NovelToon NovelToon
Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Menjinakkan Dinginnya Hati Sang Tirani

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Ibu Tiri
Popularitas:4.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ririne Rose

"Diceraikan tanpa mendapatkan apa pun. Dikhianati oleh suami yang berselingkuh. Dihancurkan oleh mertua hingga depresi."

Di saat hidupnya nyaris runtuh, Viona mengambil keputusan paling nekat: menjadi ibu tiri bayaran bagi putri seorang CEO terkaya yang dijuluki sang tiran berhati es.

Akankah Viona kembali kehilangan segalanya? Ataukah kali ini, pria yang dikenal paling kejam itu justru rela menjadi pelindung bagi wanita yang telah menghidupkan kembali keluarganya?

Saat hati yang terluka bertemu jiwa yang membeku, mampukah cinta menyembuhkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririne Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 21: Belanja Pertama ke Pasar Tradisional

Demam tinggi yang menyerang Oliver rupanya hanya bertahan satu hari satu malam.

Kehadiran Viona sebagai "obat paling manjur" terbukti benar secara klinis.

Gabungan antara perawatan intensif, bubur hangat penuh kasih sayang, dan genggaman tangan yang tak terlepas sepanjang malam

membuat suhu tubuh sang CEO muda kembali normal keesokan paginya.

Meskipun Oliver sempat memprotes karena Viona melarangnya menyentuh berkas kantor selama dua puluh empat jam penuh, pria itu akhirnya patuh dengan binar mata yang jauh lebih hidup.

Tiga hari setelah insiden demam tersebut, sebuah kejutan kecil kembali terjadi di mansion.

Pagi itu, Dr. Elena Mahendra baru saja menyelesaikan sesi terapi interpersonal mingguan bersama Viona di gazebo taman belakang.

Sebelum berpamitan pulang, sang psikolog memberikan satu catatan rekomendasi baru dalam jurnal pemulihan trauma Viona.

"Viona, grafik adaptasimu terhadap dunia luar sudah sangat luar biasa setelah piknik bersama Yoyo waktu itu," ujar Dr. Elena sambil merapikan blazernya.

"Namun, untuk benar-benar menghancurkan sisa-sisa kecemasan sosialmu, kau perlu melatih diri dalam lingkungan yang lebih dinamis. Lingkungan yang penuh interaksi manusia yang nyata, hangat, dan sedikit... acak."

Viona mengerutkan keningnya halus.

"Lingkungan seperti apa, Dok?"

Dr. Elena tersenyum misterius.

"Pasar tradisional. Datanglah ke sana di pagi hari. Rasakan energinya, tawar-menawar yang ramah, dan keramaian orang-orang biasa. Itu akan melepaskan sisa memori kaku tentang lingkungan steril korporat yang sempat mendikte hidupmu di masa lalu."

Rekomendasi itu langsung memicu ide di kepala Viona.

 Kebetulan, hari berikutnya adalah hari Sabtu, hari di mana Oliver tidak memiliki jadwal kantor yang mendesak.

Ketika Viona menyampaikan ide ini di meja makan malam, Oliver sempat tertegun lama.

Pria yang terbiasa dengan supermarket premium impor yang sepi dan bersih itu tidak pernah membayangkan dirinya—atau keluarganya—akan menginjakkan kaki di pasar tradisional yang terkenal padat dan riuh.

Namun, demi melihat mata jernih Viona yang berbinar penuh semangat, dan Yoyo yang melompat-lompat kecil sambil berteriak,

"Yoyo mau ikut belanja pasar! Yoyo mau lihat ikan besar!", Oliver kembali bertekuk lutut.

Otoritas tiraninya menguap, digantikan oleh kepatuhan seorang kepala keluarga.

Sabtu pagi pukul enam subuh, udara kota masih diselimuti kabut tipis dan sisa hawa dingin hujan semalam.

