Arga pendaki kota yang tersesat di hutan menemukan sebuah kampung terpencil dalam kedalaman hutan. Beberapa fakta yang dia dapatkan memunculkan sisi petualang dan sisi detektifnya.
apa yang tersembunyi di kampung tersebut?
bisakah Arga kembali pulang ke rumahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon halwa diyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kampung di ujung harapan
Saat membuka mata, Arga merasakan sesuatu yang dingin menempel di dahinya.
Atap rumah kayu terlihat tepat di atasnya.
Bukan tenda.
Bukan hutan.
Ia berkedip beberapa kali.
Seorang pria berusia sekitar enam puluh tahun duduk di sampingnya.
Rambutnya telah memutih.
Sorot matanya teduh.
"Alhamdulillah... Sudah sadar."
Arga berusaha duduk.
Namun pria itu menahan bahunya.
"Jangan dulu."
"Kamu demam."
Arga mengangguk pelan.
"Maaf..."
Pria itu tersenyum.
"Maaf kenapa?"
"Saya... merepotkan."
"Tidak."
"Justru kami bersyukur sempat menemukanmu."
Tak lama kemudian beberapa warga masuk membawa air hangat dan semangkuk bubur.
"Saya Pak Rahman."
"Kepala desa di Kampung Ciburial."
Arga langsung berusaha menyalami beliau.
"Nama saya..."
"Arga."
Pak Rahman mengangguk pelan.
"Kami sudah dengar sedikit ceritamu dari warga."
"Kamu tersesat di hutan?"
"Iya, Pak."
"Sudah berapa hari?"
"Hampir......empat hari."
Beberapa warga saling berpandangan.
"Masya Allah."
"Pantas badannya lemas."
Pak Rahman menatap luka di kaki Arga yang kini telah dibersihkan dan dibalut lebih rapi.
"Untung bambunya tidak mengenai bagian yang lebih dalam."
"Kami sudah panggil mantri desa."
"Besok pagi beliau datang lagi memeriksa."
Arga mengembuskan napas lega.
"Terima kasih, Pak."
Malam itu Arga menceritakan secara singkat bagaimana ia bisa tersesat. Pak Rahman mendengarkan tanpa menyela.
Sesekali mengangguk pelan.
"Kamu beruntung."
"Kalau terlambat sedikit saja keluar dari hutan......mungkin para petani sudah pulang."
Arga hanya terdiam.
Ia tahu ucapan itu benar.
"Tapi bapak heran. Selama ini tidak ada yang menyentuh hutan bambu diatasa kebun kopi itu. Karena setelahnya adalah hutan rapat yang tidak terjamah. Sepertinya masih banyak hewan buas. Kamu mendaki dari pos mana? Kenapa bisa sampai disitu?"
Sebagai salah satu warga desa yang lahir di tempat ini, pak Rahman memang menyimpan banyak cerita tentang hutan bambu dan hutan setelah hutan bambu diatas sana menjadi tempat yang sangat tidak layak untuk didatangi. Kerapatan hutan dan vegetasi liar serta kepercayaan nenek moyangnya dahulu tentang sang penunggu kampung yang tinggal disana membuat nya tidak pernah membahas hal ini dengan siapapun.
Arga pun menyebutkan salah satu pos pendakian yang ada di gunung itu. Letaknya bahkan ternyata di punggung gunung yang berbeda dengan kampung tempat nya sekarang berada.
selanjutnya dia hanya menggeleng, entah bagaimana insting nya mengarahkannya kesini.
Usai salat Isya, Pak Rahman kembali berbicara.
"Begini, Ga."
"Kamu boleh tinggal di kampung ini beberapa minggu. Karena mobil kopi akan datang bulan depan. Kamu bisa pulang ikut mobil itu. Selain itu untuk menunggu juga sampai kakimu benar-benar membaik."
Arga langsung menggeleng pelan.
"Saya nggak enak merepotkan."
Pak Rahman tersenyum.
"Kamu adalah pertama kalinya pendaki sampai nyasar kesini. Disini tidak ada listrik, sinyal pun tidak ada. Kami memang hidup seperti ini. Banyak anak muda keturunan kami yang memang ke kota. Tapi mereka selalu turun ikut bareng mobil kopi."
Arga terperangah kaget.
"Nggak ada sinyal pak?!"
Pak Rahman mengangguk.
"Akses kesini hanya lewat jalur hutan dibawah sana. Dan jalurnya tepat di tengah hutan, meski jalannya lebar tapi tidak ada penghalang dari binatang buas. Dan mobil kopi yang datang biasanya mulai masuk hutan pagi hari sampai sini menjelang maghrib."
"Lama juga ya pak."
"Itulah, jika jalan kaki dipastikan harus bermalam di tengah hutan. Dan itu yang harus dihindari."
