NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Arga terus berlari tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Di kejauhan, suara ledakan dahsyat terus menggema bersahut-sahutan, seolah-olah kubah langit sedang runtuh ber keping-keping. Hatinya diselimuti rasa bersalah yang teramat sangat. Setiap jengkal langkah kakinya terasa kian berat, bagai ditarik oleh ribuan rantai tak kasatmata.

"Senior..." bisik Arga dengan napas terengah-engah. "Apakah... Paman Darma akan selamat?"

Di dalam benaknya, Guru Tian terdiam cukup lama. Keheningan itu terasa begitu menyiksa sebelum sang guru akhirnya menjawab dengan nada lirih.

"...Aku tidak tahu, Nak."

Jawaban jujur itu justru terasa jauh lebih menyakitkan ketimbang sebuah kebohongan yang manis. Air mata perlahan mengalir melewati pipi Arga yang kotor terkena debu, namun sepasang kakinya menolak untuk berhenti. Ia terus terbayang pada pesan terakhir Paman Darma.

"Pergilah. Hidupmu lebih penting."

Arga mengetatkan rahangnya dan mengepalkan tangan dengan erat. "Tidak... Hidupku baru akan benar-benar berarti jika suatu hari nanti aku memiliki kekuatan yang cukup untuk menghancurkan bajingan-bajingan seperti mereka!"

Mendengar hal itu, Guru Tian tersenyum tipis di alam kesadaran Arga. "Bagus. Itulah tekad sejati yang harus dimiliki oleh seorang kultivator."

Beberapa jam kemudian, Arga akhirnya berhasil meninggalkan batas terluar wilayah Kota Awan Biru. Dari atas sebuah bukit yang tinggi, ia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang untuk terakhir kali.

Kobaran api merah pekat masih membumbung tinggi, menembus langit malam. Kota yang telah menjadi rumahnya sejak kecil kini telah luluh lantak, menjelma menjadi lautan merah yang mengerikan.

Arga perlahan jatuh berlutut. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam ke arah kota yang lumat tersebut.

"Aku bersumpah..." ucap Arga lirih namun sarat akan ketegasan. "Aku pasti akan kembali. Bukan sebagai pemuda lemah yang hanya bisa melarikan diri, melainkan sebagai seorang ahli yang mampu melindungi mereka yang tidak berdaya!"

Tepat saat sumpah itu terucap dari lubuk hatinya, Pedang Penjaga Langit di tangannya bergetar pelan. Bilahnya memancarkan dengungan halus, seolah-olah senjata mistis itu baru saja mengakui tekad membara dari sang calon master.

Guru Tian yang menyaksikan fenomena tersebut mengangguk puas dalam hati. "Hati yang lurus dan teguh... Itulah syarat mutlak yang pertama."

Keesokan paginya, langkah kaki Arga telah membawanya memasuki pinggiran Hutan Kabut Hitam.

Tempat itu terkenal sebagai salah satu wilayah paling mematikan bagi para kultivator. Binatang buas tingkat tinggi bebas berkeliaran, dan kabut racun pekat senantiasa menyelimuti udara. Bahkan para pemburu paling berpengalaman sekalipun enggan melangkah terlalu jauh ke dalamnya.

Namun, di mata Guru Tian, tempat terkutuk ini justru adalah lokasi yang sempurna.

"Mulai hari ini, latihan nerakamu resmi dimulai," ujar Guru Tian menyeringai.

Arga memaksakan seulas senyum tipis di wajahnya yang lelah. "Apa yang harus kulakukan pertama kali, Senior?"

Guru Tian menunjuk ke arah sebuah air terjun raksasa di bagian dalam hutan, yang tingginya hampir mencapai seratus meter. "Pergi dan duduklah tepat di bawah deburan air terjun itu."

"Hanya itu?" Arga mengerutkan kening.

"Lakukan itu selama tiga hari penuh."

Arga terbelalak. "Tiga hari?!"

"Tanpa makan. Tanpa tidur. Dan yang paling penting... tanpa menggunakan Qi sedikit pun untuk melindungi tubuhmu."

Senyum di wajah Arga seketika lenyap tak bersisa. "Senior... Anda sedang bercanda, kan?"

Guru Tian membalasnya dengan senyum misterius. "Aku tidak pernah bercanda soal kultivasi."

Satu jam kemudian...

Bruaaak!

