NovelToon NovelToon
Resep Cinta Setelah Akad

Resep Cinta Setelah Akad

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:750
Nilai: 5
Nama Author: Keysa Bom

Katanya, cinta harus datang sebelum menikah. Tapi bagaimana jika cinta justru lahir setelah akad terucap?

Menjadi seorang PNS membuat Satria Baskara terbiasa menjalani hidup dengan aturan dan tanggung jawab. Di sisi lain, Naira Azzahra, seorang pembuat kue rumahan, percaya bahwa setiap kue memiliki resepnya sendiri.

Namun, ia tak pernah menyangka takdir justru menuliskan resep cintanya melalui sebuah perjodohan.

Tanpa proses pacaran. Tanpa janji manis. Hanya sebuah akad yang menyatukan dua hati yang sebelumnya tak saling mengenal.

Di balik sarapan hangat, bekal makan siang, dan perhatian-perhatian kecil yang awalnya terasa biasa, perlahan tumbuh perasaan yang tak mampu mereka sangkal. Namun ketika cinta akhirnya hadir, ujian demi ujian mulai mengetuk pintu rumah tangga mereka.

Akankah Satria dan Naira berhasil mempertahankan cinta yang tumbuh setelah akad? Atau justru takdir kembali menguji hati mereka, saat keduanya mulai benar-benar saling mencintai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keysa Bom, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ayok Kita Lakukan

Satria seketika membeku di tempatnya berdiri. Tangannya yang memegang helm langsung kaku di udara.

Untuk beberapa detik yang terasa sangat panjang, tidak ada satu pun dari mereka yang mengeluarkan suara. Kalimat manja yang sederhana itu benar-benar di luar dugaan Satria. Pria kaku berumur 28 tahun itu benar-benar tidak siap menerima serangan mendadak dari istrinya.

Perlahan tapi pasti, gurat warna merah keunguan mulai merayap naik dan memenuhi ujung telinga hingga ke leher tegap Satria. Sementara di sisi lain, Naira sudah hampir menangis karena menyesali ucapannya yang dirasa terlalu agresif.

"Kalau... kalau Mas Satria malu atau keberatan, nggak apa-apa kok! Aku... aku bisa pasang sendiri," ralat Naira buru-buru dengan suara panik, hendak merebut helm tersebut dari tangan Satria.

Belum sempat jemari Naira meraihnya, Satria dengan cepat menggelengkan kepala pelan. "Bukan begitu, Naira."

"Lalu?" tanya Naira polos, menatap wajah suaminya yang mendadak salah tingkah.

"Aku hanya... kaget," aku Satria jujur. Sebuah senyum tipis yang sangat manis dan jarang terlihat kini terbit di wajah tampannya. "Boleh. Sini mendekat."

Satria mengambil helm itu perlahan, lalu melangkah maju satu langkah memperkecil jarak di antara mereka. Dengan penuh kehati-hatian, seolah sedang memegang barang pecah belah yang sangat berharga, Satria memakaikan helm itu ke kepala Naira.

Jemari kokoh Satria bergerak sangat pelan saat merapikan helaian hijab di sekitar kening Naira agar tidak terjepit. Tanpa sengaja, punggung jari kasarnya bergeser pelan dan menyentuh permukaan kulit pipi Naira yang halus dan panas.

Sentuhan tak sengaja itu membuat mereka berdua kembali terdiam dalam debaran yang kencang. Satria menahan napasnya, lalu dengan telaten mengklik tali pengaman di bawah dagu Naira.

Klik.

"Selesai," bisik Satria lembut, menurunkan tangannya.

"Terima kasih banyak, ya, Mas." Naira buru-buru menundukkan kepala sedalam-dalamnya demi menyembunyikan wajahnya yang pasti sudah merah padam.

"Ayo berangkat, Nai" Satria tersenyum hangat, hatinya membuncah melihat respons menggemaskan istrinya.

Panggilan nama baru yang terdengar begitu akrab dan intim itu seketika membuat Naira mendongak dengan mata membulat. "Mas Satria..."

"Hm? Kenapa?"

"Mas... baru pertama kali memanggilku dengan nama itu," cicit Naira, hatinya berdesir aneh namun menyenangkan.

