NovelToon NovelToon
Bos Kucing Oranye

Bos Kucing Oranye

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Romansa Fantasi / CEO
Popularitas:955
Nilai: 5
Nama Author: La Runa

Kinanti mengira tantangan terbesar dalam hidupnya hanyalah menghadapi Arkan, CEO perusahaannya yang terkenal dingin, perfeksionis, dan bermata tajam seperti predator. Sampai suatu malam, saat lembur badai di kantor, sekelebat petir menyambar dan Arkan tiba-tiba lenyap dari kursinya—menyisakan setelan jas mahal kosong dan seekor kucing oranye gembul yang mengeong galak.

​Ternyata, sang CEO jenius terkena kutukan turun-temurun: ia akan berubah menjadi kucing oranye biasa setiap kali hujan turun atau saat emosinya tidak stabil. Celakanya, sifat "ras terkuat di bumi" sang kucing tetap terbawa. Ia tetap bosan, sombong, dan menuntut—tapi dalam wujud yang sangat ingin didekap.

​Satu-satunya orang yang mengetahui rahasia ini adalah Kinanti. Kini, tugas Kinanti berlipat ganda: menjadi sekretaris profesional di siang hari, dan menjadi babu pelindung sang CEO di malam hari agar ia tidak diculik oleh saingan bisnisnya... atau tidak sengaja mengejar tikus saat rapat penting.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Runa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rapat Umum Pemegang Saham Dan Ancaman Baru

Hari Senin selalu menjadi hari yang paling krusial di lantai tiga puluh dua Gedung Mahardika Tower. Namun, Senin kali ini memiliki tensi yang berkali-kali lipat lebih tinggi. Hari ini adalah jadwal Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa. Agenda utamanya sangat sensitif: reorganisasi struktur direksi menyusul kesuksesan investasi Jepang, sekaligus pengesahan resmi posisi Kinanti Amalia sebagai Direktur Operasional tetap.

Sejak pukul delapan pagi, Kinanti sudah berdiri di depan cermin besar di ruangannya. Ia mengenakan setelan blazer berwarna biru dongker yang dipadukan dengan kemeja sutra putih. Rambutnya disanggul rapi, memancarkan aura profesionalisme yang matang. Di atas mejanya, berkas-berkas laporan keuangan dan proyeksi profit sudah tertata tanpa cela.

Tok! Tok!

Pintu geser rahasia di balik lemari buku terbuka. Arkan melangkah masuk dengan penampilan yang kembali ke setelan orisinalnya: jas tiga potong berwarna abu-abu arang, dasi sutra senada, dan rambut klimis yang tertata sempurna dengan pomade. Tidak ada lagi jejak sweter hitam wanita kekecilan atau bulu-bulu jingga gembul dari kejadian di rest area dua hari lalu. Pria itu kembali menjadi sang predator puncak di dunia korporat Jakarta.

"Kamu sudah siap, Kinanti?" tanya Arkan, suaranya terdengar berat dan mantap.

"Siap, Pak," jawab Kinanti sambil menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan debaran di dadanya. "Semua dokumen cetak untuk para komisaris sudah didistribusikan. Proyeksi investasi dari Mr. Tanaka juga sudah saya kunci di halaman pertama presentasi."

Arkan berjalan mendekat, berhenti tepat di depan Kinanti. Ia memperhatikan ekspresi gadis itu selama beberapa detik. "Rangga akan ada di sana. Dia menjabat sebagai perwakilan dari salah satu faksi pemegang saham minoritas. Dia pasti akan mencari celah untuk menjatuhkanmu karena kamu menggagalkan rencananya minggu lalu."

Kinanti tersenyum tipis, menatap lurus ke mata hijau zamrud Arkan. "Jangan khawatir, Pak. Saya sudah dua tahun menghadapi temperamen Bapak yang jauh lebih mengerikan dari Pak Rangga. Menghadapi sindiran minoritas seperti dia rasanya cuma seperti menghadapi lalat di musim kemarau."

Sudut bibir Arkan terangkat, membentuk senyuman tipis yang penuh kebanggaan. "Bagus. Jangan beri dia ruang untuk bernapas. Mari kita selesaikan ini."

Ruang rapat utama sudah dipenuhi oleh para pria dan wanita paruh baya berbusana formal. Mereka adalah jajaran komisaris senior dan pemegang saham utama PT Mahardika Megah. Di ujung meja oval panjang, Rangga Mahardika duduk dengan senyuman sinis yang melekat di wajahnya. Matanya langsung menatap tajam saat Arkan masuk, diikuti oleh Kinanti yang berjalan di belakangnya dengan dagu terangkat tegas.

