Demi cinta, Kataleya rela meninggalkan kokpit dan menyerahkan mimpinya menjadi Kapten Pilot pada suaminya, Arkana. Ia memilih menjadi istri dan ibu, mengorbankan karier yang dulu hampir berada di puncak.
Enam tahun kemudian, pengorbanan itu justru dibalas dengan pengkhianatan. Arkana berselingkuh, menghina penampilan Kataleya, dan menyebutnya wanita yang sudah tak pantas berdiri di sisinya.
Akan tetapi Arkana lupa satu hal, langit itu dulunya milik Leya. Saat wanita itu menuntut cerai dan kembali mengenakan seragam pilotnya, seluruh dunia penerbangan mulai menyadari siapa dia sebenarnya.
Di akademi pilot, ia bertemu Kaisar... pria misterius yang selalu berada di sisinya. Arkana baru sadar terlalu terlambat, wanita yang dulu ia rendahkan kini kembali terbang lebih tinggi darinya. Leya menjadi Kapten Pilot, yang tak akan pernah bisa ia miliki lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 34.
Tiga Bulan Kemudian...
Sore itu, Arkana berdiri di depan rumah orang tua Leya. Rumah itu terasa lebih sunyi dibanding beberapa bulan lalu saat pesta pernikahan berlangsung. Tidak ada tawa keluarga, tidak ada keramaian.
Arkana menggenggam sebuah amplop cukup lama sebelum akhirnya mengetuk pintu.
Beberapa saat kemudian pintu terbuka, Bu Sapitri berdiri di sana.
Wanita itu tampak terkejut. “Arkana?”
Arkana langsung menundukkan kepala.
“Maaf… mengganggu, Bu.”
Ibu Sapitri menatap mantan menantunya sebentar sebelum bertanya, “Mau bertemu Leya?”
Arkana menggeleng pelan.
“Saya ingin bertemu Arsen.”
Bu Sapitri menghela napas kecil. “Kamu tidak tahu?”
“Tidak tahu apa?”
“Leya sudah pindah sejak tiga bulan lalu. Setelah menikah, menantuku membawanya tinggal di rumah mereka sendiri. Dan Arsen, juga ikut.”
Arkana tidak berkata apa-apa, ia sebenarnya sudah menduganya. Namun tetap saja terasa aneh mendengarnya langsung.
“Begitu ya…”
“Kamu memang sudah lama nggak menemui Arsen, apa sekarang kamu mau bertemu?”
Arkana menggeleng, ia mengangkat amplop di tangannya. “Saya hanya ingin menitipkan ini.”
“Apa itu?”
“Uang… untuk Arsen.”
Ibu Sapitri langsung menggeleng. “Tidak perlu.”
“Bu—”
“Arsen sudah dirawat dengan baik.”
Arkana tahu itu, ia tahu Kaisar mampu memberikan semuanya pada putranya. Namun tetap saja, ia menyodorkan amplop itu kembali.
“Ini tanggung jawab saya, Bu,” kata Arkana pelan, seakan memohon. “Memang terlambat, karena saya harus memulai hidup dari nol lagi. Tapi setidaknya... sekarang saya ingin memberi sedikit dari hasil kerja saya, meskipun tidak banyak.”
Bu Sapitri masih ragu-ragu.
Arkana akhirnya memaksakan amplop itu ke tangan wanita tersebut. “Bu… tolong. Walaupun saya tidak ada di hidup Arsen lagi… dia tetap anak saya.”
Bu Sapitri akhirnya menerimanya.
“Terima kasih, Bu.” Arkana mundur selangkah. “Kalau suatu hari Arsen bertanya tentang saya… tidak usah bilang apa-apa. Saya memang tidak pantas menjadi ayahnya...”
Bu Sapitri masih terdiam.
Arkana menundukkan kepala. “Maaf… untuk semuanya.”
Lalu pria itu berbalik dan pergi.
____
Malam itu rumah dimana Leya dan Kaisar tinggal masih terang, jam menunjukkan hampir pukul sebelas malam.
Pintu rumah terbuka dengan suara pelan, Kaisar masuk dengan langkah lelah. Seragam pilotnya masih melekat rapi di tubuhnya. Namun begitu masuk ruang tamu, ia langsung berhenti. Leya ada di sana, istrinya juga masih mengenakan seragam pilot.
Leya baru saja pulang, dan wajahnya jelas sedang kesal.
“Kamu baru pulang?” tanya Kaisar.
Leya menatapnya tajam. “Kamu juga.”
“Aku pikir kamu sudah tidur.” Kaisar melepas topi pilotnya.
“Aku baru mendarat dua jam lalu.” Suara Leya terdengar ketus.
Kaisar sedikit terkejut. “Kamu nggak bilang.”
Leya tertawa kecil, tapi tawa itu tidak hangat. “Lucu ya.”
“Apa?”
“Kita suami istri… tapi harus tahu jadwal masing-masing dari kantor.”
Kaisar menghela napas. “Leya—”
“Sudah seminggu kita tidak makan bersama.” Leya menatap suaminya dengan tajam. “Bahkan... untuk saling menyapa saja susah banget.”