Satria tampak sedikit salah tingkah, ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Ah, itu... kalau kamu tidak suka, aku akan panggil Naira lagi—"

"Suka!" potong Naira cepat dengan nada bersemangat, lalu buru-buru menggigit bibir bawahnya karena malu sendiri. "Aku suka panggilan itu, Mas."

Satria tersenyum lega, matanya berbinar cerah. "Bagus kalau begitu. Ayo, Nia."

Entah kenapa, perjalanan sore itu terasa sangat berbeda dari biasanya. Jarak di antara mereka di atas motor terasa mengikis beberapa senti. Mereka berkeliling menikmati suasana kota di bawah langit senja yang indah, menyusuri jalanan yang mulai dipenuhi oleh kilau lampu-lampu pertokoan.

Sesekali Satria menunjuk beberapa bangunan kantor dinas, bercerita tentang pengalamannya saat masih menjadi staf biasa sebelum naik jabatan menjadi Kasubag. Sementara Naira dengan antusias menceritakan cita-cita besarnya yang ingin membuka cabang toko kue di pusat kota suatu hari nanti.

Sore itu, memang tidak ada pegangan tangan yang erat. Tidak ada pula untaian kata-kata puitis yang romantis. Namun, obrolan ringan dan tawa kecil yang mengalir di atas motor itu terasa jauh lebih hangat dan bermakna daripada hari-hari sebelumnya.

✨✨✨✨

Menjelang malam, mereka akhirnya kembali ke rumah. Setelah membersihkan diri dari debu jalanan, mereka kembali melaksanakan ibadah salat Magrib dan Isya berjamaah dengan penuh khusyuk, diikuti dengan makan malam bersama yang diisi obrolan santai.

Seusai makan malam, Naira tidak langsung kembali ke kamar. Ia duduk di kursi meja dapur yang diterangi lampu temaram. Di hadapannya, sudah terbuka sebuah buku resep kue tebal yang sudah agak usang. Sebuah judul besar tertulis di bagian atas halaman dengan tinta tebal.

PAI APEL

"Tepung terigu dua ratus gram... butter dingin... bubuk kayu manis... Hmm, takarannya harus pas supaya tidak bantat." Naira membaca setiap langkah pembuatan adonan dengan dahi berkerut serius, jemarinya bergerak menunjuk tulisan.

Saat Naira sedang sibuk menghitung takaran mentega, Satria melangkah masuk ke dalam dapur. Pria itu baru saja selesai merapikan majalah dan mengunci pintu di ruang tamu.

"Nai, Mas mau ambil minum dulu, ya," pamit Satria sopan saat melewati meja makan.

"Iya, Mas, silakan," jawab Naira tanpa menoleh, matanya masih terpaku pada resep di depannya.

Satria membuka pintu kulkas, mengambil sebotol air dingin, lalu menuangkannya ke dalam gelas. Ia mengangkat gelas tersebut dan mulai meminumnya dengan tegukan besar untuk menyegarkan tenggorokannya yang kering.

Baru saja air dingin itu masuk dan memenuhi rongga mulut Satria...

Tiba-tiba...

"Mas Satria!" Panggil Naira dengan suara lantang.

Satria menolehkan kepalanya dengan gelas yang masih menempel di bibir. "Iya?" sahutnya dengan gumaman tertahan.

Dengan sepasang mata yang berbinar-binar penuh semangat membara, Naira mendadak berdiri dari kursinya lalu mengangkat buku resep di tangannya tinggi-tinggi ke udara, tepat di hadapan wajah Satria.

"Mas! Ayok... lakukan sekarang juga!" seru Naira dengan nada super antusias dan polos.

Pffftttt!! Uhuk! Uhuk!

Air dingin yang baru saja hendak ditelan Satria seketika menyembur keluar dengan sukses dari mulutnya, membasahi lantai ubin dapur. Satria terbatuk-batuk hebat hingga wajahnya memerah, dadanya kembang kempis menahan sesak yang tiba-tiba karena tersedak parah.

Naira langsung membelalakkan matanya sempurna, panik setengah mati. Ia menjatuhkan bukunya ke meja dan buru-buru menghampiri suaminya.

"Mas Satria! Astaghfirullah! Mas tidak apa-apa? Maaf! Ya Allah, maafkan aku!" panik Naira berlari mengusap punggung suaminya.

