Hidup Gavin Wijaya berubah total dalam semalam. Mantan "sultan" Jakarta yang terbiasa hidup mewah harus meninggalkan kehidupan glamor dan menjadi buruh migran (TKI) di Taiwan. Dari pesta dan kemewahan, kini yang tersisa hanyalah kerja keras di sebuah pabrik.
Di sisi lain, Tiffany Chen adalah CEO muda jenius yang dikenal dingin dan perfeksionis. Baginya hidup hanya tentang bisnis, angka, dan kesuksesan. Namun sebuah tekanan dari sang ayah memaksanya mencari jalan keluar yang tidak pernah dia bayangkan.
Sebuah pertemuan tak terduga membuat Gavin masuk ke dunia Tiffany. Dengan sebuah rahasia dan kontrak pernikahan, seorang mantan sultan yang kini menjadi TKI mendadak berubah menjadi "suami penyamaran" seorang CEO Taiwan.
Ketika pria santai dan usil harus hidup bersama wanita dingin yang lebih mirip robot pekerja, kehidupan mereka mulai berubah. Akankah pernikahan kontrak ini tetap menjadi sekadar kesepakatan, atau berubah menjadi sesuatu yang tidak pernah mereka rencanakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miko J, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawar-Menawar dengan Tante Kaya
Dengan koper usang di tangan kiri dan pakaian terbaik yang tersisa di tubuhnya, Gavin Wijaya melangkah masuk ke dalam restoran mewah di pusat kota Taipei. Senyumnya mengembang lebar sepanjang jalan. Pikirannya dipenuhi bayangan masa depan yang cerah karena mendapatkan pekerjaan lagi.
Gavin langsung membeku saat dua pelayan restoran membukakan pintu ruangan VIP. Ruangan itu sangat luas, sepi, dan mewah. Dan di ujung meja bundar besar, duduk seorang wanita yang sangat dia kenal sedang menyesap kopi hitam dengan anggun.
Tiffany Chen. Lengkap dengan kacamata tebal, baju kerja formal abu-abu kaku, dan aura sedingin es kutub.
"Duduk," perintah Tiffany datar, tanpa mengalihkan pandangan dari berkas di tangannya.
Tiffany meletakkan cangkir kopinya perlahan. Dia membetulkan posisi kacamatanya, lalu menatap Gavin dari atas sampai bawah dengan pandangan meremehkan yang khas.
Dia menggeser selembar dokumen tebal ke hadapan Gavin. "Aku membawamu ke sini untuk menawarkan pekerjaan baru yang sesungguhnya. Pekerjaan yang mungkin cocok untukmu."
Gavin mengernyitkan dahi. Matanya melirik halaman depan dokumen tersebut yang tertulis dalam dua bahasa: KONTRAK KERJA SAMA PERNIKAHAN EKSKLUSIF (EXCLUSIVE MARRIAGE CONTRACT).
"P-pernikahan kontrak?!" Gavin terbelalak, matanya bolak-balik menatap kertas dan wajah Tiffany di hadapannya.
Pada detik itulah, sebuah kilatan ingatan mendadak menyambar otak Gavin. Dia menatap lekat-lekat kacamata tebal, baju formal abu-abu kaku, dan rahang tegas wanita di depannya. Kesadaran Gavin langsung meledak seketika.
Tunggu dulu! batin Gavin, matanya melotot horor. Pantas saja wajah tante judes ini terasa familier sejak di koridor pabrik! Ternyata dia adalah wanita di artikel bisnis yang aku baca di ponsel waktu di kantin! Dia pewaris tunggal Chen Corp!
Seketika itu juga, otak foya-foya Gavin yang sudah karatan langsung berputar secepat kilat, menarik kesimpulan yang luar biasa sesat.
Astaga! Jadi benar! Tante kaya raya ini beneran kesepian dan frustrasi karena tidak laku-laku. Eh, tapi tidak mungkin juga, sih. Dia kan kaya raya, pasti banyak lelaki yang mau mendekat, setidaknya untuk mengincar harta kekayaannya. Atau... jangan-jangan tante ini memang tipe tante-tante yang suka berburu brondong?!
Gavin mengerutkan dahi sejenak sebelum akhirnya menyeringai lebar. Ah, sudahlah! Itu urusan dia. Yang terpenting sekarang adalah jalur cepat untuk kembali jadi anak sultan sudah terbuka lebar di depan mata, hehehe. Uang melimpah, makanan enak, selamat tinggal pabrik jahanam!
