NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Terjebak Cinta Sang Arjuna Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:308
Nilai: 5
Nama Author: chocomint09

Di kehidupan yang hanya sekali ini, tentu menikahi orang yang dicintai dan mencintai diri kita juga adalah impian semua orang. Laila pun begitu, gadis manja dan ceria itu selalu menyematkan do'a terbaik untuk kehidupan cintanya. Namun, wasiat Ibunya dan permintaan Ayah yang tak bisa ia tolak memaksa Laila untuk menikah dengan laki-laki yang bahkan jauh dari tipenya.

Siapakah sosok lelaki yang dijodohkan dengan Laila?

Apakah bisa Laila melewati perjodohan dan menjalani kehidupan pernikahan tanpa cinta?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Pernikahan

Hari yang paling dihindari Laila akhirnya tiba dengan segala kemegahan yang tak bisa ia bendung. Gedung pertemuan milik pangkalan udara TNI AU hari itu disulap menjadi ruang resepsi yang luar biasa mewah. Sesuai dengan impian sang Ayah. Dekorasi pernikahan didominasi oleh warna merah gelap dan sentuhan emas yang elegan.

Ribuan undangan dari kalangan militer, pejabat, hingga kolega bisnis memenuhi aula. Karpet merah membentang dari pintu masuk hingga ke pelataran pelaminan yang dihiasi ribuan bunga mawar putih segar yang aromanya semerbak memenuhi ruangan.

Di ruang rias pengantin, Laila menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia mengenakan kebaya putih dengan payet-payet berkilauan yang melekat indah di tubuh rampingnya, dipadukan dengan sanggul modern yang anggun. Wajahnya dirias dengan sangat cantik, membuat siapa pun yang melihat pasti akan terkesima. Namun, bagi Laila, riasan tebal itu tak lebih dari topeng untuk menyembunyikan badai kesedihan di dalam matanya.

"Ya ampun, La. Lo cantik banget hari ini. Sumpah, kayak putri kerajaan!" ujar Tasya, yang mengenakan gaun bridesmaid berbahan satin pink pastel, berseru heboh sambil merapikan rumbai kebaya Laila.

"Iya, La. Tapi kok pengantinnya lemes banget sih? Senyum dong, Lo pasti bisa ngelewatin hari ini," sahut Keira, sambil memegang pundak Laila dengan lembut, mencoba menyalurkan kekuatan.

Sebagai sahabat terdekat, Tasya dan Keira tahu betul bagaimana rumitnya hati Laila yang terpaksa menerima perjodohan ini demi sang Ayah.

Laila hanya menghela napas panjang, memaksakan senyum tipis yang terasa sangat getir. "Gue cuma gugup, guys. Makasih ya udah nemenin."

Tiba-tiba, pintu ruang rias diketuk. Petugas wedding organizer masuk untuk memberikan aba-aba bahwa acara akad nikah akan segera dimulai. Detak jantung Laila seketika berpacu liar.

"Ini dia. Titik di mana hidupku tidak akan pernah sama lagi," batinnya berteriak panik.

Meja akad nikah berbahan kayu jati yang dilapisi kain putih bersih telah disiapkan di bagian depan aula. Di sana, Ayah Laila duduk dengan wajah yang berseri-seri namun juga tampak haru. Di sampingnya, duduk sang penghulu dan para saksi dari pihak militer yang mengenakan seragam dinas upacara lengkap.

Di seberang Ayah duduk Arjuna. Pria itu tampak begitu gagah dan berwibawa dalam balutan jas akad putih bersih berkerah tegak, lengkap dengan peci di kepalanya. Tidak ada gurat ketengilan yang biasa ia tunjukkan di wajahnya saat ini. Ekspresi Arjuna tampak sangat serius, khusyuk, dan penuh tanggung jawab. Matanya sesekali melirik ke arah pintu utama, menunggu kedatangan calon istrinya.

Ketika pintu utama terbuka, Laila melangkah keluar didampingi oleh Tasya dan Keira, yang diiringi alunan piano yang indah. Laila mengenakan kebaya putih panjang yang sangat anggun dengan ekor yang menyapu lantai. Riasan wajahnya sangat cantik, namun matanya yang sayu tidak bisa menyembunyikan badai kesedihan di dalam hatinya. Langkah kakinya terasa sangat berat, seolah-olah setiap langkah mendekati meja akad adalah langkah menuju ujung tebing.

"Tenang La, tarik napas pelan-pelan," bisik Keira yang menggenggam jemari Laila yang terasa sangat dingin.

"Semua akan baik-baik aja La, ada kita di sini," tambah Tasya, mencoba memberikan senyuman terbaiknya meski ia tahu hati sahabatnya sedang terluka.

