NovelToon NovelToon
Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Sistem Kuliner Absolute Sang Raja Dapur

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Fantasi Isekai
Popularitas:14.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Arka kehilangan segalanya dalam satu malam ketika warung makan peninggalan almarhum orang tuanya dihancurkan oleh lintah darat dan kekasihnya meninggalkannya demi pria kaya yang sombong. Di ambang keputusasaan saat mencoba memasak seporsi nasi goreng terakhir di tengah puing-puing warungnya, sebuah suara mekanis misterius tiba-tiba bergema di dalam kepalanya. Berbekal Sistem Kuliner Sakti yang memberinya hadiah uang tunai dan keterampilan tingkat dewa setiap kali pelanggannya merasa puas, Arka memulai langkah balas dendamnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Sinar matahari pagi menyilaukan mata saat Arka memasang tanda Tutup di depan kaca etalase kiosnya.

Nisa berdiri di sampingnya dengan wajah kebingungan melihat bosnya menutup kios tepat di saat jam sibuk akan dimulai.

"Mas Arka, kita benar-benar tidak jualan hari ini?" Nisa bertanya sambil melipat celemeknya.

"Kita punya urusan yang jauh lebih penting dari sekadar menjual seratus mangkuk hari ini Nisa." Arka menjawab dengan senyum penuh misteri.

Arka mengenakan celemek hitam premium pemberian Clara dan menyimpan Kartu Hitam VIP itu dengan hati-hati di saku kemejanya.

Ia sudah menelepon agen properti khusus dari Grup Malika pagi ini menggunakan jalur VIP dari kartu tersebut.

"Ayo Nisa, ikut aku, kita akan mencari rumah baru untuk Dapur Arka Absolute." Arka berjalan memimpin langkah meninggalkan area pujasera.

Mereka berdua naik taksi dan berhenti di sebuah jalan protokol utama kota yang sangat strategis dan dipenuhi pepohonan rindang.

Di sana, seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu sudah menunggu mereka di depan sebuah gedung besar bergaya Eropa.

"Selamat pagi Tuan Arka, saya Pak Bowo, agen properti eksekutif dari Grup Malika." Pria itu membungkuk hormat menyambut kedatangan Arka.

"Pagi Pak Bowo, jadi ini bangunan yang Anda rekomendasikan untuk saya?" Arka menatap takjub ke arah bangunan dua lantai yang sangat megah itu.

Bangunan itu memiliki pilar-pilar putih besar dan area parkir yang bisa menampung puluhan mobil.

"Benar Tuan, ini adalah bekas restoran Prancis mewah bernama Elysium yang bangkrut bulan lalu." Pak Bowo menjelaskan sambil menunjuk ke arah papan nama yang sudah kusam.

Namun yang membuat senyum Arka mengembang lebar bukanlah kemegahan bangunan itu.

Melainkan karena bangunan Elysium ini berdiri berdempetan tepat di sebelah restoran bintang lima milik keluarga Kusuma.

"Ini sangat sempurna Pak Bowo, posisinya benar-benar berhadapan langsung dengan urat nadi musuhku." Arka tertawa pelan merasa takdir berpihak padanya.

Nisa menelan ludahnya kasar melihat ukuran restoran itu yang sepuluh kali lipat lebih besar dari kios mereka di mal.

"Mas Bos, sewa tempat sebesar ini pasti butuh uang miliaran rupiah, apa tabungan kita cukup?" Nisa berbisik dengan nada khawatir.

"Tenang saja Nisa, uang bisa dicari, tapi kesempatan untuk menampar wajah Kevin dari jarak dekat tidak datang dua kali." Arka menjawab dengan penuh keyakinan.

"Tuan Arka, hak sewa lima tahun bangunan ini sedang dilelang pagi ini juga oleh pihak bank." Pak Bowo memberikan informasi penting.