 Mobil SUV hitam premium baru milik Viona bergerak membelah jalanan menuju Pasar Pusat Distrik Selatan.

Oliver duduk di kursi kemudi. Pria itu menanggalkan seluruh setelan jas mahalnya.

Pagi ini, ia hanya mengenakan kaus katun hitam polos yang pas di badan, memperlihatkan lekuk dada bidang dan lengan kokohnya, dipadukan dengan celana jins gelap dan sepatu kasual.

Di sampingnya, Viona tampak sangat cantik dan segar dengan blus rajut longgar berwarna kuning kunyit dan celana kulot putih, sementara Yoyo duduk di kursi belakang mengenakan jaket denim kecil bermotif stroberi lengkap dengan tas ransel kecilnya.

Begitu mobil mereka memasuki area parkir luar pasar, suasana riuh langsung menyambut indra mereka.

Suara klakson motor, teriakan para pedagang yang menjajakan sayur segar, aroma rempah-rempah yang tajam, dan hilir mudik ibu-ibu pembawa keranjang belanjaan menciptakan kontras yang luar biasa dengan keheningan mansion mewah mereka.

Oliver turun terlebih dahulu, memutari mobil untuk membukakan pintu bagi Viona dan mengangkat Yoyo ke dalam gendongannya.

Begitu kaki mereka menapak di area luar pasar, Oliver langsung menurunkan tangan kirinya, menyusupkan jemari kokohnya ke dalam jemari Viona, menggenggamnya dengan sangat erat dan protektif.

"Tetap dekat denganku,"

bisik Oliver rendah, suaranya yang berat terdengar sangat dominan di tengah kebisingan pasar.

"Tempat ini sangat ramai. Aku tidak ingin kehilangan wanitaku dan putriku dalam kerumunan."

Viona tersenyum manis, membalas remasan tangan Oliver.

Genggaman tangan itu, seperti biasa, menjadi jangkar terkuat yang mengusir secercah rasa canggung yang sempat muncul di dadanya.

Mereka bertiga melangkah masuk ke dalam area los basah dan sayuran.

Lantai pasar yang sedikit lembap tidak menyurutkan langkah berani Yoyo.

Gadis kecil itu menatap sekeliling dengan mata bulat yang berbinar penuh rasa ingin tahu.

"Bibi Viona! Lihat, ada wortel besar sekali! Warnanya jingga seperti rambut boneka Yoyo!"

 seru Yoyo riang, menunjuk ke arah salah satu lapak sayur.

Viona menuntun mereka mendekati lapak seorang nenek tua yang menjual berbagai sayuran segar hasil kebun sendiri.

Nenek pedagang itu menatap kedatangan mereka dengan wajah berseri-seri.

Kehadiran trio ini—pria bertubuh tegap dan tampan yang memancarkan aura luar biasa, wanita cantik yang anggun, dan anak kecil yang menggemaskan—seketika mencuri perhatian di sudut pasar tersebut.

"Wah, cantiknya anak ini. Mau belanja apa, Neng, Mas?"

sapa si Nenek ramah, logat daerahnya yang kental terasa sangat hangat di telinga Viona.

"Saya mau beli wortelnya satu ikat, Nek. Sama bayam merah dan jagung manisnya juga,"

jawab Viona lembut, bicaranya sangat luwes tanpa ada sisa kecemasan sosial.

Saat Viona sibuk memilih sayuran, Oliver berdiri tegak di sampingnya bagaikan dinding pelindung.

Tubuh tegapnya yang tinggi menghalangi kerumunan orang yang berlalu lalang agar tidak menyenggol Viona atau Yoyo yang kini sudah turun dari gendongannya dan sedang asyik memegang sebutir jagung.

"Ini semua jadi tiga puluh lima ribu, Neng,"

ucap si Nenek setelah menimbang sayuran.

Viona merogoh dompetnya, namun sebelum ia sempat mengeluarkan uang, sebuah lembaran uang seratus ribu baru sudah tersodor di depan wajah si Nenek.

