Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kota yang berubah
Tol Cipularang mulai membentang di depan mereka. Pagi itu cuaca cerah. Langit berwarna biru muda dengan awan tipis yang berarak perlahan. Mobil melaju stabil meninggalkan hiruk-pikuk Jakarta.
Di kursi depan, Ayah tetap fokus menyetir.
Ibu sesekali membuka kotak bekal, memastikan air minum dan makanan yang dibawanya tersusun rapi.
Sementara di kursi belakang...
Bima hampir tidak pernah melepaskan pandangannya dari jendela. Setiap beberapa kilometer, ia seperti menemukan sesuatu yang membuatnya terdiam.
"Di sini..."
"...dulu belum ada jalan layang."
Beberapa menit kemudian...
"Itu..."
"...bukitnya dipotong buat jalan tol ya?"
Lalu beberapa saat setelahnya...
"Aneh..."
"Dulu perjalanan ke Bandung terasa jauh sekali."
"Sekarang jalannya seperti berbeda."
Tak seorang pun menertawakan ucapannya.
Karena mereka tahu...
Bagi Bima, semua perubahan itu benar-benar terjadi hanya dalam hitungan beberapa hari.
Padahal kenyataannya...
Tiga puluh tahun telah berlalu. Menjelang pukul sembilan pagi mereka berhenti di sebuah rest area.
"Ayo."
"Kita sarapan sebentar."
ucap Ayah.
Semua turun dari mobil.
Udara pegunungan terasa lebih sejuk dibanding Jakarta.
Arga menghirup napas panjang.
"Enak juga udaranya."
Ibu langsung menoleh.
"Jangan langsung makan pedas."
"Iya, Bu."
"Aku tahu."
Ayah tersenyum kecil.
"Kalau lambungmu kambuh lagi..."
"...perjalanan kita bisa berantakan."
Arga tertawa pelan.
"Nggak akan, Yah."
Mereka memilih makan di warung sederhana. Arga memesan bubur ayam. Sementara yang lain memilih nasi hangat dengan lauk sederhana. Bima memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Hampir semua sibuk memegang telepon genggam. Sebagian membayar makanan tanpa menggunakan uang tunai. Ia memperhatikan seorang anak kecil yang dengan lincah menempelkan sebuah kartu ke mesin kasir.
"Lho..."
"Bukan pakai uang?" gumamnya lirih.
Arga tersenyum.
"Itu kartu pembayaran, Mas."
Bima hanya mengangguk pelan.
Semakin lama...
Semakin banyak hal yang harus ia pelajari kembali.
Perjalanan kembali dilanjutkan.
Tak lama kemudian papan bertuliskan Selamat Datang di Kota Bandung mulai terlihat.
Bima spontan menegakkan tubuhnya.
"Bandung..." bisiknya.
Kota itu masih bernama sama.
Namun wajahnya...
Hampir tak lagi ia kenali.
Gedung-gedung bertingkat berdiri di banyak sudut. Jalanan jauh lebih padat. Pertokoan berjajar rapat. Kendaraan memenuhi hampir setiap ruas jalan.
Bima memandang ke luar tanpa berkedip.
"Dulu..."
"...Bandung tidak seramai ini."
Ayah tersenyum tipis.
"Waktu terus berjalan, Mas."
"Iya."
"Dan saya..."
"...tidak ikut berjalan bersamanya."
Kalimat itu membuat suasana mobil mendadak sunyi. Tak ada yang mampu membantahnya.
Selama dunia terus berubah...
Bima seolah tertinggal di satu titik waktu yang sama. Mereka keluar dari jalan utama menuju kawasan Ujungberung.
Semakin masuk ke kawasan permukiman...
Jantung Bima semakin berdebar.
Ia mulai memperhatikan setiap gang.
Setiap pertigaan.
Setiap bangunan.
Sesekali ia menggeleng.
"Bukan ini."
Beberapa ratus meter kemudian...
"Bukan..."
Lalu...
"Itu..."
"Tunggu..."
Bima tiba-tiba menunjuk ke arah sebuah masjid tua yang kini telah direnovasi.