"Acara lelangnya diadakan di aula hotel seberang jalan, apakah Anda ingin ikut berpartisipasi sekarang?" Tambah Pak Bowo sambil melihat jam tangannya.

"Tentu saja, bawa aku ke sana sekarang juga Pak Bowo." Arka mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun.

Mereka bertiga kemudian berjalan menyeberangi jalan raya menuju hotel tempat pelelangan berlangsung.

Di dalam aula hotel yang sejuk dan mewah, puluhan pengusaha kaya sudah duduk di kursi masing-masing memegang papan nomor.

Arka dan Nisa mengambil tempat duduk di barisan tengah dengan didampingi oleh Pak Bowo.

Tepat dua baris di depan mereka, duduklah dua orang yang sangat Arka kenal dari belakang kepalanya.

Kevin dan Dimas sedang tertawa terbahak-bahak sambil mengobrol dengan seorang pria berkepala botak di sebelah mereka.

"Tuan Kevin, bangunan Elysium itu pasti akan jatuh ke tangan Anda hari ini." Ucap pria botak itu dengan nada menjilat.

"Tentu saja, ayahku sudah menyiapkan dana lima miliar untuk mengubah tempat itu menjadi area parkir VIP restoran kita." Kevin menyombongkan diri dengan suara yang sangat keras.

"Dengan area parkir seluas itu, pelanggan restoran kita pasti akan semakin nyaman dan berlipat ganda." Dimas ikut menyanjung bos mudanya.

Mendengar percakapan itu, darah Arka sedikit mendidih namun ia tetap mempertahankan wajah tenangnya.

Keluarga Kusuma berniat membeli bangunan semegah itu hanya untuk dihancurkan dan dijadikan lahan parkir.

Itu adalah bentuk kesombongan dan pemborosan yang sangat menjijikkan di mata seorang koki seperti Arka.

Ding!

Suara mekanis sistem tiba-tiba berdering nyaring di dalam kepala Arka.

[Misi Darurat Diberikan!]

[Misi: Menangkan lelang hak sewa bangunan Elysium dan gagalkan rencana ekspansi keluarga Kusuma.]

[Hadiah Misi: Peningkatan Dapur Restoran Bintang Empat dan 200 Poin Kepuasan.]

[Hukuman Jika Gagal: Kehilangan hak pembukaan restoran dari sistem selamanya.]

Arka menarik napas panjang membaca hukuman misi yang sangat fatal tersebut.

Ia merogoh saku kemejanya dan menggenggam Kartu Hitam Malika itu dengan erat.

"Aku hanya punya uang tunai lima ratus dua puluh juta, aku harus menggunakan fasilitas kartu ini secara maksimal nanti." Batin Arka menyusun strateginya.

Teng teng!

Suara palu kayu diketukkan ke meja oleh sang juru lelang menandakan acara pelelangan resmi dimulai.

"Selamat pagi bapak dan ibu sekalian, kita akan memulai lelang utama hari ini untuk hak sewa lima tahun gedung eks restoran Elysium." Juru lelang itu berbicara melalui mikrofon.

"Harga pembukaan dimulai dari angka dua miliar rupiah, dengan kelipatan penawaran seratus juta."

Suasana aula seketika menjadi sedikit hening karena harga pembukaan itu tergolong cukup tinggi untuk ukuran sewa lima tahun.

Kevin langsung mengangkat papan nomor sepuluhnya dengan gaya yang sangat arogan dan meremehkan.

"Dua setengah miliar!" Kevin langsung menaikkan harga lima ratus juta sekaligus untuk mengintimidasi peserta lain.

Beberapa pengusaha kecil langsung menurunkan papan mereka sambil menggelengkan kepala pasrah.

Mereka tahu bahwa keluarga Kusuma adalah raksasa bisnis yang tidak segan membakar uang demi gengsi.

"Dua setengah miliar dari Tuan Kevin, apakah ada yang berani menawar lebih tinggi?" Juru lelang itu memandang berkeliling aula.