Oliver-lah yang melakukannya dengan gerakan yang sangat efisien.

"Kembaliannya ambil saja, Nek,"

ucap Oliver datar namun sopan.

Nenek itu terbelalak, menatap uang seratus ribu di tangannya lalu menatap Oliver dengan mata berkaca-kaca karena haru.

"Aduh, terima kasih banyak, Mas tampan. Semoga rezeki Mas sekeluarga dilipatgandakan oleh Tuhan, ya. Semoga pernikahannya langgeng, istrinya makin cantik, dan anaknya jadi anak yang berbakti."

Mendengar doa tulus tentang "pernikahan yang langgeng" dan "Mas sekeluarga" dari orang asing yang tidak tahu apa-apa tentang kertas kontrak mereka, jantung Viona berdegup kencang.

Ia melirik ke arah Oliver, mendapati pria itu sedang menatapnya dengan sepasang mata elang yang melembut sempurna.

Tidak ada bantahan dari mulut Oliver;

pria itu justru mengangguk kecil kepada si Nenek seolah menerima doa itu sebagai sebuah kebenaran mutlak.

Petualangan mereka berlanjut ke bagian los ikan dan daging.

Suasana di sini jauh lebih padat dan lantainya agak licin. Oliver meningkatkan kewaspadaannya.

Ia kembali menggendong Yoyo dengan satu tangan kokohnya, sementara tangan sebelahnya merangkul pinggang Viona dengan sangat posesif, menarik tubuh wanita itu agar menempel rapat di sisi tubuh bidangnya.

Aroma maskulin kayu cendana dari tubuh Oliver yang bercampur dengan hawa dingin pasar menciptakan sensasi yang aneh namun sangat menenangkan bagi Viona.

 Merasakan lengan Oliver yang melingkari pinggangnya secara protektif membuat Viona merasa seolah-olah ia adalah wanita paling berharga yang sedang dikawal oleh seorang ksatria tertinggi di tengah medan yang riuh.

"Ayah! Lihat, ikannya masih melompat-lompat!"

pekik Yoyo gembira saat mereka berhenti di depan akuarium besar berisi ikan mas hidup.

Seorang pedagang pria paruh baya yang sedang memotong ikan menoleh, lalu tertawa lebar melihat reaksi Yoyo.

"Wah, Mas, putrinya berani sekali ya. Biasanya anak kota kalau ke sini takut bau amis. Mas-nya juga hebat, mau menemani istri belanja ke pasar subuh-subuh begini. Suami siaga nomor satu ini mah!" seloroh si pedagang blak-blakan.

Oliver terkekeh tipis—sebuah suara rendah yang sangat menawan dan jarang terdengar.

Pria tirani dingin itu tampaknya mulai menikmati interaksi acak yang dinamis ini, persis seperti yang diprediksikan oleh Dr. Elena.

"Istriku ingin memasak sup ikan hari ini,"

jawab Oliver dengan nada rendah yang mantap, menekankan kata "istriku" dengan begitu alami dan penuh kebanggaan yang mutlak, membuat pipi Viona yang semula putih bersih kini merona merah padam menahan debaran yang kian menggila di dadanya.

Setelah membeli dua ekor ikan mas segar yang dibersihkan langsung, mereka memutuskan untuk menyudahi belanjaan karena keranjang rajut yang dibawa Viona sudah penuh dengan bahan makanan segar.

Pukul tujuh lewat tiga puluh menit, mereka bertiga berjalan keluar dari area pasar menuju tempat parkir mobil.

Sinar matahari pagi yang kuning keemasan mulai menembus sela-sela atap pasar, menerangi wajah-wajah mereka yang tampak begitu bahagia dan rileks.

Oliver meletakkan kantong-kantong belanjaan di bagasi belakang SUV, sementara Viona membantu Yoyo masuk ke dalam kursi belakang dan memasangkan sabuk pengamannya.

