Dunia berubah dalam semalam. Langit di atas tanah perbatasan Amerika berubah warna, bumi terbelah, dan makhluk-makhluk yang dulunya manusia atau ternak kini bangkit sebagai monster haus darah. Di tengah kekacauan itu, Elena Cross — janda pemilik Rocking Spur Ranch yang tengah hamil delapan bulan — berjuang sendirian mempertahankan tanahnya dari serangan pertama gerombolan ternak yang bermutasi.
Di saat paling genting, sebuah kekuatan misterius bangkit dalam dirinya: **Gudang Tanpa Batas**, sebuah sistem ajaib yang bisa memunculkan senjata, makanan, obat-obatan, dan perbekalan apa pun dari udara kosong — aktif hanya karena satu syarat: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Bisikan dari Bawah Tanah
Satu minggu telah berlalu sejak pertemuan dengan Grimes di Gurun Es. Dunia terasa sedikit lebih ringan, seolah beban yang tak terlihat telah terangkat sebagian. Laporan dari sektor timur menunjukkan bahwa aktivitas fragmen api liar telah menurun drastis, digantikan oleh hembusan angin hangat yang membantu pertumbuhan tanaman di wilayah yang sebelumnya tandus. Grimes, meski belum sepenuhnya pulih, telah menjadi penjaga baru di sana—sebuah fakta yang membuat Dr. Voss gelisah namun Elena yakin itu adalah langkah yang tepat.
Di dalam fasilitas Prometheus Prime, rutinitas baru telah terbentuk. Grace menghabiskan harinya belajar bersama Sarah dan Dr. Voss, mempelajari sejarah dunia lama dan ilmu dasar tentang energi kristal. Whitlock melatih kelompok kecil pengungsi yang memilih untuk tinggal di fasilitas sebagai pasukan keamanan internal. Mereka bukan tentara, tapi warga sipil yang bersumpah melindungi "Jantung Dunia".
Elena sendiri menghabiskan sebagian besar waktunya dalam keadaan meditasi mendalam, menyelaraskan aliran energi global. Namun, hari itu, sesuatu yang aneh terjadi.
Saat ia sedang memonitor aliran air tanah di bawah benua Afrika, ia merasakan getaran. Bukan getaran fisik gempa bumi, tapi getaran informasi. Sebuah pola berulang, tersembunyi di lapisan kerak bumi yang paling dalam, jauh di bawah fasilitas mereka berdiri.
Pola itu seperti kode Morse, namun jauh lebih kompleks. Ia bukan bahasa manusia. Ia adalah bahasa mesin tua. Bahasa dari era sebelum kiamat.
... -.-. .- ..- - .. --- -
C-A-U-T-I-O-N. (Peringatan).
Elena membuka matanya, jantungnya berdebar kencang. Ia belum pernah merasakan sinyal seperti ini sebelumnya. Sistem Gudang miliknya diam saja, tidak memberikan respons atau peringatan apa pun. Ini berasal dari sumber lain. Sumber yang lebih tua daripada Prometheus.
"Dr. Voss," panggil Elena, suaranya tegas memecah keheningan ruang kontrol.
Voss menoleh dari konsolnya, kacamata tebalnya melorot sedikit. "Ada masalah, Elena?"
"Aku merasakan sesuatu," kata Elena, menunjuk ke lantai logam di bawah kakinya. "Di kedalaman tiga kilometer tepat di bawah kita. Ada struktur buatan manusia. Dan itu... itu aktif."
Voss mengerutkan kening, mengetik perintah cepat di keyboardnya. "Struktur buatan? Peta geologi kami tidak menunjukkan adanya bunker atau terowongan di area ini. Hanya batuan granit padat."
"Bukan di peta biasa," kata Elena. "Ini tersembunyi. Dilindungi oleh lapisan铅 (timbal) dan medan pengganggu sinyal. Tapi sekarang... medannya bocor. Sesuatu di dalamnya baru saja bangun."
Whitlock, yang sedang memeriksa senjata di sudut ruangan, segera mendekat. "Bangun? Maksudmu ada orang di sana? Atau mesin?"
"Aku tidak tahu," jawab Elena jujur. "Tapi pesannya jelas: Peringatan. Dan ada koordinat yang menyertainya."
Ia memproyeksikan koordinat tersebut ke layar utama Voss. Titik merah berkedip tepat di bawah fondasi fasilitas mereka.
"Ini berbahaya," kata Voss, wajahnya pucat. "Jika ada teknologi pra-kiamat yang masih aktif di bawah sini, itu bisa jadi sisa dari Proyek Prometheus versi awal. Atau lebih buruk lagi... senjata yang ditinggalkan oleh pencipta asli."
Grace, yang sedang duduk di karpet membaca buku, menatap ibunya dengan cemas. "Apakah itu akan membahayakan Ibu?"
Elena tersenyum menenangkan pada putrinya, meski dalam hatinya ia merasa waspada. "Mungkin, Sayang. Tapi kita harus tahu apa itu. Ketidaktahuan lebih berbahaya daripada pengetahuan."
Ia berbalik ke Whitlock. "Marshal, siapkan tim kecil. Kita akan melakukan ekspedisi pengeboran vertikal. Kita perlu turun ke sana."
