NovelToon NovelToon
Yan Kai

Yan Kai

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Kelahiran kembali menjadi kuat / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:32.6k
Nilai: 5
Nama Author: DANTE-KUN

Sejak berusia sepuluh tahun, Yan Kai hidup sebagai pelayan di Sekte Hutan Bambu setelah kehilangan kedua orang tuanya. Karena memiliki akar spiritual yang sangat lemah, ia tidak pernah diterima sebagai murid dan selama delapan tahun hanya menjadi sasaran penghinaan, perundungan, serta siksaan dari para murid sekte. Hidupnya dipenuhi penderitaan, hingga suatu hari sebuah tugas sederhana membersihkan perpustakaan kuno mengubah takdirnya selamanya.

Sebuah buku misterius membawanya ke Dimensi Tak Berujung, tempat seekor Naga Kegelapan kuno disegel sejak ribuan tahun lalu akibat perang besar antara ras naga dan para dewa. Yan Kai mendapatkan secuil kekuatan naga itu hingga mengubah akar spiritualnya yang sebelumnya cacat menjadi fondasi yang luar biasa. Tanpa mengetahui rahasia besar yang kini tersembunyi dalam dirinya, Yan Kai memulai perjalanan kultivasinya menuju puncak kekuatan sejati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DANTE-KUN, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

Sementara itu, jauh di sebelah selatan Kota Perak, berdiri sebuah kawasan yang diselimuti hamparan bunga teratai putih sejauh mata memandang. Di tengah kawasan tersebut, tampak bangunan-bangunan megah yang tersusun rapi dengan arsitektur elegan.

Sungai kecil mengalir membelah setiap paviliun, sementara kabut tipis yang dipenuhi energi spiritual membuat tempat itu tampak seperti negeri para dewi.

Tempat itu adalah Paviliun Teratai Putih, salah satu kekuatan terbesar di Kerajaan Awan Suci.

Di lantai tertinggi paviliun utama, sebuah balkon luas menghadap langsung ke arah Kota Perak yang terlihat kecil dari kejauhan. Angin sore berembus perlahan, membuat tirai sutra putih berkibar lembut.

Di sana berdiri dua orang wanita. Keduanya mengenakan jubah putih bersih dengan cadar yang menutupi sebagian wajah mereka. Meski wajah mereka tidak terlihat sepenuhnya, aura anggun dan dingin yang mereka pancarkan sudah cukup membuat siapa pun enggan mendekat.

Wanita yang lebih muda adalah Bai Yue. Sedangkan wanita yang berdiri di sampingnya merupakan gurunya sekaligus Ketua Paviliun Teratai Putih, Yun Xi.

Yun Xi memandang langit yang mulai berubah jingga sebelum berkata pelan, "Jadi... kabar itu benar. Su Lian akhirnya muncul kembali."

Bai Yue menganggukkan kepala. "Saya juga sudah menerima laporan dari para murid. Beberapa saksi mengatakan Sekte Kalajengking Merah dimusnahkan hanya dalam satu malam. Ketua sekte beserta lima tetuanya tewas. Dan pelakunya adalah Peri Kematian."

Yun Xi menghela napas pelan. "Sudah lebih dari empat tahun wanita itu menghilang tanpa jejak. Aku sempat mengira ia masih mengasingkan diri untuk mencari jalan menuju Ranah Kaisar. Namun ternyata, begitu muncul kembali, ia langsung memusnahkan sebuah sekte." Tatapan Yun Xi perlahan berubah serius. "Wanita itu tidak mungkin melakukan sesuatu tanpa alasan."

Bai Yue ikut mengangguk. "Saya juga berpikir begitu, Guru."

Suasana kembali hening. Beberapa saat kemudian, Yun Xi menoleh ke arah murid kesayangannya. "Yue'er. Peta itu, masih berada padamu?"

Bai Yue menganggukkan kepala. "Masih." Tangannya perlahan menyentuh Cincin Ruang di jari manisnya. Di dalam cincin itulah tersimpan peta makam kultivator Ranah Penguasa yang kini telah lengkap.