Laila duduk di samping Arjuna. Ia bahkan tidak berani menoleh untuk menatap pria itu. Sebaliknya, Arjuna sempat menoleh sekilas, memberikan tatapan hangat yang seolah ingin menenangkan kegugupan Laila, sebelum ia kembali fokus menghadap Ayah Laila dan penghulu.

Di barisan kursi tamu bagian belakang, agak tersembunyi di balik pilar besar aula, berdiri seorang pria dengan kemeja batik gelap. Devan.

Ia berdiri mematung dengan kedua tangan yang mengepal erat di dalam saku celananya. Matanya tidak pernah lepas dari sosok Laila yang kini duduk bersandingan dengan pria lain di depan meja akad. Dada Devan terasa sangat sesak, seolah-olah seluruh pasokan udara di aula itu mendadak hilang.

Melihat Laila yang biasanya manja dan tertawa lepas bersamanya kini harus bersanding dengan Arjuna di depan penghulu adalah siksaan batin terdahsyat yang pernah ia rasakan. Setiap detik yang berjalan terasa seperti belati yang menyayat hatinya perlahan-lahan.

"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Arjuna Aksa Wardhana bin..." Suara Ayah yang terdengar bergetar namun mantap mulai menggema melalui pengeras suara gedung.

Devan memejamkan matanya rapat-rapat. Ia menarik napas dalam-dalam, menahan air mata yang mendesak ingin keluar. Di dalam kegelapan matanya yang terpejam, ia mengingat kembali janji Laila di warkop beberapa malam lalu.

"Pernikahan ini cuma status di atas kertas... aku cuma akan bertahan selama satu tahun, sayang." Kata-kata itu adalah satu-satunya jangkar yang menahan Devan agar tidak berlari ke depan dan mengacaukan segalanya. Namun tetap saja, kenyataan hari ini terlalu kejam untuk ia saksikan.

"Saya terima nikah dan kawinnya Laila Agni Dania binti Dirga Pramana Wicaksono dengan mas kawin..."

Suara bariton Arjuna terdengar begitu lantang, tegas, dan tanpa keraguan sedikit pun dalam satu tarikan napas.

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"SAH!"

Suara sahutan para saksi bergaung di seluruh aula, disusul oleh doa yang dipimpin oleh penghulu. Saat semua orang menadahkan tangan untuk berdoa dengan khusyuk, Devan perlahan membuka matanya. Air matanya akhirnya menetes juga. Ia melihat Laila yang kini sedang mencium punggung tangan Arjuna dengan sisa-sisa ketegarannya.

Laila sempat mengedarkan pandangannya ke barisan belakang. Ketika mata mereka tidak sengaja beradu di antara kerumunan, Laila tampak menggigit bibir bawahnya, matanya berkaca-kaca memancarkan rasa bersalah yang amat sangat pada Devan.

Devan tersenyum sangat tipis, senyuman paling getir yang pernah ia buat, lalu memberikan anggukan kecil sebagai tanda bahwa ia akan tetap menunggu, sebelum akhirnya ia membalikkan badan dan berjalan perlahan meninggalkan area akad nikah dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Setelah prosesi akad nikah yang khusyuk dan penuh air mata haru dari pihak keluarga selesai, acara berpindah ke resepsi pernikahan yang megah dan dinamis. Musik mars TNI AU yang gagah mulai menggelegar, menandakan dimulainya prosesi Pedang Pora.

Pintu aula utama dibuka lebar. Laila dan Arjuna, yang kini sudah berganti pakaian menggunakan busana resepsi. Laila memakai gaun berwarna putih gading dengan potongan sabrina shoulders yang membuat cerah kulitnya yang putih, penampilan Laila semakin anggun dengan detail payet yang menambah kesan mewah pada gaun itu. Sedangkan Arjuna mengenakan setelan jas pernikahan resmi TNI AU, Pakaian Dinas Upacara (PDU) berwarna biru tua yang sangat pas memeluk tubuh tegap dan pundaknya yang lebar.

Mereka berdua bersiap untuk melangkah membelah barisan para perwira muda TNI AU yang berdiri tegap di sisi kiri dan kanan karpet merah.

"Hunus PEDANG!"

Suara lantang komandan regu terdengar, disusul oleh dentingan logam yang nyaring saat sepuluh pedang pora dihunus ke atas secara serentak, membentuk gapura perak yang berkilau di atas kepala kedua pengantin.

Di barisan belakang pengantin, Tasya dan Keira yang bertugas mengekor sebagai bridesmaid mengenakan gaun satin pink pastel yang anggun mulai kehilangan fokus. Alih-alih hanya memperhatikan jalan, mata mereka berdua sibuk melirik ke kiri dan ke kanan, menatap para perwira muda pemegang pedang yang berdiri tegap tanpa ekspresi.

