Kenan, CEO berkuasa, menjatuhkan talak pada Kinasih hanya untuk melindunginya. Tanpa ia tahu, wanita itu pergi membawa buah cinta mereka.
Kini Kinasih menjadi dokter muda yang berjuang sendirian, sementara Kenan terjebak dalam pernikahan hampa, hatinya tetap hanya untuk mantan istrinya itu.
Takdir mempertemukan mereka kembali. Kenan pun bertekad merebut kembali apa yang hilang, menghadapi cemburu buta istri barunya dan saingan baru yang ingin memiliki Kinasih. Akankah ia berhasil menebus kesalahan dan menyatukan keluarga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laporan Rahasia Reyna untuk Kenan
Kenan menunduk dalam, rasa sesak kembali melingkupi dadanya. Pandangannya perlahan beralih ke arah perut Kinasih yang membulat sempurna.
“Lalu… anak kita?” tanyanya, suaranya bergetar menahan haru.
Refleks, tangan Kinasih langsung terangkat mengusap lembut perutnya seolah melindungi.
Kenan kembali bersuara, kali ini dengan nada yang lebih tegas dan penuh keyakinan.
“Aku akan bertanggung jawab sepenuhnya.”
“Mas…”
“Dia anakku, Nash. Darah dagingku sendiri.”
Kinasih memejamkan mata sejenak, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berpacu.
“Aku nggak akan merebut dia dari kamu, jangan khawatir. Tapi aku juga nggak mungkin bisa berpura-pura nggak peduli dan menganggap dia bukan anakku,” lanjut Kenan sambil melangkah sedikit lebih dekat.
“Aku ingin anak kita tumbuh besar tanpa kekurangan apa pun, baik materi maupun kasih sayang.”
“Mas…”
“Dan satu hal lagi: kamu nggak bisa melarang aku untuk menjadi ayah baginya.”
Kinasih tersenyum tipis, kali ini senyumnya terasa lebih lapang.
“Saya bukannya mau melarang, Mas.”
“Lalu kenapa menolak semua bantuanku?”
“Saya cuma nggak mau merepotkan hidup Mas Kenan lagi.”
“Itu sama sekali bukan merepotkan.”
“Saya masih bisa bekerja dan menghasilkan uang sendiri.”
“Aku tahu kemampuanmu.”
“Saya bisa mengurus diri sendiri dan kandungan ini dengan baik.”
Kenan mengusap wajahnya dengan kasar, merasa frustasi menghadapi keteguhan hati mantan istrinya itu.
“Nash… kamu ini keras kepala sekali.”
Kinasih terkekeh pelan, suara lembutnya terdengar asing namun tetap merdu di telinga Kenan.
“Belajar dari seseorang yang juga sama keras kepalanya.”
Kenan pun ikut tersenyum hambar, rasa sesak di dadanya sedikit berkurang mendengar tawa itu.
“Kalau nanti kamu butuh apa pun, kapan pun itu, langsung telepon aku. Jangan dipendam sendiri.”
“Nggak usah khawatir berlebihan.”
“Aku akan tetap khawatir, entah kamu mau atau tidak.”
“Terserah Mas saja.”
“Kalau tiba-tiba ngidam makanan aneh di tengah malam gimana?” goda Kenan untuk mencairkan suasana.
“Saya bisa cari dan beli sendiri.”
“Kalau tiba-tiba merasa sakit atau pusing?”
“Ada rekan dokter yang bisa membantu.”
“Kalau merasa terlalu lelah pulang kerja?”
“Saya cukup istirahat.”
Kenan menggeleng sambil tersenyum pasrah.
“Kamu selalu punya jawaban untuk semuanya.”
“Soalnya saya sudah terbiasa melakukan semuanya sendirian sejak lama,” jawab Kinasih pelan.
Kalimat terakhir itu membuat senyum di wajah Kenan perlahan menghilang, digantikan oleh rasa bersalah yang semakin membesar.
Tepat saat itu, sebuah mobil berhenti rapi di depan lobi rumah sakit.
“Mobil pesananku sudah datang,” ujar Kinasih sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang.
“Saya pulang dulu ya, Mas.”
Tanpa menunggu jawaban atau balasan apa pun, Kinasih berjalan perlahan menuju kendaraan itu.
Kenan hanya mampu berdiri mematung di tempatnya, menatap dari kejauhan saat mobil itu perlahan melaju dan menjauh, membawa pergi wanita yang masih sangat dicintainya—beserta buah hati mereka yang sedang dikandung.
“Memang benar kontraknya sudah selesai, Nash,” gumamnya lirih, hanya bisa didengar oleh angin malam. “Tapi rasa cintaku padamu… tidak pernah dibuatkan tanggal berakhirnya.”
Mobil daring yang ditumpangi Kinasih akhirnya berhenti tepat di depan halaman rumah kontrakannya yang sederhana namun terasa nyaman.
