NovelToon NovelToon
Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Kebangkitan Permaisuri Yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Transmigrasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Bluetherine

Shen Ran adalah definisi dari kesialan. Sebagai Permaisuri dari Kekaisaran Yan, ia memiliki segalanya di atas kertas, namun tidak di dunia nyata. Dikhianati oleh keluarga sendiri, diabaikan oleh Kaisar yang kejam, dan menjadi bahan tertawaan para selir di Istana Belakang. Puncaknya, ia dijebak dan dibiarkan membeku hingga tewas di Istana Dingin yang terpencil.

Namun, takdir memiliki selera humor yang gelap. Saat mata itu terbuka kembali, tubuh rapuh Shen Ran telah diambil alih oleh Clara, seorang pengacara korporat jenius sekaligus ahli strategi perang bisnis dari abad ke-21. Clara tidak tahu apa itu tunduk, dalam kamus hidupnya tidak mengenal kata tunduk dan mengalah.

"Kalian menginginkan boneka yang bisa diinjak? Maaf, kalian salah membangunkan jiwa."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Bluetherine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Duabelas

Feng Muye menatap siluet Shen Ran yang diterangi cahaya bulan dari balik jendela. Ada keheningan sesaat, sebelum sang Pangeran melangkah pelan, memposisikan dirinya di sisi Shen Ran untuk ikut menatap ke arah Istana Barat yang tampak mulai menyalakan lampion-lampion kemenangannya.

"Kau benar-benar pintar. Kaisar pasti akan menyesal karena telah membuang permaisuri yang cerdik dan pandai berpolitik," gumam Feng Muye dengan nada suara yang merendah, sengaja menyebut identitas rahasia yang pernah diisyaratkan wanita itu.

Dari awal Shen Ran memasuki istana ini, ia tidak pernah diperlakukan dengan baik. Bahkan, di malam pernikahannya dulu, ia ditinggal di kamar sendirian oleh Long Tiangi. Kaisar di kekaisaran Yan itu malah lebih memilih mendatangi selirnya daripada menemui Shen Ran. Menyedihkan sekali pemilik tubuh asli ini.

Shen Ran tidak mengalihkan pandangannya dari lampion-lampion yang berpijar di Istana Barat. Pujian Feng Muye hanya ditanggapi dengan dengusan kecil yang elegan, hampir menyerupai tawa kecil yang meremehkan.

"Menyesal?" Shen Ran melipat kedua tangannya di depan dada, jubah sutra birunya sedikit berdesir ditiup angin malam. "Penyesalan Long Tianqi tidak ada nilainya bagiku, Pangeran. Pria seperti dia tidak pernah benar-benar menghargai kecerdasan politik pada seorang wanita. Yang dia cari dari seorang Permaisuri hanyalah pajangan patuh yang bisa mempercantik takhtanya, dan dari seorang selir adalah ego yang selalu dipuja."

Shen Ran menoleh perlahan, menatap Feng Muye yang berdiri di sampingnya. Sinar rembulan jatuh tepat di separuh wajah tampannya yang tidak tertutup topeng perak, menonjolkan garis rahangnya yang tegas.

"Dia tidak membuangku karena aku tidak cerdik. Dia membuangku karena Shen Ran yang dulu terlalu lemah..Dan sekarang... Aku bukanlah Shen Ran yang lemah lagi," lanjut Clara dengan nada suara yang penuh perhitungan khas seorang profesional.

Feng Muye menatap kilat tajam di mata Shen Ran. Ketertarikannya pada wanita ini melampaui sekadar aliansi politik untuk merebut takhta. Ada teka-teki besar dalam jiwa Shen Ran yang baru, sesuatu yang begitu asing namun sangat memikat di tengah kebosanan intrik istana kuno ini.

"Lalu, apa langkahmu selanjutnya setelah membuat tirai Istana Barat menyala malam ini?" tanya Feng Muye, memiringkan kepalanya, sengaja membiarkan jarak di antara mereka tetap dekat. "Kau tahu, tikus yang baru dilepas dari perangkap biasanya akan langsung mencari cara untuk menggigit kembali."

Shen Ran tersenyum tipis, sebuah senyuman yang membuat bulu kuduk siapa pun yang melihatnya akan meremang.

"Memang itu yang kuharapkan," bisik Shen Ran, beralih dari jendela dan berjalan menuju meja kerjanya. "Aku sudah menyiapkan panggung yang sangat megah untuk gigitan pertamanya. Besok malam adalah perjamuan musim gugur di istana utama. Seluruh menteri, tetua klan, dan perwakilan militer akan hadir."