Beberapa waktu lalu, ia telah berhasil memperoleh bagian kedua peta tersebut setelah membunuh tiga murid Sekte Naga Phoenix yang berusaha merampas miliknya. Kini, seluruh peta telah utuh berada di tangannya.

Yun Xi memejamkan mata sejenak. "Lalu berarti, hanya kita yang mengetahui lokasi makam itu."

Bai Yue menjawab pelan. "Benar, Guru."

Yun Xi kembali memandang ke arah Kota Perak. Entah mengapa, firasat buruk mulai memenuhi hatinya. "Jika Su Lian mengetahui bahwa peta itu berada di tangan kita, aku yakin Paviliun Teratai Putih akan menjadi target berikutnya."

Bai Yue sedikit mengernyit. "Guru menganggap Su Lian akan datang kemari?"

Yun Xi mengangguk perlahan. "Kalau tujuannya benar-benar untuk mencari jalan menuju Ranah Kaisar, maka makam kultivator Ranah Penguasa adalah kesempatan yang terlalu berharga untuk ia abaikan. Wanita seperti Su Lian tidak akan membiarkan kesempatan itu jatuh ke tangan orang lain."

Bai Yue menggenggam pagar balkon dengan pelan. Tatapannya berubah dingin. "Kalau begitu, kita harus bersiap."

Yun Xi mengangguk. "Mulai hari ini, perketat penjagaan paviliun. Semua murid inti harus bersiaga. Dan jangan biarkan siapa pun mengetahui bahwa peta itu sudah lengkap."

Bai Yue membungkukkan kepala. "Baik, Guru."

...

Keesokan paginya, kabut tipis masih menyelimuti Lembah Sunyi ketika Su Lian berdiri di halaman depan istana. Tangannya berada di belakang punggung, sementara tatapannya mengarah ke langit yang perlahan mulai diterangi cahaya matahari.

Tak lama kemudian, Yan Kai datang menghampiri. Ia segera membungkukkan badan. "Guru."

Su Lian menoleh sekilas. "Sudah siap?"

"Sudah, Guru."

Su Lian mengangguk pelan. "Bagus. Hari ini kau ikut denganku."

Yan Kai sedikit penasaran. "Ke mana kita akan pergi, Guru?"

Namun Su Lian hanya tersenyum tipis. "Kau akan mengetahuinya setelah kita tiba." Tanpa memberi penjelasan lebih lanjut, ia mengangkat tangan kanannya. Pedang terbang merah tua segera muncul dari Cincin Ruangnya, membesar perlahan hingga cukup dinaiki dua orang. "Naik."

Yan Kai menurut tanpa banyak bertanya. Sesaat kemudian...

Wusss!

Pedang terbang melesat menembus langit, meninggalkan Lembah Sunyi.

Sepanjang perjalanan, Yan Kai beberapa kali mencoba menebak tujuan mereka. Namun Su Lian sama sekali tidak memberi petunjuk. Ia hanya berdiri tenang di bagian depan pedang sambil menikmati angin yang menerpa wajahnya.

Setelah beberapa jam melintasi pegunungan dan lautan awan, di kejauhan akhirnya tampak dua gunung raksasa yang berdiri berdampingan. Bentuk keduanya hampir sama persis, seolah merupakan bayangan satu sama lain.

Di antara dua gunung tersebut terbentang sebuah lembah yang sangat luas. Puluhan bangunan megah berdiri di dalamnya, jembatan-jembatan batu menghubungkan berbagai paviliun, sementara bendera merah darah berkibar di setiap sudut. Aura spiritual di tempat itu sangat padat.

Yan Kai memandang ke bawah dengan rasa penasaran. "Guru... tempat ini..."

Su Lian menjawab singkat. "Pegunungan Bulan Kembar. Dan sekte yang berdiri di sana adalah Sekte Bulan Darah."

Mata Yan Kai sedikit membelalak. Nama itu pernah ia dengar. Salah satu sekte aliran sesat yang kekuatannya sangat disegani di Kerajaan Awan Suci.

Tak lama kemudian, pedang terbang mulai menurunkan ketinggiannya. Begitu mereka memasuki wilayah udara sekte...

Buzz!