"Kei, Kei... lirik jam dua belas kamu. Itu yang megang pedang nomor tiga dari depan, rahangnya tegas banget, mirip aktor drakor versi lokal," bisik Tasya dengan bibir yang hampir tidak bergerak, tetap berusaha tersenyum manis di depan kamera dokumentasi.

Keira menyenggol lengan Tasya pelan dengan sikunya. "Ssst! Jaga imej, Sya! Kita lagi di pernikahan Laila nih. Tapi emang sih, seragam mereka bikin kharisma mereka naik seribu persen. Gila, rapi-rapi banget!"

"Kan! Nanti pas resepsi kita harus cari tahu taktik dapet nomor telepon mereka, oke?" balas Tasya bersemangat, yang hanya dibalas anggukan setuju dan cengiran tertahan dari Keira.

Di atas pelaminan, Laila berdiri di samping Arjuna, menyalami ratusan tamu dengan senyum profesional yang melelahkan. Kakinya yang mengenakan sepatu hak tinggi mulai terasa pegal dan mati rasa.

Melihat Laila yang sesekali menggeser tumpuan kakinya dan menghela napas lelah, Arjuna yang sedang menyalami tamu tiba-tiba berbisik santai tanpa melepas senyum ramahnya kepada tamu undangan.

"Pegel ya, Istriku? Makanya, latihan fisiknya kurang. Baru berdiri dua jam aja udah mau copot kakinya. Gimana nanti kalau saya ajak lari pagi keliling pangkalan?" bisik Arjuna dengan nada tengil andalannya.

Laila mendelik ketus ke arah Arjuna, mengabaikan fakta bahwa ada fotografer yang sedang membidik mereka. "Bisa diam nggak? Kaki gue rasanya mau patah, dan lo malah bahas lari pagi. Gak ada empatinya banget jadi orang."

Arjuna justru terkekeh pelan. Tanpa diduga, ia sedikit bergeser mendekat, membiarkan bahu tegapnya menjadi sandaran bagi bahu Laila yang mulai lemas. "Ya sudah, sandaran ke sini dikit. Gratis kok, gak dipungut biaya sewa bahu kok."

"Gak usah modus lo ya," cetus Laila. Ia segera menegakkan tubuhnya kembali, menjaga jarak aman demi hatinya dan demi Devan yang ia tahu sudah pergi dari ruangan ini dengan luka di hatinya.

"Siap, tidak modus! Hanya memberikan pelayanan prima kepada Istri Mas," sahut Arjuna cepat dengan sikap hormat yang kocak, membuat Ayah Laila yang berdiri di samping mereka sempat menoleh dan tertawa melihat interaksi jenaka menantu dan anaknya tersebut.

Sementara itu, Tasya dan Keira akhirnya berhasil naik ke pelaminan untuk memberikan ucapan selamat sekaligus berfoto bersama pengantin.

"Selamat ya, Laila sayang. Kalo si Arjuna ini berani macem-macem sama lo, hubungi kita aja," bisik Tasya sambil memeluk Laila erat-erat.

"Selamat ya, La. Keep strong love," sambung Keira yang ikut memeluk Laila dengan mata yang sedikit berkaca-kaca karena haru sekaligus sedih mengetahui beban yang dipikul Laila.

Setelah berpelukan, Tasya dengan tidak tahu malunya langsung menoleh ke arah Arjuna dengan senyum lebar.

"Izin, Kapten Arjuna. Temen-temen lo yang tadi bawa pedang di bawah itu, semuanya masih jomblo atau gimana ya? Siapa tahu ada yang butuh pendamping," ujar Tasya dengan sedikit memelankan suaranya.

Arjuna langsung tertawa lepas mendengar pertanyaan blak-blakan dari sahabat Laila tersebut. Ia melirik beberapa perwiranya yang sedang berjaga di dekat tangga pelaminan.

"Oh, aman. Nanti saya pilihkan satu kompi yang paling disiplin dan jago nulis puisi cinta buat kalian berdua," jawab Arjuna tengil, yang langsung disambut pekikan girang tertahan dari Tasya dan cubitan malu dari Keira ke lengan Tasya.

Laila hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku para sahabatnya yang absurd. Pernikahan ini telah resmi digelar dengan segala kemegahannya. Dan kini, Laila harus bersiap menghadapi babak baru kehidupannya bersama Arjuna, pria tengil yang memiliki cinta tak main-main untuknya, yang siap menguji seluruh pertahanan hati Laila selama satu tahun ke depan.

...Bersambung......

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!