Apa jadinya jika kau bertransmigrasi ke tubuh salah satu karakter sampingan di sebuah novel?
Hal inilah yang dirasakan oleh gadis bernama Melinda!
Mampukah ia mengubah karakter yang awalnya hanya dimanfaatkan menjadi seorang antagonis yang membalaskan dendam?
ataukah justru alur cerita pada novel tersebut tetap berjalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widya_Kim02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22| Kepulangan Elena
Pertarungan itu berakhir dengan Xavier yang menghajar habis-habisan Hugo. Elena terkejut melihat bagaimana pria itu mengeluarkan petir ungunya yang ternyata memang sengaja tak ditunjukan.
"Dasar Xavier, dia punya sihir petir ungu juga ternyata!" gumam Elena sedikit kesal.
Dia masih tak berani mendekat, takut jika Hugo membuat serangan mendadak. Maaf saja, Elena masih sayang nyawa, jadi dia tidak mau melakukan hal bodoh!
Xavier pun mencoba memulihkan tenaganya, tetapi begitu melihat Elena dia bergegas berlari dan memeluk gadis itu.
"Elena!"
"Menjauh dariku, kau berkeringat!" balasnya sembari mendorong tubuh Xavier.
"Huh, ku pikir kau tidak akan datang dan bersembunyi di suatu tempat." Elena memalingkan wajahnya, berpura-pura kalau sudah sedang marah.
"Y-ya, mana mungkin aku melakukan hal sepengecut itu disaat kekasihku dalan bahaya!"
Mendengar itu, pipi Elena bersemu merah.
"Ya sudah, ayo kita pulang. Aku mau bertemu dengan ibu!" ucap Elena antusias dan di balas dengan anggukan dari Xavier.
Sebelum benar-benar pergi, Elena menyempatkan diri untuk mendatangi Hugo yang terlihat tak bisa berbuat apa-apa lagi.
"Hugo, aku akan pergi sekarang dan jangan mimpi kau menikahiku. Seleraku itu tinggi, mana mau dengan orang gila sepertimu. Kalau kau mau, aku bisa menyerahkan Lily keparat itu padamu!"
Sebelum pergi, Hugo lebih dulu mencekal tangannya.
"Lepas atau kau ku bakar di sini!" ancamnya dengan menatap tajam ke arah pria itu.
"A-aku hanya ingin menberitahukanmu s-satu hal. Berhati-hatilah dengan dia, m-maksudku Lily. Dia gadis yang berbahaya, akan melakukan apapun untuk mencapai tujuannya!"
Elena hanya mengernyitkan dahi, soal itu dia juga tahu betul.
"Tidak perlu kau beritahu, aku juga sudah paham. Dia itu perempuan licik yang seharusnya tak perlu ku tolong dulu!"
Elena menepis tangannya, lantas berjalan meninggalkan Hugo. Ia senang akhirnya bisa terbebas dari manusia gila itu, bagi Elena Hugo memang gila.
Mereka telah tiba di kastil milik Merida, nampak wanita itu menunggu keduanya dengan wajah penuh kekhawatiran.
Begitu mengetahui Xavier berhasil dalam misi penyelamatan Elena, Merida langsung memeluk keduanya.
"Akhirnya kalian kembali, ibu sangat khawatir!"
Setelahnya Elena pamit pulang, Xavier pun memilih untuk mengantarkannya. Di perjalanan pulang dengan menggunakan kuda. Setengah perjalanan, jantung Elena berdetak dua kali lebih cepat.
Firasat tak mengenakan pun mampir, membuat bibirnya sama sekali tak ada senyuman.
"Kenapa firasatku tidak enak?" batinnya kebingungan.
Sebelum mereka pergi, Merida mengatakan bahwa Elena telah terkurung di sana selama dua hari dan sontak saja membuat gadis itu terkejut. Padahal dia merasa hanya setengah hari saja berada di sana.
Setibanya di sana, perasaan tak menyenangkan itu semakin bergejolak. Beberapa penjaga terkejut akan kehadiran Elena.
"No-nona Elena anda telah berhasil keluar dari sana?" tanya salah satu penjaga, mereka tak menyangka ada yang berhasil keluar hidup-hidup dari tempat organisasi hitam berada.
"Memangnya kau pikir aku ini bodoh sampai tak bisa keluar dari sana? Y-ya bantuan dari Xavier juga, sih. Kak Lucas di mana?" tanyanya antusias.
"T-tuan muda ada di ruang kerjanya, nona. Apa mau saya antar?"
"Tidak perlu, ayo Xavier!"
Elena yang saat itu mencoba menepis perasaan tak enak, berjalan sembari menampilkan senyum manisnya. Dia melangkah menuju ruangan sang kakak, beberapa pelayan dibuat terkejut dengan kehadiran Elena.
"Kakak, aku pulaang!" teriaknya heboh sembari membuka pintu dengan tiba-tiba.
Lucas yang saat itu sedang menangis dibuat terkejut dengan kehadiran Elena, dengan cepat ia menghapus air matanya dan berjalan ke arah sang adik.
"Kakak menangis?" tebaknya dan hanya mendapatkan gelengan dari Lucas.
"Bagaimana bisa kau kembali dari sana? Padahal kakak sedang memikirkan cara untuk membebaskanmu!"
