Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.
Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Su Lian mengangkat tangannya perlahan.
Clak...
Pintu kayu menuju ruangan pribadi Chen Nan terbuka dengan pelan. Suasana di dalam ruangan begitu tenang. Tidak ada kemewahan yang berlebihan.
Hanya sebuah ruangan luas dengan rak-rak buku kuno, beberapa lukisan pemandangan pegunungan, serta meja kayu besar yang diletakkan di dekat jendela. Aroma kopi yang hangat memenuhi seluruh ruangan.
Di balik meja itu, duduk seorang pria paruh baya mengenakan jubah merah tua yang disulam motif naga dan burung phoenix berwarna emas. Wajahnya tampan dan berwibawa.
Tatapannya tenang, namun memancarkan tekanan yang sulit dijelaskan. Di tangannya terdapat secangkir kopi yang masih mengepulkan uap hangat.
Pria itu adalah Chen Nan, Ketua Sekte Naga Phoenix.
Melihat Su Lian masuk, Chen Nan tersenyum tipis. "Sudah lama sekali. Sejak terakhir kita bertemu."
Su Lian ikut tersenyum kecil. "Benar. Rasanya sudah cukup lama."
Chen Nan meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Tatapannya kemudian beralih kepada Yan Kai yang berdiri diam di belakang Su Lian. Dalam sekejap, Yan Kai merasakan tekanan yang sangat familiar. Perasaan itu persis seperti ketika ia pertama kali bertemu Su Lian di Danau Seribu Bulan.
"Tekanan ini... sama kuatnya dengan Guru." Yan Kai menarik napas pelan. "Berarti Chen Nan juga berada di Ranah Raja Tahap Puncak." Ia tidak berani menatap terlalu lama. Di hadapan dua kultivator terkuat Kerajaan Awan Suci, ia sadar dirinya masih terlalu lemah.
Chen Nan masih memperhatikan Yan Kai. Sebelum ia sempat bertanya, Su Lian lebih dahulu berbicara. "Dia muridku. Murid langsung."
Alis Chen Nan langsung terangkat. Ekspresi terkejut tampak jelas di wajahnya. "Murid langsung?" Ia tertawa pelan. "Su Lian, sejak kapan kau berubah pikiran? Setahuku kau paling tidak suka mengajar orang lain. Bahkan murid-murid Sekte Bulan Darah sendiri tidak pernah kau bimbing secara langsung. Tapi sekarang kau malah menerima seorang murid."
Su Lian hanya tersenyum tipis.
Chen Nan kembali menatap Yan Kai. Tatapannya seolah mampu menembus tubuh pemuda itu. Beberapa saat kemudian, ia berkata pelan. "Apakah kau menerimanya karena sesuatu yang ada di dalam dirinya?"
Su Lian memahami maksud pertanyaan itu. Orang lain mungkin tidak mampu melihatnya. Namun kultivator selevel Chen Nan tentu dapat merasakan keanehan energi yang bersemayam di dalam tubuh Yan Kai. Ia pun menganggukkan kepala. "Mungkin. Justru karena itulah aku menjadi tertarik kepadanya."
Chen Nan tersenyum penuh arti. "Begitu rupanya."
Yan Kai yang berdiri di samping hanya mendengarkan percakapan kedua tokoh besar itu. Ia sama sekali tidak berani menyela. Ia bahkan memilih tetap diam sambil sedikit menundukkan kepala.
Beberapa saat kemudian, Chen Nan mengangkat tangannya. "Sudahlah. Aku tidak berniat bertanya lebih jauh mengenai muridmu. Itu urusanmu." Tatapannya kembali tertuju kepada Su Lian. "Sekarang, apa tujuanmu datang ke Gunung Azure?"
Ruangan kembali menjadi hening. Su Lian tidak berputar-putar dalam berbicara. "Aku membutuhkan bantuanmu."
Chen Nan menyilangkan kedua tangannya. "Lanjutkan."
Su Lian berkata dengan tenang. "Aku ingin memperoleh peta makam Huang Tiandi. Saat ini peta itu berada di tangan Paviliun Teratai Putih."
Chen Nan tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun. Seolah informasi itu tidak terlalu mengejutkannya.
Su Lian kemudian melanjutkan, "Aku ingin Sekte Naga Phoenix membantuku mendapatkan peta itu."
Chen Nan menatapnya beberapa saat. "Dan apa yang akan kudapatkan?"
Su Lian menjawab tanpa ragu sedikit pun. "Sebagai imbalannya, aku akan menyerahkan seluruh hak pengelolaan Tambang Batu Spiritual di Pegunungan Taring Naga kepada Sekte Naga Phoenix."