Shen Ran mengambil sebuah kuas, mencelupkannya ke tinta hitam, lalu menyilang satu nama di atas gulungan kertas pembukuan klan Chu dengan gerakan tegas.

"Chu Xinyue baru saja memenangkan kembali hati Kaisar, dia pasti ingin memamerkan kemenangannya di depan semua orang dan menginjak harga diriku sekali lagi untuk menegaskan posisinya. Biarkan dia merasa di atas angin besok malam, Pangeran. Karena semakin tinggi dia memanjat... akan semakin hancur tubuhnya saat aku menghempaskannya ke tanah."

Feng Muye berjalan mendekat, sepasang matanya menangkap goresan tinta hitam tebal yang baru saja dibuat Shen Ran. Nama Chu Xinyue kini terhapus, tercoreng oleh noda hitam yang pekat—sebuah simbol visual dari akhir riwayat sang Selir Agung.

"Perjamuan musim gugur," Feng Muye menggumamkan kata-kata itu, seolah sedang mencicipi strategi yang disajikan Shen Ran. "Acara di mana seluruh mata kekaisaran tertuju pada takhta. Kau tidak hanya ingin menghancurkan Chu Xinyue, kau ingin melakukan eksekusi publik di depan umum yang paling berpengaruh."

"Tentu saja," sahut Shen Ran, meletakkan kuasnya dengan presisi yang menuntut. "Di duniaku, jika kau ingin memenangkan opini publik, kau tidak melakukannya di ruang tertutup. Kau melakukannya di tempat di mana musuhmu merasa paling aman dan paling sombong. Besok malam, Long Tianqi akan duduk di sana, merasa bangga karena telah menyelamatkan selirnya yang licik. Dan Chu Xinyue akan tersenyum, mengira dia telah berhasil menginjak kepalaku."

Shen Ran menatap ujung kuasnya yang masih basah. Ingatannya sekilas berputar pada memori pemilik tubuh asli ini, malam pernikahan yang dingin, air mata yang tumpah di atas kasur pengantin yang tak tersentuh, dan cemoohan para pelayan saat Long Tianqi berbalik melangkah ke Istana Barat. Kesedihan itu begitu nyata, namun kini, di tangan Clara, memori itu hanyalah sebuah aset motivasi.

"Mereka berutang darah padaku. Dan aku adalah penagih utang yang sangat buruk. Aku menuntut bunga yang tinggi," bisik Shen Ran, suaranya sedingin es.

Feng Muye tersenyum, sebuah binar berbahaya terpancar dari matanya. "Lalu, apa bagianku dalam pertunjukan megahmu besok malam, Permaisuri? Aku tidak suka hanya menjadi penonton di barisan belakang."

Shen Ran mendongak, menatap langsung ke dalam manik mata sang Pangeran. "Belum waktunya anda muncul, Pangeran. Nikmati saja pertunjukan indah besok. Aku tidak sabar menghadapi kesombongan selir Chu."

Feng Muye menatap lekat sepasang mata Shen Ran, mencari celah keraguan di sana, namun yang ia temukan hanyalah hamparan es yang kokoh. Pangeran pemberontak itu perlahan menegakkan tubuhnya, melipat kedua tangan di depan dada sambil mendesah pasrah yang dibuat-buat, meski binar jenaka sekaligus kagum tak bisa disembunyikan dari matanya.

"Menikmati pertunjukan dari balik tirai tanpa bisa ikut berdansa? Kau benar-benar kejam, Permaisuri. Tapi baiklah. Aku akan mematuhi naskah yang ditulis oleh sang Sutradara. Aku sangat penasaran melihat bagaimana sang Selir Agung akan menari di atas duri yang kau tebar," ujar Feng Muye dengan nada rendah yang menggoda. Ia melangkah mundur satu tapak, memberi ruang reverensi yang teatrikal.

Shen Ran hanya membalasnya dengan kerlingan mata yang penuh misteri sebelum kembali menatap dokumen-dokumen di mejanya. Bagi Clara, malam ini adalah malam terakhir untuk meninjau ulang semua kontrak dan bukti. Kesalahan sekecil apa pun di atas panggung besok malam bisa berakibat fatal, dan ia tidak berniat memberikan celah itu kepada siapa pun.

1
Emily
keren ceritamu thour
Fajar Fathur rizky
cepat bantai long tianqi
Fajar Fathur rizky
bikin shen ran sendiri yang membunuh long tianqi
Fajar Fathur rizky
tidak sabar long tianqi mati
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!