NovelToon NovelToon
Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Nestapa Ibu Yang Kehilangan Anaknya

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Konflik etika / Tamat
Popularitas:917
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.

Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.

Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.

Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Gilang. "Beliau sering membandingkan saya dengan Harapan." Ia menarik napas panjang.."Suatu hari beliau melihat Harapan membantu seorang tetangga yang kesulitan membawa barang. Setelah itu beliau berkata kepada saya..." Suara Gilang bergetar. "Harapan itu anak baik sekali. Coba saja aku punya cucu seperti dia.".Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya. "Saya merasa... saya tidak pernah dianggap cukup. Selalu dibandingkan. Saya marah. Tapi saya tidak berani melawan kakek."

Hakim mendengarkan tanpa menyela.."Jadi kemarahanmu kemudian kamu arahkan kepada Harapan?"

Gilang mengangguk pelan. "Saya menyalahkan dia. Padahal... dia tidak melakukan apa-apa kepada saya." Air mata jatuh membasahi pipinya. "Saya hanya berpikir... kalau tidak ada Harapan, mungkin kakek tidak akan terus membandingkan saya."

Ruangan kembali sunyi. Mida yang mendengar penjelasan itu memejamkan mata. Dadanya kembali sesak. Harapan, putranya, ternyata menjadi sasaran kemarahan hanya karena seorang anak lain merasa iri setelah dibandingkan oleh keluarganya.

Fandi berdiri lalu berkata dengan tenang, "Yang Mulia, perbandingan yang dilakukan orang tua atau anggota keluarga memang dapat melukai perasaan seorang anak. Namun, apa pun latar belakang emosinya, kekerasan tidak dapat dibenarkan dan akibat dari perbuatan tetap harus dinilai berdasarkan hukum dan bukti yang ada."

Hakim mengangguk. "Benar. Pengadilan perlu memahami motif untuk memperoleh gambaran utuh mengenai perkara. Namun motif bukan berarti menghapus pertanggungjawaban atas perbuatan yang terbukti."

Gilang kembali menundukkan kepala. Untuk pertama kalinya sejak persidangan dimulai, ia mengucapkan kalimat yang nyaris tak terdengar. "Seandainya waktu itu saya tidak membiarkan rasa iri menguasai saya, Harapan mungkin masih hidup."

Tangis kembali memenuhi ruang sidang. Semua yang hadir menyadari bahwa satu kalimat yang diucapkan bertahun-tahun oleh seorang kakek, ketika disambut dengan rasa iri yang tidak dikelola dan kemudian diwujudkan dalam kekerasan, telah menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang berakhir dengan sebuah tragedi. Namun pada akhirnya, yang diadili di ruang sidang adalah tindakan yang dilakukan, beserta tanggung jawab atas akibat yang ditimbulkannya.

Seusai persidangan hari itu, cuplikan perkembangan perkara segera memenuhi media sosial. Nama Gilang menjadi perbincangan hangat. Kolom komentar dipenuhi berbagai reaksi. Banyak orang mengaku marah dan sedih setelah mengikuti jalannya persidangan.

Sebagian warganet menulis, "Hanya karena iri mendengar anak lain dipuji, nyawa seorang anak bisa melayang. Tragis."

Yang lain berkomentar, "Keluarga juga perlu melakukan introspeksi. Pendidikan karakter di rumah sangat penting agar anak belajar mengelola emosi dan tidak menyelesaikan masalah dengan kekerasan."

Ada pula yang menulis, "Kasus ini menjadi pelajaran bahwa rasa iri yang dibiarkan tumbuh bisa berujung pada tragedi."

Namun, tidak semua komentar disampaikan dengan bijaksana. Sebagian warganet melontarkan hujatan keras kepada Gilang dan keluarganya. Ada yang menyebutnya "monster", ada pula yang mengeluarkan kata-kata kasar karena emosi melihat akibat dari peristiwa tersebut.

Dewi yang membaca komentar-komentar itu menghela napas panjang. "Banyak sekali yang marah."

Fandi mengangguk pelan. "Itu bisa dimengerti. Peristiwa ini memang mengguncang banyak orang. Tapi kemarahan publik jangan sampai berubah menjadi fitnah."

Dewi menoleh. "Maksudmu?"

Fandi menjelaskan, "Kalau ada kritik terhadap perbuatan yang terjadi, itu satu hal. Tapi jangan sampai orang mulai menuduh hal-hal yang belum terbukti atau menyerang keluarga dengan tuduhan yang tidak didasarkan pada fakta."

Mida yang sejak tadi diam akhirnya berbicara. "Aku tidak ingin ada kebencian yang melahirkan kebencian baru." Semua menoleh kepadanya. "Aku ingin keadilan untuk Harapan. Bukan agar semakin banyak orang saling membenci."

