Tepat di hari pernikahan Aaron.
Zianca dan Aaron akhirnya di pertemukan kembali setelah berpisah selama bertahun-tahun. Ternyata kini Zianca tengah menjalin hubungan dengan kakak laki-laki Aaron, Lucas pria dingin dan misterius itu kini sangat mencintai dan terobsesi dengan sosok Zianca. Namun di balik hubungan Zianca dan Lucas, ada rahasia besar di dalamnya.
Setelah kembali bertemu, Zianca dan Aaron perlahan memperbaiki hubungan pertemanan mereka. Namun, siapa sangka jika Aaron masih menaruh hati padanya. Lucas yang menyadari hubungan antara Aaron dan Zianca yang tampak tak biasa itu mulai terganggu, ia mulai bersikap semakin posesif dan over-reaction terhadap Zianca, bahkan ia sampai menyakiti Zianca tanpa ia sadari.
Perselisihan semakin memanas di antara ketiganya, hingga akhirnya Lucas sadar jika Zianca selama ini tidak mencintainya, melainkan ingin membalas dendam padanya atas kemaatian kakak perempuannya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yunita tri maryadi Ramadhan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 : M I K H A #1
Dengan berani Zianca melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung perkantoran itu. Ia di sambut oleh seorang security di pintu masuk.
"Ada yang bisa saya bantu Mbak?"
"Saya mau ketemu kakak saya.. Namanya Mikha Falencia.."
"Sebentar Mbak, biar saya lapor ke bagian informasi dulu ya.." jawab pria berusia 30-an itu. Ia tampak berjalan menuju meja informasi dekat sudut ruangan. Mereka tampak saling berbicara satu sama lain. Wanita berkerudung cokelat itu tampak menggunakan telepon dan tengah berbicara dengan seseorang.
Tak butuh waktu lama, security itu berjalan kembali menemui Zianca yang tampak gelisah.
"Maaf mbak.. disini tidak ada karyawan atas nama Mikha Falencia.." ujarnya dengan nada ramah.
Deg !!
Zianca tertegun sesaat. Pikirannya kosong, ia melamun dengan pikiran kosong.
"Ma..maaf pak.. Bisa tolong bapak cek lagi??"
"Maaf Mbak, staff bagian informasi juga sudah konfirmasi ke atas menanyakan karyawan atas nama Mikha, tapi mereka bilang memang tidak ada disini karyawan bernama Mikha Falencia.." jelasnya lagi.
"Ba.. Baiklah kalau begitu pak.. Terima kasih.." imbuh Zianca hilang akal. Pikirannya kacau balau. Ia tidak tau harus mengatakan atau bereaksi seperti apa.
Selama ini Mikha selalu membangga-banggakan perusahaannya itu. Ia juga selalu mengatakan jika ia sibuk bekerja. Zianca melangkah lesu keluar gedung. Tak lama ia merasa sebuah tangan mendarat di pundaknya, menepuk pundaknya perlahan.
"Permisi.." sapa wanita itu menghentikan langkah Zianca.
"..." Zianca menatap gadis itu dengan tatapan bingung, ia tidak mengenali gadis itu sama sekali.
"Lo adiknya Mikha?" tanyanya menebak.
"I.. Iya.. Kakak siapa??"
"Gue Rara temen SMA-nya.."
"..." Zianca mengangguk mengerti tanpa sadar apa yang ada di pikirannya.
"Lo orang kesekian kalinya nyariin Mikha kesini.. Dia nggak pernah kerja disini.. Apa jangan-jangan dia ngaku ke keluarganya kalau dia kerja disini??" tebaknya terkekeh.
Zianca tak berkutik, ia tak tau harus merespon seperti apa.
"Dia masih belum berubah juga ya.. Selalu buat onar.." tuding Rara dengan nada meledek.
"Beberapa hari yang lalu ada cewek yang nyariin dia kesini, dia ribut-ribut datang kemari nyari Mikha, katanya Mikha udah ngerebut tunangannya.." ujar Rara lagi.
"Minggu lalu juga temen kuliahnya ada yang kesini, katanya dia mau nagih utang karena Mikha udah ngelariin uang arisan temennya.."
"Ma..maaf kak.. Aku.. Pamit dulu ya.. tiba-tiba aku ngerasa pusing banget.." gumam Zianca lirih, wajahnya tampak pucat dan keringat dingin bercucuran.
"Oh.. Iya deh.. Kalau gitu lo hati-hati di jalan ya.. Oh iya kalau ketemu Mikha, kasih tau juga sama dia.. Mending hidup apa adanya aja, nggak usah sok-sokan sosialita deh.. Apalagi sampe ngaku-ngaku kerja disini.." celetuknya dengan nada sinis.
"i..iya kak.. Maaf ya.." Zianca merasa tengah tertimpa batu besar karena rasa malu akibat Mikha.
Seharusnya ia tidak datang kesana, tapi dia memang harus menemui Mikha, di sisi lain dia juga mendapat banyak fakta baru tentang kebohongan-kebohongan Mikha.
Dengan tangan bergetar, Zianca mencoba menghubungi ayahnya, beberapa kali di telepon ayahnya tak kunjung menjawab panggilan itu. Zianca yang merasa buntu, duduk lemas di halte bis. Pikirannya kacau balau, ia tak tau harus berbuat apa. Tapi satu hal yang pasti, ia harus segera bertemu Mikha bagaimana pun caranya.
Akhirnya Zianca memutuskan untuk memesan ojek online, ia mengatur alamat kos Mikha di aplikasi ojek online-nya. Tak butuh waktu lama, ojek pesanan Zianca segera tiba. Tanpa berpikir panjang mereka segera melaju di tengah jalan raya menuju pemukiman pinggir kota.
...----------------...
Dukung aku selalu 🥰😘
Kaka gak ada akhlak