂😂😂😂😂😂😂
jgn sampe syok yx klo udh inget ,,
seharusnya kamu nyadar diri sudahlah hidup numpang
mencuri perhatian orang Tua naura
sekarang mau apalagi
sinting emang🤭
toh kamu cuman mau naura saat langsing
orang sirik tanda nak mampus ,,
🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
😁😁😁😁😁😁😁
tu bukan cahaya ilahi naura ,,
tu cahaya harapan km ,,
cuma ketutup ma dokter yg km sebut iblis🤭🤭🤭🤭😂😂😂😂