Fandi tersenyum tipis. "Itulah sebabnya kita mempercayakan perkara ini kepada proses hukum."

Di luar sana, perdebatan di media sosial masih terus berlangsung. Dukungan kepada Mida tetap mengalir, tetapi Fandi berkali-kali mengingatkan masyarakat melalui wawancara singkat agar mengawal perkara ini dengan kepala dingin, menghormati proses hukum, dan tidak menyebarkan tuduhan yang belum terbukti.

Bagi Mida, satu hal yang paling penting bukanlah derasnya hujatan di dunia maya, melainkan agar kebenaran tentang apa yang terjadi kepada Harapan dapat terungkap secara utuh dan dipertanggungjawabkan melalui jalur hukum.

Sore itu, Mida diminta datang ke rumah keluarga mantan suaminya. Dewi dan Fandi ikut mengantar, tetapi mereka menunggu di luar agar Mida dapat berbicara langsung dengan keluarga tersebut.

Begitu Mida memasuki ruang tamu, suasana terasa tegang. Beberapa anggota keluarga sudah duduk menunggunya. Di sudut ruangan, Joni, mantan suaminya dan ayah biologis Harapan menundukkan kepala. Ia tampak sangat suntuk. Beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Akhirnya salah seorang anggota keluarga membuka percakapan. "Mida... kami berharap persoalan ini bisa diselesaikan dengan damai."

Mida memandang mereka satu per satu. "Damai?"

"Iya. Jangan diperpanjang lagi. Semua orang sudah menderita."

Mida tidak langsung menjawab.

Joni akhirnya berdiri. "Mida..." Suaranya terdengar pelan. "Aku ingin bicara."

Mida menatapnya tanpa ekspresi.

Joni menarik napas panjang. "Kau ingin Harapan kembali, kan?"

Kalimat itu membuat dada Mida terasa sesak.

"Aku tahu aku tidak bisa mengembalikannya. Tapi..." Joni melangkah mendekat. "Aku bisa memberimu Harapan yang baru."

Mida mengernyitkan dahi. "Apa maksudmu?"

"Aku bisa menikahimu lagi. Aku akan memberimu seorang anak laki-laki lagi. Kalau kau mau, bahkan sebanyak yang kau inginkan." Joni menatap Mida dengan penuh harap. "Tapi... sudahi semua ini."

Ruangan mendadak sunyi. Mida memandang Joni beberapa saat. Ia tersenyum getir. Rasanya mau gila. Namun bukan karena luluh. Melainkan karena hatinya terasa begitu terluka. "Jahat sekali ucapanmu." Suara Mida bergetar. "Kau benar-benar tidak mengerti apa yang hilang dariku."

Joni mencoba berbicara. "Mida, aku hanya,"

"Cukup!" Suara Mida meninggi untuk pertama kalinya. "Kau memang tidak pantas menjadi seorang ayah." Semua orang terdiam. Mida melangkah mendekati Joni. "Dulu... sejak Harapan masih berada di dalam kandunganku kau tidak pernah benar-benar hadir." Air matanya semakin deras. "Setelah dia lahir...kau bahkan tidak pernah mengazankannya."

Joni menundukkan kepala.

"Selama Harapan tumbuh kau tidak pernah benar-benar menjadi ayah baginya. Aku bahkan hampir tidak punya kenangan melihatmu hadir dalam hidup anakmu sendiri." Suara Mida mulai dipenuhi isak. "Kau tidak membesarkannya. Kau tidak menemaninya. Kau tidak mengobati saat dia sakit. Kau tidak menghiburnya saat dia sedih. Kau tidak mengajarinya mengaji. Kau tidak mengantarnya ke sekolah. Kau tidak pernah menjadi tempatnya bersandar." Mida mengepalkan kedua tangannya. "Sekarang setelah Harapan sudah tidak ada, kau tiba-tiba bicara seperti itu. Astaghfirullah, kalau tak punya iman, sudah ku caci maki kau!"

Joni tidak mampu menjawab.

Mida menatapnya dengan mata yang dipenuhi air mata. "Kau bilang ingin memberiku anak lagi? Berapa pun jumlah anak yang kau sebutkan...tidak akan pernah bisa menggantikan Harapan. Karena Harapan bukan benda yang bisa diganti. Dia anakku. Dia punya wajahnya sendiri. Punya suaranya sendiri. Punya senyumnya sendiri. Punya mimpi-mimpinya sendiri. Dan sekarang semuanya telah direnggut." Tangis Mida pecah. "Tidak ada satu anak pun di dunia ini yang bisa menggantikan anak yang telah kehilangan nyawanya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!