Elena kembali tersenyum, Lucas teriris melihat senyuman tulus itu.
"Xavier yang membantuku keluar dari sana dan menghajar habis-habisan Hugo. Oh iya, ibu mana?"
Lucas menegang di tempat, akhirnya Elena menanyakan perihal ibunya. Dia tak tahu harus apa, Xavier pun menyadari gelagat aneh dari Lucas.
"Kak Lucas, kau baik-baik saja?" tanya Xavier memastikan.
Lucas langsung menukar ekspresi wajahnya menjadi ceria lagi.
"Ibu sedang bepergian dengan ay-"
"Lucas!"
Belum saja dia menyelesaikan kalimatnya, Edward sudah berada di belakang Elena. Tubuhnya semakin menegang, pria berstatus duda pun tak kalah terkejut ketika mendapati anak bungsunya berada di hadapannya langsung.
Elena segera berbalik dan melihat ekspresi terkejut dari Edward.
"Ayah, mana ibu?"
Dua-duanya mematung di tempat, rasanya tenggorokan mereka tercekat hanya untuk mengucapkan kenyataan pahit terkait Loretta.
"Kenapa diam? Aku tanya ibu ada di mana?" bentaknya, Elena kesal pasalnya dia tak mendapatkan jawaban yang pasti sejak tadi.
Xavier tahu, ada yang tidak beres pada keduanya.
"Tolong katakan saja di mana nyonya Loretta berada, Elena sejak tadi menanyai ibunya."
"Ayah akan membawamu ke ibu asalkan kau janji untuk tidak mengamuk!" ucap Edward mengantipasi.
Elena menatap bingung pada sang ayah.
"Mengapa aku harus mengamuk? Cepat, antarkan aku ke ibu."
"Berjanji dulu Elena!" ucap Edward penuh penekanan.
"Iya iya, aku janji."
Edward menatap Lucas dan mengangguk, ia lantas menggenggam tangan Elena dan membawanya ke suatu tempat.
Perasaan Elena semakin tak karuan, dengan susah payah dia mencoba menetralkan detak jantungnya.
Sebuah makam di depannya membuat Elena membulatkan matanya. Pikiran buruk yang mampir, dia tepis dengan sesuatu yang optimis.
Mereka kini telah berdiri tepat di depan makam tersebut, rasanya seperti jantung Elena berhenti dalam beberapa detik. Tenggorokannya tercekat, matanya memanas dan buram. Nama yang tertulis jelas di batu nisan membuat tubuhnya seperti tak ada tulang.
Elena seketika ambruk dan langsung di tangkap oleh Edward, dia tahu hal ini pasti akan membuat Elena marah, sangat marah.
Mulutnya seakan tak mengizinkan dia untuk berucap, sementara Xavier menatap tak percaya pada makam yang dia lihat ini.
"Kenapa ... Kenapa ibu bisa berada di sini?" Elena bertanya dengan tatapan tajam.
Lucas pun menceritakan tentang insiden kebakaran, juga Edward. Rahang Elena mengeras, dia dengan kesal memukul tanah yang barada di sebelahnya. Cipratakan petir ungu keluar dari tangan kanannya.
"Elena, tenangkan dirimu. Kau sudah berjanji ada ayah untuk tidak mengamuk!" ucap Edward lantang.
"Ibu mati dan kalian tidak mencari tahu siapa pelakunya?" teriak Elena penuh dengan rasa sakit hati.
"Siapapun yang sudah membuat ibu begini, akan ku balas dua kali lipat sakitnya. Aku tidak akan membiarkan pelaku sialan itu terus-terusan merasa senang."
Elena akhirnya menangis dengan histeris, Lucas pun memeluknya demi menenangkan sang adik. Dia tahu, Elenalah yang lebih terpukul atas meninggalnya Loretta.
"Apa yang akan aku katakan pada Elena tentang ibunya?" batinnya kebingungan.
Jauh di lubuk hatinya, dia benar-benar menaruh dendam pada siapapun yang berani membuat ibunya meninggal. Akan dia tunjukan sisi jahat seorang Elena yang selama ini terlalu baik dan mudah untuk dimanfaatkan.
Musuh sebenarnya bukanlah Hugo, melainkan mereka yang mengetahui tentang seluk belukmu. Tujuan utama Elena juga adalah membuat tokoh sampingan dari novel yang dia baca berakhir bahagia, jadi dia harus menuntaskannya dengan cara mencari pelaku pembunuhan ibunya.
Malam harinya, Elena nampak melamun dengan segala pikirannya yang berkecamuk. Toh mengamuk tanpa tahu siapa pelakunya juga adalah hal yang sia-sia menurutnya.
Kabar bahwa Elena berhasil melarikan diri dari Hugo telah tersebar, tetapi hal itu tak akan mengubah apapun.
Dia menatap indahnya langit malam, dengan perasaan tenang Elena berjalan menuju luar. Ia duduk tepat di bawah sebuah pohon dan menghirup udara malam.
Ia menerawang jauh sebelum Loretta meninggal, kenangan yang tidak singkat itu jelas membuatnya sakit hati.
Dia menutupi wajahnya dengan kedua lututnya, air matanya kembali mengalir. Tubuhnya gemetar, rasa kantuk menyerang dirinya. Elena akhirnya tertidur dengan rasa lelah yang luar biasa.
Bersambung...