Author kembali dengan cerita lebih menantang,ingat ya dilarang meniru karya hasil buatan asli author. Up setiap hari dijam yang sama😍
Bagaimana jadinya jika kamu terjebak di dalam kisah tragis yang kamu tulis sendiri?
Anna, seorang penulis novel, mendadak terseret masuk ke dalam naskah terbarunya yang berjudul Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Kejam. Ia terbangun dalam wujud tokoh utama wanita—seorang istri yang diabaikan, dianggap buruk rupa, dan dibenci oleh tiga pangeran berdarah dingin.
Mengetahui plot mengerikan yang menanti di depan mata, Anna harus memutar otak. Bisakah sang penulis menjinakkan tiga pangeran kejam ciptaannya, atau justru ia akan mati di tangan karakter yang ia buat sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hukuman Sang Suami
"Adik, kakak tidak ikut kalian makan bersama, kakak kembali dulu. Adik, semangat!" ucap Wen Xie sambil berlari meninggalkan ku.
Rasanya aku harus menghadapi dua monster yang marah, gumamku dalam hati sambil mengikuti langkah Hou Juntian dan Mo Jiu dari belakang.
"A-Jiu, Tian-ge, kalian berdua marah kepadaku? Kenapa kalian diam saja dari tadi?" ucapku polos mencoba mencairkan suasana.
Kedua pemuda itu langsung berhenti mendengarkan suaraku yang terdengar sedih. Tanpa diduga, Hou Juntian berbalik mendekatiku dan langsung menggendongku di bahunya seperti mengangkat karung beras.
"Tian-ge, turunkan aku! Kau memalukan!" gerutuku sambil memukul-mukul punggungnya keras-keras.
"Aku kembali ke ruang kerja, Er-ge. Dia kuberikan padamu," ucap Mo Jiu dingin tanpa menoleh.
"Baiklah, aku akan menghukum istri nakal ini," balas Hou Juntian penuh ancaman.
"Hei, kalian ingin menghukumku? Aku tidak bersalah!" teriakku protes namun langsung diabaikan begitu saja.
Ya Tuhan, kenapa nasibku tragis sekali? Niatnya hanya memperhatikan kakak angkatku, tapi justru membuat kedua pria ini cemburu berat. Tolong! batinku menjerit histeris.
Hou Juntian membawaku ke kediamannya, Xiangfu, dan langsung menendang pintu kamarnya hingga terbuka lebar. Tanpa berkata apa-apa, ia menurunkan ku ke atas ranjang lalu berbalik menutup pintu dengan rapat. Tidak lama kemudian, ia kembali mendekatiku dengan tatapan tajam dan wajah yang dingin.
"Tian-ge, kau kenapa?" tanyaku gugup.
"Apa aku kurang perhatian padamu? Apa hebatnya Wen Xie hingga kau mengabaikan kami?" ucap Hou Juntian penuh tekanan.
"Kau cemburu? Suami tampanku cemburu tanpa jelas, bahkan kepada kakak angkatku sendiri."
"Tang Anning!! Kau istriku dan kau tidak kuperbolehkan melihat pria lain ataupun tersenyum di balik cadarmu."
"Baiklah, baiklah. Tidak akan aku ulangi. Bolehkah aku pergi, aku lelah," ucapku mencoba mencari celah untuk kabur.
"Tidak, hukumanmu belum berlangsung," bisik Hou Juntian.
Pria itu mendekatiku, dengan cepat menarik lepas cadarku dan membuangnya sembarangan ke pinggir tempat tidur.
"Istriku ini nakal, hukumannya juga harus lebih nakal," bisiknya tepat di telingaku, disusul gigitan kecil yang membuatku merinding.
"Tian-ge, kau benar-benar suami ke..."
Belum selesai aku berbicara, Hou Juntian langsung menciumku dengan brutal dan penuh tuntutan. Tanganku refleks memukul dadanya, namun pergelangan tanganku langsung ditahan dan dikunci dengan erat di atas kasur.
Hou Juntian akhirnya melepaskan ciumannya, memberikan jeda bagiku untuk bernapas. Dadaku naik turun dengan cepat, mencoba menstabilkan napas yang berantakan akibat ulahnya.
"Kau benar-benar buas," desisku tajam, menatapnya dengan sisa-sisa amarah dan rasa sebal yang memuncak di dada.
Namun, belum sempat aku menyelesaikan kalimatku sepenuhnya, Hou Juntian kembali bergerak di luar dugaan. Tanpa peringatan, pria itu menunduk dan menenggelamkan wajahnya ke leherku, lalu memberikan gigitan yang cukup kuat di sana.
"Aaaakh... Tian-ge, kau benar-benar sialan!" seruku kaget bercampur nyeri, spontan mendorong tubuhnya menjauh dengan seluruh sisa tenaga yang kumiliki.