Hantaman air terjun raksasa itu menerpa tubuh Arga layaknya pukulan palu gada raksasa.

"Ugh!"

Baru beberapa detik mencoba bertahan, tubuhnya langsung terpental hebat ke atas bebatuan sungai yang tajam.

Di tepi sungai, Guru Tian menggelengkan kepala. "Berdiri."

Arga mengertakkan gigi dan bangkit kembali dengan susah payah.

Bruk!

Ia kembali terpental untuk yang kedua kalinya.

"Berdiri lagi."

Siklus penyiksaan itu terus berulang. Puluhan kali, hingga menjangkau ratusan kali.

Menjelang matahari terbenam, seluruh tubuh Arga telah dipenuhi oleh memar keunguan. Tangan dan kakinya gemetar hebat karena kelelahan ekstrem. Ia bahkan nyaris tidak memiliki kekuatan lagi hanya untuk sekadar menegakkan punggungnya. Namun, setiap kali tubuhnya ambruk, ia selalu memaksa dirinya untuk kembali bangkit berdiri.

Guru Tian memandangi muridnya dari dalam dimensi kesadaran dengan tatapan diam yang penuh respek.

"Bakat fisiknya mungkin biasa-biasa saja... Tapi kemauan dan ketabahan bocah ini... benar-benar luar biasa."

Tanpa mereka sadari, jauh di balik rimbunnya pepohonan yang gelap, sepasang mata tajam telah mengamati gerak-gerik Arga sejak awal.

Pemilik mata itu adalah seorang gadis misterius berpakaian hijau dengan sebuah busur panah besar yang bertengger di punggungnya. Ia mengernyitkan alisnya yang indah, menatap Arga dengan ekspresi heran sekaligus sangsi.

"Orang aneh..." bisik gadis itu pelan. "Untuk apa ada orang yang sengaja menyiksa dirinya sendiri sampai sekarat di bawah air terjun itu?"

"Hari keempat."

Suara Guru Tian bergema datar di dalam alam kesadaran Arga.

Arga masih duduk membeku di bawah gemuruh air terjun. Seluruh jiwanya dipenuhi luka lebam yang keunguan, bibirnya memucat karena hawa dingin yang menusuk tulang, tetapi punggung pemuda itu tetap tegak lurus bagai sebilah tombak. Entah bagaimana, hantaman air yang semula terasa bagai pukulan palu gada raksasa, perlahan-lahan mulai terasa sedikit lebih ringan.

"Bagus," Guru Tian mengangguk puas dari balik dimensinya. "Fisikmu mulai beradaptasi dengan tekanan."

Arga melepaskan tawa lemah yang parau. "Kalau latihan menyiksa diri seperti ini baru dibilang 'bagus'... saya jadi takut membayangkan seperti apa gilanya latihan berikutnya, Senior."

Guru Tian tersenyum tipis, memancarkan aura misterius. "Kau akan segera mengetahuinya."

Tiba-tiba—

Wussh!

Sebuah anak panah melesat cepat, membelah kabut dan angin dari balik rimbunnya pepohonan.

Mengandalkan insting bertarung yang terasah selama beberapa hari terakhir, Arga refleks memiringkan kepalanya ke samping. Anak panah tersebut melesat sejumput dari telinganya dan menancap kuat tepat di permukaan batu tempat ia duduk.

Belum sempat Arga menegakkan tubuh atau menghunjamkan protes, sesosok bayangan hijau melompat turun dengan anggun dari atas dahan pohon yang tinggi.

Ia adalah seorang gadis berusia sekitar delapan belas tahun. Rambut hitamnya diikat tinggi bergaya ekor kuda, mengenakan pakaian berburu berwarna hijau yang ringkas. Di punggungnya, sebuah busur dari kayu hitam legam tergantung dengan gagah.

"Hebat juga," gadis itu menyilangkan kedua tangan di depan dada sambil menatap Arga dengan pandangan menilai. "Kultivator Alam Pemurnian Qi tingkat pertama ternyata bisa menghindari anak panahku."

Arga buru-buru keluar dari guyuran air terjun dan mengangkat kedua tangannya ke udara. "Tunggu! Aku bukan musuh!"

"Aku juga tidak bilang kalau kau ini musuh," balas gadis itu santai.

"Lalu untuk apa kau melepaskan panah ke arahku?!"