"Tiga miliar rupiah." Suara bariton dari seorang pengusaha properti tua memecah keheningan.

Kevin mendecak kesal dan menoleh ke arah pengusaha tua itu dengan tatapan membunuh.

"Empat miliar!" Kevin kembali mengangkat papannya tanpa ragu sedikit pun.

Pengusaha tua itu akhirnya menghela napas dan meletakkan papannya tanda menyerah.

"Empat miliar rupiah untuk penawaran pertama, penawaran kedua." Juru lelang mulai menghitung mundur dengan senyum lebar.

Kevin tertawa penuh kemenangan dan menyandarkan punggungnya di kursi dengan santai.

"Sudah kubilang Dimas, tidak ada yang berani melawan uang keluarga Kusuma di kota ini." Ucap Kevin dengan angkuh.

Tepat saat juru lelang hendak mengetukkan palunya untuk penawaran ketiga, sebuah suara tenang namun tegas menggema dari barisan tengah.

"Lima miliar rupiah."

Seluruh mata di dalam aula itu seketika menoleh ke arah sumber suara tersebut.

Kevin membeku di tempat duduknya, senyum di wajahnya lenyap seketika berganti dengan raut wajah terkejut yang luar biasa.

Ia perlahan menoleh ke belakang dan melihat Arka sedang mengangkat papan nomor dua puluh sembilan dengan wajah datar.

"A-Arka? Sedang apa gembel miskin sepertimu di tempat lelang eksklusif ini?!" Kevin berdiri dari kursinya dan berteriak menunjuk wajah Arka.

"Tentu saja untuk membeli gedung itu Tuan Kevin, apa kau buta atau tuli?" Arka menjawab dengan senyum miring yang sangat mengejek.

Para peserta lelang mulai berbisik-bisik melihat keributan yang terjadi antara pewaris keluarga Kusuma dan seorang pemuda asing.

"Petugas, usir orang gila ini keluar, dia itu cuma koki kaki lima yang tidak mungkin punya uang lima miliar!" Kevin berteriak memerintahkan pihak keamanan.

"Dia pasti menyusup masuk untuk merusak acara lelang ini." Dimas ikut menuduh Arka dengan suara lantang.

Dua orang petugas keamanan bertubuh besar segera berjalan mendekati meja Arka dengan wajah curiga.

"Maaf Tuan, bisakah Anda menunjukkan bukti saldo deposito Anda? Ini adalah aturan ketat pelelangan kami." Ucap salah satu petugas itu.

Nisa langsung meremas ujung bajunya dengan ketakutan, ia tahu persis saldo di rekening bosnya itu hanya ada setengah miliar rupiah.

Arka tidak panik sama sekali, ia justru tersenyum santai dan perlahan merogoh saku kemejanya.

1
Ponny Sagita
serius thor? restoran mahal pake kursi plastik?
Ponny Sagita
kok masih pinggir jalan? othor niiih yaaa
Nissa Safira: mungkin iyaa outdoor kak, soalnya si Arka lagi proses membangun restoran mewahnya sendiri kak🤣
total 1 replies
Ponny Sagita
masak nasinya kan baru pagi pagi, kok bisa didinginkan semalaman?
Nissa Safira: hahaha dari semalem nasi nya belum habis kak gara2 malem nya di datengi preman🤣
total 1 replies
Wega Luna
keterlaluan udah hutang bunga tempat dagang dirusak ,itu bisa dilaporkan, loh
Nissa Safira: hahahaa namanya juga utang sama rentenir sadis kak😅
total 1 replies
Mohd Harmizi
berhasil jual 3 ribu kok poin kepuasan hanya 500?
Nissa Safira: iyaa juga iyaa.. kelupaan kak🤣
total 1 replies
m_reynaldi
mantapp.. update bab yg banyak thorr 😍
Fariq Banafsaj
lanjut🤩
Dewa Naga 🐲🐉
mantappp.. lanjut...💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!