Rapat dimulai dengan pemaparan performa kuartal kedua oleh Arkan. Suasana berjalan kondusif hingga tiba pada agenda pengesahan jabatan Kinanti.

"Instruksi, Pimpinan Rapat," Rangga tiba-tiba mengangkat tangannya, memotong jalannya presentasi dengan nada suara yang sengaja dikeraskan.

Arkan menurunkan remote presentasinya, menatap sepupunya dengan pandangan dingin. "Silakan, Rangga."

Rangga berdiri, merapikan jasnya dengan gestur teatrikal. Ia mengedarkan pandangan ke arah para komisaris tua. "Saya rasa kita semua perlu meninjau kembali keputusan sepihak dari CEO kita. Menunjuk seorang sekretaris pribadi menjadi Direktur Operasional dalam waktu semalam? Ini adalah preseden buruk bagi tata kelola perusahaan (Good Corporate Governance). Apakah tidak ada lagi profesional eksternal yang lebih berkompeten, sampai-sampai Arkan harus menaikkan jabatan... 'orang dekatnya' dengan begitu terburu-buru?"

Kasak-kusuk langsung terdengar di antara para komisaris senior. Beberapa dari mereka tampak mengangguk setuju dengan narasi nepotisme yang dilemparkan Rangga.

Kinanti tidak menunggu Arkan untuk membelanya. Ia langsung melangkah maju ke depan layar proyektor, mengambil alih kendali rapat dengan ketenangan yang luar biasa.

"Terima kasih atas kekhawatiran Anda yang sangat berharga, Pak Rangga," suara Kinanti menggema jernih di ruang rapat yang kedap suara itu. "Jika kompetensi yang Anda pertanyakan, mari kita bicara menggunakan satu-satunya bahasa yang dipahami oleh ruangan ini: Angka."

Kinanti menekan tombol pada tabletnya. Layar proyektor langsung berubah, menampilkan grafik pertumbuhan dan efisiensi biaya.

"Dalam waktu empat puluh delapan jam setelah penunjukan saya, saya memimpin langsung negosiasi dengan SoftWind Tech dari Jepang yang diwakili oleh Mr. Tanaka," lanjut Kinanti, matanya mengunci pandangan Rangga yang mulai berubah tegang. "Kami berhasil mengamankan investasi senilai lima ratus miliar rupiah dengan klausul win-win solution yang memotong biaya manufaktur lokal sebesar delapan belas persen, sekaligus menaikkan efisiensi daya hingga empat koma dua persen. Ini adalah kontrak terbesar yang berhasil diraih divisi operasional dalam tiga tahun terakhir."

Kinanti menjeda kalimatnya, memberikan waktu agar data tersebut meresap ke dalam pikiran para komisaris.

"Jika seorang 'profesional eksternal' membutuhkan waktu berbulan-bulan hanya untuk memahami struktur organisasi, saya memberikan profit setengah triliun dalam waktu dua hari," tegas Kinanti dengan nada suara yang mutlak tanpa keraguan. "Jadi, Pak Rangga, bagian mana dari efisiensi dan profitabilitas ini yang menurut Anda merusak tata kelola perusahaan?"

Keheningan total langsung melanda ruang rapat. Salah satu komisaris paling senior, seorang pria tua berambut putih yang terkenal sangat pelit pujian, perlahan-lahan mulai bertepuk tangan. Langkah itu segera diikuti oleh seluruh anggota ruangan, menyisakan Rangga yang terpaksa duduk kembali dengan wajah merah padam menahan geram.

Arkan mengetuk palu sidang. "Dengan demikian, RUPS resmi mengesahkan Kinanti Amalia sebagai Direktur Operasional tetap PT Mahardika Megah."

Setelah rapat selesai dan para pemegang saham keluar dari ruangan, Rangga tidak langsung pergi. Ia berdiri di dekat pintu, menunggu hingga ruangan menyisakan dirinya, Arkan, dan Kinanti.

"Sangat mengesankan, Kinanti. Atau harus kupanggil... calon Nyonya Mahardika?" sindir Rangga sambil berjalan mendekati meja Arkan dengan langkah santai yang dibuat-buat. "Kamu pandai sekali bersandiwara. Tapi kalian berdua jangan senang dulu."

Arkan berdiri dari kursinya, menaruh kedua tangannya di dalam saku celana. Aura mengintimidasi langsung terpancar kuat dari tubuhnya. "Keluar dari ruangan saya, Rangga. Kamu sudah kalah."

"Aku mungkin kalah di RUPS hari ini, Arkan," Rangga tersenyum licik, matanya berkilat penuh kemenangan rahasia. Ia merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil—sebuah botol semprotan kaca berukuran mini berisi cairan bening. "Tapi aku tahu ada yang aneh denganmu. Minggu lalu saat hujan deras, kamu menghilang dari kantormu selama berjam-jam, dan sekretarismu ini mendadak mengunci ruanganmu rapat-rapat sambil membawa baju ganti pria."

