"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Di Balik Meja Gambar
Studio Gambar siang itu terasa gerah dan pengap. Suara gesekan pensil di atas kertas kalkir dan penggaris T yang digeser berulang kali menjadi latar belakang yang monoton. Namun, fokus Yuna sama sekali tidak ada pada tugas proyeksi bangunan di depannya. Pikirannya masih tertinggal di selasar kantin, tepat pada senyuman Bu Citra dan bagaimana serasinya mereka berdua di mata orang lain.
Yuna menopang dagunya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya memutar-mutar pensil mekanik tanpa arah. Wajahnya kusut. Ada rasa tidak aman yang tiba-tiba menyergap hatinya.
‘Bu Citra kan pintar, cantik, seumuran lagi sama Mas Labib. Lah aku? Cuma mahasiswi ingusan yang bahkan nggak bisa bedain jahe sama lengkuas,’ batin Yuna makin jengkel pada diri sendiri.
Ting!
Suara notifikasi bernada pendek dari ponselnya yang tergeletak di atas meja gambar memecah lamunan Yuna. Ia menyalakan layar. Sebuah pesan WhatsApp masuk dari nomor dengan nama kontak yang baru semalam ia ganti menjadi 'Mas Labib'.
Mas Labib:
Jangan pulang telat, aku sudah janji masak-masakan spesial untukmu.
Yuna menatap layar itu dengan tatapan datar. Alih-alih merasa senang seperti beberapa menit lalu sebelum ke kantin, pesan itu sekarang malah terasa seperti sebuah kewajiban yang mengekang. Rasa cemburu dan gengsi khas anak muda usia 21 tahun mengalahkan akal sehatnya.
Yuna meletakkan kembali ponselnya dengan posisi layar menghadap ke bawah. Ia sengaja tidak membalas pesan itu. Dibaca pun tidak—hanya diintip lewat pop-up notifikasi.
"Biarin aja. Biar tahu rasa," gumam Yuna ketus.
Otak jahilnya mulai menyusun rencana pelarian. Sore ini, jadwal kuliah studionya selesai pukul empat. Sesuai perjanjian awal, mereka pulang terpisah. Artinya, Labib tidak akan bisa mengontrol apakah dia benar-benar langsung pulang ke rumah atau tidak.
Yuna melirik Dinda yang sedang sibuk menghapus garis arsirannya yang salah di meja sebelah.
"Din," panggil Yuna setengah berbisik.
"Hmm? Kenapa, Yun?" sahut Dinda tanpa mengalihkan pandangan dari kertasnya.
"Nanti sore... gue boleh main ke kosan lo nggak? Terus... kalau gue numpang nginep semalam, boleh?"
Dinda langsung menghentikan gerakan menghapusnya. Ia menoleh dengan mata membelalak heran menatap Yuna. "Hah? Nginep? Tumben banget? Biasanya lo kan paling nggak bisa jauh dari rumah semenjak... ya, semenjak bokap lo nggak ada. Ibu lo gimana?"
Yuna sudah menyiapkan jawaban untuk pertanyaan ini. "Ibu ada Andra yang jagain. Andra sekarang udah dewasa banget, makanya gue agak tenang. Gue... gue cuma lagi jenuh aja di rumah. Pengen suasana baru sambil ngerjain tugas studio bareng lo. Boleh ya?"
Dinda tampak menimbang-nimbang sebentar, lalu tersenyum lebar. "Ya boleh banget lah! Kebetulan kosan gue lagi sepi, anak kamar sebelah lagi mudik. Asyik nih, kita bisa deep talk sekalian pesen seblak ntar malam!"
"Oke, deal ya. Nanti habis kelas gue langsung ikut mobil lo, eh... maksudnya gue ngikutin mobil lo dari belakang pakai mobil gue," ralat Yuna cepat.
"Sip!"
Yuna kembali menatap kertas gambarnya dengan senyuman kemenangan yang tertahan. Di dalam hatinya, ada rasa puas sekaligus debaran takut. Ini adalah bentuk protes pertamanya sebagai seorang istri rahasia. Yuna ingin tahu, apa yang akan dilakukan oleh dosen paling galak di kampus itu jika mendapati rumah besarnya kosong dan sang istri mendadak "hilang" tanpa kabar di malam hari.