NovelToon NovelToon
Alesha, Gadis Absurd.

Alesha, Gadis Absurd.

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Anshuu_

Arka tak pernah berniat ikut campur dengan kehidupan Alesha. Namun, karena gadis absurd itu adalah sepupu dari sahabatnya sendiri, mereka terus dipertemukan dalam berbagai keadaan. Tingkah Alesha yang tak pernah bisa ditebak sering kali membuat Arka hanya bisa menggelengkan kepala. Mulai dari masalah sepele hingga kekacauan yang menghebohkan sekolah, Alesha selalu punya cara untuk membuatnya ikut terseret. Mau tak mau, sebagai ketua OSIS, Arka harus berkali-kali turun tangan menghadapi ulah gadis yang paling sulit dipahami itu.

Siapa sangka, dari semua kekacauan tersebut, perlahan tumbuh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anshuu_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17.

Hari itu menjadi hari pertama Alesha berhasil melewati pelajaran tanpa tertidur sama sekali.

Bagi orang lain mungkin hal itu bukan sesuatu yang besar, tapi bagi Alesha, itu adalah sebuah pencapaian.

Sepanjang jam istirahat, ia terus tersenyum puas sambil duduk di kantin bersama Dinda.

"Gue masih nggak percaya lo sebahagia itu cuma karena nggak tidur di kelas," ujar Dinda sambil membuka minuman.

Alesha mengangguk mantap.

"Karena ini perjuangan."

"Perjuangan?"

"Iya. Lo nggak tahu betapa beratnya melawan rasa kantuk."

Dinda tertawa kecil.

"Padahal solusinya cuma tidur lebih cepat."

Alesha langsung diam.

"Itu juga perjuangan."

Dinda hanya bisa menggeleng melihat jawaban temannya.

Tidak lama kemudian, Kevin datang bersama Arka, Reza, dan Alvian. Mereka langsung mengambil tempat duduk tidak jauh dari Alesha.

Kevin menatap adiknya.

"Hari ini aman?"

Alesha langsung tersenyum bangga.

"Aman."

Kevin mengangkat alis.

"Benar?"

"Iya. Tidak tidur di kelas."

Mendengar itu, Reza langsung bertepuk tangan kecil.

"Wah, selamat."

Alesha menatapnya kesal.

"Jangan mengejek."

"Bukan mengejek. Gue ikut senang."

Kevin hanya tersenyum tipis melihat ekspresi adiknya.

"Bagus."

Satu kata sederhana dari Kevin membuat Alesha semakin tersenyum.

Namun, tiba-tiba Arka bersuara.

"Berarti kamu bisa kalau memang berusaha."

Alesha menoleh.

"Iya."

"Jadi jangan ulangi lagi."

Alesha langsung menunjuknya.

"Kenapa kamu selalu mengingatkan?"

"Karena kamu sering lupa."

Alesha terdiam.

Reza yang mendengar langsung tertawa.

"Kena."

Alesha hanya mendengus kecil.

Setelah makan siang selesai, mereka kembali ke kelas masing-masing.

Hari itu berjalan cukup lancar. Alesha benar-benar berusaha menjaga dirinya agar tidak tertidur lagi.

Namun, saat pelajaran terakhir berlangsung, rasa kantuk mulai kembali datang.

Guru di depan kelas sedang menjelaskan materi, sementara suara pendingin ruangan membuat suasana semakin nyaman.

Alesha mulai berkedip beberapa kali.

Dinda yang melihat langsung berbisik.

"Les."

Alesha menjawab pelan.

"Gue tahu."

"Jangan kalah."

"Gue sedang berusaha."

Ia lalu menulis catatan lebih cepat agar tetap fokus.

Beberapa menit kemudian, guru memberikan tugas.

Alesha langsung merasa lega.

Setidaknya dengan mengerjakan sesuatu, pikirannya kembali aktif.

Saat bel pulang berbunyi, Alesha menghela napas panjang.

"Berhasil."

Dinda tertawa.

"Lo benar-benar menganggap ini seperti kompetisi."

"Memang."

Mereka keluar kelas bersama.

Di depan gerbang, Kevin sudah menunggu seperti biasa.

Namun kali ini, sebelum Kevin bertanya, Alesha langsung berkata,

"Kak."

"Hm?"

"Hari ini gue tidak tidur."

Kevin terdiam sebentar.

Lalu tersenyum kecil.

"Bagus."

Alesha langsung tersenyum lebar.

"Nah, akhirnya Kak Kevin bangga."

"Jangan terlalu senang."

Wajah Alesha langsung berubah.

"Kenapa?"

"Karena baru satu hari."

Alesha langsung menghela napas.

"Kak..."

Kevin tertawa kecil.

Namun sebelum mereka pulang, Arka yang berjalan melewati mereka tiba-tiba berhenti.

"Alesha."

Alesha menoleh.

"Apa?"

Arka melihatnya sebentar.

"Pertahankan."

Alesha sedikit terkejut.

"Hanya itu?"

Arka mengangguk.

"Iya."

Setelah itu ia pergi bersama Alvian dan Reza.

Alesha masih berdiri sambil melihat punggungnya.

Dinda yang berada di sampingnya langsung tersenyum jahil.

"Lo senang lagi?"

Alesha buru-buru mengalihkan pandangan.

"Enggak."