Baru saja ia turun dan menutup pintu kendaraan, pintu pagar sudah terbuka lebih dulu. Seorang wanita muda berdiri di sana dengan senyum hangat menyambut.
“Selamat datang, Dok,” sapa Reyna ramah.
Kinasih membalas senyum itu dengan lembut.
“Makasih, Rey.”
“Pasti capek banget, ya?” tanya Reyna sambil menatap wajah Kinasih yang tampak lelah.
“Iya… hari ini pasien di IGD sangat ramai, jadi nyaris tak ada waktu istirahat sama sekali,” jawab Kinasih sambil mengusap pinggangnya yang terasa pegal.
Reyna segera melangkah mendekat dan mengambil tas kerja dari tangan Kinasih.
“Sini tasnya, biar aku yang bawa.”
“Nggak usah, aku sanggup.”
“Tidak apa-apa, Dok. Biar aku saja yang urus barangnya.”
Kinasih pun tak menolak lagi, menyerahkan tas itu sambil mengucap terima kasih.
“Makasih banyak.”
“Sama-sama. Yuk, kita masuk dulu.”
Begitu melangkah masuk ke dalam rumah, Kinasih langsung melepas sepatu dan mengembuskan napas panjang, seolah melepaskan segala beban di pundaknya.
“Aduh… rasanya kaki ini mau copot berdiri terus dari pagi tadi,” keluhnya pelan.
Reyna terkekeh mendengarnya.
“Wajar saja, Dok. Apalagi sekarang usia kandungan sudah enam bulan, tubuh pasti terasa lebih berat.”
Kinasih mengangguk, lalu tangannya bergerak mengusap lembut perutnya yang mulai membuncit jelas.
“Sepertinya dedek di dalam juga ikut merasakan kelelahan ibunya, ya.”
“Berarti dedek sedang memberi kode agar Mamanya segera istirahat,” jawab Reyna dengan nada lembut.
“Iya nih, rasanya mata ini sudah berat sekali.”
Reyna melirik sekilas, menyadari rona wajah Kinasih yang tampak sedikit pucat.
“Dok, lebih baik mandi air hangat dulu saja. Badan akan terasa lebih segar dan rileks setelahnya.”
“Baiklah. Aku juga ingin segera rebahan sebentar.”
“Untuk makan malam, biar aku yang siapkan saja. Nanti kalau sudah siap aku panggilkan.”
Kinasih menatap Reyna dengan rasa tak enak hati yang menyelimuti.
“Rey, kamu ini seperti asisten pribadiku saja. Terlalu banyak merepotkan.”
Reyna tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana.
“Kan memang tugasku menemani dan membantu Dok di rumah ini. Jadi jangan dipikirkan lagi, ya.”
“Baiklah… makasih banyak atas bantuannya.”
“Sama-sama, Dok.”
Kinasih pun melangkah menuju kamar tidur untuk berganti pakaian dan beristirahat sejenak. Begitu pintu kamar tertutup rapat, senyum hangat di wajah Reyna perlahan menghilang, digantikan oleh ekspresi yang lebih serius.
Ia segera mengeluarkan ponsel dari saku celemeknya, lalu menekan satu nomor yang sudah tersimpan di ingatannya. Tak sampai lima detik, panggilan itu langsung tersambung.
“Ya, Rey?” suara berat dan tegas milik Kenan terdengar dari seberang sana.
“Selamat malam, Pak,” jawab Reyna dengan nada sopan.
“Bagaimana keadaan Kinasih hari ini?” tanya Kenan tanpa basa-basi, nada suaranya langsung menyiratkan kekhawatiran.
“Dokter Kinasih baru saja tiba di rumah, Pak.”
“Dia dalam keadaan baik-baik saja?”
“Alhamdulillah sehat, hanya terlihat sangat lelah. Tadi jalannya pun agak lambat karena terasa berat.”
Kenan terdiam sejenak, seolah membayangkan kondisi mantan istrinya itu.
“Apakah dia sudah makan?”
“Belum, Pak. Sekarang dia sedang beristirahat di kamar. Saya baru akan mulai menyiapkan makan malamnya sebentar lagi.”
“Pastikan dia makan dengan cukup, ya. Jangan sampai hanya sedikit saja.”
“Siap, Pak. Saya akan ingatkan.”
“Jangan lupa juga berikan vitamin dan susu hamilnya sesuai jadwal.”
“Sudah saya siapkan di meja makan, Pak. Nanti pasti saya berikan.”
Kenan mengembuskan napas panjang, terasa sedikit lega mendengar penjelasan itu.
“Bagus. Terus… tadi di rumah sakit bagaimana keadaannya?”
Reyna terdiam sesaat, seolah ragu untuk melanjutkan.
“Pak Kenan sempat bertemu dan mengobrol dengan Dokter Kinasih di lobi, bukan?”
“Iya, sempat bertemu sebentar.”
“Setelah Bapak pergi, beliau terlihat biasa saja. Tapi menurut pengamatanku, beliau masih berusaha menjaga jarak dan bersikap hati-hati.”