Meskipun dalam hati Gavin berteriak kegirangan karena melihat secercah harapan untuk kembali menjadi sultan, dia gengsi jika harus langsung setuju. Dia harus tetap mempertahankan harga dirinya sebagai mantan cowok metroseksual Jakarta.
Gavin mendengus, menyandarkan punggungnya ke kursi sambil melipat tangan dengan gaya sok jual mahal yang menyebalkan. "Wah, wah... jadi Tante naksir saya? Sori ya, Tante, walau saya miskin dan tidak punya pekerjaan sekarang, saya ini punya harga diri. Saya tidak mau menjual diri begitu saja pada tante-tante galak!"
Tiffany hampir saja memutar bola matanya mendengar tingkat kepedean pria di depannya. Dia tahu persis cara menjinakkan pria tipe seperti Gavin: umpan finansial.
"Aku tidak memintamu menjual diri. Ini murni transaksi bisnis," potong Tiffany taktis, nadanya tidak terbantahkan. "Tugasmu sederhana. Cukup berpura-pura menjadi suami dan pengusaha sukses asal Indonesia di depan ayahku."
Tiffany mengetuk jarinya di atas angka nominal kontrak. "Sebagai imbalannya, aku akan membayar seluruh biaya hidupmu, memberikan apartemen mewah di Taipei untuk tempat tinggal bersama kita agar tidak dicurigai, kartu kredit tanpa limit untuk keperluan penyamaran, dan bonus ratusan ribu Dollar Taiwan setelah kontrak ini selesai."
Mendengar kata "kartu kredit tanpa limit", pertahanan "jual mahal" Gavin langsung runtuh seketika dalam waktu satu detik. Matanya berbinar-binar cerah bagai lampu neon, dan bayangan makanan mewah langsung menari-nari di kepalanya.
"Ehem!" Gavin buru-buru berdehem, berusaha menahan senyum lebarnya agar tidak terlihat murahan. "Baiklah. Karena saya orangnya mudah kasihan melihat tante-tante kesepian yang terdesak masalah keluarga, saya bersedia membantu. Berikan pulpennya!"
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena terlalu bersemangat, Gavin langsung membubuhkan tanda tangannya di atas meterai kontrak tersebut, takut jika si tante kaya tiba-tiba berubah pikiran. Tiffany pun ikut menandatanganinya dengan coretan yang tegas.
Setelah dokumen itu sah, keduanya saling melempar senyum formal, namun di dalam hati masing-masing, rencana busuk meledak dengan motif yang sangat berbeda.
Pria bodoh yang penurut, batin Tiffany, tersenyum puas dan dingin. Dia menatap tanda tangan Gavin layaknya melihat sebuah barang belanjaan baru yang berhasil dikuasai. Dia tidak punya apa-apa di Taiwan ini. Dia hanyalah boneka yang cocok untuk membungkam mulut Ayah dari ancaman Lin Group. Kalau dia berani macam-macam atau melanggar satu poin saja di kontrak ini, aku bisa dengan mudah membuangnya kembali ke jalanan kapan saja.
Sementara di seberang meja, Gavin juga sedang tersenyum lebar dengan pikiran yang tidak kalah licik.
Hehehe, mampus kau, Tante Judes! batin Gavin bersorak kegirangan di dalam hati, matanya menatap kartu kredit hitam yang baru saja digeser Tiffany ke arahnya. Dia pikir dia bisa mengendalikan mantan sultan Jakarta? Rasakan pembalasan dendamku nanti! Mulai besok, akan kuhabiskan seluruh uang di kartu kredit tante gila kerja ini sampai limitnya jebol untuk foya-foya! Kita lihat siapa yang akan menangis duluan, hahahaha!
Dua orang dengan rencana terselubung masing-masing itu pun berjabat tangan erat, meresmikan awal dari pernikahan kontrak paling kacau, penuh komedi, dan siap memulai petualangan baru di bawah satu atap.
Dengan tangan yang sedikit gemetar karena bersemangat, Gavin langsung membubuhkan tanda tangannya di atas meterai kontrak tersebut, takut jika si tante kaya tiba-tiba berubah pikiran. Tiffany pun ikut menandatanganinya.
Coretan Author:
"Kalau ada yang kasih kartu kredit tanpa limit, kalian bakal tahan godaan atau langsung kalap? 👀"