Chen Nan hanya terdiam sambil menatap Su Lian. Chen Nan tidak langsung memberikan jawaban. Ia mengambil kembali cangkir kopinya, menyesapnya perlahan, lalu meletakkannya kembali di atas meja. Tatapannya tetap tertuju kepada Su Lian.
Beberapa saat kemudian, ia akhirnya membuka mulut. "Maaf. Tapi aku tidak tertarik."
Yan Kai sedikit terkejut. Bahkan Su Lian pun tampak sedikit mengernyit.
Chen Nan melanjutkan dengan tenang. "Tambang Batu Spiritual Pegunungan Taring Naga memang sangat berharga. Tetapi itu belum sebanding dengan risiko yang harus kutanggung. Kalau Sekte Naga Phoenix ikut bergerak, maka kami bukan hanya berhadapan dengan Paviliun Teratai Putih, melainkan juga berbagai sekte dan faksi aliran lurus yang berada di belakang mereka. Perang sebesar itu tidak bisa dibayar hanya dengan sebuah tambang batu spiritual."
Su Lian terdiam. Ia memang telah memperkirakan kemungkinan penolakan. Namun ia tidak menyangka Chen Nan akan menolaknya secara langsung.
Beberapa saat kemudian, Su Lian kembali bertanya. "Kalau begitu, apa yang bisa membuatmu bersedia bergerak?"
Chen Nan tersenyum tipis, seolah memang telah menunggu pertanyaan itu. "Kebetulan, memang ada sesuatu yang menarik perhatianku."
Tatapan Su Lian berubah serius. "Apa itu?"
Chen Nan menjawab tanpa ragu. "Teratai Salju Sembilan Transformasi."
Mendengar nama itu, mata Su Lian sedikit menyipit.
Chen Nan melanjutkan. "Tumbuhan magis itu berada di tangan Yun Xi, Ketua Paviliun Teratai Putih. Aku pernah mendengar bahwa Teratai Salju Sembilan Transformasi memiliki kemampuan yang luar biasa. Jika dikonsumsi oleh seseorang yang tidak memiliki elemen es bawaan, ia dapat membangkitkan elemen es. Sedangkan bagi kultivator yang memang telah menguasai elemen es, khasiatnya bahkan mampu meningkatkan kultivasi mereka secara drastis."
Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan. "Sejak lama aku menguasai elemen api. Kalau aku berhasil memperoleh elemen es juga, keseimbangan kedua elemen itu akan membuat kekuatanku meningkat jauh lebih besar."
Su Lian akhirnya memahami maksud Chen Nan. Ternyata Ketua Sekte Naga Phoenix itu memang telah lama mengincar harta milik Yun Xi.
Ia pun berkata pelan, "Kalau begitu, kalau kita bekerja sama, aku mendapatkan peta makam Huang Tiandi, sedangkan kau mendapatkan Teratai Salju Sembilan Transformasi. Melihat kekuatan kita berdua, kemungkinan untuk menang jauh lebih besar."
Chen Nan tidak langsung menjawab. Ia kembali terdiam sambil mengetukkan jarinya perlahan di atas meja. Raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang mempertimbangkan semua kemungkinan.
Ruangan kembali diselimuti keheningan. Bahkan Yan Kai dapat merasakan bahwa keputusan Chen Nan akan sangat menentukan arah peristiwa berikutnya.
Setelah berpikir cukup lama, Chen Nan akhirnya mengangkat kepalanya. "Su Lian. Aku belum bisa memberimu jawaban sekarang. Aku perlu mempertimbangkan semuanya dengan lebih matang."
Su Lian mengangguk pelan. "Baik."
Chen Nan melanjutkan, "Kalau aku sudah mengambil keputusan, aku akan mengirimkan surat kepadamu. Di dalam surat itu akan terdapat jawabanku."
Su Lian tidak memaksa lebih jauh. "Itu sudah cukup." Ia berdiri dari kursinya. "Aku akan menunggu kabar darimu."
Chen Nan menganggukkan kepala. "Semoga keputusan yang kuambil nanti tidak mengecewakanmu."
Su Lian hanya tersenyum tipis. "Kalau begitu, kami pamit." Tanpa berkata apa-apa lagi, ia berbalik dan berjalan keluar dari ruangan. Yan Kai segera mengikuti di belakang gurunya.
Pintu kayu perlahan tertutup kembali.
Di luar ruangan, keduanya kembali berjalan melewati halaman Sekte Naga Phoenix menuju gerbang utama. Meski perjalanan kali ini belum menghasilkan kesepakatan yang mereka harapkan, Su Lian sama sekali tidak terlihat kecewa. Baginya, selama Chen Nan belum memberikan penolakan mutlak, masih ada peluang untuk mengubah keadaan.
balas dendam.