Sebuah formasi pertahanan raksasa yang menyelimuti seluruh pegunungan tiba-tiba memancarkan cahaya merah. Beberapa saat kemudian, formasi itu perlahan terbuka, menciptakan jalan masuk bagi mereka.

Yan Kai dapat merasakan betapa kuatnya formasi tersebut. Andaikan seseorang mencoba menerobos secara paksa, kemungkinan besar ia akan langsung dihancurkan oleh kekuatan formasi itu.

Pedang terbang akhirnya mendarat tepat di depan gerbang utama Sekte Bulan Darah. Gerbang raksasa itu perlahan terbuka. Puluhan murid yang sedang berjaga langsung berlutut serempak.

"Salam hormat kepada Ketua Sekte!"

Suara mereka menggema memenuhi halaman. Belum berhenti sampai di situ. Dari dalam kompleks sekte, puluhan sosok kembali bermunculan—para tetua, murid inti, hingga para pelayan. Begitu melihat sosok Su Lian, ekspresi mereka dipenuhi kegembiraan.

"Ketua Sekte telah kembali!"

"Benar-benar Ketua Sekte!"

"Beliau akhirnya kembali!"

Kabar itu menyebar begitu cepat. Dalam waktu singkat, semakin banyak murid berdatangan menuju halaman utama. Ratusan pasang mata memandang Su Lian dengan penuh rasa hormat dan kekaguman. Beberapa tetua yang telah berusia lanjut bahkan tampak menundukkan kepala lebih dalam.

Salah seorang tetua berambut putih maju beberapa langkah. Wajahnya dipenuhi rasa haru. "Ketua Sekte. Sudah lebih dari empat tahun Anda tidak pernah kembali ke Sekte Bulan Darah. Kami semua mengira Anda masih menjalani pengasingan."

Su Lian hanya menganggukkan kepala. "Aku memang sedang mengurus beberapa urusan penting."

Tetua tua itu tersenyum lega. "Syukurlah. Yang terpenting Ketua Sekte kembali dengan selamat. Kini seluruh Sekte Bulan Darah akhirnya bisa bernapas lega."

Ucapan itu langsung disambut anggukan para tetua lainnya. Selama empat tahun terakhir, meskipun nama Su Lian masih cukup untuk membuat musuh gentar, ketiadaannya tetap membuat banyak pihak mulai berani menguji kekuatan Sekte Bulan Darah.

Karena itulah, kembalinya Su Lian menjadi kabar yang sangat membahagiakan bagi seluruh anggota sekte.

Di tengah suasana yang meriah itu, banyak tatapan akhirnya beralih kepada Yan Kai yang berdiri di belakang Su Lian. Mereka saling berpandangan dengan penuh rasa ingin tahu.

Belum pernah sebelumnya mereka melihat seorang pemuda berdiri begitu dekat dengan ketua sekte mereka. Dan itu membuat rasa penasaran mulai tumbuh di hati seluruh anggota Sekte Bulan Darah.

1
Agus Rose
Yan Kai jangan lupa rampasan perang cincin ruang musuh di jarah,pasti banyak harta !!
zed555
lanjut
Agus Rose
ini baru up 👍👍👍👍
Agus Rose
Mantap jooss 👍👍👍👍👍👍nya 👍
Sarip Hidayat
mantaap
Zulkifli Zul Dsr
ayo yang banyak tor supaya puas dong tor bacanya🤣🤣 semangat torr
Agus Rose
Tambah lagi up nya
Agus Rose
Ayook Yan Kai segera kultivasi tertutup biar naik ranah Raja.
balas dendam.
Agus Rose
tambah lagi up
Sarip Hidayat
waah
Aman Wijaya
gaaas pooolll njeduk Thor
Sarip Hidayat
waaahh
Sarip Hidayat
waaah
Sarip Hidayat
waah
Sarip Hidayat
wah gantian yg nyerang nih
Aman Wijaya
makin seru Thor tambah lagi updatenya 💪💪💪💪
Aman Wijaya
gaaas njeduk terus Thor
Eddy S
😄pasti ga ada kelanjutan nya
Aman Wijaya
lanjut terus Thor semangat
Aman Wijaya
jooooz pooolll lanjut terus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!