Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Tertinggal
Rencana licik yang dirancang oleh Valerie Wijaya bergerak jauh lebih cepat dan terstruktur dari yang diperkirakan oleh siapa pun. Melalui jaringan informan pribadinya yang dibayar dengan nominal sangat mahal, tidak butuh waktu lama bagi perwakilan dari Keluarga Wijaya untuk mengorek dan membongkar seluruh lembaran masa lalu Keyra yang paling dalam. Dan seperti yang sudah diduga, penemuan mereka langsung mengarah pada satu nama pria yang kini tengah meratapi nasibnya di balik jeruji besi: Arkan.
Sore itu, suasana di dalam ruang kunjungan rumah tahanan tampak begitu dingin, suram, dan dipenuhi aroma apak khas besi berkarat. Arkan duduk di atas kursi kayu tanpa sandaran dengan pakaian tahanan berwarna jingga mencolok yang tampak kedodoran di tubuhnya yang kian hari kian kurus kering. Wajahnya yang dulu selalu tampak tampan, rapi, dan dipenuhi keangkuhan, kini terlihat begitu kusam dengan kerutan stres yang mendalam di area dahi. Rambutnya pun dipotong asal-asalan, menyisakan sosok pria yang telah kehilangan seluruh martabat hidupnya.
Arkan sedang menatap kosong ke arah permukaan meja pembatas semen di hadapannya ketika seorang sipir penjara tiba-tiba membentak pundaknya dengan kasar, memerintahkannya untuk segera duduk tegak karena ada tamu VVIP yang datang memandangnya dari balik kaca pembatas.
Pintu besi berat ruangan itu terbuka dengan derit nyaring, dan Valerie Wijaya melangkah masuk dengan langkah kaki yang teramat anggun. Dia mengenakan kacamata hitam besar bermerek terkenal serta syal sutra yang menutupi sebagian lehernya, seolah-olah dia sangat enggan untuk menghirup udara di tempat kotor dan menjijikkan tersebut bahkan untuk sedetik saja. Dua orang pengawal berbadan tegap dan berwajah sangar berdiri berjaga dengan ketat di belakang kursinya begitu Valerie menduduki kursi VIP.
Arkan mengernyitkan dahinya dalam-dalam, menatap sosok wanita asing yang memancarkan aura kekayaan luar biasa di hadapannya dengan pandangan penuh selidik. "Siapa... siapa Anda sebenarnya? Saya tidak merasa mengenal Anda atau memiliki urusan dengan lingkaran sosialita seperti Anda."
Valerie melepas kacamata hitamnya secara perlahan dengan gerakan dramatis, memperlihatkan sepasang mata indahnya yang memancarkan kilatan dingin, penuh tipu muslihat, dan meremehkan sosok di depannya. "Kamu memang tidak kenal siapa aku, Arkan. Tapi kita berdua memiliki dua kesamaan yang sangat besar dan krusial saat ini. Kita sama-sama membenci wanita bernama Keyra, dan kita sama-sama ingin melihat wanita jalang yang sok suci itu jatuh kembali ke dalam lumpur penderitaan terdalam."
Mendengar nama Keyra kembali disebut di hadapannya, rahang Arkan seketika mengeras dengan urat-urat leher yang menegang. Rasa perih, penyesalan yang terlambat, serta amarah yang membakar bercampur aduk menjadi satu di dalam dadanya. "Keyra... Untuk apa Anda kemari jauh-jauh hanya untuk membawa namanya di depanku? Jika Anda datang ke sini hanya untuk menghasutku, maka usaha Anda percuma. Aku sudah hancur total. Aku divonis tujuh tahun penjara dan terlilit utang ganti rugi sebesar sepuluh miliar rupiah karena wanita sialan itu dan Devan Alister!"
Valerie tertawa kecil mendengarnya, sebuah tawa renyah yang terdengar sangat kejam, sinis, dan menggema menyakitkan di ruangan sesempit itu. "Tujuh tahun? Angka yang terlalu lama dan menyedihkan untuk dihabiskan oleh pria muda yang pernah menjadi CEO sepertimu, bukan? Dan utang sepuluh miliar... mari kita realistis, Arkan. Kamu tidak akan pernah bisa melunasi nominal itu seumur hidupmu, bahkan jika kamu menjual seluruh organ tubuhmu di tempat terkutuk ini."
Valerie memajukan tubuhnya beberapa senti ke depan meja pembatas, menatap lurus ke dalam manik mata Arkan yang tampak putus asa dan penuh kegelapan. "Aku bisa mengeluarkanmu dari tempat menjijikkan ini dalam waktu kurang dari tiga hari, Arkan. Aku memiliki tim hukum yang bisa menghapus seluruh tuntutan ganti rugi sepuluh miliarmu kepada keluarga Mentari, memulihkan nama baikmu di mata publik, dan memberimu modal uang tunai yang sangat besar untuk pergi ke luar negeri menjalani hidup baru yang jauh lebih mewah dari masa lalumu."
