Lima tahun menjalin hubungan dengan Marcella, hidup Doni terasa begitu tenang. Marcella adalah definisi wanita ideal. Cantik, cerdas, anggun, dan penuh perhatian. Doni yakin masa depannya sudah terkunci pada wanita itu. Namun, keyakinan tersebut mendadak goyah saat suatu hari dia bertamu ke rumah kekasihnya itu, dan bertemu dengan adik kandungnya.
Olivia namanya. Sifatnya bertolak belakang dengan sang kakak. Enerjik, meletup-letup, dan sporty. Pertemuan pertama disambung dengan pertukaran pesan sampai tengah malam menyalakan percikan rasa yang salah di hati Doni. Muncul kedekatan rahasia yang melahirkan dilema: bertahan demi cinta yang telah dijalin lama, atau hanyut oleh debaran baru yang lebih memicu adrenalin.
Terjebak dalam rasa bersalah, Doni melarikan diri dengan menumpahkan seluruh kegelisahan dan rahasianya menjadi sebuah cerita fiksi di NovelToon. Ironisnya, novel itu justru viral dan ikut dibaca oleh kedua saudari itu. Di antara dua rasa, siapakah yang akan terluka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denny Ramdhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Barang-barang Asing
Setelah membalas pesan Olivia dengan singkat, Doni berdiri, mengambil tas ranselnya, dan memasang sepatu, karena waktu sudah menunjukkan lima belas menit sebelum jam satu siang. Tak lupa dia mengambil tas olahraga Olivia dan juga kaus Polo Papanya. Olivia memang tidak meminta kaus milik Papanya itu, tapi Doni berinisiatif untuk membawanya dan berencana untuk mengembalikannya sekalian bersamaan dengan tas milik Olivia. Setelah menyimpan barang-barang asing itu dengan aman di bagasi jok motornya, Doni kembali memacu motornya membelah lalu lintas kota yang kini sudah tak sepadat pagi tadi.
Suasana ruang kuliah di lantai tiga gedung fakultas itu pun tidak seriuh sebelumnya. Beberapa mahasiswa tampak menahan rasa kantuknya di siang yang begitu terik itu. Bahkan, ada satu mahasiswa yang duduk di kursi paling belakang sudah larut dalam tidurnya. Berbeda dengan Doni. Dia memang tidak tertidur, dan juga tidak merasa mengantuk. Namun, sepanjang dua jam duduk di ruang kelas, pikirannya terus melayang pada bagasi jok motornya. Tempat dia menaruh tas olahraga dan kaus Polo, barang-barang yang harus segera dia kembalikan sebelum memicu masalah baru.
Kuliah siang itu berlangsung sedikit lebih lama. Kelas yang seharusnya dibubarkan tepat jam tiga siang, malah berakhir lima belas menit setelahnya, karena sang dosen asyik menjelaskan tanpa menyadari waktu yang sudah berlalu. Begitu dosen keluar kelas, Doni tidak membuang waktu. Dia langsung melangkah cepat menuju parkiran motor dan melaju ke sebuah kafe JOIN di dekat area kampus. Tidak seperti kemarin, kafe itu kini cukup tenang di jam-jam sore seperti ini, cukup pas untuk sebuah pertemuan yang tak boleh diketahui siapa pun.
Sama persis seperti kemarin, Doni duduk di tempat yang terletak di pojok ruangan. Tas olahraga milik Olivia dia letakkan di samping kakinya, sedangkan kaus Polo milik Papa dia simpan rapi di paper bag kecil yang dia letakkan di atas meja. Sambil menunggu Olivia datang, Doni berinisiatif untuk memesan minuman terlebih dahulu. Satu milkshake cokelat yang dia tahu adalah minuman favorit Olivia, dan satu iced americano untuk dirinya sendiri yang dia harapkan dapat mengusir rasa kantuk yang mulai datang.
Kleneng… Kleneng…
Lonceng kecil yang tergantung di bagian atas pintu masuk kafe itu akhirnya berbunyi gemerincing. Olivia yang berpakaian seragam SMA dengan rok abu-abu melangkah masuk. Penampilan Olivia hampir sama seperti kemarin, tetap effortless dan cuek dengan rambut yang dikuncir kuda asal-asalan dan makeup yang tidak terlalu tebal. Dia mengedarkan pandangan sejenak sebelum berjalan santai mendekati meja Doni.
Doni yang sejak di kosan sudah bertekad untuk menghadapi gadis SMA itu dengan lebih santai, nyatanya masih saja terpesona melihat wajah polos Olivia yang memancarkan keindahan yang begitu menyegarkan khas gadis remaja.
“Udah lama, Kak?” sapa Olivia santai mengagetkan Doni yang masih tertegun. Dia mendaratkan duduknya di kursi yang berhadapan dengan Doni tanpa canggung.
“Ng-Nggak, aku baru nyampe juga”, jawab Doni berusaha se-santai mungkin.
Setelah seorang pelayan datang menyajikan pesanan mereka, Olivia tampak riang melihat minuman favoritnya, sementara Doni perlahan menggenggam tas olahraga milik Olivia di bawah meja. Tanpa membuat gerakan mencolok, dia menggeser tas itu dan menyerahkannya.
“Wih, udah dipesenin nih minuman favorit aku. Kok tau, Kak?” tanya Olivia dengan senyumnya yang lebar.