Arga mengangguk paham. Mungkin kampung ini ada di ketinggian dengan tingkat kemiringan tinggi. Otomatis jalurnya akan membelah hutan dengan berkelok untuk menghindari manuver yang terlalu tajam. Jadi wajar, akan butuh waktu yang cukup lama untuk kesini.
"Dan kalau kamu tinggal di rumah saya, memang tidak mungkin. Saya punya anak gadis seusia kamu. Peraturan disini, kalian tidak boleh ada di satu atap meski berbeda ruang."
Arga mengangguk, dia setuju dengan hal ini.
"Tapi..."
Beliau berhenti sejenak.
"Ada satu rumah kosong."
"Rumah adik saya."
"Beliau sudah meninggalkan rumah itu beberapa tahun lalu karena ikut suami nya ke kota."
"Sekarang rumahnya tidak ditempati."
"Sesekali hanya dibersihkan warga."
Arga mengangguk.
"Itu sudah lebih dari cukup, Pak."
Pak Rahman berdiri.
"Besok saya antar. Malam ini kamu disini saja. Anak saya sudah sejak sore ke rumah buliknya di dekat masjid."
---
Keesokan harinya, Pak Rahman mengantarnya ke rumah yang dimaksud. Rumah itu berada di pinggir kampung. Rumah tetangga yang ada letaknya tidak terlalu dekat namun cukup dekat untuk mendengar teriakan nya jika ada sesuatu yang terjadi. Bangunannya masih berupa rumah panggung kayu.
Tidak terlalu besar.
Namun tampak kokoh.
Halamannya ditumbuhi pohon mangga dan beberapa tanaman obat.
Saat Arga menoleh ke belakang rumah...
Ia melihat hamparan rawa yang cukup luas.
Airnya tenang.
Nyaris tidak bergerak.
Kabut tipis masih turun di atas permukaannya. Namun ada satu hal yang langsung membuatnya mengernyit.
Bau.
Aroma menyengat seperti lumpur yang bercampur sesuatu yang telah lama membusuk. Arga menutup hidungnya pelan.
"Pak..."
"Rawa di belakang itu..."
Pak Rahman menatap ke arah yang sama.
"Iya."
"Sudah ada sejak dulu."
"Bau itu memang sering muncul kalau terbawa angin."
Beliau tersenyum tipis.
Meski entah mengapa, senyum itu tidak sepenuhnya berhasil menenangkan hati Arga. Ia kembali memandang rawa yang kabutnya mulai menghilang.
Entah hanya perasaannya saja...
Atau memang ada sesuatu yang membuat tempat itu terasa begitu berbeda dengan rawa-rawa yang pernah ia lihat sebelumnya.
Angin pagi berembus pelan.
Membawa kembali aroma aneh dari arah belakang rumah. Dan tanpa alasan yang jelas... Bulu kuduk Arga perlahan mulai berdiri.
Arga masih berdiri di beranda rumah panggung itu. Tatapannya belum lepas dari hamparan rawa di belakang rumah. Permukaan airnya tampak tenang.
Terlalu tenang.
Hampir tidak ada riak sedikit pun meski angin pagi berembus pelan. Kabut tipis masih menggantung rendah di atas permukaan air. Sinar matahari pagi yang mulai meninggi perlahan menembus kabut itu, tetapi tidak membuat pemandangan di sana terasa lebih hidup.
Justru sebaliknya.
Semakin lama dipandang, rawa itu terasa semakin asing.
Lalu angin berubah arah.
Hembusannya membawa aroma yang membuat Arga spontan mengernyit.
Bau itu datang begitu tiba-tiba.
Menyengat.
Seperti lumpur yang telah lama mengendap bercampur dedaunan busuk dan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Bukan sekadar bau rawa biasa.
Aromanya menusuk hingga ke tenggorokan.
"Ugh..."
Arga refleks menutup hidung dengan punggung tangan. Lambungnya yang sejak beberapa hari terakhir terus bermasalah langsung bereaksi. Rasa mual muncul begitu cepat. Ia memalingkan wajah dari arah rawa sambil menarik napas pendek melalui mulut. Pak Rahman yang berdiri di sampingnya memperhatikan reaksi itu.
"Baunya memang kadang cukup kuat."
Arga mengangguk pelan.
"Iya, Pak..."
"Agak menyengat."
Pak Rahman hanya tersenyum tipis.
"Kalau angin dari belakang rumah, memang begitu."
"Kalau sudah siang biasanya berkurang."
Arga mencoba percaya. Namun beberapa detik kemudian angin kembali bertiup. Kali ini lebih kencang. Aroma itu kembali menerpa wajahnya.
"Uwek..."
Ia buru-buru membungkuk.
Tangannya memegang lutut.
Isi perutnya memang hampir kosong, tetapi rasa ingin muntah datang begitu hebat. Hanya cairan asam lambung yang akhirnya keluar. Perih menjalar hingga ke kerongkongan. Pak Rahman segera menepuk pelan punggungnya.