Whitlock mengangguk serius. "Berapa banyak orang?"
"Hanya kita bertiga," kata Elena. "Aku, kau, dan Dr. Voss. Semakin sedikit orang, semakin kecil risiko jika itu adalah perangkap. Selain itu, aku butuh keahlian teknis Voss dan kemampuan tempurmu. Grace tetap di sini dengan Sarah."
"Tidak adil," protes Grace pelan, tapi ia tahu argumen ibunya masuk akal.
"Saya akan menjaga dia dengan nyawa saya, Nona Cross," janji Sarah, meletakkan tangan di bahu Grace.
Dua jam kemudian, mereka berada di ruang bawah tanah fasilitas, di depan pintu besi raksasa yang mengarah ke sumur bor eksplorasi lama. Pintu itu telah disegel selama bertahun-tahun, dianggap tidak berguna karena tidak menemukan sumber daya apa pun.
Voss menggunakan panel kontrol darurat untuk membuka segel hidrolik. Dengan deritan logam yang menyakitkan telinga, pintu itu terbuka, mengungkapkan tangga spiral besi yang menurun ke dalam kegelapan abadi.
Udara yang keluar dari dalam sumur itu dingin, berbau ozon dan debu kuno. Tidak ada bau busuk atau kehidupan. Hanya kehampaan steril.
"Siapkan senter," perintah Whitlock, menyalakan lampu taktis di senapannya.
Mereka mulai turun. Langkah kaki mereka bergema di dinding beton yang sempit. Semakin dalam mereka pergi, semakin kuat perasaan Elena bahwa sesuatu sedang mengamati mereka. Bukan dengan mata, tapi dengan sensor.
Setelah menempuh seratus meter ke bawah, mereka mencapai sebuah platform logam besar. Di depannya, terdapat pintu bulat berat dengan simbol yang tidak dikenal: sebuah lingkaran dengan tiga segitiga saling mengunci di dalamnya.
Bukan simbol Prometheus. Bukan simbol pemerintah mana pun yang Elena kenal.
"Ini..." gumam Voss, menyentuh simbol itu dengan jari gemetar. "Ini adalah logo Aegis Corp. Perusahaan swasta yang mendanai penelitian awal sebelum diambil alih oleh pemerintah. Mereka dinyatakan bangkrut dan dibubarkan sepuluh tahun sebelum kiamat."
"Aegis," ulang Elena. "Pelindung."
Tiba-tiba, pintu itu berdenyut dengan cahaya biru redup. Suara mekanis terdengar dari speaker tersembunyi di dinding.
"Identifikasi Biometrik Diperlukan. Silakan tempatkan telapak tangan pada panel."
Elena menatap Voss dan Whitlock. "Ini menjebak. Bagaimana mereka bisa meminta identifikasi biometrik setelah sepuluh tahun?"
"Mungkin sistem cadangan tenaga nuklir," teoritis Voss. "Atau... mungkin mereka menunggu seseorang dengan DNA tertentu."
Elena ragu sejenak. Tapi rasa penasaran dan kewajibannya sebagai Penjaga mendorongnya maju. Ia mengangkat tangannya, dan meletakkannya pada panel kaca yang dingin.
Lampu biru menyapu telapak tangannya.
"DNA Terdeteksi. Cocok dengan Profil Genetik: Subjek Alpha-01. Akses Diberikan."
Pintu itu terbuka dengan desisan halus.
Whitlock segera mengangkat senapannya, siap menembak siapa pun yang ada di dalam. Tapi ruangan di balik pintu itu kosong.
Hanya ada satu kursi di tengah ruangan, menghadap ke dinding layar hitam besar. Dan di atas kursi itu, terdapat sebuah tablet kuno yang masih menyala.
Elena melangkah masuk, diikuti oleh dua rekannya. Ia mendekati tablet itu. Layarnya menampilkan wajah seorang pria paruh baya dengan rambut perak dan mata tajam yang dingin. Pria itu tersenyum tipis, seolah-olah ia tahu Elena akan datang hari ini, sepuluh tahun setelah kematiannya.
"Selamat datang, Elena Cross," kata rekaman itu. Suaranya jernih dan menakutkan. "Jika kau menonton ini, berarti Proyek Prometheus telah berhasil. Dan berarti kau telah menjadi apa yang kami rancang untukmu sejak lahir."
Elena membeku. Darahnya terasa dingin.
Apa maksudnya?
"PROMETHEUS bukanlah kecelakaan," lanjut pria itu. "Itu adalah evolusi yang dipaksakan. Dan kau, Elena... kau bukan sekadar 'Penjaga' yang dipilih secara acak. Kau adalah kunci. Dan sekarang, saatnya kau memenuhi tujuan sejatimu."
Layar mati.
Keheningan di ruangan itu tiba-tiba terasa mencekam, lebih dingin daripada es di kutub utara.
Whitlock menatap Elena. "Elena? Apa artinya itu? 'Sejak lahir'?"
Elena menatap tangannya sendiri, lalu ke kotak cahaya Gudang yang samar di sudut pandangannya. Untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa sistem itu bukan hadiah.
Itu adalah rantai.
Dan seseorang di masa lalu telah merancangnya khusus untuknya.
ajaib kenapa tidak rahsia kan saja
gila !!