"Pak..."
Ayah memperlambat laju mobil.
"Kenapa?"
"Aku..."
"...aku kenal masjid itu."
Semua langsung menoleh. Bima terus menatap bangunan bercat putih dengan kubah hijau tersebut.
"Dulu bentuknya jauh lebih kecil."
"Tapi..."
"...menaranya."
"Arah kiblatnya."
"Letaknya."
"Aku yakin..."
"Itu masjid dekat rumahku."
Ayah segera menepikan mobil.
"Kalau begitu..."
"...berarti kita sudah dekat."
Bima mengangguk perlahan. Tangannya mulai gemetar. Ia menelan ludah berkali-kali.
Untuk pertama kalinya sejak keluar dari hutan...
Ia merasa benar-benar takut.
Takut jika rumah itu sudah tidak ada.
Takut jika tak ada seorang pun yang mengenalnya lagi.
Takut jika harapan yang selama ini ia simpan...
Harus berakhir di kota yang pernah menjadi rumahnya sendiri.
Ayah memandangnya dengan tenang.
"Mas."
Bima menoleh.
"Tarik napas dulu."
"Kita tidak perlu terburu-buru."
"Kita cari pelan-pelan."
"Apapun yang kita temukan nanti..."
"...kita hadapi bersama."
Bima menganggukkan kepala.
Lalu untuk pertama kalinya sejak memasuki Bandung...
Ia memejamkan mata sejenak.
Di dalam hati, ia memanjatkan doa yang selama tiga puluh tahun belum pernah sempat ia ucapkan.
"Ya Allah...
Kalau mereka masih ada...
Izinkan aku bertemu mereka sekali lagi.
Dan kalau mereka sudah Engkau panggil...
Setidaknya izinkan aku mengetahui kabar mereka."
Mobil kembali bergerak perlahan. Menyusuri jalan-jalan yang bagi orang lain hanyalah kawasan permukiman biasa.
Namun bagi Bima...
Setiap meter jalan yang mereka lalui adalah langkah yang membawanya semakin dekat dengan kehidupan yang tiba-tiba hilang tiga puluh tahun yang lalu.
Mobil melaju perlahan memasuki kawasan Ujungberung. Ayah sengaja mengurangi kecepatan. Sesekali beliau melihat catatan kecil yang berisi semua keterangan yang diberikan Bima beberapa malam lalu.
"Mas..."
"Arah rumahnya masih ingat?"
Bima mengangguk pelan.
"Kalau dari masjid..."
"...dulu belok kiri."
"Lalu ada pasar kecil."
"Setelah itu masuk gang."
Ia terus mengamati setiap sudut jalan. Namun semakin lama, wajahnya semakin bingung. Banyak bangunan yang dulu hanya berupa rumah sederhana kini telah berubah menjadi ruko dua lantai. Jalan yang dahulu sempit kini sudah diaspal lebar. Pohon-pohon besar yang dulu menjadi penanda jalan pun sebagian besar telah hilang.
"Aneh..." gumamnya.
"Rasanya ini jalannya..."
"...tapi kok berbeda."
Ayah tersenyum kecil.
"Tiga puluh tahun bukan waktu yang sebentar, Mas."
Bima mengangguk.
"Iya..."
"Aku yang belum siap melihat semuanya berubah."
Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah pertigaan. Di sudut jalan berdiri sebuah warung kelontong.
Ayah menghentikan mobil.
"Aku tanya sebentar."
Beliau turun dan menghampiri seorang bapak berusia sekitar enam puluh tahun yang sedang duduk di depan warung.
"Assalamualaikum, Pak."
"Waalaikumsalam."
"Maaf mengganggu."
"Saya mau bertanya."
Bapak itu tersenyum ramah.
"Silakan."
"Dulu di sekitar sini ada Gang Melati."
"Apakah sekarang masih ada?"
Bapak itu tampak berpikir beberapa saat.
"Gang Melati?"
"Iya."
"Hmm..."
"Oh..."
"Kalau tidak salah sekarang namanya Gang Budi utomo."