Satria masih terus terbatuk-batuk kecil sambil memegangi dadanya, mencoba menetralkan jalan napasnya yang tersumbat. Pandangan matanya menatap Naira dengan tatapan yang sulit diartikan campuran antara syok, malu, dan pikiran yang mendadak melantur ke mana-mana akibat pilihan kata istrinya barusan.

"Naira... uhuk... Nai..." panggil Satria dengan suara serak.

"I-iya, Mas? Ada yang sakit? Maaf, apa aku salah ngomong?" tanya Naira cemas, matanya berkaca-kaca panik melihat suaminya sampai tersedak seperti itu.

Satria menarik napas panjang, menatap wajah polos istrinya lekat-lekat.

"Maksudmu... mengajak lakukan apa malam-malam begini?" tanya Satria dengan nada suara yang sengaja dipelankan, mencoba menguji isi kepala istrinya.

Naira berkedip polos beberapa kali. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, ia menunjuk buku resep di atas meja dengan jari telunjuknya.

"Ya melakukan eksperimen bikin pai apel ini, Mas! Kan kata Mas kemarin waktu di dapur, Mas mau jadi orang pertama yang mencicipi kue eksperimen pertamaku. Jadi mumpung belum terlalu malam, ayo kita buat adonannya sekarang!"

Satria seketika terdiam seribu bahasa. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, lalu menangkupkan satu telapak tangan besarnya di atas wajah, menyembunyikan semburat merah padam yang mendadak meledak di seluruh mukanya karena rasa malu yang teramat sangat.

Pikiran dewasanya sebagai pria berumur dua puluh delapan tahun ternyata sudah melompat terlalu jauh ke makna yang ambigu akibat kalimat pemicu dari Naira tadi.

Satria menghela napas panjang dan berat untuk menenangkan detak jantungnya yang sempat berpacu gila-gilaan.

"Oh... eksperimen kue," gumam Satria lirih, nyaris meratapi pikirannya sendiri.

Naira mengernyitkan dahinya bingung, melihat reaksi aneh suaminya. "Memangnya... Mas Satria kirain aku mengajak lakukan apa?"

Satria bungkam. Ia tidak mungkin mengatakan isi pikiran liarnya pada istrinya yang masih se polos ini. Beberapa detik kemudian, ia hanya menggelengkan kepala pelan sambil mengambil selembar tisu dapur untuk mengelap sisa air di lantai.

"Nggak jadi. Tidak ada apa-apa."

"Lho? Jadi kita tidak jadi bikin painya sekarang?" tanya Naira kecewa.

"Besok saja kita buat painya. Malam ini sudah terlalu larut untuk mengadon tepung," ujar Satria tegas, mencoba mengembalikan wibawanya yang sudah runtuh di lantai dapur.

Naira masih memiringkan kepalanya dengan penuh tanda tanya besar, menatap punggung Satria yang mulai bergerak menjauh. "Lho... kenapa harus besok, Mas? Kan ini baru jam setengah sembilan?"

Sementara itu, Satria memilih untuk segera berjalan cepat keluar dari area dapur tanpa berniat menjawab pertanyaan beruntun istrinya. Ia ingin segera sampai di kamarnya sebelum pertahanannya runtuh sepenuhnya.

Meninggalkan Naira yang masih berdiri sendirian di dekat meja makan dengan kebingungan tingkat tinggi, memegangi buku resep pai apelnya.

"Mas Satria..." Panggil Naira dengan suara agak keras. "Aku beneran salah ngomong, ya? Kok Mas malah pergi?"

Dari arah ruang tamu yang remang-remang, lamat-lamat terdengar suara tawa kecil Satria yang tertahan jenis suara tawa geli yang tertahan di dada karena menertawakan kesalahpahaman konyol mereka barusan.

Naira yang mendengar suara tawa itu semakin mengerucutkan bibirnya bingung. Ia menatap buku resepnya bergantian dengan pintu lorong.

"Ih, Mas Satria aneh banget malam ini. Memangnya letak lucunya di bagian mana, sih? Dasar kaku!" gumam Naira jengkel, meski di dalam hatinya ia merasa senang melihat suaminya bisa tertawa se lepas itu lagi.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!