Jantung Kinanti mendadak berdegup kencang. Ia melirik Arkan, mencoba membaca situasi.

"Lalu, hari Sabtu kemarin," lanjut Rangga, menurunkan nada suaranya menjadi bisikan yang beracun. "Informanku di tol Cikampek melihat mobilmu menepi di rest area saat badai. Dan tebak apa? Kamu keluar dari mobil itu dengan mengenakan sweter wanita yang kekecilan, sementara Kinanti yang menyetir. Lucu sekali untuk seorang CEO yang terkenal gila kontrol."

Rangga menimang-nimang botol semprotan kecil itu di tangannya. "Aku tidak tahu trik magis atau penyakit aneh apa yang kamu sembunyikan, Sepupuku. Tapi aku tahu satu hal: pemicunya ada hubungannya dengan air."

Zasss!

Tanpa peringatan, Rangga menekan tuas semprotan itu ke arah wajah Arkan. Cairan bening menyembur keluar, membentuk partikel-partikel embun air yang langsung mengenai pipi dan kening Arkan.

"Pak Arkan!" jerit Kinanti panik. Ia langsung melompat ke depan, berusaha menghalangi sisa semprotan air itu dengan tubuhnya sendiri, namun beberapa tetes cairan sudah terlanjur membasahi kulit wajah sang bos.

Rangga tertawa puas, melangkah mundur ke arah pintu. "Kita lihat saja, apakah sang Singa Mahardika akan tetap perkasa setelah ini, ataukah rumor tentang 'hewan peliharaan' itu benar adanya!" Dengan kata-kata ancaman itu, Rangga berbalik dan keluar dari ruang rapat, menutup pintu dengan bantingan keras.

Di dalam ruangan, kepanikan massal langsung melanda Kinanti. Ia berbalik menatap Arkan. "Pak! Bapak tidak apa-apa?! Saya akan ambil tisu, saya akan keringkan wajah Bapak sekarang!"

Namun, sebelum Kinanti sempat melangkah, Arkan sudah mencengkeram tepi meja rapat dengan sangat kuat hingga urat-urat di tangannya menonjol tegang. Napas pria itu mendadak menjadi sangat pendek dan berat. Kilatan cahaya keemasan yang biasanya muncul saat mendung di luar kini mendadak meletup-letup di sekitar tubuh Arkan, dipicu secara paksa oleh kontak langsung air di wajahnya.

"Sialan... Rangga..." erang Arkan, suaranya mulai bergetar hebat. Rasa sakit akibat transformasi paksa tanpa bantuan alam membuat tubuhnya bergetar hebat. Matanya yang hijau zamrud mulai melebar, dan kuku-kukunya perlahan mulai menyusut berganti dengan cakar.

"Pak Arkan! Tahan! Kita harus ke ruangan Bapak sekarang!" Kinanti dengan sigap memapah tubuh kekar Arkan yang mulai melemah dan menyusut. Ia menuntun pria itu melewati pintu rahasia di balik lemari buku, menguncinya dari dalam, dan langsung merebahkan Arkan di atas sofa kulit besar.

Transformasi itu berjalan jauh lebih menyakitkan daripada biasanya karena dipicu oleh manipulasi fisik, bukan oleh tekanan atmosfer alami. Dalam hitungan detik yang menegangkan, pakaian jas mewah seharga ratusan juta itu kembali mengempis.

Meong...

Sebuah suara meongan yang sangat lemah dan terdengar kesakitan keluar dari balik tumpukan kain jas. Seekor kucing oranye gembul muncul, namun kali ini kondisinya sangat mengenaskan. Tubuhnya gemetar hebat, bulu-bulunya basah oleh sisa air semprotan, dan sepasang mata hijaunya tampak sayu, menatap Kinanti dengan pandangan meminta pertolongan sebelum akhirnya perlahan-lahan terpejam—Arkan pingsan dalam wujud kucingnya.

Kinanti membeku di tempat, air matanya hampir menetes melihat kondisi bosnya. Ancaman Rangga bukan lagi sekadar gertakan biasa. Musuh mereka kini telah mengetahui pemicu fisik dari kutukan tersebut, dan masa depan PT Mahardika Megah—serta nyawa Arkan sendiri—kini berada dalam bahaya yang jauh lebih besar daripada sebelumnya.

1
Ana Dww
😭
Ana Dww
Wait, 6 Kilogram?
Ana Dww
😭Sama seperti Cleo—Kucing oranyeku
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!