"Pelan-pelan."
"Mungkin lambungmu memang masih sensitif."
Arga mengangguk sambil mengusap bibirnya.
"Iya, Pak."
"Mungkin karena maag."
Dalam hati ia berharap memang hanya itu penyebabnya.
---
Rumah itu sederhana. Lantainya dari papan kayu yang mulai mengilap dimakan usia. Dindingnya berupa anyaman bambu. Di ruang depan terdapat dipan kayu, meja kecil, dan lemari tua. Dapur berada di bagian belakang rumah. Saat Arga melangkah ke dapur, ia kembali mencium aroma dari arah rawa. Meski tidak sekuat tadi, bau itu tetap terasa.
Seolah meresap ke udara.
Ia kembali menelan ludah. Rasa mual itu belum benar-benar hilang.
"Rumah ini memang menghadap ke arah angin." kata Pak Rahman.
"Kalau sore sampai malam biasanya baunya lebih terasa."
Arga hanya tersenyum kecil.
"Semoga saya cepat terbiasa."
Padahal ia sendiri tidak yakin.
Tak lama kemudian Pak Darsa, mantri kampung, datang memeriksa lukanya. Perban dibuka perlahan. Luka tusukan bambu itu tampak mulai mengering meski masih kemerahan.
"Belum ada tanda infeksi berat."
"Bagus."
Beliau membersihkan luka itu lalu memasang balutan baru.
"Demammu kemungkinan juga dipengaruhi kelelahan."
"Jangan banyak bergerak dulu."
Arga mengangguk. Namun ketika Pak Darsa selesai memeriksa dan mereka kembali berbincang di ruang depan, angin kembali berembus.
Bau itu datang lagi.
Lebih pekat.
Arga berusaha tetap tenang.
Ia mengambil napas perlahan.
Tetapi lambungnya kembali bergejolak.
"Maaf..."
ucapnya pelan sambil menutup mulut.
Ia bergegas keluar rumah. Baru sampai halaman, ia kembali memuntahkan cairan asam lambung.
Pak Darsa ikut keluar.
"Maagnya memang kambuh."
"Mungkin juga tubuhmu belum pulih setelah beberapa hari kurang makan."
Arga mengangguk lemah. Matanya sampai berair akibat rasa perih di tenggorokan.
Menjelang siang, beberapa warga berdatangan membawa makanan. Seorang nenek menghidangkan bubur hangat.
"Dicoba dulu."
"Biar lambungnya lebih enak."
Arga tersenyum penuh terima kasih. Ia memakan bubur itu sedikit demi sedikit. Hangatnya bubur membuat perutnya terasa lebih nyaman. Untuk beberapa saat rasa mual menghilang. Namun ketika ia membuka jendela belakang agar udara masuk...
Angin kembali bertiup.
Aroma rawa itu sekali lagi memenuhi ruangan.
Sendok di tangan Arga langsung berhenti.
Wajahnya memucat.
Ia buru-buru menutup jendela kembali.
Tetapi sudah terlambat.
Rasa mual kembali naik.
Ia meletakkan mangkuk buburnya dan memejamkan mata.
"Napas..."
gumamnya pelan.
"Napas pelan..."
Beberapa kali ia menelan ludah agar tidak muntah lagi. Beruntung kali ini lambungnya mulai sedikit lebih tenang. Nenek yang sejak tadi memperhatikannya berkata pelan,
"Kasihan."
"Belum terbiasa dengan bau rawa."
Arga menoleh.
"Memangnya semua orang di sini biasa, Nek?"
Nenek itu mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau sudah tinggal lama......baunya seperti tidak ada."
Jawaban itu membuat Arga menghela napas.
Berarti memang hanya dirinya yang bereaksi seperti ini.
Atau...
Karena kondisi tubuhnya memang sedang tidak baik.
---
Menjelang sore, angin kembali berubah. Aroma itu kembali datang, kali ini jauh lebih menyengat dibanding pagi. Arga yang sedang duduk di beranda spontan berdiri. Lambungnya kembali berkontraksi. Ia buru-buru menjauh ke halaman depan sambil menghirup udara dari arah kebun kopi. Barulah rasa mual itu perlahan mereda. Ia menoleh lagi ke arah belakang rumah. Kabut tipis mulai muncul di atas rawa meski matahari belum sepenuhnya tenggelam.
Arga menarik napas panjang.
Entah mengapa...
Dibanding rasa takut terhadap rawa itu sendiri...
Ia justru lebih khawatir jika harus terus menghadapi aroma menyengat yang setiap saat mampu membuat maag dan mualnya kambuh.
Sementara itu, dari balik jendela rumah tetangga, seorang perempuan tua memperhatikan Arga yang beberapa kali muntah sejak pagi.
Dengan suara lirih ia berbisik kepada dirinya sendiri,
"Sudah lama.....tidak ada orang luar yang bereaksi sekuat itu terhadap bau rawa."