Jantung Arkan mendadak berdegup kencang dengan ritme yang tidak beraturan. Harapan yang semula sudah mati dan terkubur di dalam dirinya seolah dipompa paksa dengan adrenalin untuk kembali hidup. Dia mencengkeram tepi meja semen dengan kedua tangan yang gemetar hebat. "A-Apa syarat dari semua kemewahan ini? Aku tahu tidak ada makan siang gratis di dunia ini, terutama dari orang kaya dan berkuasa seperti Anda. Apa yang sebenarnya Anda inginkan dari pria tak punya apa-apa sepertiku?"
"Cerdas, aku suka pria yang langsung berorientasi pada kesepakatan," puji Valerie sembari menyandarkan kembali punggungnya di kursi beludru dengan santai. "Syaratnya sangat mudah dan sederhana bagi pria sepertimu. Aku tahu kamu adalah mantan kekasih Keyra selama tiga tahun berturut-turut. Aku juga tahu kalian pernah tinggal bersama di sebuah rumah kontrakan sempit yang kumuh di pinggiran kota sebelum kamu mencampakkannya demi harta keluarga Mentari."
Valerie mengeluarkan sebuah alat perekam suara digital kecil dan kamera saku dari dalam tas mewahnya, lalu meletakkannya dengan ketukan pelan di atas meja. "Aku ingin kamu membuat sebuah video pengakuan resmi di depan kamera media yang sudah aku siapkan. Katakan pada seluruh publik dan netizen bahwa Keyra adalah wanita murahan yang gila harta sejak dulu. Katakan bahwa selama bersamamu, dia sering menjual dirinya pada pria-pria kaya hidung belang demi mendapatkan uang untuk membiayai gaya hidupnya, dan Devan Alister hanyalah korban kebodohan terbarunya yang terkena jerat rayuan maut dari wanita licik itu."
"T-Tapi itu semua bohong!" seru Arkan refleks, ada sisa-sisa hati nuraninya yang mendadak menolak untuk memfitnah sejauh itu. "Keyra adalah gadis yang sangat baik, tulus, dan polos dulu. Dia bahkan rela bekerja banting tulang dari pagi sampai malam di toko kue hanya untuk membiayai hidupku dan kuliahku. Dia tidak pernah melakukan hal sehina dan sekotor itu!"
"Bohong atau jujur, dunia dan media sosial tidak akan pernah peduli, Arkan!" potong Valerie dengan cepat, nada suaranya mendadak meninggi, penuh dengan penekanan yang tajam dan mengintimidasi. "Publik hanya menyukai skandal yang panas dan menjijikkan! Begitu media besar menyebarkan video pengakuan kontroversial dari mulut mantan kekasihnya sendiri, reputasi Keyra sebagai ikon utama kosmetik mewah Alister Group akan hancur lebur dalam semalam! Saham Alister Group akan anjlok, dan para tetua keluarga besar Devan akan turun tangan memaksa Devan untuk membuang wanita kotor penuh skandal itu dari hidupnya!"
Valerie menatap Arkan dengan pandangan mata yang sangat tajam, menyodorkan selembar kertas perjanjian pembebasan bersyarat serta jaminan uang yang sudah disiapkan oleh tim pengacara pribadinya. "Pilihan sekarang sepenuhnya ada di tanganmu, Arkan. Tetap bersikap sok suci dan menjadi pahlawan dengan membela mantan kekasihmu yang sekarang sedang tidur dengan nyaman di atas kasur empuk apartemen mewah milik Devan Alister sembari menontonmu membusuk di dalam sel seluas dua meter ini selama tujuh tahun ke depan... atau kamu bersedia bantu aku menghancurkannya, dan kamu bisa berjalan bebas sebagai pria kaya raya di luar negeri dalam waktu tiga hari? Pikirkan baik-baik masa depanmu yang berharga."
Arkan terdiam seribu bahasa, napasnya memburu di tengah keheningan yang mencekam. Tatapan matanya beralih pada kertas perjanjian di hadapannya, lalu bayangan wajah Keyra yang menatapnya penuh dengan kemenangan dan kepuasan di taman tempo hari kembali terlintas dengan sangat jelas di ingatannya. Rasa iri, dengki, dan dendam kesumat karena takdir hidup mereka yang berputar balik 180 derajat akhirnya berhasil membunuh seluruh sisa-sisa kebaikan di dalam hati Arkan.
Tangan Arkan yang dipenuhi bekas luka dan debu penjara perlahan bergerak meraih pulpen hitam yang disodorkan oleh pengawal Valerie. Dengan tangan yang gemetar namun pasti, dia membubuhkan tanda tangannya di atas dokumen resmi tersebut.
Valerie yang melihat coretan tanda tangan itu langsung menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah senyuman penuh kemenangan yang teramat licik dan mengerikan. "Bagus sekali, Arkan. Pilihan yang sangat bijaksana untuk menyelamatkan dirimu sendiri. Mari kita lihat bersama, seberapa lama seorang Devan Alister yang agung bisa mempertahankan ratu palsunya saat badai skandal ini menghantam hidup mereka hingga hancur berkeping-keping."