Gadis itu menyunggingkan senyum jahil yang manis. "Aku hanya ingin menguji, apakah orang yang duduk di bawah air terjun ini masih bernapas atau sudah jadi mayat."

Arga seketika terdiam, kehilangan kata-kata. Sementara itu, Guru Tian justru terkekeh geli di dalam liontin. "Bocah perempuan ini... menarik juga."

Gadis berbaju hijau itu melangkah mendekat tanpa rasa takut. "Namaku Nara."

"Arga."

Nara mengamati sekilas barisan luka lebam yang memenuhi sekujur tubuh Arga, lalu mengernyitkan alisnya yang indah. "Siapa yang melatihmu sampai sekacau ini? Musuh bebuyutanmu?"

Arga hanya bisa tertawa pahit. "Guruku sendiri."

Nara manggut-manggut pelan dengan ekspresi prihatin. "Kalau begitu, gurumu pasti sudah gila."

Di dalam dimensi liontin, Guru Tian yang agung langsung mendengus gusar. "Berani sekali bocah ingusan itu menghinaku gila!"

Arga mati-matian menahan senyumnya agar tidak pecah. "Ya... mungkin sedikit gila."

Nara kemudian mengambil tempat duduk di atas salah satu batu besar yang kering. "Aku seorang pemburu dari Desa Pinus. Setiap hari aku menjelajahi pinggiran hutan ini untuk berburu binatang liar. Lalu, sejak kemarin aku melihat ada orang bodoh yang kerjanya cuma dihantam air terjun raksasa tanpa henti. Karena penasaran, makanya aku mengawasimu."

Sore itu, keduanya mengobrol cukup lama. Untuk pertama kalinya sejak tragedi berdarah yang menghanguskan Kota Awan Biru, Arga akhirnya bisa menyunggingkan senyum lepas tanpa harus dibayangi ketakutan akan pengejaran ataupun kematian.

Saat semburat matahari mulai tenggelam di ufuk barat, Nara bangkit berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya. "Kalau besok kau masih hidup saat aku lewat, aku akan membawakanmu beberapa makanan lezat."

"Terima kasih, Nara."

"Sama-sama. Tapi ingat, jangan mati dulu sebelum makanannya datang."

Setelah melemparkan senyum perpisahan, Nara melompat lincah dari satu batu ke batu lainnya, sebelum akhirnya siluet tubuhnya menghilang dengan cepat di balik kerapatan pohon hutan.

Suasana Hutan Kabut Hitam kembali sunyi, menyisakan suara deburan air terjun yang bergemuruh. Barulah saat itu Guru Tian kembali membuka suara dengan nada serius.

"Arga, tetaplah berhati-hati terhadap gadis itu."

Arga tersentak kaget. "Kenapa, Senior? Dia terlihat seperti orang yang baik."

"Justru karena dia terlihat baik," Guru Tian menghela napas panjang, suaranya terdengar sarat akan pengalaman pahit masa lalu. "Di dunia kultivasi yang kejam ini, orang-orang baik sering kali adalah mereka yang mati paling cepat."

Arga menggelengkan kepalanya dengan tegas. "Aku tidak percaya kalau semua orang di dunia luar ini sejahat dan sekejam orang-orang dari Sekte Bayangan Darah."

Guru Tian memilih untuk tidak membalas argumen muridnya. Namun di dalam hati kecilnya, sang tetua berharap agar pemuda itu tidak pernah kehilangan hati yang tulus tersebut. Sebab ia tahu betul, menjaga hati tetap bersih di tengah pekatnya dunia kultivasi jauh lebih langka dan berharga ketimbang memiliki bakat kultivasi yang tiada tanding.

Pada saat yang sama, beberapa kilometer di luar batas Hutan Kabut Hitam...

Sekelompok pria bermantel hitam pekat menghentikan langkah kaki mereka di tepi sebuah aliran sungai. Salah seorang dari mereka maju ke depan dan berlutut, sambil memegang sebuah kompas giok kuno yang memancarkan pendaran cahaya merah darah yang pekat.

"Melapor, Ketua."

"Jejak energi dari Pedang Penjaga Langit... terkunci dan berakhir di dalam hutan kabut ini."

Pria yang dipanggil Ketua itu perlahan mendongak, menyunggingkan seringai sedingin es yang mengerikan.

"Bagus. Sebar pasukan dan cari sampai dapat."

"Kali ini, jangan biarkan tikus kecil itu lolos lagi dari tangan kita."

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!