"Tapi senyum."

Alesha langsung menyentuh wajahnya sendiri.

"Serius?"

Dinda tertawa.

"Lo lucu, Les."

Di perjalanan pulang, Alesha kembali bercerita kepada Kevin tentang hari itu.

"Gue berhasil, kan?"

Kevin mengangguk.

"Iya."

"Berarti gue hebat."

"Iya."

Alesha tersenyum puas.

Untuk pertama kalinya sejak pindah ke sekolah baru, ia merasa benar-benar mulai menemukan tempatnya.

Ia tidak lagi hanya dikenal sebagai adiknya Kevin.

Ia mulai dikenal sebagai Alesha.

Gadis yang ceria, sedikit ceroboh, dan selalu punya cara sendiri membuat suasana menjadi lebih ramai.

Malam harinya, Alesha kembali berada di kamarnya.

Ia melihat buku pelajarannya yang sudah rapi.

Lalu menatap Pingky yang berada di sudut kamar.

"Hari ini aku berhasil."

Pingky bersuara kecil.

"Kwek."

Alesha tertawa.

"Iya, aku tahu. Besok harus lebih baik lagi."

Namun setelah beberapa menit, ia melihat jam dinding.

"Masih jam sembilan..."

Alesha mulai berpikir.

Apakah ia harus tidur sekarang?

Atau melakukan hal lain?

Mengingat wajah Kevin yang selalu khawatir, akhirnya ia mengambil keputusan.

"Baiklah."

Ia naik ke kasur dan menarik selimut.

"Besok sekolah lagi."

Tidak lama kemudian, matanya mulai terpejam.

Dan untuk pertama kalinya, Kevin tidak perlu mengingatkannya untuk tidur lebih cepat.

Pagi harinya, suasana rumah kembali dipenuhi suara aktivitas.

Alesha yang biasanya harus dibangunkan berkali-kali oleh Kevin, kali ini sudah turun ke ruang makan lebih dulu.

Kevin yang baru masuk langsung berhenti di ambang pintu.

Ia menatap adiknya beberapa detik.

"Aneh."

Alesha yang sedang makan langsung menoleh.

"Kak, kenapa semua hal tentang aku selalu dibilang aneh?"

"Karena perubahan kamu mencurigakan."

Alesha langsung memasang wajah tidak percaya.

"Ini namanya berkembang."

Oma yang mendengar percakapan mereka hanya tersenyum.

"Bagus kalau begitu. Berarti sekolah baru membuat Alesha lebih disiplin."

Kevin duduk sambil mengambil sarapan.

"Semoga bertahan lama."

Alesha langsung menatap kakaknya.

"Kak Kevin, kenapa tidak pernah percaya sepenuhnya?"

"Karena gue kenal kamu sejak kecil."

Alesha terdiam.

Lalu mengangguk pelan.

"Itu juga benar."

Setelah sarapan selesai, mereka pun berangkat menuju sekolah.

Sesampainya di sekolah, Alesha berjalan menuju kelas bersama Dinda.

Hari ini suasana terasa berbeda. Ia sudah mulai mengenal banyak orang dan tidak lagi merasa seperti murid baru.

Beberapa siswa menyapanya saat lewat.

"Pagi, Alesha."

"Pagi."

Dinda tersenyum melihatnya.

"Lo cepat banget terkenal."

Alesha mengangkat bahu.

"Mungkin karena aku ramah."

"Atau karena kejadian tidur di kelas."

Alesha langsung berhenti berjalan.

"Dinda."

Dinda tertawa.

"Aku bercanda."

Mereka pun masuk ke kelas.

Sementara itu, di area parkiran, Kevin baru saja turun dari motor ketika Arka datang bersama Alvian dan Reza.

Reza langsung tersenyum.

"Vin."

"Hm?"

"Adik lo sekarang sudah punya banyak teman."

Kevin melihat ke arah kelas Alesha.

"Iya."

Arka ikut melihat sekilas.

"Dia mudah beradaptasi."

Kevin mengangguk.

"Memang dari dulu begitu."

Reza menyeringai.

"Tapi tetap saja bikin masalah."

Kevin langsung menatapnya.

"Jangan ingatkan."

Alvian tertawa kecil.

Namun, di tengah percakapan mereka, tiba-tiba terdengar suara dari arah lapangan.

Beberapa siswa terlihat berkumpul.

"Ada apa?" tanya Reza.

Salah satu siswa menjawab,

"Ada kegiatan kelas, katanya butuh perwakilan."

Kevin tidak terlalu memperhatikan sampai ia mendengar satu nama.

"Alesha."

Ia langsung menoleh.

"Kenapa lagi?"

Ternyata di depan kelas, wali kelas Alesha sedang meminta seseorang untuk menjadi perwakilan dalam kegiatan sekolah.

Dan entah bagaimana...

Nama Alesha kembali muncul.

Dinda menatap Alesha yang berdiri di depan kelas.

"Les, jangan bilang lo mau ikut."

Alesha tersenyum kecil.

"Kenapa tidak?"

Dinda langsung menghela napas.

"Gue mulai merasa hari-hari ke depan bakal ramai."

Alesha hanya tertawa.

Tanpa ia sadari, hari-harinya di sekolah baru memang semakin penuh cerita.

Dan kali ini bukan karena tidur di kelas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!