Sentakan itu membuat Hou Juntian akhirnya menghentikan tingkah gilanya. Ia terdiam sejenak, menatapku dengan ekspresi yang perlahan berubah dari seringai usil menjadi sebuah rasa bersalah yang kentara saat melihat sengatan emosi di wajahku.
"Apa kau sudah gila, hah?! Kau benar-benar menggigitku sampai seperti ini!" protesku sambil buru-buru mengangkat tangan, meraba leherku sendiri yang terasa perih.
Melihat reaksi marahnya, wajah Hou Juntian tampak semakin salah merasa bersalah. Ia perlahan melangkah maju, berniat mendekat untuk melihat lukanya, namun aku langsung mengayunkan tangan memberikan gestur penolakan yang tegas.
"Berhenti di situ! Jangan mendekat!" sergahku galak.
"Ning'er, maaf... aku tidak sengaja terbawa emosi," ucapnya lirih, terdengar tulus namun tidak bisa meredakan kekesalanku.
"Jangan ganggu aku lagi!"
Tanpa membuang waktu atau mendengarkan penjelasan lanjutan darinya, aku langsung berbalik dan melangkah keluar dari kamarnya dengan perasaan kesal yang teramat sangat. Langkah kakiku membawamu menyusuri koridor panjang yang mengarah kembali ke kediamanku sendiri. Pikiranku masih dipenuhi oleh kekesalan pada Hou Juntian, namun sebuah keheningan yang janggal tiba-tiba menghentikan langkahku. Suasana di sekitar mendadak berubah menjadi dingin dan mencekam.
Sreett!
Belum sempat aku mencapai pintu kediamanku, bayangan hitam melesat cepat dari balik pilar. Sekelompok pria dengan pakaian serba hitam dan wajah tertutup kain penutup tiba-tiba muncul dari segala penjuru, menghadang jalanku dengan hunusan pedang berkilau di tangan. Mereka adalah pembunuh bayaran.
"Bunuh wanita itu! Jika tidak, dia akan merusak seluruh rencana Tuan!" geram salah satu pemimpin pembunuh itu memberikan instruksi tegas kepada rekan-rekannya di belakang.
Aku mendengus dingin. Alih-alih merasa takut atau lari ketakutan seperti wanita bangsawan pada umumnya, sudut bibirku justru tertarik membentuk senyuman miring penuh tantangan. Sialan sekali hari ini, baru saja aku selesai menghadapi suami yang menyebalkan, sekarang sekelompok sampah berani mencariku mati.
"Kalian ingin membunuhku? Baiklah, akan kuladeni. Silakan kalian maju bersamaan!" ucapku menantang tanpa rasa gentar sedikit pun.
Begitu salah satu dari mereka menerjang maju mengayunkan pedang, tubuhku bergerak secara otomatis. Berbekal memori otot dan ilmu bela diri tingkat tinggi yang diwariskan oleh pemilik tubuh asli, Tang Anning—putri dari Jenderal Tang Weiyan—aku menyambut serangan itu dengan ketenangan yang mematikan. Hanya dalam beberapa gerakan kilat, tinju, tangkisan, dan tendangan telak berhasil dilayangkan. Tanpa perlu mengeluarkan senjata, satu per satu pembunuh bayaran itu tersungkur tak berdaya, mengerang kesakitan di atas tanah dengan tulang-tulang yang remuk.
Terimakasih yang sudah spam like.
author punya give away buat kalian sebagai pembaca setia.
author akan masukin nama kalian sebagai karakter didalam novel author.
bagaimana? jika kalian setuju like komen author atau balas komen author "Setuju".
pastinya seru nama kalian jadi karakter dinovel author🥰🥰
ditunggu ya😍
Terima kasih sudah membaca Transmigrasi: Menjadi Istri Tiga Pangeran Dingin. Semoga kalian menikmati setiap bab yang Author tulis.
Jika kalian menyukai cerita ini, jangan lupa beri dukungan dengan like, komentar, dan vote agar Author semakin semangat melanjutkan kisah Tang Anning dan para tokohnya. 💖
Mohon maaf ya kalau untuk saat ini Author hanya bisa update 2 bab per hari. Bukan karena tidak ingin update lebih banyak, tetapi karena Author menulis cerita ini terlebih dahulu di buku tulis, lalu menyalinnya satu per satu ke aplikasi. Jadi prosesnya memang membutuhkan waktu.
Terima kasih atas kesabaran, dukungan, dan semangat yang selalu kalian berikan. Semoga kita bisa terus menikmati perjalanan cerita ini bersama. 🤗✨
Salam manis,
Author Diah Nation29 🌸