"Soalnya beberapa tahun lalu nama gang memang diganti jadi nama pahlawan."
Ayah mengucapkan terima kasih lalu kembali ke mobil. Wajah Bima langsung dipenuhi harapan.
"Benar, Pak?"
Ayah mengangguk.
"Katanya sekarang namanya Gang Budi utomo."
Bima menatap ke depan. Jantungnya kembali berdegup lebih cepat.
Mobil kembali bergerak. Tak sampai lima menit kemudian mereka menemukan sebuah papan bertuliskan:
Gang Budi utomo
Ayah menghentikan mobil di pinggir jalan. Bima turun perlahan. Kakinya terasa berat. Ia memandang lorong gang itu tanpa berkedip.
"Dulu..."
"...gang ini jauh lebih kecil."
Kini jalan tersebut sudah dicor rapi. Beberapa rumah telah bertingkat. Sepeda motor keluar masuk silih berganti. Anak-anak berlarian sambil bermain bola.
Suasana yang hidup.
Namun...
Tidak ada lagi yang benar-benar dikenalnya.
Arga berjalan di sampingnya.
"Mas."
Bima hanya mengangguk pelan.
Mereka mulai berjalan menyusuri gang.
Beberapa langkah...
Bima berhenti.
"Di sini..."
"Dulu ada warung Bu Ijah."
Kini tempat itu telah berubah menjadi toko bangunan kecil.
Beberapa meter lagi...
"Dulu..."
"...ada pohon jambu."
Yang tersisa hanya pagar beton.
Semakin jauh mereka berjalan...
Semakin sering Bima berhenti.
Namun setiap kali berhenti...
Yang ia temukan hanyalah perubahan.
Hingga akhirnya...
Langkah Bima mendadak terhenti.
Matanya membesar. Napasnya tercekat. Di hadapannya berdiri sebuah rumah. Rumah itu telah direnovasi. Cat hijaunya telah berganti menjadi krem. Pagar bambunya berubah menjadi pagar besi. Terasnya lebih luas.
Namun...
Di sisi kanan halaman...
Masih berdiri sebuah pohon mangga tua. Batangnya kini jauh lebih besar. Dahannya menjulang tinggi melewati atap rumah. Bima menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"Itu..." bisiknya.
"Itu pohonnya..."
Air matanya mulai jatuh.
"Aku ingat..."
"Ayah yang menanamnya."
Arga menoleh ke arah Ayah. Tak seorang pun berani berbicara. Mereka membiarkan Bima menikmati kembali potongan kenangan yang selama ini hanya hidup di dalam ingatannya. Bima melangkah semakin dekat. Tangannya perlahan menyentuh batang pohon mangga itu.
Permukaannya kasar.
Hangat terkena sinar matahari.
Matanya terpejam.
Seakan-akan ia kembali menjadi pemuda dua puluh dua tahun yang baru pulang mendaki.
"Aku benar-benar pulang..." gumamnya lirih.
Namun beberapa detik kemudian...
Tatapannya beralih ke rumah itu.
Wajahnya kembali dipenuhi kegugupan.
"Pak..." suaranya bergetar.
"Kalau..."
"...penghuninya bukan keluargaku lagi bagaimana?"
Ayah berdiri di sampingnya.
"Kalau memang bukan..."
"...kita tetap akan bertanya."
"Karena mungkin mereka tahu ke mana keluarga Mas pindah."
Bima mengangguk pelan. Ia menarik napas panjang berkali-kali. Tangannya masih gemetar.
Lalu...
Ayah melangkah menuju pagar rumah.
Beliau mengangkat tangan.
Perlahan...
Tiga ketukan terdengar di pintu kayu rumah itu.
Tok...
Tok...
Tok...
Di balik pintu...
Terdengar suara langkah kaki seseorang yang mulai mendekat. Semua menahan napas.
Karena beberapa detik lagi...
Mereka akan mengetahui...
Apakah rumah itu masih menyimpan jejak keluarga Bima.
Atau...
Hanya tinggal kenangan.