Suara riuh rendah khas jam kosong di kelas 10-MIPA 3 selalu didominasi oleh dua hal: gosip hangat di pojok belakang, atau teriakan frustrasi dari gerombolan siswa di baris tengah. Bagi Naomy, suara yang kedua jauh lebih mengganggu sekaligus memicu rasa penasarannya belakangan ini.
"Kiri, kiri! Woy, lindungi gue! Ah, telat lo, mati kan gue!"
"Sabar, cooldown skill gue masih jalan! Mundur dulu, mundur!"
Naomy menghentikan goresan pulpennya di atas buku catatan Biologi. Ia menoleh ke arah meja milik Tasya dan sisa gengnya. Tiga gadis yang biasanya sibuk membahas drama Korea atau warna lipstik terbaru itu kini tengah menunduk dalam-dalam, menatap layar ponsel masing-masing dengan posisi lanskap. Ibu jari mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, sementara wajah mereka tampak sangat tegang, seolah-olah masa depan bangsa sedang dipertaruhkan di dalam layar berukuran enam inci tersebut.
Rasa asing itu mulai merayap di dada Naomy. Fear of Missing Out. FOMO. Istilah yang
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan Sebuah Pelukan
Perjalanan dari apartemen menuju kediaman utama keluarga Andandra terasa begitu singkat bagi Naomy. Mobil yang dikendarai Raka melaju mulus menembus pekatnya malam Jakarta, hingga akhirnya berhenti di depan pagar besi menjulang tinggi di kawasan perumahan elit Menteng.
Saat pagar otomatis terbuka memperlihatkan halaman luas dengan pilar-pilar megah bergaya klasik, jantung Naomy berdegup kencang. Ia meremas jemarinya sendiri di atas pangkuan gaun navy blue-nya.
Raka mematikan mesin mobil. Ia menyadari kegugupan yang melingkupi wanita di sampingnya itu. Dengan lembut, Raka meraih kedua belah tangan Naomy yang terasa sedingin es.
"Naomy... lihat aku," bisik Raka hangat.
Naomy menoleh, menatap mata Raka yang memancarkan ketenangan absolut.
"Kamu tidak perlu takut," ujar Raka seraya mengusap punggung tangan Naomy dengan ibu jarinya. "Aku yang membawamu ke sini, dan aku yang akan selalu berdiri di sampingmu. Papa dan Mama sudah tahu semuanya. Hari ini, kamu datang bukan untuk dinilai, tapi untuk disambut."
Naomy menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan, mencoba menetralisir rasa cemas yang berkecamuk di dadanya. Senyum tulus Raka sedikit banyak berhasil menyalurkan keberanian ke dalam hatinya.
"Makasih ya, Raka. Aku cuma... takut tidak bisa memenuhi ekspektasi orang tuamu," aku Naomy jujur.
"Ekspektasiku adalah bahagiamu, dan itu sudah lebih dari cukup buat mereka," balas Raka mantap. Ia mengecup kening Naomy singkat sebelum keluar dan membukakan pintu mobil untuknya.
Langkah kaki mereka bergema pelan di atas lantai marmer ruang tamu yang megah. Aroma bunga sedap malam menyambut kedatangan mereka. Dari arah ruang keluarga, sosok pria paruh baya berpenampilan karismatik dan seorang wanita anggun berbalut kebaya modern melangkah mendekat.
Subroto Andandra dan istrinya berhenti beberapa langkah di hadapan Raka dan Naomy.
Suasana mendadak hening untuk beberapa detik. Naomy menundukkan kepalanya sedikit sebagai tanda hormat, membiarkan Raka yang mengambil alih suasana.
"Papa, Mama," puji Raka dengan suara tenang dan penuh kebanggaan. "Ini Naomy. Wanita yang selama ini Raka ceritakan... dan wanita yang ingin Raka jadikan pendamping hidup Raka selamanya."
Naomy mendongak perlahan, memberanikan diri menatap langsung kedua orang tua Raka dengan senyuman paling sopan yang ia miliki.
"Selamat malam, Om, Tante..." sapa Naomy lembut.
Mendengar sapaan santun dari Naomy, Mama Raka melangkah mendekat. Matanya memperhatikan Naomy dari ujung kepala hingga ujung kaki. Gaun navy blue yang melekat anggun di tubuh Naomy, dipadu dengan riasan tipis dan senyum lembutnya, memancarkan aura kecantikan yang sangat alami dan bersahaja.
Raut wajah tegang Mama Raka perlahan mencair, berganti dengan binar kekaguman yang tak bisa disembunyikan.
"Cantik sekali kamu, Naomy..." puji Mama Raka tulus. Wanita anggun itu meraih kedua tangan Naomy dan memegangnya dengan hangat.
Ia lalu menoleh ke arah Raka dengan tatapan sedikit gemas. "Tahu begitu, kenapa tidak perkenalkan dia lebih dulu kemarin?" tanya Mama Raka melirik putranya. "Kalau tahu kamu punya calon seanggun ini, Mama tidak perlu repot-repot menjodohkan kamu dengan Valerie!"
Sontak, ketegangan yang sempat memenuhi ruangan itu pecah oleh tawa kecil. Raka terkekeh pelan sambil merangkul bahu papanya, sementara Subroto hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sang istri yang langsung kepikat.
"Kan Raka sudah bilang, Ma. Pilihan Raka tidak pernah salah," sahut Raka penuh kebanggaan, menatap Naomy yang kini pipinya sudah merona merah akibat pujian itu.
"Sudah, sudah. Jangan digoda terus, kasihan Naomy jadi malu," sela Subroto dengan suara berat namun ramah. Pria paruh baya itu tersenyum hangat ke arah Naomy. "Ayo masuk, kita ngobrol santai di dalam. Makanan malam sudah disiapkan."
Mama Raka tak melepaskan genggaman tangannya dari Naomy. Ia justru merangkul lengan Naomy dan membimbingnya masuk ke dalam ruang makan, meninggalkan Raka dan Papanya yang berjalan di belakang.
Rasa cemas yang tadi sempat melingkupi hati Naomy seketika sirna. Sambutan hangat dan tulus dari keluarga Raka membuat rumah megah ini tak lagi terasa asing baginya.