Kaisar meletakkan tasnya di sofa. “Kita sama-sama pilot.”
“Ya, aku tahu.”
Leya menyilangkan tangan. “Tapi menikah... bukan berarti kita hidup seperti dua kru maskapai yang kebetulan tinggal satu rumah. Aku bahkan tidak tahu kapan kamu terbang dan kapan kamu bisa pulang!”
Nada suara wanita itu mulai meninggi.
Kaisar ikut terpancing, wajahnya terlihat kesal. “Karena jadwal kita selalu berubah!”
“Lalu untuk apa kita menikah kalau bahkan waktu untuk bertemu saja tidak ada?!” Jawab Leya dengan suara sama tingginya.
Suasana langsung tegang, selama beberapa detik mereka hanya saling menatap.
“Apa kamu menyesal menikah denganku?” tanya Kaisar.
“Tidak! Tapi aku sedikit lelah...” Leya langsung menjawab cepat, ia mengusap wajahnya. “Terbang seharian, lalu pulang ke rumah yang kosong. Kadang aku sampai lupa kalau aku punya suami.”
Kaisar terdiam.
Leya melanjutkan, ia menatap suaminya. “Kai... aku mencintai pekerjaanku, kamu juga tahu itu. Aku tidak akan berhenti terbang, hanya karena menikah.”
“Aku tidak pernah meminta kamu berhenti.” Ucap Kaisar melembutkan suaranya.
“Tapi aku juga nggak bisa terus hidup seperti ini denganmu.“ Timpal Leya.
Suasana kembali sunyi.
“Kita menikah karena kita saling mencintai. Tapi sekarang… kita lebih sering bertemu di bandara daripada di rumah.” Lanjut wanita itu.
Kaisar menghela nafasnya panjang, ia berjalan mendekat ke arah Leya. Mereka hanya kurang berkomunikasi, dan akhirnya terjadi kesalahpahaman. “Jadi menurutmu... siapa yang harus berhenti?”
“Bukan begitu maksudku.” Leya langsung menjawab.
“Lalu bagaimana?”
“Aku hanya ingin kita punya waktu sebagai keluarga, kita berdua punya mimpi yang sama. Tapi sekarang... kita juga adalah suami istri.”
Kalimat itu membuat Kaisar terdiam lama, lalu tiba-tiba ia tertawa pelan.
Leya mengerutkan kening. “Apa yang lucu?”
“Aku baru sadar sesuatu.” Kaisar menggeleng.
“Apa?”
“Kita bahkan bertengkar pun masih pakai seragam pilot.”
Leya akhirnya menyadarinya, ia menunduk melihat seragamnya sendiri dan ia pun ikut tertawa kecil.
“Sayang...” Kaisar menarik tangan istrinya lalu menggenggamnya erat.
“Hmm?”
“Aku akan berhenti terbang.”
“Apa?”
“Aku akan duduk penuh di kantor sebagai presiden direktur maskapai. Lagipula... cepat atau lambat, aku harus melakukannya. ”
Leya langsung menggeleng keras. “Tidak.”
“Kenapa tidak?”
“Karena terbang adalah mimpimu.”
“Aku sudah puas dengan mimpiku, sayang. Aku masih mencintai langit… tapi sekarang,” Kaisar menatap Leya dengan lembut, “Aku lebih mencintaimu.”
Leya terdiam, namun matanya berkaca-kaca karena terharu.
“Lagipula, kalau kita berdua tetap terbang... Arsen akan tumbuh dengan dua orang tua yang selalu pergi.”
Leya menunduk, ia tahu Kaisar benar. Namun tetap saja…
“Jangan lakukan ini hanya karena pertengkaran kita.”
Kaisar menggeleng. “Sebenarnya, aku sudah memikirkannya sejak lama. Sekarang, kamu tetap terbang. Dan aku... yang akan selalu menunggumu.”
Leya mengerutkan kening. “Kamu serius?”
“Serius.”
Leya memukul pelan lengan suaminya. “Kamu ini… membuatku merasa bersalah.”
Kaisar tertawa kecil, ia menarik Leya ke dalam pelukan. “Aku bukan mengalah, sayang.”
“Lalu apa?”
Kaisar membisik pelan di dekat telinga Leya, ia mengusap rambut istrinya itu. “Pilot juga, butuh tempat untuk mendarat. Dan tempatku sekarang… di sini bersamamu.”
Pertengkaran itu akhirnya berakhir dengan manis. Keduanya saling berpelukan hangat, seolah semua pertengkaran dan kesalahpahaman yang tadi terjadi perlahan menghilang. Leya lebih dulu mencium bibir suaminya, ia melingkarkan kedua tangannya ke leher Kaisar. Tanpa berkata apapun lagi, Kaisar mengangkat tubuh Leya dan membawanya menuju kamar.
cocook tu dy klo duet bareng di satu punggung ,,
yg satuu si penampung tamparan ,,
yg satuu si penampung dendam🤭🤭🤭🤭🤣🤣🤣
dan ini kok tau dr mana ya klo oada liburan wis angel2
rasa suka tp tidak menganggu hubungan kan ini mah nnti mlh kandas kapoktp syukurlah kandas dr pada di teusin mlh bikin mslh terus