“Ya… kemarin kan, kamu pesen itu juga”, jawab Doni. “Tuh, tas kamu”, sambungnya setelah tas olahraga Olivia sudah berpindah tempat ke sebelah kaki pemiliknya. Olivia menerima tas itu dengan napas lega yang dihembuskan pelan.
“Akhirnya… balik juga nih tas ke yang punya, setelah… berapa malam ya nginep di kosan Kak Doni?” tanya Olivia sambil tersenyum tipis.
“Dua”, jawab Doni singkat, lalu menyeruput iced americano-nya.
“Oh iya, bener. Dua malam nginep di bukan rumahnya”, ucap Olivia sambil mengelus-elus tas itu. Dia lalu membuka ritsleting tas, mendekatkan hidungnya, dan menghirup aromanya dalam-dalam. “Wih, bau lavender-nya masih ada, Kak! Mantep juga nih pewanginya Kak Doni. Tahan lama!” sambungnya sambil mengacungi jempol.
Doni tersenyum mendengarnya, layaknya senyuman seorang kakak kepada adiknya. Doni kemudian meraih sebuah paper bag kecil yang sedari tadi dia letakkan di atas meja, dan menyodorkannya ke arah Olivia.
“Oh iya. Sekalian nih, kaus Polo punya Papa”, ucap Doni.
Olivia mengerutkan dahi, menatap paper bag itu lalu menatap Doni dengan tatapan tak percaya. Dia tidak menyambut paper bag itu, melainkan justru mendorongnya kembali ke arah Doni menggunakan ujung jarinya.
“Kok dikasih ke aku, Kak?” Olivia menggeleng cepat. “Kak Doni aja yang bawa langsung ke rumah nanti”, sambungnya santai, lalu memakan whip cream yang ada di atas milkshake-nya dengan sedotan.
“Astaga, Liv. Sekalian kali. Kan kamu juga mau pulang ke rumah”, ujar Doni tegas. “Masa mau nginep di kosanku lagi?” sambungnya heran.
“Gini, Kak. Coba pikir”, kata Olivia sambil mendekatkan wajahnya ke Doni. “Kalau aku bawa ini ke rumah, pasti bakal ditanyain, ‘Loh, Liv. Kok baju Papa ada sama kamu? Bukannya kemarin dipakai Doni, ya?’ trus aku harus jawab apa? Aku habis ketemuan sama Kak Doni, gitu? Kak Doni mau aku jawab gitu?” tanya Olivia tegas, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
“Ya… nggak, sih”, jawab Doni pasrah.
“Makanya, mending Kak Doni aja nanti yang bawa langsung ke rumah, atau… kasih langsung ke Kak Cella aja kalau ketemu”, sambung Olivia yang menatap Doni dengan gaya khasnya yang cuek.
Doni terpaku sejenak. Argumen Olivia yang praktis dan tidak mau ambil pusing itu ada benarnya. Tak terbayangkan kalau sampai Olivia bilang kalau dia habis bertemu dengan pacar kakaknya, berdua saja! Daripada mengambil resiko itu, Doni menghela napas pasrah, lalu menarik kembali paper bag itu dan memasukkannya lagi ke dalam tas ranselnya.
“Yaudah deh. Nanti aku yang balikin ke Marcella”, gumam Doni.
“Nah, mending gitu, kan?” Olivia tersenyum tipis, merasa menang. “Oh iya, Kak!” dia seperti teringat sesuatu.
“Apa lagi?” tanya Doni kurang tertarik.
“Selain tas olahraga aku dan bajunya Papa, Kak Doni nggak inget ada satu lagi barang aku yang nginep di kosan Kak Doni? Wah, udah berapa lama ya dia disitu, lebih lama dari tas ini, loh”, ujar Olivia mencoba membuat Doni mengingatnya.
Doni tersentak. Tumbler! Olivia benar, tumbler itu sudah cukup lama tergeletak di atas meja belajar di kamar kosnya. Padahal, dia sudah berniat mengembalikannya bersamaan dengan tas olahraga dan kaus Polo itu, namun sepertinya dia lupa untuk memasukkannya ke dalam tas ranselnya karena terburu-buru.
“Udah inget belum, Kak?” tanya Olivia lagi.
“I-iya, Liv. Tumbler kamu, ya?” jawab Doni pelan.
“Nah, itu inget! Mana, Kak? Masih di kosan, ya? Kok nggak dibawa?” tanya Olivia menginterogasi.
“Sori, Liv. Ketinggalan. Gini aja, besok…”
“Oh, ya udah”, potong Olivia. “Yuk, ke kosan sekarang. Biar aku ambil sendiri tumbler-ku”, ajak Olivia santai, seolah ajakan itu adalah hal paling lumrah di dunia.
Jantung Doni rasanya berhenti berdetak detik itu juga. Matanya melebar.
“Eh! Ng-nggak usah, Liv! Besok aja aku…”
“Bentar doang, Kak”, potong Olivia lagi. “Cuma ambil tumbler doang, kan? Palingan nggak nyampe lima menit”, sambungnya seraya berdiri dan mengambil tas sekolahnya.
Doni membeku di kursinya. Kepalanya mendadak berputar hebat. Di dalam kamar kos yang ditinggalkannya tadi siang, layar laptopnya mungkin masih menyala, menampilkan halaman dasbor NovelToon dengan bab baru yang baru saja dia unggah beberapa jam lalu.