Setelah memastikan putrinya aman dengan botol susu hangatnya, Viona berbalik, bersiap untuk masuk ke kursi penumpang depan.

Namun, sebelum ia sempat membuka pintu mobil, tubuh tegap Oliver sudah bergerak memotong jalannya.

 Pria itu berdiri tepat di depan Viona, mengurung wanita itu di antara tubuh bidangnya dan pintu mobil.

Jarak di antara mereka kembali terkikis habis, menyisakan embusan napas hangat Oliver yang membelai kening Viona.

Oliver mengulurkan tangannya yang besar, mengambil sebutir daun kecil yang tanpa sengaja tersangkut di rambut rajut Viona akibat keramaian pasar tadi.

Jemarinya bergerak lambat, menyelipkan anak rambut Viona ke belakang telinganya dengan kelembutan yang teramat intim.

"Bagaimana perasaanmu sekarang, Nyonya Oliver?"

 tanya Oliver, suaranya yang rendah dan berat bergetar penuh perhatian. Mata elangnya mengunci manik mata jernih Viona.

"Apakah lingkungan yang riuh ini membuat jiwamu merasa cemas?"

Viona mendongak, menatap lurus ke dalam mata Oliver yang kini dipenuhi oleh pantulan dirinya sendiri.

Sebuah senyuman paling tulus dan manis merekah di bibirnya yang mulai merona segar.

"Tidak, Oliver. Sama sekali tidak," bisik Viona tulus, dadanya membuncah oleh kelegaan yang luar biasa.

"Rekomendasi Dr. Elena benar. Interaksi dengan orang-orang tadi... doa dari Nenek sayur, seloroh dari Abang ikan... semuanya terasa begitu nyata dan hangat. Tapi yang paling penting..."

Viona menjeda kalimatnya, tangannya bergerak perlahan menyentuh dada bidang Oliver yang berbalut kaus hitam polos.

 "...aku tidak merasa cemas karena aku tahu, ke mana pun aku melangkah di tengah kerumunan itu, ada tanganmu yang selalu menggenggamku dan menarikku kembali ke dalam perlindunganmu."

Mendengar pengakuan jujur dari bibir Viona, sepasang mata elang Oliver berkilat oleh emosi yang membuncah.

Detak jantungnya di bawah telapak tangan Viona berdegup kencang dalam frekuensi kebahagiaan yang sempurna.

Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di dekat telinga Viona dengan nada otoritasnya yang kini telah berubah menjadi sebuah komitmen cinta yang mutlak.

"Aku akan selalu ada di sana untuk menggenggammu, Viona. Pasar tradisional, kantor pusat, atau ujung dunia sekalipun... selama kau berada di sampingku, tugasku adalah menjadi pelindung yang memastikan tidak ada satu pun kecemasan yang bisa menyentuh jiwamu lagi. Kontrak kita mungkin awalnya adalah bisnis, tetapi hidup yang kita jalani pagi ini... adalah realita yang tidak akan pernah kubiarkan berakhir."

Oliver mengecup kening Viona dengan kelembutan yang protektif untuk beberapa saat, menyalurkan seluruh rasa kepemilikan dan rasa syukurnya, sebelum akhirnya membukakan pintu mobil untuk sang istri dengan senyuman menawan yang menghapus seluruh sisa hawa dingin sisa hujan.

 Di bawah kehangatan sinar matahari pagi yang mulai meninggi, belanja pertama ke pasar tradisional hari itu bukan hanya berhasil menghancurkan sisa trauma kecemasan sosial Viona, melainkan menegaskan sebuah kebenaran baru:

bahwa di dalam dekapan perlindungan sang tirani dingin, mereka bertiga bukan lagi sedang bersandiwara dalam sebuah kontrak—melainkan sedang melangkah bersama sebagai sebuah keluarga nyata yang utuh dan tak terpisahkan oleh apa pun di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!